Panggil Aku Jin

Panggil Aku Jin
Episode 39


__ADS_3

"hati-hati sayang"


Seil membantu Satria duduk bersandar di kepala ranjang. Remaja itu baru saja dari kamar mandi untuk buang air kecil. Semua teman-temannya saat ini sedang berada di dalam kamar itu.


"mah, aku mau yang manis-manis... lidahku pahit" ucap Satria.


"memangnya kamu mau apa biar mama bikinkan" Seil bertanya setelah duduk di sebelah Satria.


"emmm bubur sepertinya enak"


"bubur kacang hijau mah, aku juga suka yang itu. Lumayan kan bisa menambah energi" Danial ikut bersuara.


"kamu mau mama buatkan bubur kacang hijau...?" Seil menanyakan hal itu kepada putranya.


"iya, aku suka bubur kacang hijau" Satria tersenyum di balik wajahnya yang pucat.


Seil mencium kening Satria kemudian meninggalkan anak-anak di kamar itu. Kepergian Seil membuat tim awan biru mulai mengelilingi Satria saat itu.


"Jin mana...?" tanya Satria.


"di sekolah mungkin, dia kan sekarang sudah menjadi partner dari kak Gibran" jawab Alea.


"cepat sembuh ya Sat, kalau anggota kita kurang satu... rasanya ada yang kurang gitu" ungkap Kirana.


"aku sudah mulai membaik, meskipun masih agak panas juga" Satria memegang keningnya.


"jadi setelah ini apa yang akan kita lakukan...?" tanya Zain.


"kata om Adam, kita akan mulai bekerjasama dengan mereka. Aku senang kalau seperti itu, ada orang dewasa yang mengawasi kita. Tindakan kita kemarin adalah hal terbodoh yang kita lakukan tau nggak. Untung para orang tua kita datang, kalau nggak....sudah pasti Jin dan Gibran yang jadi sasaran sebab keduanya pastinya tidak mau kita kenapa-napa" jawab Ayunda.


"sudah aku ingatkan tapi masih tetap ngeyel, resiko nggak mau diingatkan yaa sudah seperti ini. Kita jadinya babak belur" Sharlin melirik Zain juga Danial karena kedua remaja itulah yang ingin sekali masuk ke dalam hutan terlarang itu.


Sharlin masih tetap berada di rumah itu. ia tidak ikut Adiatama untuk pulang ke rumahnya, sebab Sharlin merasa kesepian jika berada di rumah. Maka Adiatama tentu saja tidak melarang, ia akan kembali menjemput Sharlin setelah Adiatama pulang dari sekolah.


"tapi kan setidaknya kita bisa menghancurkan tempat pemujaan manusia laknat itu" ucap Danial.


"dia sudah melihat kita dan juga kak Gibran. Aku yakin jika tidak ingin ketahuan maka dirinya akan berpura-pura tetap menjadi seperti biasanya. tapi aku penasaran banget, kira-kira siapa yang bersekutu dengan iblis itu" ucap Satria.


"suaranya kemarin terdengar seperti suara laki-laki kan...?" ungkap Zain.


"emmm...iya sih, itu kayaknya suara laki-laki" Alea menggaruk kepala.


"kok kayaknya sih, jelas-jelas itu suara laki-laki tapi.... nggak jelas juga sih itu suara laki-laki apa perempuan. Habisnya mulutnya ditutup sih, jadi suaranya agak lain gitu" Ayunda ikut bingung.


Cek lek


Suara pintu yang terbuka menghentikan percakapan mereka. Saat itu Adam masuk ke dalam kamar dan mendekati ranjang Satria.


"masih panas...?" Adam memegang kening Satria. "sudah mulai turun. obatnya diminum kan...?"


"iya yah, mama nggak akan mungkin lupa dengan itu" Satria tersenyum kecil.


Adam tersenyum kemudian mengecup kepala Satria. Ia pun menyuruh tim awan biru untuk keluar dari kamar itu dan menuju ke halaman belakang rumah.


"mau ngapain yah...?" tanya Danial.


"mau salto" jawab Adam dengan asal.


"ish ayah, orang aku tanya serius juga" Danial memajukan bibirnya.


"sudah sana pergi, nanti juga di tau" usir Adam.


"aku ikut ya yah, bosan di dalam kamar terus seharian" Satria memelas.


"lukamu masih sakit loh nak"


"yang sakit bahu aku loh yah bukan kaki aku. aku kan masih bisa jalan. Ayo dong yah, atau kalau perlu ayah gendong biar cepat sampai" rengek Satria.


"ckckck, dasar manja. Ya sudah kamu boleh ikut, biar Danial yang bantu kamu jalan, ayah mau ngambil sesuatu di kamar dulu"


Satria tersenyum senang, dan meminta Danial untuk menggendongnya. Danial mencebik dengan wajah cemberut, namun dirinya tetap menggendong Satria di punggungnya. Mereka turun ke lantai bawah sementara Adam menuju ke kamarnya.


Ketika itu, Airin baru saja selesai memandikan Ragel dan bayi itu sedang dililit handuk seluruh tubuhnya.


"yah yah" Ragel cengengesan melihat kehadiran Adam.


"waaah anak siapa nih, udah ganteng ya habis mandi" Adam mendekat dan menciumi seluruh wajah Ragel.


"mas bukannya di bawah sama yang lain...?" Airin melempar pertanyaan.

__ADS_1


"aku mau mengambil sesuatu" Adam melangkah ke meja kerjanya dan mengambil ponselnya yang ia cas sejak tadi.


tanpa mengatakan apapun lagi, Adam hendak keluar kamar namun Airin langsung melingkarkan tangannya di perut Adam. wanita itu memeluk Adam dari belakang.


"aku minta maaf mas telah melukai perasaan mu"


"tidak perlu mengungkit itu lagi Ay, aku tidak memikirkan itu lagi"


"tapi tetap saja aku harus minta maaf, maafkan aku mas. Aku tidak akan tenang kalau tidak mendengar ucapan kamu telah memaafkan aku"


Adam menghela nafas dan memutar tubuhnya. Airin masih memeluk suaminya itu dan kini keduanya saling berhadapan.


"aku sudah memaafkan mu sebelum kamu meminta maaf. Jadi tidak perlu lagi membahas hal yang telah berlalu. Lebih baik fokus kepada ke depannya. lihat putra kecil kita, dia membutuhkan kamu"


Airin menoleh ke arah ranjang, Ragel sedang memasang wajah bingung nan heran. dalam pikirannya pasti bertanya-tanya sedang apa kedua orang tuanya itu.


"yah yah...buna... buna" panggilnya dengan wajah terlihat begitu menggemaskan.


"dia persis seperti kamu mas" Airin terkekeh melihat ekspresi wajah anaknya.


"namanya juga ayah dan anak, kalau persis seperti tetangga itu harus dipertanyakan"


Airin mencubit pinggang suaminya dan keduanya saling berpelukan. Tidak lupa Adam menggendong Ragel yang sejak tadi terus memanggil namanya, ingin digendong oleh ayahnya itu.


"Ragel sama bunda dulu ya, ayah mau turun ke bawah. nanti Ragel main di bawah sama dede Samudera. Oke boy"


"ote boy" Ragel tersenyum memperlihatkan gigi depannya yang hanya empat batang.


Di belakang rumah, semua orang telah berkumpul dan menunggu kedatangan Adam yang sejak tadi belum memunculkan dirinya. Hampir setengah jam menunggu, Adam datang bersama Ragel karena bayi gembul itu tidak ingin ditinggal oleh Adam.


"terimakasih telah menunggu saya" Adam duduk dan memangku Ragel.


Bayi itu tidak mau diam, ketika melihat Danial ada di sana maka ia pun ingin turun dari pangkuan Adam dan merangkak menuju ke arah Danial.


"adeknya siapa sih ini, menggemaskan sekali" Alea mencubit kedua pipi Ragel.


"kamu mau adik seperti Ragel sayang...?" Leo melihat putrinya begitu senang jika melihat Ragel apalagi Samudera.


"pengen sih, tapi kan Tuhan belum ngasih juga" Alea terlihat mencium pipi tembem Ragel.


Leo tersenyum, ia akan memberitahu perihal kehamilan Alana kepada Alea jika mereka telah berada di rumah. Kejutan untuk gadis itu telah disiapkan oleh Leo juga Alana.


"jadi kita lanjut sekarang...?" tanya Leo


"aku sudah menemukan semua alamat dan tempat tinggal para guru di SMA Citra Bangsa. Jadi mulai sekarang kita bisa mengintai pergerakan mereka. Aku juga sudah memasang beberapa cctv di sekitar rumah dan langsung terkoneksi dengan laptop ini"


"waaah papi hebat yah" Alea terkagum-kagum.


"tunggu-tunggu, sejak kapan kamu memasang cctv Le. bukannya sejak kemarin kamu bersama kita terus" Bara mempertanyakan hal itu, aneh saja baginya.


"hei... koneksi aku kan ada dimana-mana. Makanya itu cari teman sebanyak mungkin bro biar bisa meminta tolong saat keadaan seperti ini" Leo mengedipkan mata kepada Bara.


"kak Leo kan di rumah terus di kurung sama Alana" ucap Nisda.


"seperti burung saja ya om, di kurung dalam sangkar" celetuk Danial.


"ck, anak kecil nggak boleh tau urusan orang dewasa" Leo mengusap wajah Danial. Ragel yang berada di pangkuan Danial mengikuti gerakan Leo, ikut mengusap wajah kakaknya kemudian tertawa memperlihatkan gigi-giginya.


"idih...bahagia banget kamu tuan" gemes, Danial mencium leher Ragel membuat anak itu tertawa ngakak.


"coba gue lihat, sini laptopmu" Deva meminta laptop yang ada di depan Leo dan Leo memberikannya.


Beberapa rumah terlihat di layar laptop itu. Adam mengambil laptop satunya karena Leo menggunakan dua laptop sekaligus.


"akan bagus kalau kita memasang cctv di dalam kamar, dengan begitu kita bisa melihat apa yang mereka lakukan di dalam rumah" ungkap Vino ketika ikut melihat di samping Adam.


"kamu mau melihat ibu guru yang nggak pake baju, guru maksud kamu yang...?" Starla menatap tajam ke arah suaminya, bagai ingin menguliti hidup-hidup.


"ya nggak gitu yang. Maksud aku kan supaya gampang kita memantau mereka. Kita bisa tau juga apa yang mereka lakukan, terus mereka menghubungi siapa saja" Vino menjelaskan.


"alasan, bilang saja kamu mau melihat tubuh seksi guru-guru yang cantik di sekolah itu. Mata keranjang banget sih kamu"


"astaga yang, kamu pikir aku sebejad itu apa jadi laki-laki. Kan ada ada kalian para perempuan yang bisa memantau mereka, kalau laki-laki jelas harus kami yang memantau. Pikiranmu itu jahat banget yang, selalu saja berpikiran terlalu jauh, kamu kira aku nggak sakit hati apa di tuduh terus seperti itu. Jangan jadi anak kecil kenapa sih" Vino mengeluarkan kata dengan kesal. Memang selalunya Starla selalu menuduh bahkan tanpa bukti dan belum juga terjadi. Namun pikiran wanita itu terlalu jauh dan kadang membuatnya uring-uringan sendiri padahal Vino tidak melakukan apapun.


suara penuh penekanan yang keluar dari mulut Vino membuat Starla terdiam. Melihat Vino menekan rasa kesal dalam dirinya, Starla merasa bersalah dan menyesal. Vino tidak pernah marah sekalipun padanya, namun kali ini laki-laki kelepasan karena mungkin sudah diambang batas rasa kesabarannya.


"pah, sabar" Zain mengelus punggung Vino agar rasa kesalnya mereda.


"kalau kita memasang kamera cctv itu sebenarnya ide bagus. tapi yang menjadi pertanyaannya adalah bagaimana caranya...?" kali ini El-Syakir yang bersuara, rupanya dirinya setuju dengan usulan Vino.

__ADS_1


"hanya ada dua cara sih. Pertama menggunakan anak-anak untuk ke rumah masing-masing guru dan kedua yaa kita harus menyelinap masuk" timpal Melati.


"kalau anak-anak mendingan jangan deh. Bisa bahaya kalau mereka yang pergi, mereka masuk langsung di sarang iblis untuk kedua kalinya. lebih baik kita saja yang menyelinap" ucap Nisda.


"oke, nanti malam kita lanjutkan tugas berikutnya. Aku mau menghubungi kak Gibran dulu" Adam meletakkan laptop di atas meja dan mengambil ponselnya. Ketika itu dirinya langsung melihat pesan yang dikirim oleh Gibran satu jam yang lalu.


Gibran : pak Danu dan pak Kenan tidak hadir. Mungkin bisa saja salah satu dari mereka pelakunya.


"sepertinya kita perlu alat pelacak untuk di tempel di kendaraan atau di kulit mereka. Kak Gibran bilang, dua orang guru tidak hadir di sekolah, pak Danu dan pak Kenan. Ucap Adam.


"beritahu kak Gibran kak agar memberitahu ketika mereka telah pulang sekolah. Dengan begitu kita sudah stand by di rumah masing-masing guru sebelum mereka pulang" ucap El-Syakir.


"kami ikut mengintai ya pah" ucap Satria.


"No...kamu lagi sakit jadi nggak bisa ikut dan papa nggak akan mengizinkan" El-Syakir langsung menolak.


"kalau yang nggak sakit boleh ikut nggak om...?" tanya Sharlin.


"kalian memang harus ikut. Sekarang kita bagi tugas saja. Untuk perempuan sebaiknya di rumah saja. Sambil memantau cctv yang akan kami pasang di dalam kamar nantinya. Khusus untuk guru wanita, kalian yang akan memantau mereka" Deva menatap istrinya.


"kalau kami bertiga, ikut juga kan pah" Ayunda meminta izin kepada Deva.


"harus hati-hati dan jangan gegabah lagi seperti kemarin" Deva memperingatkan kepada putrinya.


"siap pah" Ayunda memberia hormat, Melati langsung mencubit hidung putrinya itu.


_____


"pak Hamzah, kalau lagi sakit sebaiknya bapak pulang saja. Wajah bapak pucat sekali" ibu Kahiyang menatap wajah pak Hamzah yang begitu pucat.


"saya tidak apa ibu Kahiyang, hanya memang kepala saya rasanya sakit dan nyut-nyutan, sepertinya saya beristirahat di ruang UKS saja" pak Hamzah memijit kepalanya.


"saya bantu pak, takutnya bapak jatuh nantinya" ucap Gibran.


"tidak perlu pak, saya bisa sendiri" Pak Hamzah meninggalkan kantor untuk menuju ke UKS.


Jam berganti menjadi pukul empat sore, semua siswa di pulangkan saat itu. Gibran memberitahu Adam kalau siswa-siswi telah pulang sekolah. dirinya pun bersiap untuk pulang, namun ketika melihat darah di lantai yang ada di dekat mejanya. Gibran duduk dan memegang darah itu.


"pak Gibran, belum pulang...?" Adiatama baru keluar dari ruangannya.


"ini saya sedang bersiap untuk pulang pak" Gibran berdiri seketika.


Adiatama mengangguk dan berpamitan. Di dalam hanya ada Gibran seorang diri karena guru yang lainnya telah pulang.


"ini tempat duduk...."


"loh pak Gibran" ibu Amanda datang tiba-tiba dan mengagetkan laki-laki itu. dirinya baru saja datang dari toilet yang ada di dalam kantor"sedang apa berjongkok di kursi saya pak" ibu Amanda mengangkat alis.


"ada darah bu, apakah ini darah ibu...?" tunjuk Gibran di lantai yang terdapat beberapa tetes darah.


Ibu Amanda mendekat dan melihat ke lantai. Memang benar ada darah di dekat tempat duduknya.


"ibu terluka...?


"hah...?"


"baju ibu berdarah" tunjuk Gibran ke arah perut ibu Amanda.


Wanita itu langsung menutupi perutnya dengan tas miliknya dan langsung berpamitan untuk pulang. Di pintu masuk, ibu Amanda berpapasan dengan pak Hamzah yang baru saja datang dari ruang UKS.


"ibu Amanda kenapa pak Gibran, kenapa dia terburu-buru sekali" pak Hamzah duduk di kursinya.


"tidak tau pak, mungkin ada urusan yang mendadak. bapak belum ingin pulang...?"


"belum, saya ingin di sini sebentar lagi. Kalau mau duluan silahkan saja pak"


"kalau begitu saya pulang dulu pak"


"iya, hati-hati pak Gibran" pak Hamzah tersenyum, senyuman yang aneh menurut Gibran.


Gibran keluar dari kantor menuju ke parkiran. ketika masuk ke dalam mobil, Jin sudah anteng duduk di samping kemudi.


"astaga Jin, mengagetkan saja kamu ini"


"jangan pulang dulu kak, kita ikuti pak Hamzah"


"kamu curiga sama pak Hamzah...?"


"semua orang harus kita curigai bukan"

__ADS_1


"hummm iya sih. Baiklah, biar kita berdua yang mengawasi pak Hamzah, yang lainnya akan mengawasi guru-guru yang lain.


Mobil itu bergerak pelan meninggalkan sekolah namun tidak langsung pulang melainkan berhenti di sebuah tempat. Keduanya akan mengikuti kemana perginya pak Hamzah. ketika mobil pak Hamzah lewat, Gibran segera menyalakan mesin mobilnya dan mengikuti laki-laki itu dari belakang.


__ADS_2