
Jam tiga sore semua siswa dipulangkan, namun masih ada juga yang harus menetap di sekolah karena harus mengikuti latihan kegiatan ekstra di luar jam sekolah.
Tim awan biru sudah memasukkan buku pelajaran mereka di dalam tas. Sharlin mulai mematikan kipas angin, menutup jendela yang terbuka juga gordennya.
"sholat ashar dulu nggak sih, mumpung masih di sekolah" ucap Ayunda.
"boleh juga, daripada harus mencari lagi masjid diperjalanan memang sebaiknya kita sholat di sini saja dulu" Satria setuju.
"ya sudah, kita ke mushola sekarang" ucap Danial.
Dari kelas X2 mereka berpindah ke mushola. Rupanya ada juga yang melaksanakan sholat di tempat itu selain tim awan biru. Selesai sholat, kini mereka mengayunkan langkah ke parkiran.
"ini kita nggak perlu ganti baju...?" tanya Alea.
"emang kamu bawa pakaian ganti...?" Sharlin menyahuti.
"nggak sih. Maksud aku daripada keluyuran masih menggunakan seragam sekolah, mending ganti baju kan, kita singgah di toko baju"
"nanti di mall saja sekalian, ayo" Zain sudah memakai helmnya.
Bertolak dari sekolah menuju ke pusat perbelanjaan terbesar di kota itu. Harus menempuh perjalanan cukup lama sebab sekolah mereka memang yang begitu jauh. Ketika sampai, mereka bergegas masuk dan mencari toko penjual pakaian.
"aku boleh pilih juga nggak Dan...?" Jin tertarik untuk memakai pakaian yang ada di toko itu.
"memangnya bisa...? Nanti kalau yang terlihat baju melayang bagaimana, bisa pingsan pegawainya Jin" Danial menyahut sambil mencari sweater yang cocok untuknya.
"hummm iya juga sih. Habis aku bosan pakai seragam ini terus" Jin menekuk wajah sedih. Ia pun cemberut dan menyimpan kembali baju yang telah diambilnya. Namun kemudian ia menarik kembali baju itu dan memakainya. Melihat pantulan dirinya di cermin, dirinya tersenyum betapa cocoknya ia memakai pakaian itu. ia juga mengambil topi dan memasangnya di kepala "Dan, aku ganteng nggak...?" secepat kilat ia sudah berdiri di depan Danial.
"wuiiiiihhh...cakep banget Jin. Cocok loh kamu jadi aktor luar negeri" Kirana memuji mengangkat jari jempolnya.
"hihihi...aku mau ambil ini ah" berputar-putar Jin memamerkan pakaian yang ia pakai.
"bahaya loh Jin, nanti penglihatannya orang itu baju sama topi melayang" Danial buru-buru menarik Jin untuk bersembunyi di sampingnya.
"tenang saja, aku akan membuat mereka tidak melihat ini. Lepas ah, aku mau cari lagi yang lain" Jin menghilang begitu saja dan terlihat sudah berada di gantungan celana jeans.
Mereka telah selesai memilih pakaian yang disukai, bahkan sudah dipasang ditubuh mereka. akan tetapi hanya Jin yang belum terlihat batang hidungnya, entah kemana hantu itu.
"dimana tuh setan" Satria celingukan mencari keberadaan Jin.
"aku di sini" Jin datang memasang senyuman manis dengan tumpukan pakaian di tangannya. mulut mereka menganga melihat Jin membawa semua pakaian itu.
"banyak amat Jin" Alea geleng kepala
"ini masih kurang ya, aku mau cari lagi" hendak melayang kembali namun Danial sudah menariknya sehingga Jin tidak bisa kemana-mana.
__ADS_1
"nggak ada nggak ada nggak ada...kamu pikir kita mau jualan apa pakai beli banyak banget begini. Simpan sebagian sana"
"nggak mau"
"simpan nggak...?"
"nggak mau nggak mau nggak mau. Ini semuaaaaaaa aku punya. Sana bayar, ganggu orang senang aja" Jin menggerutu, ia memeluk semua pakaian itu.
"kamu itu setan udin" Sharlin menyoyor kepala Jin.
"bodoh" Jin tetap mempertahankan pakaian itu.
tidak akan selesai jika berdebat dengan hantu yang satu itu. Dengan tatapan kesal dan jengkel, Danial membayar semua pakaian yang diambil Jin. Hantu itu bersorak gembira dan bergelayut manja di lengan Danial.
"demi kesejahteraan bersama" ucapnya mengedip-ngedipkan mata.
"kesejahteraan lu peyang" Danial mendengus kesal.
"kamu berbicara dengan saya...?" seorang wanita yang menjadi kasir, menunjuk dirinya tatkala mendengar Danial berbicara sendiri.
"bukan mbak, sama makhluk halus yang gentayangan" jawaban Danial tanpa ekspresi apapun membuat wanita itu merinding mengelus lengannya. Bagaimana tidak, ternyata Jin dengan sengaja berdiri di samping wanita itu dan meniup tengkuknya.
"kalau dia pingsan, tanggungjawab kamu ya" batin Danial.
Kini saatnya mereka mencari kado untuk Adiatama. Saat itu mereka bingung, apa yang harus mereka berikan kepada kepala sekolah mereka itu. bahkan berbagai toko aksesoris dan fashion telah mereka masuki namun lagi-lagi mereka semua bingung entah apa yang harus mereka beli.
ketika itu Zain melihat ke arah toko penjual jam tangan. Ia pun memberitahu semua temannya untuk memasuki toko itu. Pilihan mereka jatuh kepada jam tangan yang begitu cocok untuk dipakai orang dewasa namun harganya lumayan mahal dan menguras kantong.
"patungan aja ya, pak Adi pasti tidak mempermasalahkan harus mempunyai kado masing-masing. Yang penting kita punya kado" Satria memberikan saran.
"itu terlalu mahal. Lagipula meskipun kalian datang tanpa membawa kado, papa tidak akan mempermasalahkan itu" ucap Sharlin.
"terus bagaimana...? Sudah sejak tadi loh kita mutar-mutar tapi nggak ada satupun yang mau di beli. Kakiku sudah pegal" Ayunda memijit betisnya karena kedua kakinya terbungkus oleh sepatu.
"capek ya...?" Satria mendekati Ayunda.
"iya, lapar juga" ia memegang perutnya.
"sini tas kamu" Satria mengambil tas Ayunda dan menggantungkan dibahunya. Duduk di sana, biar kami yang urus pembeliannya" tunjuk Satria pada tempat duduk yang ada di dalam itu.
Ketiga gadis itu menuju ke tempat duduk sofa yang disediakan sementara para lelaki mulai melihat-lihat kembali koleksi jam tangan lainnya. Ketika itu Ayunda terus memperhatikan Satria, bibirnya tersenyum mengingat perhatian laki-laki itu.
"hei... senyum-senyum bae, kerasukan nanti" Kirana menyenggol bahu Ayunda.
"cieee lagi perhatiin kak Satria ya...? Aku bantu kasih dekat mau nggak Ay...?" Alea merapat ke dekat Ayunda.
__ADS_1
"nggak ah. biar seperti ini saja, aku malu kalau dia tau aku suka sama dia. Maka iya suka sama sahabat sendiri" Ayunda menggeleng.
"cinta dalam diam itu kadang sesak loh Ay. Gimana kalau nanti Satria suka sama cewek lain atau ada yang berusaha dekatin Satria seperti tiga ulat bulu yang tadi itu" yang dimaksud Kirana adalah geng Valerina dan kedua temannya.
"tapi nggak mungkin kan aku yang nembak duluan, dimana harga diriku sebagai perempuan. biarkan saja seperti ini, sampai dia merasakan kalau aku sayang padanya lebih dari sahabat"
"ya sudah kalau itu maumu"
Jam tangan mewah itu telah dibungkus rapi dan dimasukkan ke dalam tas. Sudah mendekati magrib, mereka harus pulang namun terlebih dahulu mereka berhenti di sebuah masjid yang ada di dekat mall itu untuk sholat berjamaah.
ketika itu tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Maka mereka tidak mungkin pulang dalam keadaan hujan seperti itu. Mereka memutuskan untuk menunggu sampai hujan reda. Jin sibuk memainkan ponsel Danial, hantu itu sedang mengusir rasa bosan dengan berselancar di media sosial Danial.
"Dan, kalung itu apakah masih berfungsi...?" Sharlin menatap kalung yang ada di leher Danial.
"entahlah" Danial mengeluarkan kalung itu sehingga semua orang dapat melihatnya. Mungkin akan berfungsi kalau iblis itu mengambil tumbal lagi. tapi sampai sekarang aku tidak merasakan apapun dari kalung ini"
"seandainya kalung itu bisa mendeteksi di dalam tubuh siapa iblis itu berada, mungkin sekarang kita tidak akan terus was-was setiap saat" Alea menghembuskan nafas panjang.
"aku rasa iblis itu masih ada di sekitar kita" Jin menimpali. Padahal dirinya sedang bermain ponsel namun ternyata kedua telinganya ikut mendengarkan percakapan mereka.
"oh iya, bukannya kamu pernah mengatakan kalau kamu mencurigai seseorang. Siapa yang kamu curigai itu Jin. Apakah dia seseorang yang kita kenal...?" Danial memperbaiki posisi duduknya dan menatap serius ke arah Jin.
"kamu mencurigai seseorang...? siapa Jin, coba katakan agar kita bisa menyelidikinya" Sharlin terlihat semangat.
Dia yang ditatap semua orang melirik sekilas kemudian menyimpan ponsel Danial ke dalam tas.
"belum pasti juga sebenarnya, hanya saja aku mencurigai saja. Aku tidak akan memberitahu sebelum kecurigaan ku benar" jawab Jin.
"justru karena itu. Beritahu saja agar kita selidiki dengan begitu kecurigaan mu itu bisa terselesaikan. Siapa sih orangnya...? jangan bilang warga di sekolah kita lagi" Zain menebak.
"siswa ya Jin...? atau para guru lagi...?" Satria penasaran.
Jin tidak langsung menjawab melainkan menatap ke arah luar dimana hujan yang turun sudah mulai reda. "ayo pulang, hujannya sudah berhenti" ia melayang meninggalkan semua orang.
"lah Jin, kamu belum jawab pertanyaan kami" Kirana memanggilnya namun Jin memasang telinga pura-pura tuli. "ish...kenapa sih tuh anak. Masa iya dia pakai main rahasia-rahasia segala" Kirana memberenggut.
mereka semua keluar menuju halaman masjid. Malam itu bergegas mereka pulang dan akan bertemu esok harinya.
Di perjalanan, Jin nampak diam diboncengan Danial. Hantu itu biasanya terus berbisik namun sekarang dirinya bagai tidak ingin mengeluarkan suara.
"kamu kenapa Jin...?" Danial menatapnya lewat kaca spion.
"nggak" jawaban singkat dan padat.
Danial tidak lagi bertanya, dirinya terus melajukan motornya dan berhenti di tempat penjualan ayam bakar. Remaja itu memesan makanan kesukaan teman hantunya. Setelahnya, mereka kembali melanjutkan perjalanan sampai tiba di rumah.
__ADS_1