Panggil Aku Jin

Panggil Aku Jin
Episode 28


__ADS_3

sosok yang dipandang oleh Sharlin di pojok ruang tengah itu, hanya diam menatap lurus remaja itu. sementara Sharlin semakin berjalan pelan mendekati Jin yang kini tengah dalam keadaan berdiri.


"kamu benar-benar kak Keanu kan...?" Sharlin bertanya sekali lagi.


sekian menit diam merapatkan bibirnya, Jin pada akhirnya merentangkan tangan meminta agar Sharlin datang memeluk dirinya.


"benar kamu kak Kean...?"


"iya, ini kakak"


buggg


Sharlin seketika menabrak tubuh Jin dan memeluknya dengan erat. tangis remaja itu pecah, kedua bahunya naik turun. Danial dan Zain saling pandang, sementara Satria yang baru saja dibuka mata batinnya oleh Manaf, mendekati Danial dan berbisik pelan.


"mereka saling mengenal...?"


"entah" Danial mengangkat bahu.


Ayunda, Kirana serta Alea kini semakin penasaran dengan bagaimana wajah Jin yang sebenarnya. ditambah mereka bingung melihat Sharlin seperti sedang memeluk seseorang namun yang mereka lihat adalah remaja itu hanya memeluk angin.


"bang, aku bersedia membuka mata batin" ucap Ayunda mendekat dan duduk di depan Manaf.


"kamu yakin...?"


"yakin bang" dengan bersungguh-sungguh Ayunda menjawab.


"kalau begitu...aku juga ikut deh" ucap Kirana terlihat masih ragu.


"jangan ikut-ikutan, harus dari kemauan kamu sendiri" tegur Manaf.


Manaf melakukan hal yang sama kepada Ayunda. setelah membuka mata dan melihat ke arah Sharlin, kini gadis itu dapat melihat wajah Jin yang sebenarnya.


"jadi dia yang bernama Jin...?"


"kamu sudah melihatnya Ay...? bagaimana wajahnya, serem nggak...?" Alea penasaran.


"ganteng" satu kata itu membuat Kirana dan Alea melongo.


"ganteng...?" keduanya mengernyitkan dahi


"kalau nggak percaya, makanya buka mata batin kalian. meskipun dia pucat, tapi terlihat kalau dia memang ganteng"


"memangnya ada gitu setan yang ganteng...?" Kirana menggaruk kepala.


Manaf menggeleng kepala, benar-benar para remaja itu.


"jadi bagaimana...?" tanya Manaf kepada Alea dan Kirana.


"ikut sajalah. kita kan satu tim, apapun yang terjadi harus terus bersama bukan" ucap Alea.


"ya sudah, tapi kamu saja duluan" Kirana pun setuju.


di dalam pelukan Jin, Sharlin masih terisak-isak. remaja itu sulit untuk mengeluarkan suara. sementara Jin, mengusap pelan punggung Sharlin untuk menenangkannya. kedua matanya beralih ke Danial yang juga sedang menatap ke arah mereka. tatapan Danial mengisyaratkan tanda tanya besar, dan Jin dapat melihat itu.


"berhentilah menangis, apa tidak malu dengan teman-temanmu yang lain. masa sudah besar seperti ini, masih juga cengeng"


"aku kangen tau. dulu setelah kehilangan kak Ningsih, kakak berjanji untuk selalu ada buat aku. tapi.... tapi...." Sharlin terbata-bata "kak Kean....malah pergi juga menyusul kak Ningsih. hiks...hiks..."


"maafkan aku" Jin membalas pelukan Sharlin lebih erat "maafkan aku tidak menepati janji" sekuat mungkin Jin menahan air matanya namun sayangnya, air mata itu tumpah juga membasahi wajahnya yang pucat.


mereka semua yang melihat itu, diam membisu tanpa bersuara sepatah katapun. Alea dan Kirana yang sudah dibukakan mata batin mereka oleh Manaf, nampak berkaca-kaca dan saling menggenggam tangan.


"bisa ceritakan kenapa kamu dan Jin bisa saling mengenal...?" tanya Danial


suasana sedih kembali seperti semula. semua orang duduk seperti biasa, melingkar di ruang tengah itu.


"kak Kean adalah sahabat kakak aku, namanya kak Ningsih. bukannya aku sudah bercerita di sekolah tadi pagi"


"tapi kok ngomong-ngomong ya, aku seperti pernah melihat Jin, tapi dimana ya" Zain nampak berpikir.


"dia penghuni rumah kosong yang pernah kita singgah untuk berteduh" timpal Danial.


"oh iya, benar benar-benar. sungguh di luar dugaan" ucap Satria.


karena sedang berada di rumah Manaf, maka mereka tidak bisa berbicara bebas tentang masalah yang ada di sekolah SMA Citra Bangsa. pukul lima sore, mereka berpamitan untuk pulang.


"terimakasih ya bang"


"tunggu sebentar. aku ingin bertanya, untuk apa kalian berbondong-bondong datang ke sini dan membuka mata batin. kalian ingin melakukan hal yang ekstrim...?" curiga Manaf kepada anak-anak remaja itu.


"bukan bang, tapi...."


"tapi apa...?"


"maaf bang, kami tidak bisa memberitahu. namun insya Allah kami akan menjaga diri dari mereka yang berniat mencelakai kami" ucap Satria


Manaf menghela nafas. walaupun sejujurnya dirinya penasaran dengan rencana anak-anak remaja itu, namun bagiamana pun ia tidak bisa memaksa aga mereka bercerita kepadanya.


"ya sudah, kalau butuh bantuan atau apapun itu, beritahu saja saya"


"baik bang. kami pulang dulu, assalamualaikum"


"wa alaikumsalam"


_____


berjalan saling beriringan menyusuri pinggiran jalan, mereka memutuskan untuk berhenti di sebuah warung kopi dan juga menyediakan gorengan yang ada di pinggir jalan.

__ADS_1


"mau minum kopi dek...?" laki-laki baya memakai sarung dan baju kaos, datang menghampiri mereka.


"nggak pak, teh manisnya saja dan kami mau gorengannya juga" jawab Zain.


"tunggu sebentar ya, silahkan dinikmati gorengannya" si bapak dengan senyuman ramah, kembali ke dalam untuk membuatkan mereka teh hangat.


aneka macam gorengan tersedia di depan mereka. ada yang memakai gorengan itu ada juga yang memilih untuk memakan roti isi coklat.


"nggak ada ayam ya...?" Jin baru saja datang melihat ke dalam warung itu.


"ini mah bukan warung makan Jin, tapi warung kopi" timpal Satria.


"tapi aku mau ayam bakar" Jin duduk di dekat Danial. "Dan, aku mau ayam bakar" ucapnya lagi.


"nanti saja, dijalan pulang kita singgah di warung makan" ucap Danial.


"makan ini saja kak, enak kok" Sharlin menawarkan goreng tempe.


"nggak suka, aku maunya ayam" Jin menggeleng tidak berminat.


"Dan, kamu harus mempertebal uang jajanmu sepertinya" ucap Kirana.


Danial yang sedang mengunyah makanan, tidak menjawab namun mengangkat jempol kanannya sebagai jawaban. tidak lama, si bapak tadi datang dengan membawa teh manis yang masih hangat untuk mereka.


"terimakasih pak" ucap Alea


"sama-sama dek" si bapak tersenyum dan kembali masuk ke dalam warungnya.


"kita sudah membuka mata batin. lalu langkah selanjutnya apa yang akan kita lakukan...?" Danial bertanya


"kepala sekolah dan para guru laki-laki, mereka akan berjaga di sekolah selama kalian libur. baik siang ataupun malam, mereka akan berada di sekolah selama seminggu itu" Jin memberitahu.


"jadi itu alasan mereka meliburkan kita...?" ucap Kirana.


"sepertinya iya. bagaimana kalau kita ikut berjaga bersama mereka" Sharlin memberikan ide"


"jelas kita akan di usir oleh mereka" ucap Ayunda.


"itu kan kalau mereka tau" ucap Sharlin lagi.


"maksudnya, kamu mau kita sembunyi-sembunyi begitu...?" timpal timpal Danial dan Sharlin mengangguk.


"nggak ah, serem tau. siang hari saja sudah serem banget apalagi malam hari" Kirana menolak.


"tidak akan seram kalau kita banyak. meskipun kita libur, tidak menutup kemungkinan monster itu akan mengambil tumbal bukan. jalan satu-satunya untuk menggagalkan dia mengambil tumbal, ya dengan cara kita berjaga di sekolah itu"


"tapi Shar, itu terlalu berbahaya" Satria ragu untuk melakukan rencana itu.


"kita sudah mengambil langkah pertama, masa kalian tidak berani mengambil langkah kedua. lagipula ada kak Kean yang akan membantu kita"


"jadi bagaimana...?" satu persatu Sharlin menata mereka.


"nanti kalau orang tua kita mencari bagaimana...?" ucap Zain.


"bilang saja kita mempunyai tugas kelompok yang harus di kerjakan. bukannya kita memang mempunyai tugas dari ibu Amanda kan"


"itu sama saja bohong Shar" ucap Alea.


"lalu kalian maunya bagaimana...? kalian hanya mau menjadi penonton besok pagi akan ada lagi korban begitu, itu yang kalian inginkan" Sharlin sedikit menyentak.


"kan sudah kepala sekolah dan para guru yang berjaga, mereka saja cukuplah untuk menghadapi monster itu" ucap Kirana.


"bahkan sepuluh orang pun belum tentu bisa mereka lawan, apalagi hanya beberapa orang. yang ada mereka mati. kalau kalian nggak mau ikut terserah. tapi aku tetap akan ke sana"


Sharlin beranjak dari tempat duduknya, ia menyimpan uang seratus ribu di tempat gorengan yang dirinya ambil. setelah itu, Sharlin meninggalkan mereka memberhentikan taksi yang kebetulan lewat di tempat itu.


sebelum Sharlin masuk ke dalam mobil, Danial berlari menghampiri ketua kelasnya itu dan menarik pergelangan tangan.


"apa sih Dan"


"jangan ikutkan dengan emosi bisa nggak Shar. kita kan bisa bicarakan baik-baik"


"bukannya aku udah bicara baik-baik ya tadi, tapi kalian yang nggak mau mendengar"


mereka yang masih berada di warung kopi, membayar makanan dan minuman yang mereka pesan, kemudian menghampiri Danial dan Sharlin yang berbicara di pinggir jalan.


"aku akan ikut, Jin juga akan ikut. kalau mereka nggak mau, ya sudah kita bertiga saja yang pergi. hanya saja aku berpesan, kita perlu perencanaan sebelum ke sana Shar. kamu mau kita bertemu dadakan seperti semalam dan mati konyol di sana"


"aku sudah kehilangan dua kakak yang aku sayang Dan, kalian nggak akan ngerti bagaimana aku ingin sekali menghabisi monster itu" Sharlin mulai nampak berkaca-kaca


Jin tidak ingin pertengkaran semakin menjadi. ia pun mendekati Sharlin dan memeluk adik sahabatnya yang sudah ia anggap seperti adik sendiri.


"kami akan ikut" ucap Zain yang sejak tadi diam.


"iya, kami akan ikut. tapi sepertinya kita harus berganti pakaian, nggak mungkin kan terus memakai pakaian seragam sekolah seperti ini" Satria membenarkan ucapan Zain.


"kamu tau kenapa sampai aku kehilangan nyawa di tangan monster itu...?" Jin melerai pelukan dan memegang kedua bahu Sharlin, nampak Sharlin menggeleng dan menghapus air matanya. "itu karena aku yang tidak sabaran, terlalu tergesa-gesa dan egois. jadi aku harap kalian jangan melakukan hal seperti itu jika tidak ingin berakhir seperti saya. meskipun kita tau nyawa manusia berada di genggaman Tuhan, tapi tetap saja waspada dan hati-hati harus kita miliki. jika sampai terjadi sesuatu padamu, om Adiatama akan sangat terpukul"


"maaf...maafkan aku"


Danial segera menarik Sharlin dan menekuk. Satria serta Zain pun ikut memeluk keduanya, semenjak ketiga perempuan, mereka terharu. tidak butuh waktu lama, mereka bisa berbaikan kembali.


"jika aku boleh memberikan usul. sebaiknya kita pulang saja dulu ke rumah masing-masing dan setelah orang rumah tidur, barulah kita mencari cara untuk keluar tanpa tidak diketahui" ucap Alea.


"baiklah, nanti aku yang akan menjemput kalian" ucap Sharlin.


"sebaiknya kamu tunggu kami di rumah kamu bagaimana. soalnya repot juga kalau kamu harus menjemput kami satu persatu" ucap Danial.

__ADS_1


"terserah saja, tapi memangnya kalian tau rumah aku dimana...?"


"Jin pasti tau, iyakan Jin...?" Danial menatap Jin yang bersandar di bahu Zain.


"iya, kalau mereka belum pindah"


"masih tetap rumah yang dulu. kalau begitu ayo pulang, sudah malam nih"


hendak menunggu taksi, mereka dibingungkan dengan mobil hitam yang berhenti di dekat tempat mereka berdiri. kaca mobil itu bergerak turun, seseorang terlihat di balik kemudi.


"kak Gibran" seru Danial sumringah dan mendekati laki-laki itu.


"kalian ngapain di sini...?"


"mau pulang kak" jawab Satria.


"ya sudah, ayo aku antar pulang."


"Shar, kamu bareng kita aja yuk" ajak Alea.


"ekhem" Danial memicingkan mata ke arah adiknya itu.


"apa sih kak" Alea cemberut ditatap lekat oleh Danial.


"emmm...apa aku boleh menginap di rumah kalian, soalnya di rumah nggak ada siapapun selain art. papa kan...kalian tau dia ngapain" ragu-ragu Sharlin mengutarakan keinginannya.


"ya jelas bolehlah, menginap di rumah aku saja ya, nanti yang lainnya juga begitu. gimana gays, tidur di rumah aku dan Satria saja ya" ajak Danial.


"bolehlah, biar makin mudah. ayo pulang, mami sudah nelpon terus nih dari tadi" Alea memperlihatkan ponselnya yang bergetar, Alana menghubunginya.


_____


"kenapa kalian pulang jam segini sayang...?" Airin menghampiri anak-anak itu, ia yang sedang menggendong Ragel tergesa-gesa.


"habis main Bun, maaf ya" Danial mencium pipi Airin dan hendak mengambil Ragel namun bayi itu menolak dan malah merentangkan kedua tangannya saat melihat Gibran mendekat ke arah mereka.


"waaah ciapa ini, anak ganteng ciapa ini" Gibran mengambil Ragel dari gendongan Airin.


"hummm mulai deh nggak mau diambil, udah ketemu bestinya" Danial memutar bola mata, Ragel memang begitu dekat dengan Gibran. bayi satu tahun lebih itu, terkekeh geli karena Gibran terus menciumi lehernya.


"ayo masuk, sholat magrib dulu keburu habis waktunya" perintah Airin.


semua orang masuk ke rumah, namun Airin masih tetap di tempatnya memperhatikan sekitar. ia begitu merasakan ada aura lain di tempat itu.


"ayo Bun" Alea ternyata melihat Airin hanya diam tanpa bergerak, gadis itu mendekati Airin dan merangkul lengannya.


melaksanakan ibadah di musholla rumah itu, berjamaah dengan diimami oleh ayah Adnan. Zidan, Adam dan El-Syakir belum pulang dari kantor. setelah sholat magrib, mereka berkumpul di ruang keluarga. Gauri yang juga lengket dengan Gibran, saat ini gadis cilik itu sedang duduk dipangkuan Gibran bersama Ragel.


"kamu sudah cocok punya anak, kapan kamu akan mengenalkan calon menantu ibu dan ayah" ucap ayah Adnan. Gibran memang memanggil ibu Arini dan ayah Adnan layaknya Adam dan El-Syakir memanggil mereka panggilan ibu dan ayah.


"belum ada yang cocok yah, lagipula aku masih betah sendiri" Gibran menjawab


"kamu tidak mau menikah...? umur kamu sudah mapan loh Gi" ucap Vania.


"Furqon dan Ardi saja mereka tidak lama lagi akan menikah. masa kamu masih betah begitu terus. pasangan hidup itu untuk menemani kamu sampai tua nak. atau mau ibu carikan" usul ibu Arini.


"di kantor paman kamu, banyak wanita yang sudah siap untuk menikah. mau tante kenalkan nggak...?"


"his... tante seperti paman sajalah, dikit-dikit main kenalin orang. nanti sajalah aku cari sendiri"


"jadi bujang lapuk nanti loh kak" ejek Galang.


"ho'oh" Satria dan Danial mengangguk.


"bocil dilarang komen. belajar sana"


"idih...kami udah gede kali" cibir Alea.


kehangatan keluarga itu semakin bertambah setelah kepulangan Adam, El-Syakir dan Zidan. setelah sholat isya, mereka makan malam dan kembali bercengkerama di ruang keluarga.


"menginap di sini saja Gi, kamu sudah lama tidak datang menjenguk kami" ucap Zidan.


"iya paman"


para bocil di satukan di sebuah karpet lembut dan nyaman. Samudera memainkan gerincing yang diberikan oleh Kirana. Ragel bermain mobil-mobilan bersama Zain dan Danial. sementara Gauri, ditemani Ayunda bermain boneka Barbie.


pukul sepuluh malam, Samudera sudah rewel dan itu pertanda bayi gemoi itu sudah mengantuk. anak-anak pun diambil alih oleh para ibu untuk ditidurkan. para remaja juga mulai meninggalkan ruang keluarga menuju ke lantai dua. tersisa para laki-laki dewasa yang masih terus mengobrol dengan santai.


_____


"gimana, ayah sama yang lain masih ada nggak...?" tanya Danial, saat Alea baru saja masuk ke dalam kamar. mereka sengaja menyuruh Alea untuk mengambil air minum di dapur guna memastikan apakah masih ada orang di ruang keluarga.


"udah nggak ada, udah pada masuk kamar semuanya" jawab Alea.


"kalau begitu kita pergi sekarang saja" ucap Satria


"tapi pakai mobil siapa. rencana awalnya kan tadi Sharlin menunggu kita di rumahnya, namun sekarang dia ikut kita. terus kita mau pakai mobil siapa. kalau pakai mobil di garasi, bisa ketahuan" ucap Zain.


"pesan taksi online kan bisa" jawab Sharlin.


"repot lagi pulangnya"


"gini aja deh, kita pesan taksi terus ke rumah aku dulu ambil mobil. setelah itu baru ke sekolah, bagaimana...?" ucap Sharlin


"ya sudah, seperti itu saja. tapi garamnya udah disiapkan kan" Ayunda memastikan


"sudah, ayo buruan sebelum ketahuan"

__ADS_1


__ADS_2