Panggil Aku Jin

Panggil Aku Jin
Episode 55


__ADS_3

Gibran kembali setelah mengantarkan semua orang untuk keluar dari lingkungan sekolah. Di tempat semula, Airin berdiri berhadapan dengan iblis itu sementara Jin masih ditempanya tadi. Airin tidak mengizinkan Jin untuk mendekati mereka.


"Jin, yang lain mana...?" Gibran bertanya setelah dirinya tiba di samping hantu itu.


"mungkin masih di jalan. Mas Gibran, dia....ibu Amanda kan...?" Jin memutar kepala melihat sekilas wajah Gibran kemudian dirinya kembali melihat ke depan.


"iya...dia ibu Amanda. Ternyata kecurigaan kita selama ini tidaklah salah. Harusnya setelah melihat lukanya kemarin, kita mulai fokus kepadanya" Gibran menghela nafas.


"tapi bukankah dia ke rumah sakit, kenapa sekarang dia ada di sekolah...?"


"jelas dia menggunakan kesempatan yang ada saat kalian tidak ada" Gibran melihat para mayat siswa-siswi yang tergelatak, ia tatap nanar dengan wajah begitu sedih. "kasihan sekali mereka, apa yang akan kita katakan kepada orang tua mereka nanti"


Jin ikut menatap mayat itu satu persatu. Hatinya teriris melihat kali ini iblis itu mengambil banyak tumbal. Tangannya terkepal erat, dirinya teringat dengan sahabatnya Ningsih, yang juga menjadi korban tumbal iblis itu.


"Jin, kumpulkan mayat-mayat ini menjadi satu tempat" perintah Airin. Sementara dirinya akan menghadapi iblis yang ada di hadapannya.


Jin mengarahkan telapak tangannya ke depan. Mayat-mayat itu mulai melayang dan ia kumpulkan di tempat yang aman menurutnya. Jin membawa semua mayat siswa-siswi itu ke depan kantor. di situ, jauh dari lapangan sekolah. setelahnya ia kembali lagi di dekat Gibran.


Iblis itu kembali merubah wujudnya menjadi manusia. Dialah ibu Amanda, wanita yang mempunyai rambut sebahu itu tersenyum menyeringai ke arah Airin.


"tidak ku sangka, aku kedatangan tamu yang terhormat. Terimalah penghormatan ku sang ratu" ibu Amanda membungkukkan badannya, dirinya memberikan penghormatan kepada Airin.


"bukan penghormatan yang akan aku terima, tapi kepalamu yang akan saya ambil. Kamu tidak keberatan bukan, yaa sebagai balasan atas semua tumbal yang pernah kamu ambil" Airin menjawab tanpa ada rasa taktu sedikitpun.


Sang ratu penguasa hutan timur, akan takut kepada iblis yang bermain petak umpet...?


Sungguh itu tidak akan mungkin. Belum ada sejarahnya ratu Sundari gentar dengan musuhnya sendiri.


Ibu Amanda terkekeh pelan, kemudian dirinya menatap lurus ke arah Airin. istri dari Dirga Sanjaya itu atau Adam, dirinya juga mengubah kembali wujudnya menjadi seperti sebelumnya. rambut panjangnya tergerai lurus dengan jepitan kecil di kepalanya.


"Sundari... ternyata setelah menemukan tubuhmu kembali, kamu tetap semakin cantik ya"


kening Airin mengerut, begitu juga Gibran dan Jin. Airin nampak terkejut, bagaimana bisa wanita yang ada di hadapannya tau dengan dirinya yang sebenarnya. Meskipun ibu Amanda tau kalau dirinya mungkin adalah seorang ratu, namun sudah jelas ibu Amanda tidak akan tau siapa nama asli dirinya yang sebenarnya sebelum ia berganti nama.


"hahaha" ibu Amanda tertawa, menertawakan ekspresi yang ditampakkan oleh dua orang manusia dan satu makhluk gaib yang ada bersamanya sekarang.


"kenapa terkejut seperti itu, Sundari. Kaget ya kalau aku tau siapa namamu"


ketika itu, Adam juga bersama yang lainnya baru saja datang. Tadinya mereka akan membagi dua tim untuk ke rumah sakit sebagian, namun El-Syakir menghubungi mereka kalau sebaiknya mereka mengurus iblis itu saja. Apalagi batu permata hijau yang diberikan oleh Airin, membawa mereka ke arah sekolah.


Danial pun telah sadar dari pingsannya, berkat Alea yang membalurkan minya kayu putih di hidung sepupunya itu. Danial, sangat tidak suka dengan bau benda itu, namun benda itu mampu membuatnya sadar.


"wah...suami mu datang" ibu Amanda melihat ke arah Adam yang baru saja datang bersama yang lain. "bocah ingusan yang kamu pilih, ternyata sudah menjadi laki-laki dewasa yang tampan ya. pantas saja pangeran Ragiman tidak kamu pilih"


"apa-apaan... bagaimana bisa dia tau tentang masa lalu itu...?" Leo sungguh tidak percaya.


Airin masih diam memperhatikan ibu Amanda. Wanita itu menatap kedua mata ibu Amanda tanpa berkedip.


"siapa dia...kenapa aku tidak bisa membaca pikirannya dan mengetahui isi hatinya" Jin bersusah payah untuk bisa membaca pikiran ibu Amanda, namun wanita itu ternyata membentengi dirinya.


Selain ibu Amanda, Jin juga mencoba membaca isi hati Airin, akan tetapi sama saja. Dirinya tidak mendapatkan apapun.


"apa karena mereka memiliki kekuatan yang besar sehingga aku tidak bisa melakukannya. Ya sepertinya memang begitu"


"kenapa Jin" Danial yang berdiri di samping hantu itu, menanyakan apa yang sedang Jin lakukan.


"tidak...aku hanya penasaran dia siapa sebenarnya" Jin menjawab tanpa mengalihkan pandangan sedikitpun dari ibu Amanda.


Adam pun juga sama terkejutnya, bagaimana bisa ibu Amanda tau tentang dirinya yang dulu juga tentang pangeran Ragiman yang menyukai istrinya.


"Ay" Adam hendak mendekat, namun Airin menahannya.


"tetap di sana mas, dia memang ingin menghadapiku" Airin mengangkat satu tangannya sehingga Adam yang hendak melangkah mengurungkan niatnya.


Ibu Amanda menatap Adam dengan seringai kecil. Dirinya tanpa disadari melesatkan serangan kepada Adam. begitu cepat bahkan Airin tidak menyangka akan hal itu.


Akan tetapi Airin tentu saja sudah bersedia untuk melawan serangan dari wanita itu. Airin mengeluarkan tongkatnya dan melempar benda panjang itu ke arah semua orang. Tongkat itu seketika membuat tabir pelindung sehingga serangan ibu Amanda meledak setelah mengenai tabir. itu.


sebaliknya, ibu Amanda melesatkan serangan kembali dan hampir saja ibu Amanda terpental dengan tubuh yang gosong jika saja ia tidak cepat untuk menghindar.

__ADS_1


"astaga... hampir saja kita mati mengenaskan" Sharlin memegang dadanya yang begitu kaget.


"ayah" Danial dengan cepat mendekati Adam. "ayah baik-baik saja...? Danial begitu khawatir.


"tenang nak, ayah baik-baik saja" Adam merangkul putranya itu.


"so sweet sekali keluar kecilmu ya Sundari. Hummm... aku iri dengan mu. Bagaimana jika aku menggantikan posisimu Sundari, kita kan saudara, harusnya saling berbagi bukan"


Ibu Amanda semakin lancang dalam berbicara. bahkan setelah dirinya menyerang Adam, wanita itu masih memasang senyum manisnya untuk membuat Adam tertarik padanya.


"siapa sih dia... perasaan Baharuddin juga Sri Dewi sudah dimusnahkan kan. tidak ada lagi musuh kita setelah mereka berdua berhasil di lenyapkan" Bara semakin penasaran dengan siapa sebenarnya ibu Amanda.


Tim awan biru hanya saling pandang. Mereka tidak tahu menahu apapun tentang masa lalu para orang tua mereka. Mereka tau, mereka mempunyai keistimewaan yang tidak dimiliki oleh manusia lainnya.


Airin yang sejak tadi diam, menyunggingkan senyum kecil. dirinya maju beberapa langkah sehingga antara dirinya dan ibu Amanda hanya berjarak beberapa meter saja. Keduanya saling tatap, kilatan mata tajam keduanya benar-benar mengisyaratkan peperangan.


"tidak ku sangka Dewi, ternyata kamu masih hidup dan bersemayam di tubuh wanita yang begitu mudah kamu perdayai" Airin mengucapkan kalimat yang membuat semua orang membulatkan mata.


"D-Dewi...? Maksudnya ratu Sri Dewi...?" Gibran terkejut, sungguh dirinya begitu terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Airin.


"ratu Sri Dewi itu siapa...?" Ayunda berbisik di telinga Kirana.


"mana aku tau, kita kan anak kemarin sore" Kirana menjawab dengan berbisik pula.


Adam diam dengan ekspresi dingin, hatinya kembali mendidih tatkala nama wanita itu di sebut oleh istrinya sendiri.


"hahaha" ibu Amanda tertawa terbahak-bahak dan bahkan bertepuk tangan. Begitu bahagia bagai mendapatkan kejutan yang luar biasa yang membuat hatinya senang bukan main.


"aku benar bukan...? Airin kembali bersuara. Ternyata untuk mengembalikan kecantikan dan kepulihan mu...kamu meminum darah perawan agar semakin membuat mu awet muda. Sungguh perbuatan mu begitu licik, sama seperti dulu yang kau korbankan anak bayi yang tidak berdosa. Aku penasaran, siapa yang menyelamatkan mu dari serangan maut ku. padahal dulu kamu sudah benar-benar musnah" Airin masih begitu santai menghadapi ibu Amanda.


"jadi dia benar ratu Sri Dewi...?" mana mungkin dan bagaimana bisa. Dia kan sudah mati" ucap Deva.


laki-laki tim samudera maju ke depan berdiri berjejer di samping Adam. Danial mundur dan berjejer bersama timnya yang lain. Jin ada di barisan tim awan biru sementara Gibran mendekat dan berdiri di barisan tim samudera.


"ya ya ya... ternyata kamu masih hebat seperti dulu Sundari. tapi apakah kamu lupa, aku sudah lama mati namun tidak dengan jiwaku. Aku bebas mencari tubuh seseorang untuk aku jadikan wadah bagi jiwaku. Kamu dan kalian semua" ibu Amanda menunjuk semua orang. "tidak akan bisa membuatku lenyap, tidak akan bisa dan tidak akan pernah" Sri Dewi memancarkan kemarahan yang teramat sangat.


Airin menghela nafas, rupanya musuh bagi mereka adalah masih musuh dari masa lalu. Tidak menyangka kalau saudara kembarnya itu ternyata masih hidup dan semakin menjadi perilaku buruknya.


"hhhh" ibu Amanda tersenyum mengejek. "tidak akan aku biarkan kamu mengusik kehidupanku Sundari. Tidak akan dan tidak akan pernah"


Ibu Amanda kembali merubah dirinya menjadi iblis yang menyeramkan. Airin pun memutar tubuhnya dan dirinya kembali menjadi ratu penguasa hutan timur.


Swing


Swing


Dua cahaya saling dilempar oleh mereka hingga menimbulkan suara ledakan yang begitu keras. Bersamaan dengan itu, keduanya lenyap dari pandangan semua orang. Mereka berdua menghilang begitu saja.


"loh, mereka kemana....? bunda kemana...?" Danial kaget karena bundanya juga ibu Amanda tiba-tiba menghilang.


Adam berlari ke tempat dimana keduanya bertarung tadi. Menelisik sekitar dan terus memanggil nama istrinya namun keheningan malam yang ia dapatkan, juga rintik hujan yang tadi sempat mengguyur bumi dengan begitu derasnya. Tubuh mereka sudah basah bermandikan air hujan sejak tadi. Namun meskipun begitu, mereka Tetap saja tidak ada rasa ingin berganti pakaian.


"ayah...bunda kemana...kenapa menghilang" Danial berlari ke arah Adam.


semua orang mendekat dan tidak menyangka Airin juga ibu Amanda menghilang dari tempat itu.


"apa yang terjadi om...?" tanya Sharlin.


"mereka bertarung di alam gaib" Adam menjawab, ia mengusap wajahnya dengan kasar.


"gawat ini dam, bagaimana kalau kak Airin tidak bisa mengalahkan Sri Dewi seorang diri. Dia kan sudah jadi manusia, tidak seperti dulu lagi" Gibran mulai risau.


"benar dam...apa yang harus kita lakukan sekarang...?" Bara frustasi.


"kita cari mereka, kita pergi ke alam itu" Adam menatap semua timnya.


"aku ikut om" Jin menimpali.


"aku juga mau ikut yah, aku mau menyelamatkan bunda" Danial memegang lengan Adam.

__ADS_1


Adam menghadap ke arah Danial dan memegang kedua bahu putranya itu.


"tetap berada di sini. Pulanglah, biar ayah dan para om kamu yang mencari bunda. berbahaya jika kalian ikut"


"nggak...aku nggak mau. Pokoknya aku mau ikut" Danial menggeleng, dirinya tetap kekeuh ingin ikut.


"Dan lihat ayah" Adam menangkup wajah Danial. Air mata remaja itu sudah menggenang di pelupuk matanya. Hingga kemudian air mata itu jatuh membasahi tangan Adam. "ayah janji akan membawa bunda kembali. Jangan takut, bunda tidak segampang itu untuk dikalahkan. Meskipun dia sudah menjadi manusia, tapi kekuatan yang dimilikinya tidak pernah hilang. dia tetap sakti seperti dulu"


"tapi yah" suara Danial terdengar mulai serak.


""ayah tidak suka dibantah Dan. Kamu mengerti dan menurut lah. Oke."


dengan terpaksa Danial mengangguk, Adam memeluk putranya itu juga mencium pucuk kepalanya.


"hubungi El-Syakir, bagaimanapun pemegang keris larangapati harus tetap ikut" perintah Adam.


"biar aku yang menghubungi dia" ucap Leo.


Segera Leo menghubungi El-Syakir, ketika diangkat maka Leo langsung menceritakan kejadian yang mereka alami. El-Syakir setuju akan ikut, Vino pun akan ikut. Sementara para perempuan tim samudera akan menjaga El-Syakir juga Zain di rumah sakit.


"tolong beritahu Seil, kalau aku harus pergi bersama yang lain" El-Syakir mengatakan itu kepada Starla juga kepada yang lainnya.


"berhati-hatilah dan harus kembali dengan selamat" ucap Nisda.


"sayang...aku pergi ya" Vino mendekati Starla dan memeluknya.


"aku dan Zain menunggu kamu pulang yang" Starla membalas pelukan suaminya.


Malam itu El-Syakir bersama Vino meluncur ke sekolah. Sementara kini Melati, menghubungi Seil untuk datang ke rumah sakit melihat Satria.


Keduanya tiba di sekolah, setelah keluar dari mobil mereka berlari ke arah semua orang.


"kak" El-Syakir memanggil Adam.


"Sri Dewi...dia kembali dan masih hidup" Adam mengatakan itu lagi.


"maka kita buat dia tidak akan pernah bisa kembali lagi ke dunia ini" El-Syakir berucap yakin.


"om...aku ikut" Jin masih tetap ingin ikut bersama mereka.


"kamu yakin ingin ikut...?" tanya Deva.


"yakin, aku ingin memastikan sendiri kalau iblis itu lenyap dari dunia ini"


"baiklah, kalau begitu kita pergi sekarang" ucap Bara.


"kak Gibran, tolong jaga anak-anak. aku percayakan mereka padamu. bilang kepada orang di rumah kalau kami mempunyai urusan yang sangat penting untuk diselesaikan" Adam menatap Gibran.


"tenang saja, aku akan memberikan alasan yang jelas kepada semua orang" Gibran mengangguk.


"yah" Danial kembali memeluk Adam. "hati-hati dan cepat kembali" ucapnya mulai tergugu.


"doakan ayah juga semuanya" Adam mencium kening putranya.


Gibran membawa tim awan biru menjauh. Saat itu El-Syakir mengeluarkan keris larangapati dari tubuhnya. kilau cahaya itu membuat pandangan semua orang terhalang hingga setengah cahaya itu lenyap, Adam juga yang lainnya pun ikut lenyap.


_____


catatan :


di sini ada yang membaca novel Fatahillah nggak...?


Rencananya aku akan membuat season 2 untuk kelanjutan kehidupan Fatahillah dan teman-temannya. masih berpikir sih cerita seperti apa yang akan aku buat nantinya di kelanjutan ceritanya. dan sepertinya setelah novel ini tamat mungkin. Aku hanya menginformasikan terlebih dahulu.


Maaf ya jadi promosi novel baru...


tapi....


kalau aku buat season 2 nya... jangan lupa mampir ya.

__ADS_1


Terimakasih juga kalian selalu membaca cerita panggil aku Jin.


__ADS_2