Panggil Aku Jin

Panggil Aku Jin
Episode 59


__ADS_3

Keterkejutan yang dialami Sharlin mengagetkan semua orang. Bahkan Ragel yang ternyata berjalan dengan tertatih ke arah mereka, berhenti seketika dengan mata yang membulat dan mulut yang mengangga lebar. Wajahnya kian merah padam hingga detik berikutnya tangisan bayi itu menggema di seluruh rumah.


ehek...ehek....


Huwaaaaaaa....


"eh"


Semua orang refleks melihat ke arah bayi itu. Wajahnya kian merah padam sebab kulitnya yang putih. Air matanya mengalir deras bagai seseorang yang baru saja selesai dipukul.


"atutututu sayang...kok nangis dek" Danial bergerak cepat menghampiri adiknya yang sudah duduk di lantai dengan tangisan menggema.


Setelah Danial menggendong adiknya, baby sitter bayi itu datang dan berniat mengambil alih tubuh gembul Ragel.


"sama tante ya, ayo" ucapnya.


Ragel menggeleng dan memeluk leher kakaknya. Air matanya kian deras dengan bibir yang mengerucut.


Cup


Cup


Cup


Karena begitu gemas dengan wajah adiknya, Danial menciumi seluruh wajah Ragel dengan penuh kasih sayang.


"sama mbak ya, nanti kakak ajak main berenang di kolam, oke"


Ragel tetap menggeleng dan semakin erat memeluk leher Danial. Baby sitter itu mencoba membujuk Ragel dengan memperlihatkan tontonan kesukaan bayi itu, siapa lagi kalau bukan si kembar botak. Seketika Ragel melepaskan pelukannya dari leher Danial dan merentangkan tangan kepada baby sitter.


"pinter banget sih. Sekarang kita nonton Upin Ipin aja ya, kakak Danial masih ada urusan. Oke"


"ote" jawabnya bersemangat.


"cium dulu" Danial mendekatkan pipinya.


bibir mungil Ragel mendarat di kedua pipi Danial dan berakhir di bibir kakaknya itu. Setelahnya Baby sitter itu membawa Ragel kembali ke ruang keluarga, sementara Danial kembali bergabung bersama yang lain. Saat itu Sharlin masih belum memutuskan panggilan telepon yang tersambung dengan papanya.


"katakan pada papamu, kita akan menyusul ke sekolah" kali ini Zidan yang mengambil tindakan.


[kami menyusul papa ke sekolah]


[bahaya sayang, jangan datang]


[pokoknya Sharlin tetap akan ke sana bersama yang lainnya]


[baiklah, beritahu Gibran untuk cepat menyusul]


[baik pah]


Sambungan telepon itu diputus secara sepihak oleh pak Aditama. Sharlin menatap semua orang dengan wajah tegang dan panik.


"bagaimana ini mas...?" Sharlin menatap Gibran.


"kita ke sana dan juga langsung lapor polisi saja untuk mengamankan orang tua siswa. tidak mungkin membawa anak buah Sanjaya, kita tidak berhak ikut campur dalam masalah buruknya karena ada yang lebih berkewajiban melakukan itu. Setidaknya kita ke sana untuk menunggu kepulangan orang tua kalian" ucap Zidan


Zidan langsung berdiri, semua orang mengikutinya. Setelah berpamitan kepada ayah Adnan, ibu Arini juga Vania, mereka langsung meninggalkan rumah menuju ke sekolah.


Mobil Zidan menjadi transportasi mereka saat itu. Laki-laki yang sudah memasuki usia empat puluh tahun lebih itu menjadi sopir untuk semua orang. Meskipun usianya tidak lagi mudah bukan berarti Zidan sudah terlihat tua. Malah kebalikan dari itu, dirinya semakin berumur semakin berkharisma dan tampan.


Baru juga jalan di sekitar kompleks perumahan mewah, Zidan sudah mempercepat laju mobilnya apalagi setelah tiba di jalan raya yang padat akan kendaraan, laki-laki itu tidak memberikan kesempatan kepada para penumpangnya untuk bernafas.


Mobil yang ada di depannya ia lambung dengan kecepatan tinggi. Semua penumpangnya kadang terhuyung ke kanan kadang juga ke kiri. Tiba-tiba Zidan menginjak pedal rem sehingga semuanya terhuyung ke depan.


"YA ALLAH PAMAN, AKU MASIH MAU HIDUP.... BELUM NIKAH AKU LOH" Gibran terpekik karena saat ini dirinya mencium kaca mobil.


Zidan menoleh ke arah samping melihat Gibran yang begitu kesal. Ia juga memutar kepala melihat penumpang yang duduk di belakangnya. ia cengengesan menggaruk kepala saat melihat tatapan maut tim awan biru.

__ADS_1


"masih aman kan...?" tanyanya tanpa dosa.


"aman paman meskipun baru saja selesai salto jungkir balik dan kayang" Danial menjawab kesal.


"ada yang lebih ekstrim lagi nggak paman...? sampai tercabut gigi mungkin, seru tuh kayaknya" Alea bersidekap.


"alamak..... ompong dong" Sharlin juga Danial refleks memegang mulut mereka.


"maaf maaf, tadi itu ada yang menyeberang makanya paman rem mendadak. Sekarang persiapkan mental untuk melakukan hal ekstrim lagi" Zidan memutar kepalanya fokus ke depan.


Kembali mesin mobil dinyalakan, bergerak pelan hingga semakin lama semakin kencang kembali.


"ya Allah....Allahumalakasumtum wabika amantu" Kirana menutup mata dan membaca doa dengan keras


Plaaaak


"itu doa buka puasa ege"


niat hati ingin berdoa meminta keselamatan, Kirana malah membaca doa yang salah sehingga Ayunda memukul lengannya karena gemas.


Gibran kini sudah duduk anteng di samping Zidan. Sebenarnya dia tidak takut jika Zidan membawa mobil dengan kecepatan seperti itu karena dirinya juga sudah terbiasa melakukan hal seperti itu. Yang ia kesalkan tadi, Zidan menginjak pedal rem dengan mendadak sehingga bibirnya harus mencium kaca mobil bukan malah mencium bibir seksi wanita.


Perjalanan yang harusnya di tempuh sekitar 40 menit karena jauh, kini malah mencapai rekor 15 menit. Alhasil ketika tiba di lorong menuju ke sekolah, tim awan biru meminta untuk turun.


hueeeeek.... hueeeeek


Sharlin langsung memuntahkan semua isi perutnya. Alea merasa kasihan mendekati dan memijit tengkuk ketua kelas mereka itu. Bukan hanya Sharlin yang muntah, Kirana pun kini sedang duduk di pinggir jalan memuntahkan isi perutnya.


"minum dulu kak" Alea memberikan air minum kepada Sharlin.


Dengan tangan yang lemas, Sharlin meraih botol yang diberikan Alea. Meneguk isinya hingga setengah, setelahnya ia terduduk di pinggir jalan mengatur nafas dan mengontrol dirinya karena kepalanya serasa pusing.


"kakak baik-baik saja...?" Alea berjongkok di samping Sharlin.


"lumayan" Sharlin menjawab pelan.


Kirana diurus oleh Ayunda. Gadis itu diberikan minuman dan sampai habis Kirana meminumnya.


"nggak mau" Sharlin menjawab cepat. "sudah sampai di sini masa iya mau pulang"


Dor


Dor


Suara tembakan dari dalam lorong sana membuat mereka semua saling tatap. Sharlin dengan cepat berdiri sementara Kirana dibantu oleh Danial.


"bukannya kita baru saja menghubungi polisi, kenapa ada suara tembakan...?" tanya Zidan.


"aku belum menghubungi polisi paman, tadi aku lupa karena terburu-buru" Gibran menjawab.


"berarti pihak sekolah yang melapor. Kita segera ke sana, ayo masuk ke dalam mobil" perintah Zidan.


Bergegas semuanya masuk ke dalam mobil. Mobil itu bergerak pelan masuk ke dalam lorong dan baru di tempat parkir para siswa-siswi, sudah terlihat mobil polisi juga orang tua siswa yang ditahan oleh para polisi karena memaksa menerobos masuk ke dalam.


Banyak juga orang tua siswa yang datang ingin membakar sekolah SMA Citra Bangsa. Mungkin sebagian dari mereka adalah orang tua siswa yang menjadi korban ataukah ada sebagian juga yang bukan namun hanya ikut ingin menghauskan sekolah yang menurut mereka terkutuk.


"BAKAR...HARUS BAKAR SEKOLAHNYA" salah seorang bapak berteriak dengan lantang.


"MAJU"


Para orang tua mendorong para polisi untuk bergerak mundur. polisi kewalahan sebab jumlah mereka kurang banyak sehingga kepala sekolah juga para guru membantu pihak berwajib itu. Salah seorang anggota polisi menghubungi pimpinannya untuk mengirimkan bala bantuan, dan tentu saja atasannya itu harus menerima laporan itu.


"bagaimana caranya kita bisa masuk ke dalam...?" ujar Danial.


"ada jalan pintas nggak sih...?" tanya Alea.


"ada, tapi harus lompati pagar" Sharlin menjawab sambil melirik ketiga perempuan tim awan biru.

__ADS_1


"kamu pasti mengira kami tidak akan bisa memanjat pagar itu kan...? Tebak Kirana dengan tatapan menyipit.


"y-yaa...bukan gitu juga sih" Sharlin memegang tengkuknya.


"tunjukkan dimana jalan pintasnya" ucap Zidan.


Sharlin membawa mereka menjauh dari kerumunan banyak orang. Lewat di samping sekolah, dan mereka berakhir di tempat yang dimaksud oleh Sharlin. cukup tinggi pagar itu, akan tetapi ada dua kursi yang disusun untuk bisa menggapai pagar itu. Sepertinya itu adalah ulah siswa yang ingin bolos dari sekolah.


Alea yang pertama dibantu untuk memanjat, kemudian menyusul Kirana lalu Ayunda. Setelahnya Sharlin, Danial, Gibran dan yang terakhir Zidan. Tepat saat mereka berhasil masuk ke sekolah itu, suara tembakan terdengar lagi. Segera mereka berlari ke arah depan sekolah untuk melihat apa yang terjadi.


Dengan mata yang membulat dan tubuh yang bergetar, Sharlin melihat papanya berlumuran darah di bagian lengan. Sementara seorang laki-laki berdiri tidak jauh darinya masih mengarahkan pistol itu ke arah pak Adiatama.


"PAPA"


Sharlin berlari cepat ingin menghampiri pak Adiatama. Sementara laki-laki tadi hendak kembali menembak pak Adiatama. Syukurnya Zidan melempar melempar sepatu miliknya ke arah laki-laki itu sehingga tembakannya terpental dan tidak mengenai sasaran namun hanya mengenai batang pohon yang ada di sekitar itu.


Bughhh


Satu orang polisi menghantam punggung laki-laki itu kemudian meringkusnya dan mengambil pistol yang ada di tangannya. akan tetapi laki-laki itu masih tersenyum menyeringai melihat pak Aditama di bantu para guru untuk menekan lukanya agar darah tidak terus keluar.


"kita harus bawa kepala sekolah ke rumah sakit" ucap pak Danu.


"tapi bagaimana caranya pergi sementara jalan keluar sudah diblokir orang tua siswa" pak Rahim frustasi melihat ternyata semakin banyak saja orang tua siswa yang berdatangan. Bahkan mereka masih terus melawan untuk masuk ke dalam.


"kita lewat jalan pintas tadi, ada mobil yang saya parkir di belakang semua orang. Kita bisa memakai mobilku membawanya ke rumah sakit" Zidan menyarankan.


belum juga ada yang menjawab, sebagian orang tua siswa sudah ada yang berhasil menerobos masuk ke dalam. Alhasil saat itu tim awan biru membawa pak Adiatama ke tempat aman. Mereka menjauh dari keributan sementara para guru juga Zidan dan Gibran menghalangi beberapa orang tua siswa itu.


"minggir atau ku bakar juga kalian"


"kita bisa bicarakan baik-baik pak, jangan melakukan tindakan vandalisme seperti ini" ucap pak Kenan.


"anak saya mati dan kamu bilang harus dibicarakan baik-baik...? yang paling baik adalah membakar sekolah ini, dengan begitu dalang dari penumbalan itu pasti keluar"


"bagaimana kalau kita bakar dengan mereka, saya yakin salah satu dari mereka pasti akan berubah menjadi makhluk itu" salah satu menyarankan hal yang begitu gila.


"bagus juga idemu"


"DASAR GILA" Zidan yang kesal mengumpat mereka.


"allaaah.... BANYAK OMONG. MATI KALIAN"


HIYAAAAAA


Dor


Satu tembakan mendarat di kaki laki-laki itu yang hendak menyerang Zidan. bala bantuan yang dikirim oleh pihak kepolisian datang tepat waktu. Orang-orang yang menerobos itu ditangkap dan dibawa keluar untuk diamankan.


Semuanya teratasi setelah para polisi berhasil mengamankan beberapa orang yang menjadi dalang untuk membakar sekolah. semua orang yang berhasil termakan hasutan iblis, mulai sadar dengan tindakan mereka yang salah.


Saat itu mereka semua bubar sementara yang melakukan kekerasan juga penembakan, dibawa ke kantor polisi. Para guru diminta satu orang perwakilan untuk dimintai keterangan dari kejadian itu dan pak Hamzah lah yang mengikuti pihak kepolisian.


Setelah semuanya bubar, tim awan biru juga pak Adiatama keluar dari persembunyian. Saat itu pak Adiatama mulai pucat dan lemas.


"kita ke rumah sakit"


"ayo pah" Sharlin membantu memapah papanya.


Mereka semua berjalan akan keluar dari halaman sekolah. akan tetapi kejadian aneh terjadi saat itu. Cuaca yang tadinya terang berubah menjadi mendung padahal hujan pun tidak turun setelah mendung itu muncul. tidak lama suara leladakan terdengar di lapangan sekolah.


berhenti dan saling pandang, mereka semua berbalik melihat ke arah lapangan sekolah yang dipenuhi dengan asap.


_____


Catatan :


Adakah yang menunggu cerita dari novel ini....?

__ADS_1


Maaf telah membuat kalian menunggu lamaπŸ™πŸ™ . beberapa hari ini saya sempat sakit ditambah lagi kegiatan nasional sekolah yang harus dilakukan, alhasil belum sempat menulis dan baru hari ini.


Terimakasih untuk kalian yang masih membaca panggil aku Jin πŸ™πŸ™πŸ™


__ADS_2