Panggil Aku Jin

Panggil Aku Jin
Episode 49


__ADS_3

"ayo Dan ayo"


"Danial.... Danial"


"Satria...we love you"


"Zain saranghae"


teriakan para siswi begitu heboh. apalagi khususnya kelas X2. Mereka begitu antusias memberikan sorakan semangat untuk para pemain basket. nama anak-anak tim samudera itu, terus dipanggil sekedar membangkitkan semangat mereka.


"yeeeeiiii... Sharlin...you are the best"


Prok


Prok


Prok


Sharlin yang baru saja berhasil memasukkan bola ke dalam ring, membuat para siswa SMA Citra Bangsa bertepuk tangan.


Alea tersenyum melihat ketua kelas mereka itu. Lagi-lagi dirinya terpesona untuk kesekian kalinya. Apalagi penampilan laki-lakinya tim awan biru, begitu terlihat tampan dimata para gadis-gadis yang bersorak meneriaki nama mereka.


"ya ampun, Satria ganteng banget sih. Fix dia harus gue dapatin" siswi di kelas lain rupanya mulai terpesona dengan Satria.


"idih...emang dia mau gitu sama elu...?" temannya yang lain melirik.


"ya gue paksa lah. Nggak ada yang bisa menolak kecantikan seorang Ananda" rambutnya yang panjang ia kibaskan ke belakang.


"tapi kalau menurut gue sih, Danial lebih ganteng. Dia sepupuan loh sama Satria. Kebayang nggak sih kalau kita berdua jadi pacar mereka" yang satunya malah terus memperhatikan Danial dengan penuh kekaguman.


"Zain juga nggak kalah ganteng loh. Dia itu manis kalau senyum"


Para perempuan tim awan biru hanya geleng kepala mendengar pujian yang dilontarkan tiga siswi yang ada di dekat mereka.


"kak Dan semangat" teriak Alea kala itu.


"Satria, i love you...upsss" Ayunda seketika langsung menutup mulutnya.


ternyata Satria mendengar dan ia pun menoleh ke arah mereka. Ia tersenyum dan melambaikan tangan. Sementara Kirana juga Alea berhenti bersorak, keduanya menatap Ayunda dengan intens dan penuh selidik.


"ngapain liatin aku kayak gitu...?" Ayunda menjadi kikuk.


"kamu suka sama kak Satria...?" tebak Ayunda.


pertanyaan yang dilontarkan Alea membuat para siswi yang mengangumi tim awan biru, bertambah kesal, terlebih lagi gadis yang bernama Ananda. Saat ia mendengar Ayunda memanggil nama Satria dan mengatakan i love you, Ananda seketika melihat ke arah ketiganya.


"a-apaan sih. Aku tuh tadi hanya menyemangati saja. Maksud aku tuh, kita bertiga sayang sama mereka gitu loh. Kita kan tim, sahabat" Ayunda mencari alasan. Ia merasa gugup saat Kirana dan Alea masih terus menatapnya dengan lekat.


"tapi yang kamu panggil tadi hanya Satria loh. Spontan juga kamu manggilnya. jujur ada deh Ay. Lagipula kita sih setuju banget kalau kamu jadian sama Satria" Kirana malah mendukung.


"yupsss...aku juga setuju. kak Satria baik kok. Eh tapi kan kamu fansnya sama kak Galang. udah berpaling nih...? Pantesan kemarin-kemarin kamu dekat begitu saja kak Satria" Alea menyenggol bahu Ayunda.


"apa sih Al... ngawur aja deh kalian. Fokus tuh fokus" Ayunda salah tingkah dan mencoba menatap ke arah depan.


"cieee... yang lagi jatuh tangga" Jin menyenggol bahu Ayunda sambil menaik turunkan alisnya.


"jatuh cinta kali Jin. Mana ada orang yang mau jatuh tangga" Ayunda terpancing.


"oooh jadi benar nih kamu jatuh cinta sama Satria...? cie cie...perlu aku panggilin nggak. Satria... Ayunda jatuh ci mmmppp"


"ngomong macam-macam, aku sunat kamu ya Jin" Ayunda membekap mulut Jin seketika.


"idih...sadis bener neng" Alea tertawa.


"demi cinta nggak sih" Kirana ikut membuli.


"paan sih... nggak jelas" Ayunda memalingkan wajah karena malu.


Ananda berdecih kesal, ia begitu jengkel dengan Ayunda saat itu.


"waah... punya saingan lu An"


"cantik lagi"


Ananda semakin kesal ketika kedua temannya malah memuji Ayunda. "kita lihat saja, siapa yang bisa dapatin Satria" Ananda mengepalkan tangannya.


Pertandingan berakhir dan yang mendapatkan kemenangan adalah SMAN 2 xxx. Meskipun begitu para pemain SMA Citra Bangsa tidak kecewa dengan kekalahan yang mereka dapatkan, karena di dalam permainan pastinya ada yang menang dan akan ada yang kalah.


"kalian hebat" ketua tim basket SMAN 2 xxx bersalaman dengan Danial yang saat itu menjadi ketua di tim basket mereka.


"kalian pun juga hebat" Danial menepuk pundak lawannya dengan pelan.


Permainan diakhiri, semuanya di arahkan untuk istirahat sejenak.


"eh air minum tadi mana...?" Levina menanyakan air minum yang ia beli di kantin tadi. Niatnya adalah untuk memberikannya kepada Danial.


"nih, gue juga mau pdkt sama Zain" Varelina memberikan botol air minum kepada kedua temannya.


"gais...sini" Kirana memanggil mereka.

__ADS_1


Keempatnya berjalan beriringan dan ketika semakin dekat dengan para perempuan tim awan biru, Ananda juga kedua temannya menghadang mereka.


"hai Satria. kamu pasti haus kan. nih buat kamu" Ananda mengulurkan botol air minum kepada Satria.


"ini juga buat kamu Dan" Levina melakukan hal yang sama.


Varelina berdiri di samping Zain dan memberikan air minum. Perlakuan para gadis itu hanya di tatap datar oleh Sharlin. Tidak lama Alea datang membawakan minuman untuknya.


"thanks" Sharlin tersenyum dan mengambil botol minuman yang ada di tangan Alea.


sementara para lelaki lainnya, demi menghargai pemberian orang lain, mereka mengambil minuman itu.


"aku lap mukamu ya, keringatan banget" Ananda hendak menyentuh wajah Satria dengan tisu.


"nggak usah, aku bisa sendiri" Satria menolak.


Ayunda menghela nafas, ia hanya menatap nanar air minum yang ada di tangannya. Sementara Kirana merangkul bahu sahabatnya itu.


"jangan patah semangat gitu dong. Kalau kamu suka, tunjukkan perhatian kamu. Masa baru di awal kamu udah kalah. Kan payah namanya" Kirana mencoba memancing Ayunda.


"aku mencium aroma-aroma kecemburuan" Jin melirik Ayunda yang memasang wajah sendu.


"tau ah. Udah ke tenda aja" Ayunda berbalik meninggalkan Kirana.


"Ay tunggu dong" Kirana mengejar.


"ayo gais" ajak Sharlin.


Mereka mengangguk dan memilih untuk kembali ke tenda. Geng Ananda membiarkan saja. Setidaknya satu langkah yang mereka lakukan sudah mendapatkan hasil.


"akan aku pepet sampai dapat. Danial harus jadi pacar aku" Levina berucap dengan tatapan tidak lepas dari punggung Danial yang sudah semakin jauh.


istirahat sejenak dan pertandingan kembali berlanjut. Hingga menuju jam makan siang, semuanya membersihkan diri untuk melaksanakan sholat kemudian mengisi perut.


"musholla hampir penuh loh. Kita sholat di tempat lain aja gimana" Zain memberikan usul.


"boleh juga, tapi dimana...?" tanya Danial.


"emmm ruang OSIS saja. Di sana luas dan pastinya kita muat" Sharlin yang baru saja selesai membersihkan diri. Datang menghampiri dengan pakaian celana olahraga juga kaos oblong.


"tapi kita kan bukan anggota OSIS. Masa iya main masuk ruangan mereka. Nggak mau ah" Ayunda menolak.


"nggak apa-apa. Aku kenal ketuanya kok. Anggotanya juga kebanyakan teman-teman aku, kakak kelas yang lumayan dekat. Tunggu bentar ya, aku telpon kak Bunga dulu" Sharlin memeriksa ponselnya di dalam tas kemudian menghubungi Bunga.


Karena tidak diangkat, Sharlin mengirimkan pesan. Menunggu sedikit lama, Bunga pun membalas pesan darinya.


Bunga : datang saja Shar, lagian ruangannya luas kok. Kalian bisa pakai di ruangan tempat biasa untuk istirahat.


Bunga : tentu saja nggak apa-apa. Ke sini saja aku tunggu.


"gais...ayo ke ruangan OSIS. Aku sudah menghubungi kak Bunga.


"yakin nggak apa-apa Shar...?" tanya Kirana.


"iya nggak apa-apa. Ayo, daripada di kelas kotornya minta ampun. Di mushola juga banyak orang. Udah mending di sana saja. Lagian kan kita hanya numpang sholat"


"aku nggak ikut ya. Mau ke mas Gibran saja. Bye-bye" Jin melayang meninggalkan mereka. Ia menyusul Gibran yang bersama dengan pak Adiatama sekarang.


Gibran berjalan beriringan bersama pak Adiatama. Keduanya berjalan beriringan ke arah kantor. Sementara Jin, hantu itu langsung melayang di sisi Gibran bahkan mengapit lengannya.


"ada apa...? Gibran menoleh dan bertanya tanpa suara.


"om Adam sama yang lainnya udah pulang ya mas...?"


"belum, mereka berada di tempat tersembunyi" lagi-lagi Gibran berkata tanpa suara.


"lalu rencana kita selanjutnya apa...?"


Gibran tidak menjawab sebab keduanya telah sampai di dalam ruangan kantor. Hantu itu ikut masuk ke dalam. Kedua matanya menatap fokus semua para guru yang ada di dalam ruangan itu. Hanya guru-guru SMA Citra Bangsa sementara guru-guru sekolah lain sedang beristirahat di aula sekolah. Di sana tempat mereka tidur juga istirahat. Sementara para siswa-siswi diwajibkan untuk tidur di dalam tenda.


"aku yakin salah satu dari kalian adalah pelakunya" batinnya.


"ibu Amanda, bagaimana keadaan ibu Dian...?" tanya pak Adiatama.


"masih seperti tadi pak. Kakinya terluka dan dia tidak bisa leluasa untuk begerak" ibu Amanda menjawab. Ibu Dian untuk saat ini masih tetap berada di UKS.


"lebih baik ibu Dian pulang saja. kasian kalau bertahan di sekolah dengan keadaan yang seperti itu. Kalau di rumah kan dia bisa istirahat" ucap pak Danu.


"dia memintaku untuk mengantarnya pulang. tapi setelah agak sorean" kali ini ibu Naina yang berbicara.


"iya baiklah, sepertinya memang dia harus pulang. tolong ya ibu Nai, antar pulang sampai di rumahnya" ucap pak Adiatama.


"baik pak" ibu Naina menyanggupi.


"pak kepsek, saya juga izin pulang sebentar nanti sore. saya harus menjemput seseorang di bandara" pak Rahim mengangkat tangan.


"jemput calon istri ya pak Rahim" goda ibu Kahiyang.


"oh pak Rahim sudah mau menikah...?" pak Adiatama yang hendak masuk ke ruangan khusus untuk kepala sekolah, ia batalkan.

__ADS_1


"belum sih pak...tapi kalau jodoh ya mungkin saja bisa sampai ke pelaminan" pak Rahim menjawab malu.


"cieee...jangan lupa undangannya ya pak Rahim. Siapa tau nanti ketularan ke pelaminan" timpal pak Kenan.


"tentu saja pak Kenan"


"ya sudah, saya izinkan. Tapi harus kembali lagi ya, kita harus tetap mengawasi anak-anak. Takutnya kejadian seperti semalam terjadi lagi"


"Baik pak" ibu Naina dan pak Rahim menjawab.


pembicaraan di dalam tidaklah penting baginya. Jin menghilang untuk kembali ke tim awan biru.


"kak Bunga" Sharlin memanggil Bunga yang sedang bercerita dengan ketiga temannya.


"hai Shar, ayo masuk" Bunga beranjak dan mendekati mereka.


mereka semua masuk ke dalam. Ruangan yang bersih dan terdapat kipas angin juga di dalamnya. Ada lemari pendingin dan rak penyimpanan makanan ringan. kursi-kursi di kumpul dalam satu tempat agar di tengah-tengah lebih leluasa untuk mereka.


"nggak mengganggu kan kak...?" tanya Sharlin.


"ya nggak lah. Ya sudah kalau mau sholat di ruangan sana saja. berwudhu di toilet saja, tuh di samping"


"makasih kak Bunga" Satria tersenyum, Ayunda langsung mencebik.


"kenapa sih Ay" bisik Alea.


"nggak apa-apa"


Bunga kembali ke ketiga temannya sementara tim awan biru mulai mengantri untuk berwudhu kemudian sholat berjamaah di satu ruangan yang tidak terlalu besar.


"mau makan siang bareng nggak...?" Bunga mengajak. gadis itu sudah duduk berlesehan bersama teman-temannya. Bahkan bukan hanya tiga orang lagi melainkan sudah lebih dari tiga orang.


"ah nggak usah kak. kami balik ke tenda saja" Sharlin menolak.


"kalau gitu tunggu bentar"


Bunga mengambil beberapa lauk dan juga kerupuk, kemudian memasukkan ke dalam kotak makanan yang kosong lalu ia masukkan lagi ke dalam kantung plastik. Gadis itu beranjak dan menyerahkan kantung plastik itu kepada Sharlin.


"nih ambil"


"wah rejeki nomplok. tapi sepertinya nggak usah kak, kami punya makanan di tenda" tolak Sharlin


"Sharlin, aku nggak suka di tolak ya"


"tapi..."


"ambil saja Sharlin. Dia dari tadi memang pengen kasih itu buat kamu. Masa sama calon pacar masih malu-malu" salah satu teman Bunga bersuara.


tim awan biru saling pandang, sementara Alea setelah mendengar itu, ia langsung pamit terlebih dahulu.


"ambil Shar" ucap bunga lagi.


"ya sudah, aku terima. Thanks ya kak. Lain kali aku ganti traktir makan deh"


"oke... ditunggu traktirannya" Bunga tersenyum lebar.


Mereka semua kembali ke tenda. semua siswa-siswi makan siang di tenda masing-masing.


Jin telah bergabung bersama mereka. Ketika melihat ayam pemberian Bunga tadi, hantu itu langsung mengambil semuanya dan memakannya tanpa membagikan kepada siapapun.


"pelit banget sih Jin. Itu pemberian calon pacarnya Sharlin tau, bukan buat kamu" Zain mendelik.


"nggak mau, kalian makan mie saja sana. tuh ada telur balado juga. Ayam ini buat aku" Jin memeluk erat kotak makanan itu.


"ish...bagilah Jin, itu banyak tau" Danial menarik lengan Jin akan tetapi hantu itu malah menjauh.


"oooh gitu kamu ya. Awas saja pulang nanti aku nggak beliin ayam bakar, biar busung lapar sekalian" Danial mengomel.


"aku lapor nanti sama calon pacarnya Sharlin" ucap Satria.


Sharlin hanya geleng kepala sementara Alea semakin kesal dan bahkan ia mengunyah makanannya dengan menggerakkan giginya.


"Al, kamu kesurupan ya. Makannya kok gitu banget" Ayunda ngilu sendiri.


"aku lagi lapar, bahkan pengen banget makan orang. Kenapa, kamu mau aku makan, hah" Alea menjawab dengan jengkel.


"dia sewbuyu" Jin berkata dengan mulut yang penuh makanan.


"telan dulu makanannya ege" Danial memberikan air minum kepada Jin. Meskipun kesal, ia tetap perhatian.


Jin menghabiskan air minum itu, kemudian kembali bersuara.


"dia cemburu" ucap Jin tanpa dosa dan kembali menggigit ayamnya.


"cemburu...? Siapa yang cemburu...?" kening Sharlin mengernyit.


Jin melirik Alea sementara gadis itu menatapnya tajam.


"berani bicara, aku kebiri burungmu Jin" Alea membatin dan tentu saja di dengar oleh Jin.

__ADS_1


hantu itu bergidik dan seketika langsung memegang bagian tengah yang ada diantara pahanya.


__ADS_2