
"ZA BELOK ZA BELOK"
Braaaakkk
Bughhh
"aaaggghh"
Gugup, takut dan gemetar menjadi satu. Karena hal itu, Zain tidak dapat mengendalikan laju mobilnya sehingga mobil itu menabrak pohon yang ada di pinggir jalan.
Benturan keras tidak dapat dihindari, ketiganya terbentur sehingga rasa sakit di seluruh badan bagai dirasakan remuk.
"ssshhh...aw" Satria meringis memegang kepalanya yang terluka dan mengeluarkan darah.
Bukan hanya dirinya, Zain pun lebih parah. Darah yang keluar dari kepala Zain meluncur ke area lehernya.
Ibu Naina...?
Wanita itu tidak terluka sama sekali, hanya saja tubuhnya sakit akibat tabrakan itu.
Buuum
"astaghfirullah" ibu Naina terkejut.
Suara dentuman keras terdengar di atas mobil. semua orang melihat ke atas.
"dia di atas" ucap Zain. Sebagian darahnya menghalau penglihatannya.
Buuum
Buuum
"aaaaa...dia berusaha menerobos dari atas" ibu Naina terpekik.
"Za, biar aku yang menyetir kamu ke belakang" ucap Satria.
Buuum
Buuum
Buuughhh
"cepatan, kita bisa mati di sini" histeris ibu Naina.
Zain berhasil menjatuhkan tubuhnya di kabin tengah samping ibu Naina. Satria mengambil alih kemudi. Menyalakan mesin mobil dan syukurnya masih menyala meskipun depan mobil itu sudah ringsek parah.
Satria memundurkan mobil itu dan memutar mobil secara brutal bagai gasing. sosok di atas berpegangan di setiap sisi mobil mempertahankan dirinya agar tidak terlempar.
Sementara di kabin tengah, ibu Naina dan Zain terombang-ambing terbentur di kaca mobil bahkan kepala keduanya pun ikut terbentur.
Zain meraih tubuh ibu Naina dan memeluknya sementara wanita itu setelah Zain memeluknya, ibu Naina melingkarkan tangannya di pinggang Zain dan menenggelamkan wajahnya di dada Zain.
semakin kencang mobil itu berputar dan tiba-tiba berhenti. Sosok yang berada di atasnya terlempar jatuh masuk ke semak-semak. Kesempatan itu digunakan Satria untuk melajukan mobilnya secepat mungkin.
"apakah dia mengejar...?" tanya Satria.
Zain menoleh ke belakang, cahaya kilat dari langit sana mampu menerangi penglihatannya.
"tidak, dia tidak mengikuti kita" Zain memutar kepala kembali. "ibu tidak apa-apa...?" Zain melepaskan pelukannya.
"ibu tidak apa-apa, tapi sepertinya kamu yang kenapa-kenapa" ibu Naina mengambil tisu dan melap darah yang menutupi mata Zain.
"ssshhh aw... pelan bu" Zain meringis refleks memegang tangan ibu Naina.
Keduanya saling tatap. Kilasan kejadian di perpustakaan sekolah memenuhi kepala ibu Naina. Bagaimana dengan lembut siswanya itu memeluknya bahkan ia tanpa sengaja menciumnya karena kecerobohannya menarik keras tubuh Zain. Ibu Naina bahkan tidak sadar satu tangannya lagi memegang pipi Zain dimana bibirnya pernah mendarat di sana.
Zain menelan ludah dengan susah. Saat ini bahkan ia menahan nafas ketika di tatap begitu intens dan dengan lembut oleh guru cantik itu.
"Zain...luka mu bagaimana...?" Satria melihat di spion gantung.
Sadar dengan keadaan, ibu Naina dengan cepat melepas tangannya akan tetapi Zain malah menahan satu tangannya dan menggenggamnya. Wanita itu terdiam dan melihat jemarinya mengait di jemari Zain.
"bukan luka yang parah. setidaknya aku masih bisa bergerak" Zain menjawab. "tolong lap kan lagi bu. pelan-pelan tapi" Zain meminta, kedua matanya menatap ibu Naina.
__ADS_1
"tapi.... tangannya" ibu Naina berbicara pelan sambil mengangkat tangannya yang digenggam oleh Zain.
"biar seperti ini saja dulu. Aku lebih nyaman seperti ini bu. Tidak apa-apa kan. Biasanya kalau di rumah, kalau aku sakit...aku selalu menggenggam tangan mama" Zain ikut berbicara pelan.
Pada akhirnya Ibu Naina menurut dan tidak melepaskan genggaman tangan Zain. ia kembali melap darah Zain dengan tisu.
"bagaimana ini. Sepertinya kita berada di lingkaran dunia iblis itu. Kita tidak mendapatkan jalan pulang. Hanya terus berada di jalan sepi ini" Satria mulai frustasi.
"iblis...? Iblis apa maksudnya. Bukankah tadi itu dia manusia" ibu Naina mengerutkan kening.
"manusia yang bersekutu dengan iblis. Dia dalang dari semua siswa-siswi yang meninggal di sekolah. semua siswa-siswi itu menjadi tumbal untuknya" Zain kembali melihat ke arah belakang, berjaga-jaga jangan sampai sosok itu mengejar mereka lagi. Namun dirinya tidak melihat ada tanda-tanda kedatangan sosok itu.
"tumbal...?" ibu Naina membulatkan mata. Baru kali ini dirinya mendengar hal itu.
"astaga...mobil kita mogok"
Mungkin karena kehabisan bahan bakar atau karena rusak pengaruh tabrakan tadi, mobil itu berhenti tiba-tiba ditengah jalan. Satria berusaha untuk terus menyalakannya namun sama sekali tidak bisa.
"kita keluar" Satria memutar kepala melihat ke arah dua orang yang ada di kabin tengah. "Za....kamu bisa kan...?" Satria kali ini sangat mengkhawatirkan Zain.
Zain melepas tangannya dari genggaman ibu Naina. Dirinya melihat ke arah luar, kedua jemarinya ia remas. Ada ketakutan di dalam mata remaja itu. Bahkan kini keringat dingin mulai keluar dari pori-pori di keningnya.
"Zain...kamu baik-baik saja...?" ibu Naina memegang bahu Zain. Remaja itu menoleh, terlihat Zain menggigit bibirnya.
"Zain, kamu sakit...?" ibu Naina memegang tangan Zain yang terasa dingin. Dingin seperti es bahkan tangannya itu bergetar.
"Za...lihat aku" Satria mengulurkan tangannya dan memegang wajah Zain. "ada aku, semuanya akan baik-baik saja. Percayalah....papa dan semua orang pasti sedang mencari kita" Satria menghapus air mata Zain yang tiba-tiba meluncur begitu saja.
"aku takut Sat" Zain semakin erat menggenggam tangan ibu Naina kembali.
"semuanya akan baik-baik saja. Ayo kita turun"
Padahal sudah begitu lama namun hujan di malam itu seakan enggan untuk berhenti. Satria keluar terlebih dahulu, setelah itu menyusul Zain dan ibu Naina. Ketika mereka sudah berada di luar, sosok itu ternyata dari kejauhan sedang berjalan ke arah mereka.
"lari Za, ayo bu" Satria menarik Zain untuk menjauh dari mobil.
Swing
Braaaakkk
"innalilahi"
Ketiganya berhenti ketika mobil yang mereka pakai, terbang menghantam pohon dan langsung meledak. Bahkan sosok itu menyerang mereka brutal.
Buuughhh
Buuughhh
Ketiganya terpental jauh dan mulai terpisah. Tidak peduli tubuhnya yang kesakitan. Satria berusaha bangkit dan mendekati Zain yang yang tergelatak di aspal.
"Za...bangun" Satria meraih tubuh Zain dan menepuk wajahnya.
Zain membuka mata, ia dibantu berdiri oleh Satria sementara ibu Naina meringis sakit karena kakinya yang menghantam batu.
"aaaggghh ya Allah" ibu Naina memekik kesakitan.
Satria hendak menghampiri ibu Naina, namun tiba-tiba tubuhnya terangkat ke atas dan terlempar ke batang pohon.
"SATRIA"
Zain bangkit mencari apa saja untuk ia jadikan senjata. karena hanya mendapatkan batu, Zain melempar batu itu dan mengenai tepat di kepala sosok itu.
"BERANINYA KAU" sosok itu menunjuk Zain dengan suara yang menyeramkan.
Swing
Batu itu terbang begitu cepat menghantam Zain. untungnya dirinya menghindar sehingga batu itu hanya lewat begitu saja. Namun bukan berarti Zain aman karena saat ini tubuhnya terangkat dan dibuang menghantam tubuh ibu Naina. Tubuh Zain tepat berada di atas tubuh ibu Naina, namun remaja itu tidak bergerak sama sekali.
"Zain... bangun" ibu Naina memegang wajah Zain. Remaja itu menutup mata dengan wajah telah pucat. "Zain...apa yang terjadi padamu... hei bangun" ibu Naina panik.
Dengan sisa tenaga, ia mendorong tubuh Zain sehingga jatuh di sampingnya. Ibu Naina panik melihat Zain tidak bergerak.
"Zain... bangun Zain"
__ADS_1
Sosok itu berjalan mendekati keduanya, dirinya tersenyum menyeringai melihat mangsa di depan mata. akan tetapi Satria meneriakinya sehingga sosok itu berhenti dan memutar ke arahnya.
"lawan gue BANGSAT" Satria sudah memegang kayu. Darah yang mengucur dari kepalanya sudah menyatu dengan air hujan.
sosok itu berlari cepat ke arah Satria dan mendaratkan tendangan. Satria menahan dengan kayunya namun tetap saja dirinya terseret ke belakang beberapa langkah.
ibu Naina tidak tau harus melakukan apa. ketika itu dirinya melihat sebuah pondok kecil yang ada di pinggir jalan. pondok yang ia lihat ketika menandai jalan yang mereka lalui hanya di sekitar itu saja.
Kakinya memar dan terluka, namun ia terus menyeret Zain untuk bisa sampai di pondok itu. Karena ia tidak mempunyai tenaga untuk menggendong siswanya itu.
"ayo Na sedikit lagi"
Tubuh Zain sudah kotor bercampur tanah. Remaja itu benar-benar sudah tidak sadarkan diri.
"aaaggghh" satu tarikan lagi akhirnya Ibu Naina berhasil membawa Zain berteduh di pondok itu.
"Zain" dirinya langsung memeluk tubuh Zain dengan erat. "bertahanlah, ibu mohon" refleks ia mencium kening remaja itu.
Satria masih terus bergelut dengan manusia iblis itu. Meski sudah di lempar beberapa kali, Satria tetap bangun dan mempertahankan tubuhnya agar tidak tumbang di tanah.
"menyerah saja, malam ini kalian berdua akan aku kirim ke alam baka"
"cuih" Satria meludah, bibirnya sobek dan kakinya sebelah sudah berat untuk ia gerakkan. "tidak segampang itu. kamu pikir dengan membawa kami ke alam lain, bunda tidak akan menemukanmu...? Kamu salah ibu Dian yang terhormat. Kamu tidak tau saja dengan siapa nanti kamu akan berhadapan" Satria menjawab dengan menahan rasa sakit di seluruh tubuhnya.
ya...
Sosok itu adalah ibu Dian. Wanita yang diantar oleh ibu Naina karena kakinya yang terluka namun ternyata itu hanya alasan agar dirinya bisa keluar dari lingkungan sekolah dan mengambil tumbal lagi.
Ibu Dian membuka penutup kepalanya dan tersenyum sinis ke arah Satria.
"dengan cara apa mereka akan menemukan kalian. Duniaku ini tidak akan bisa di tembus oleh mereka"
"siapa bilang aku tidak bisa menemukanmu" suara seseorang mengagetkan ibu Dian.
Di belakangnya berdiri seorang wanita yang berpakaian bagai seorang ratu, siapa lagi kalau bukan Airin, ratu Sundari penguasa hutan timur kerajaan karing-karing.
Wanita itu tiba tidak seorang diri melainkan dengan semua orang.
"dimana putraku...?" Vino mencari keberadaan Zain. Laki-laki itu menggunakan baju hujan agar tubuhnya tidak terkena air hujan.
"di sana om" Kirana menunjuk ke arah pondok.
Vino juga Starla berlari menghampiri ibu Naina dan Zain. Melihat kondisi putranya, Starla langsung menangis.
"sayang...bangun sayang...ini mama" Starla memeluk erat tubuh Zain. Ibu Naina hanya menatap saja.
"yang...kita harus ke rumah sakit, aku takut Zain kritis lagi sewaktu dia masih kecil"
"iya..ayo segera ke rumah sakit. Ibu Naina, ayo bu"
Vino menggendong Zain di punggungnya dan berlari ke arah mobil. Sementara Starla membantu ibu Naina memapah wanita itu.
"Satria" Jin melayang menangkap tubuh Satria yang hampir jatuh.
"sayang" El-Syakir berlari menghampiri dan mengambil alih tubuh Satria dari pelukan Jin.
"pah"
"iya papa di sini. Tahan ya, kita ke rumah sakit sekarang"
"tidak ada yang bisa meninggalkan tempat ini hidup-hidup" ibu Dian berkata dengan begitu lantang.
Ibu Dian menyerang semua orang, akan tetapi mereka dilindungi oleh Airin sehingga serangan itu sama sekali tidak menyakiti mereka.
El-Syakir dengan cepat membawa Satria ke mobil. Para perempuan tim samudera akan meninggalkan tempat itu. Sementara itu, selain El-Syakir dan Vino para lelaki tim samudera masih akan tetap berada di tempat itu, berjaga-jaga jangan sampai Airin membutuhkan bantuan mereka. Tim awan biru selain Satria dan Zain masih tetap berada di situ.
Gibran memutuskan untuk tidak ikut bersama mereka. Laki-laki itu diperintahkan Airin untuk kembali ke sekolah, untuk berjaga-jaga di sekolah itu dan Gibran patuh dengan perintah itu.
Pertarungan ibu Dian juga Airin dimulai. Adam tidak bergeming menatap keduanya, Jin berdiri di samping Adam sementara Danial kini sedang mengapit lengannya.
"apa boleh aku bantu tante Airin om...?" ucap Jin meminta izin.
"tidak sebelum dia membutuhkan bantuan kita" Adam menolak
__ADS_1