
"Abang pesan makanan dulu ya, kalian pasti lapar"
"lapar banget bang, tapi sebaiknya kami saja yang mencari makanan, biar abang saja tetap di rumah. aku lihat sepertinya tidak jauh dari sini ada warung makan" ucap Satria
mereka baru saja pulang dari masjid yang rupanya jaraknya hanya beberapa langkah saja dari rumah Manaf.
"iya, itu warung makan langganan abang. kalau gitu abang ambil uangnya dulu di dalam"
"nggak usah bang, biar kami saja yang beli. ayo Za, Shar" ajak Satria
"kami pergi dulu bang, assalamualaikum"
"wa alaikumsalam"
Satria, Sharlin dan Zain kembali lagi keluar pagar dan berjalan ke arah kanan sebab warung makan yang akan mereka tuju hanya beberapa meter dari rumah itu. sementara Manaf langsung masuk ke dalam, di ruang tengah ia melihat tiga perempuan duduk berlesehan beralaskan karpet, mereka menunggu kedatangan para laki-laki yang pergi ke masjid.
"assalamualaikum" sapa Manaf
"wa alaikumsalam, abang sudah pulang. yang lain mana bang...?" Ayunda menatap ke arah ruang tamu namun tidak menemukan keberadaan tiga orang teman mereka.
"pergi membeli makanan. kalau panas, itu ada kipas, nyalakan saja kipasnya" Manaf menunjuk kipas yang ada di bawah meja televisi.
"bang, boleh kami ke dapur nggak, pengen minum...haus" Alea memegang lehernya.
"tentu saja boleh, di kulkas ada air dingin. kalau mau membuat es teh juga boleh"
"terimakasih bang, ayo Ay, Ki...kita buat minuman sekalian untuk yang lain juga" Alea langsung beranjak
ketiganya melangkah ke arah dapur sementara Manaf ingin melihat keadaan Danial terlebih dahulu. saat masuk ke kamar itu, rupanya Danial telah siuman dan sedang berbincang dengan Jin. keduanya menoleh ke arah pintu ketika terdengar suara pintu dibuka.
"kamu sudah sadar, cepat sekali. harusnya diu atau satu jam lagi" Manaf mengikis jarak dan duduk di ujung kasur.
"Alhamdulillah bang" bibir pucat Danial tertarik membentuk senyuman.
"sakit nggak...?"
"lumayan, tapi aku sedang bahagia sekarang bang"
"bahagia...? karena apa...?" kening Manaf mengerut
"Jin mau seperti kita, iya kan Jin" Danial mengambil tangan Jin dan menatap lekat kedua netra hantu itu.
Manaf pun ikut mengalihkan pandangan ke arah Jin yang kini sedang bersandar di ranjang dan menghadap kearah Danial.
"Jin" Danial memanggil lagi sebab hantu itu hanya diam saja.
"apa...?"
"kamu sudah janji padaku" ucap Danial penuh harap.
"iya"
"nah bang dengarkan" senyum Danial semakin lebar.
"syukurlah, setidaknya kamu masih mempunyai iman. emmm boleh aku bertanya satu hal...?"
"silahkan"
"apa kamu sudah lama meninggal...?"
"delapan tahun yang lalu"
"lumayan ternyata" Manaf manggut-manggut "setelah kamu kembali seperti dirimu saat masih hidup dulu, maka kamu tidak boleh menganggu manusia lain lagi, tidak boleh memakan bangkai dan semacamnya dan juga meminum darah. apa selama ini kamu pernah melakukan itu...?"
"aku pernah meminum darah ayam hitam yang digunakan untuk sesajin"
"berarti kamu suka minum darah...?" Danial membelalakkan matanya
"kenapa kaget, itu adalah minuman favorit kami. aku suka itu, tapi yang aku belum pernah minum adalah darah manusia" Jin berkata jujur.
"berarti kedepannya kamu tidak boleh lagi meminum darah apapun itu" ucap Manaf
"terus aku harus makan apa...? meskipun aku hantu, aku juga ingin makan. ayam sesajin lebih nikmat dari makanan apapun"
"perasaan selama ini kamu nggak pernah makan hal seperti itu Jin" Danial sungguh penasaran
"kata siapa. aku sering tidak bersamamu karena saat itu aku pergi mencari makan di tempat orang-orang yang sering melakukan persembahan dan membawa sesajin. ayamnya enak banget, apalagi darahnya. kalau aku nggak boleh makan itu terus aku makan apa...?"
"nanti aku belikan ayam di KFC, lebih enak dan gurih" sahut Danial
"nggak ah... nggak suka, pasti nggak enak" Jin menggeleng.
"kamu belum mencobanya udah bilang nggak enak. pokoknya kamu dilarang memakan ayam sesajin lagi, titik nggak pakai koma" ucapan Danial penuh penekanan.
"terserahlah" Jin cemberut dan menatap Danial kesal.
"nggak usah cemberut gitu, jelek banget" Danial menggoda
"nggik isih cimbirit giti, jilik bingit" Jin mengulang ucapan Danial dengan ekspresi yang membuat Danial dan Manaf terkekeh.
"jadi kapan kita melakukannya, lebih cepat lebih baik. apa setelah sholat ashar saja...?" Manaf menengahi pertengkaran keduanya.
"boleh juga. tapi sebenarnya bang, kami ke sini ada maksud lain" ucap Danial
"Abang sudah tau, Sharlin sudah memberitahu abang. nanti saja bersamaan dengan Jin. sekarang kamu istirahatlah, sebentar lagi makanan akan datang"
__ADS_1
ayam bakar, nasi dan beberapa lauk lainnya serta es teh sebagai minumannya, telah tersedia di ruang tengah. mereka memilih ruang tengah sebab di dapur meja makan tidak cukup untuk menampung mereka semua, maka dari itu ruang tengah menjadi pilihan mereka. Danial sebenarnya dilarang untuk keluar dan akan dibawakan makanan di dalam kamar, namun Danial menolak dan ingin makan bersama mereka. maka saat ini mereka berkumpul di ruang tengah menikmati makan siang.
"kenapa diliatin saja, ayo makan" Danial menyuruh Jin untuk memakan ayam bakar yang sudah ada di depannya.
"tidak mau" Jin menggeleng
"itu enak loh, nggak kalah enak sama ayam sesajin. mau aku suap...?"
"nggak ada darahnya, nggak suka" Jin tetap menolak. aku cari ditempat lain saja ya"
"heh enak aja, nggak ada ya.... nggak boleh. mau kurung di botol kamu" ancam Danial
"macam Jin saja dikurung di botol" celetuk Sharlin.
"lah... namanya kan memang Jin" timpal Zain
"eh iya juga ya" Sharlin membenarkan
meskipun mereka tidak melihat bagaimana rupa hantu itu, namun bagi mereka itu tidak masalah sebab sebentar lagi mereka akan dapat bisa melihatnya.
"kalau Jin nggak mau, buat aku saja Dan. masih kurang nih" Kirana bersuara.
"itu perut atau karet sih Ki. kamu kalau makan nggak tanggung-tanggung" Satria menggeleng.
"namanya juga makanan enak, ya sikat sajalah" Kirana cuek dan tetap menikmati makanannya.
"mau makan apa nggak...?" tanya Danial lagi.
"iya iya... bawel sekali kamu ini" dengan kesal Jin mengambil ayam itu dan menggigitnya.
ayam yang melayang melayang membuat yang lain melongo dan mengucek mata beberapa kali. sungguh tidak menyangka saat ini mereka bersama makhluk tak kasat mata, ikut makan ayam pula.
"gimana enak kan...?" tanya Danial
karena sibuk menggigit ayam bakar itu, Jin tidak menggubris pertanyaan Danial. bahkan kini hantu itu dengan lahap memasukkan ayam itu ke dalam mulutnya. parahnya lagi, ayam bakar bagian Danial diambilnya dan dimakannya.
"loh Jin, itu kan punya aku" Danial protes.
"dilarang protes, kalau mau sana beli lagi" Jin tidak menghiraukan Danial yang mencebik kesal karena ayamnya ikut dilahap. sepertinya kedepannya, remaja itu harus menyiapkan uang jajan untuk teman hantunya. makanan kesukaannya akan berpindah haluan ke ayam bakar.
(katanya nggak doyan, lah ayam aku diambil juga) dalam hati Danial mengomel
"nanti kamu beli lagi lah, tapi belikan denganku juga" Jin tersenyum cengengesan.
"idih...dasar rakus"
"biarin"
_______
"bagaimana, masih terasa perih...?" tanya Sintia.
"masih dok"
"nanti saya resepkan obat anti nyeri. jangan banyak bergerak dulu, harusnya kamu di dalam kamar dan istirahat. kenapa malah di luar seperti ini"
"saya bosan di dalam kamar terus dok, makanya keluar kandang"
jawaban Danial membuat Sintia tersenyum geli. setelahnya wanita itu menuliskan resep obat yang harus ditebus dibeli di apotek.
tidak lama keberadaan Sintia di rumah Manaf, sebab wanita itu harus kembali ke rumah sakit lagi. dirinya pulang hanya untuk memeriksa keadaan Danial saja. Manaf mengantar sampai di teras rumah, setelah wanita itu pergi Manaf masuk lagi ke dalam rumah.
"kita sholat ashar dulu, setelahnya baru melakukan apa yang kalian minta" ucap Manaf
"bang, kami boleh ikut sholat di masjid nggak...?" tanya Alea
"kalau kalian mau, tentu saja bisa. tapi itu berarti Danial akan sendirian di rumah"
"nggak apa-apa bang, lagipula ada Jin yang menemaniku" jawab Danial
"ya sudah, ayo berangkat sekarang" ajak Manaf.
semua orang berjalan ke luar dan meninggalkan rumah, sementara Danial memilih duduk di kursi yang ada di teras dan menatap sekitar. Jin tetap setia menemani remaja itu.
"Jin"
"humm"
"sebenarnya keluargamu dimana, apakah mereka ada di kota ini...?"
Jin terdiam beberapa saat, kedua matanya menatap langit yang begitu cerah hari itu.
"aku tidak tau" jawabnya setelah sekian menit diam. "mungkin mereka di suatu tempat dan aku berharap mama, papa dan adikku baik-baik saja setelah kepergianku" rasa sesak tiba-tiba menghampiri dirinya.
"kamu salah satu korban tumbal di sekolah kan...?"
"iya, kenapa...?"
"harusnya kalau kamu gentayangan, ya sudah pasti kamu berada di lingkungan sekolah. tapi kenapa kamu malah terkurung di dalam bingkai foto kamu sendiri"
"aku tidak tau. saat jiwaku keluar dari raga, tiba-tiba saja aku sadar sudah berada di tempat itu, di dalam rumahku sendiri. dan juga rumah itu sudah kosong, keluargaku sudah tidak ada di rumah itu"
"mungkin mereka tidak sanggup tinggal di rumah itu karena banyak kenangan yang mereka lalui bersama kamu. tapi ya, aku pernah bertemu dengan seorang bapak saat pergi ke rumah kamu mengambil buku kalau tidak salah, kamu yang menyuruhku waktu itu. katanya rumah itu sudah kosong puluhan tahun lalu, nah sementara kamu meninggalnya delapan tahun lalu"
"entah" Jin mengangkat bahu. "nanti kalau kamu pulang, bagaimana menjelaskan kepada orang tuamu tentang lukamu itu"
__ADS_1
Danial mengangkat baju kaosnya, baju Manaf yang diberikan untuk dirinya pakai sebab baju sekolahnya telah dicuci karena noda darahnya tadi.
"bunda dan ayah tidak akan tau kalau aku tidak memberitahu. ini kan tertutup, jadi aman" Danial menurunkan kembali bajunya.
"maafkan aku" kembali Jin tertunduk.
"sudah ku terima maaf mu. jangan merasa bersalah lagi. lagipula dengan terlukanya aku, kejadian ini ada hikmahnya"
"kamu tidak sholat...?"
"tentu saja aku mau sholat. aku ke dalam dulu, mau berwudhu" Danial perlahan berdiri.
"biar aku bantu"
Jin melayang mendekati Danial dan memapahnya masuk ke dalam rumah menuju kamar mandi. rupanya di rumah itu ada tempat khusus untuk berwudhu, di samping kamar mandi. sambil meringis menahan sakit, Danial membungkuk memutar kran air dan membaca doa wudhu kemudian mulai membasahi kedua tangannya.
setelah berwudhu, Jin kembali membantu Danial berjalan ke arah kamar. setelahnya hantu itu menunggu Danial di teras rumah sementara Danial melaksanakan sholat di kamar.
_______
seperti yang telah mereka bicarakan, setelah sholat ashar maka mereka akan melakukan pembukaan mata batin. semua orang termasuk Jin, duduk melingkar di ruang tengah.
"kalian pasti sudah tau resikonya jika melakukan hal ini. aku hanya ingin memastikan kembali, apakah kalian benar-benar siap melakukannya...?" Manaf menatap remaja-remaja itu satu persatu.
"aku siap bang" Sharlin menjawab yakin.
"aku juga" Danial ikut bersuara.
"yang lain bagaimana...?"
"emm bang, apakah jika kita membuka mata batin, kita bisa juga menutupnya kembali...?" Zain bertanya
"tentu saja bisa. kalian bisa datang kembali padaku jika ingin menutupnya lagi. yang ingin aku pastikan adalah, mental yang kalian punya. apakah sudah siap melihat hal mengerikan di sekitar kalian. sebab setelah membuka mata batin, apapun itu akan kalian lihat. mereka yang berwujud menyeramkan dapat kalian lihat dengan jelas"
para perempuan meneguk ludah dengan susah. masih ada keraguan dalam hati mereka. sebab melakukan hal semacam itu harus mempunyai mental yang sekuat baja, jika tidak, banyak dari mereka yang menjadi tidak waras karena tidak sanggup melihat hal yang membuat mereka ketakutan dan sampai tidak bisa tidur.
"kalau masih ragu maka aku sarankan sebaiknya jangan" ucap Manaf.
"aku siap bang" Satria bersuara.
"aku juga siap" Zain ikut bersuara.
"lalu kalian...?" Manaf bertanya kepada tiga perempuan yang duduk di depannya berjarak sedikit jauh.
ketiganya saling tatap, saling meminta saran apakah mereka harus ikut melakukannya atau tidak. ketakutan menghinggap dalam diri mereka, rasa ragu itu semakin besar saja.
"sepertinya kalian belum siap. kalau begitu biar para laki-laki saja yang melakukannya" ucap Manaf. "jadi siapa yang pertama...?" tanya Manaf.
"aku bang" Danial mengangkat tangan
Manaf menyuruh Danial untuk maju dan duduk di hadapannya. semua orang diam dan memperhatikan bagaimana Manaf melakukan hal yang menurut mereka adalah sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang. wajah Danial diusapnya setelah membaca doa, setelahnya ia menyuruh Danial membuka mata.
"kenapa tidak ada apapun yang aku lihat...?" tanya Danial, ia mengedarkan pandangan ke segala arah.
"karena di rumah ini tidak ada makhluk tak kasat mata selain yang duduk di pojokan sana" Manaf menunjuk Jin dengan dagunya. Danial melihat ke arah Jin yang sedang duduk memperhatikan mereka, sementara yang lain meskipun ikut menoleh, mereka tidak dapat melihat Jin.
"maju Zain" ucap perintah Manaf.
Danial kembali ke tempat duduknya sementara Zain kini maju ke depan. seperti yang dilakukan kepada Danial tadi, wajah Zain di usapnya dan menyuruhnya untuk membuka mata.
"apa kamu melihat sosok yang duduk di pojok sana...?" Manaf menunjuk Jin
Zain memutar kepala, kedua matanya membulat saat dirinya melihat Jin sedang tersenyum melambaikan tangan kepadanya.
"jadi dia setannya...?" ucap Zain refleks.
"heh... sembarangan manggil setan. aku Jin tau" Jin menjawab dan mencebik.
"kok nggak serem"
"oooh mau melihat wajahku yang menakutkan ya" Jin tersenyum menyeringai, membuat Zain bergidik ngeri dan menggeleng kepala
"eh, n-nggak... nggak mau" Zain bergeser dan duduk di samping Danial.
"bagaimana wujudnya Za...?" Ayunda bertanya lantaran begitu penasaran.
"lihat saja sendiri"
"lah gimana mau lihat, aku belum membuka mata batin"
"makanya buka dan lihat sendiri orangnya, eh maksudnya setannya"
"heh...aku Jin ya bukan setan. ku telan juga lah lama-lama kamu ini" Jin semakin kesal karena Zain.
"maju Sharlin" perintah Manaf.
wajah Sharlin diusap setelah Manaf membaca doa. laki-laki itu menyuruh Sharlin untuk melihat ke pojok kiri. saat Sharlin memutar kepala dan melihat siapa yang ia lihat. seketika dirinya tersentak dan refleks berdiri membuat semua orang kaget.
"kenapa Shar, dia serem ya" ucap Kirana. melihat ekspresi wajah Sharlin, mereka menduga kalau Jin berupa menyeramkan.
Sharlin diam seribu bahasa, langkah kian perlahan mendekati Jin. dirinya benar-benar tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
"k-kak...kak Keanu" Sharlin nampak berkaca-kaca dengan bibir bergetar.
"kak Keanu...?" semua orang mengernyitkan dahi namun tidak dengan Danial. kini Danial mulai ingat dimana dirinya pernah mendengar nama itu. Keanu Alexander, nama itu adalah nama yang ia lihat di buku Jin yang ada di rumahnya.
__ADS_1