
"pah tunggu pah" Satria menahan El-Syakir yang sedang menggandengnya saat itu.
Padahal saat ini mereka di kejar oleh siswa-siswa yang kerasukan akan tetapi ketika Satria melihat pak Adiatama juga pak Kenan yang berusaha menyelamatkan ibu Dian juga ibu Amanda, Satria meminta papanya untuk berhenti.
"kenapa berhenti, kita masih di kejar" Gibran menoleh melihat gerombolan siswa yang berlari ke arah mereka.
"itu...itu kepala sekolah dan pak Kenan. bantu mereka dulu pah" tunjuk Satria.
"biar aku yang membantu, kalian pergi saja" Gibran melesat berlari ke arah empat orang yang membutuhkan bantuan.
"sayang, kamu pergi sama Satria dan om El ya. Papa mau bantu mas mu dulu" Deva memegang kedua bahu Ayunda. gadis itu mengangguk.
Genggaman tangan Deva terlepas dan kini Satria menggantikannya menggenggam tangan Ayunda dengan erat.
"duluan El, nanti kami menyusul"
"hati-hati kak"
Deva mengangguk, ia mencium pucuk kepala Ayunda kemudian berlari meninggalkan mereka.
"ayo, mereka semakin dekat" El-Syakir melihat di belakang mereka, sudah semakin banyak siswa-siswi yang mengejar. Ketiganya berlari menuju mushola.
Empat orang telah terkepung dan tidak bisa kemana-mana lagi. Pak Adiatama, pak Kenan, ibu Dian juga ibu Amanda, saling mempertemukan punggung dan saling membelakangi. Hingga ketika mereka mulai diserbu, Deva melompat dan mendarat di tengah-tengah kemudian mengeluarkan kekuatannya sehingga mereka terpental dan saling menindih.
Gibran menendang beberapa siswa yang bangun dan hendak menyerang lagi.
"ayo pak, kita berkumpul di mushola" ajak Deva.
"kakiku tidak bisa berjalan lagi, aku tidak sanggup lagi" ibu Dian merintih, kakinya terluka karena dirinya yang melarikan diri kemudian bertemu kepala sekolah dan dia guru lainnya.
"saya gendong"
tanpa meminta izin, pak Adiatama langsung begitu saja menggendong ibu Dian. tidak ingin jatuh, ibu Dian mengalungkan tangannya ke leher pak Adiatama.
Semua siswa-siswi kembali bangun, Deva menghalau dan untuk kedua kalinya mereka terpental. Kesempatan itu di gunakan untuk berlari. Gibran refleks meraih tangan ibu Amanda karena wanita itu tertinggal di belakang.
"itu om El, Satria sama Ayunda" tunjuk Alea kala melihat mereka berlari ke arah musholla.
Sharlin segera membuka kunci pintu mushola namun tidak membuka pintunya dengan lebar. Mereka menunggu dengan wajah tegang sebab banyak dari mereka yang mengejar berlarian ingin menggapai mangsa mereka.
Tangan El-Syakir ia lepas dari genggaman tangan Satria. putranya itu berhenti dan menoleh.
"pergilah, papa harus melakukan sesuatu"
"tapi pah"
"papa akan baik-baik saja, pergi bersama Ayunda" El-Syakir membelai lembut wajah Satria, ia mengangguk pelan meyakinkan putranya bahwa dirinya akan baik-baik saja.
"ayo Ay" Satria kembali menarik tangan Ayunda dan berlari lagi.
keduanya sampai di musholla, Sharlin membuka pintu lebar dan keduanya masuk ke dalam.
"om El kenapa nggak ikut...?" Danial menatap El-Syakir berdiri tegak tanpa bergerak.
"tetaplah di sini" Jin menembus pintu mushola melayang mendekat El-Syakir.
"ayo om, kenapa diam saja di sini" Jin menarik pergelangan tangan El-Syakir.
"om sedang melakukan sesuatu. Tunggu sebentar"
Jin diam dan menunggu, ia was-was sebab bertambah banyak yang datang ke arah mereka.
Jan Sarikan Lungurtum Kris Larangapati
Selesai mengucapkan mantra, keris larangapati keluar dari tubuh El-Syakir. Keris itu mengeluarkan cahaya sehingga semua orang silau untuk melihatnya begitupun dengan siswa-siswa yang kesurupan itu. Mereka berhenti dan menutup mata.
Perlahan-lahan cahaya itu redup menyisakan keris larangapati yang melayang-layang di depan El-Syakir.
Redupnya cahaya itu membuat mereka kembali berlari lagi. El-Syakir mengambil keris itu dan menancapkannya ke tanah. Pagar gaib langsung melindungi mereka, mengelilingi mushola dan halaman sekitarnya. Setelahnya El-Syakir mencabut kembali keris larangapati.
Mereka yang berusaha masuk ke lingkaran pagar gaib itu, terpental dan tidak bisa menembus.
Dari jauh terlihat Bara, Kirana juga Leo sedang berlari ke arah mereka. Akan tetapi kedua kaki mereka terhenti karena di depan sana dikerumuni siswa-siswi yang berusaha untuk menerobos masuk ke dalam pagar gaib.
El-Syakir terpaksa keluar dari lingkaran pagar gaib. Jin pun sama, mereka membantu Bara juga Leo untuk menghadapi siswa-siswi yang bagai begitu brutal ingin menyerang.
ketika memiliki kesempatan, mereka menggunakan kesempatan itu untuk berlari ke arah pagar gaib dan mereka berhasil melakukannya. Sayangnya tidak cukup beberapa detik, Sharlin berlari ke luar dari musholla karena ia melihat papanya yang sedang menggendong ibu Dian juga Gibran, ibu Amanda serta Deva sedang mengarah ke arah mereka.
"papa" Sharlin hendak keluar, akan tetapi Jin melarangnya.
__ADS_1
"itu papa kak Kean, itu papa" Sharlin memberontak, dirinya ingin membantu pak Adiatama.
"biar kami yang membantu papamu" ucap Bara.
Kembalilah mereka keluar dan menghadapi banyaknya siswa-siswi yang bergerombol datang dari berbagai arah untuk menyerang mereka. Andai mereka tidak memiliki kemampuan apapun, sudah pasti mereka kehilangan nyawa di tangan banyaknya remaja itu yang sebenarnya mereka pun kehilangan akal karena kesurupan.
"turunkan saja saya pak, bapak bisa terluka" ibu Dian meminta.
sementara pak Adiatama tidak menggubris, ia menggunakan kedua kakinya untuk menendang siapa saja yang datang menyerangnya. Bahkan dirinya sudah terkena cakaran akibat kebrutalan semua siswanya.
"PAK DI BELAKANG"
Bughhh
Teriakan ibu Dian bersamaan dengan pukulan yang mendarat di pinggang pak Adiatama. hampir tersungkur namun ia berhasil menahan dengan satu kakinya ke depan.
Buaaak
Buaaak
Pak Adiatama memutar dan menendang siswa laki-laki yang memukulnya tadi dengan kayu.
begitu kecil kemungkinannya untuk bisa masuk ke lingkaran pagar gaib. Akhirnya El-Syakir membuat pagar gaib di tempat itu untuk melindungi mereka, sebab dengan keadaan sekarang mereka begitu banyak dan begitu brutal. Apalagi mereka adalah siswa-siswi yang sebenarnya tidak sadar akan apa yang mereka lakukan.
pagar gaib itu melindungi mereka dari serangan. Seketika pak Aditama menurunkan ibu Dian, kepala sekolah yang masih muda itu membaringkan tubuhnya di tanah dan menutup mata. Alhasil ibu Dian panik dan mulai berkaca-kaca menggoyang lengan pak Adiatama.
"pak bangun pak, hiks hiks bangun pak....jangan mati" ibu Dian mulai menangis.
Pak Adiatama membuka mata, melihat ibu Dian menangis, laki-laki itu langsung bangun.
"saya belum mati ibu Dian, kenapa malah menangis seperti itu"
Seketika refleks ibu Dian memeluk pak Adiatama. Ia tadi benar-benar takut kepala sekolahnya itu mati, apalagi karena menyelamatkan dirinya.
sementara pak Adiatama, terkejut ketika ibu Dian menubruk tubuhnya. Laki-laki itu canggung namun tidak juga melepaskan pelukan ibu Dian.
"maaf pak, saya lancang. Habisnya bapak langsung berbaring dan menutup mata. saya pikir bapak sudah mati" ibu Dian menghapus air matanya.
"cieee... ibu Dian begitu khawatir. Lampu hijau tuh pak" ibu Amanda malah menggoda, padahal tadi mereka baru saja bertarung menyelamatkan nyawa.
Plaaaak
"eh maaf bu, saya tidak tau" ibu Dian merasa bersalah. Ia memukul ibu Amanda karena merasa malu dengan pak Adiatama. Sementara kepala sekolah mereka itu, hanya tersenyum tipis.
"luka di perutmu bagaimana ibu Amanda...?" tanya Gibran.
Pertanyaan itu membuat El-Syakir, Bara, Leo juga Deva saling melirik. Keris larangapati ditancapkan Adam ke perut juga punggung si pelaku. Ketika mendengar pertanyaan itu, mereka mulai menatap ibu Amanda dengan diam.
"sudah lebih baik. Kemarin berdarah karena jahitannya terbuka. Harusnya aku beristirahat di rumah akan tetapi karena bosan jadinya aku datang di sekolah" ibu Amanda meraba perutnya.
Gibran menatap punggung ibu Amanda. Kalau memang ibu Amanda pelakunya, maka pastinya di punggung wanita itu pasti akan ada luka tusuk juga. ia begitu penasaran, dan mencoba memikirkan bagaimana untuk mengetahui apakah luka itu ada atau tidak.
"kenapa bisa seperti ini. Terus guru-guru yang dari sekolah lain, mereka bersembunyi dimana...?" pak Kenan mengeluarkan suara.
"semoga saja mereka baik-baik saja. Oh iya pak Rahim, pak Danu, ibu Kahiyang dan ibu Naina dimana...?" pak Adiatama baru teringat dengan para guru itu.
"entahlah, kami pun tidak melihat mereka" Gibran menghela nafas.
Leo mendekati El-Syakir berbisik. "Adam sama Vino kemana...?"
"aku nggak tau, kita kan berpisah untuk mencari keberadaan anak-anak" El-Syakir ikut berbisik.
Di halaman mushola, tim awan biru merasa lega sebab orang tua mereka selamat. akan tetapi Danial merasakan kecemasan karena ia tidak melihat ayahnya berada bersama yang lainnya.
"Jin, ayah kok nggak ada... jangan-jangan ayah kenapa-kenapa lagi Jin" Danial risau, ia begitu takut Adam terluka atau semacamnya.
"om Adam itu bukan orang sembarangan Dan, aku yakin dia bisa menjaga diri. Mungkin om Adam sedang mencari keberadaan Zain" ucap Jin.
"eh iya, aku baru ngeh kalau Zain nggak bersama kita" Kirana baru mengingat sahabatnya itu
_____
di perpustakaan.
"tunggu sebentar bu, saya mau melihat keadaan diluar" Zain mencoba melepaskan genggaman tangan ibu Naina.
"saya ikut" ibu Naina malah semakin mempererat genggamannya.
"hanya sebentar bu, tidak akan lama. ibu duduk dan tunggu di sini saja" pelan Zain melepaskan tangannya.
__ADS_1
"jangan lama-lama Za, ibu takut"
Zain mengangguk dan tangannya terangkat membelai lembut wajah ibu Naina. Perlakuan itu tidak ditolak oleh ibu Naina. Baginya itu adalah perlakuan perhatian seorang siswa kepada gurunya.
Zain berjalan ke arah pintu yang dikunci bermaksud ingin membuka. Pelan sekali ia membuka untuk mendapatkan celah melihat ke arah luar. Rupanya di luar itu, masih dijaga oleh siswa yang berjumlah lebih dari sepuluh orang. Mereka berdiri di depan perpustakaan menunggu dirinya juga ibu Naina untuk keluar.
Zain menutup pintu kembali, kemudian ia kembali kepada ibu Naina yang sedang menundukkan kepalanya di atas meja.
"ibu sakit...?" Zain duduk berhadapan dengan ibu Naina, mereka hanya terhalang meja panjang saja.
Ibu Naina mengangkat kepalanya dan menatap Zain. "bagaimana di luar Za...?" tanyanya.
"kita dijaga ketat, mereka tidak pergi"
"lalu bagaimana kita bisa keluar dari tempat ini" ibu Naina menggigit bibir.
"ada baiknya kita di sini dulu sampai pagi datang. Hanya di sini tempat yang aman untuk kita bersembunyi"
Ibu Naina menghela nafas. "saya pikir tidak akan ada lagi kejadian seperti ini, namun ternyata kini kembali lagi. Semoga besok tidak terjadi apapun"
Hening....
Zain terdiam begitu juga ibu Naina. Tidak ada lagi percakapan diantara mereka. Hingga tiba-tiba keduanya dikejutkan dengan suara pintu yang dobrak begitu keras.
Bahkan dapat di dengar terjadi perkelahian di luar. Zain berdiri hendak berjalan ke arah pintu, namun ibu Naina bergerak dan menariknya. Karena terlalu kuat tarikan itu, alhasil keduanya terjatuh ke lantai dengan Zain berada di posisi atas.
Cup
Ciuman di pipi tanpa di sengaja oleh ibu Naina membuat Zain membulatkan mata begitu juga dengan guru muda itu. Bibir ibu Naina menempel di pipi mulus Zain.
Deg
Deg
Jantung keduanya berdetak tidak karuan. Zain menarik wajahnya namun tidak begitu jauh. Ia menatap manik mata ibu Naina yang juga sedang kaku menatap dirinya. Bisa dirasakan deru nafas yang keluar dari hidung keduanya.
Dari dekat seperti itu, jujur saja Zain akui kalau ibu Naina begitu cantik. pantas saja banyak siswa laki-laki yang menjadi crush dari guru muda itu.
Braaaakkk
Dobrakan pintu membuat keduanya tersadar dan dengan cepat Zain bangun kemudian ia pun juga membantu ibu Naina untuk bangun.
"jangan Za" ibu Naina menahan lengan Zain dan menggeleng, ia tidak mau Zain mendekati pintu.
"apakah ada orang di dalam...?" terdengar teriakan dari luar.
"siapapun di dalam, bukalah pintunya"
"papa...itu papa" Zain tersenyum lebar.
"papa...?" kening ibu Naina mengernyit.
Zain mengangguk dan berlari ke arah pintu. ia kemudian membuka pintu perpustakaan itu, benar saja di luar ada Adam juga Vino yang ternyata tadi sedang melawan siswa-siswi yang kesurupan.
"papa"
"sayang"
Vino segera memeluk Zain. Ia ciumi kening putranya itu. Begitu bersyukur kalau ternyata di dalam adalah putranya. Batu hijau itu mengarahkan mereka untuk ke tempat itu.
Ibu Naina mendekat dan menatap Zain yang masih di peluk oleh Vino. Sementara Adam diam menatap wanita itu.
"ibu Naina, dia papa aku dan om aku, ayahnya Danial Zabdan Sanjaya" Zain memperkenalkan keduanya kepada ibu Naina.
"syukurlah, saya pikir tadi itu adalah siswa kesurupan yang mencoba mendobrak pintu" ibu Naina bernafas lega.
"ayo ke mushola" ucap Adam.
"ayo bu" ajak Zain kepada ibu Naina.
"tapi mereka ada dimana-mana" ibu Naina terlihat ragu.
"tetap bersama dan berhati-hati" ucap Adam kembali.
Karena merasa takut, ibu Naina menarik tangan Zain dan menggenggamnya. Hal itu membuat kedua mata Vino menatap dua tangan yang saling menggenggam itu. sementara Zain cengengesan menggaruk kepala tatkala Vino mengalihkan mata kepadanya.
Zain tidak mungkin menolak ibu Naina, wanita itu merasa takut dan sudah pasti hanya dengan Zain ia berani berpegangan. Tidak mungkin ia menggenggam tangan Adam atau Vino kan...?
Bisa ngamuk dua ratu yang ada di rumah.
__ADS_1