Panggil Aku Jin

Panggil Aku Jin
Episode 33


__ADS_3

Satu minggu telah berlalu, pak Adiatama juga para guru lainnya tidak lagi berjaga di lingkungan sekolah. Dan mulai hari ini semua siswa-siswi SMA Citra Bangsa akan masuk sekolah untuk hari pertama sejak mereka libur satu minggu lamanya.


"sudah siap sayang...?" Seil masuk ke dalam kamar Satria, putranya itu sedang memasang dasi di depan cermin.


"mama" Satria melihat ke arah pintu, wanita yang masih terlihat begitu muda masuk ke dalam kamarnya dan menghampiri dirinya yang sedang memasang dasi. "tinggal masang dasi saja mah" lanjut Satria.


"sini mama pasangkan, mama terbiasa memasangkan dasi papamu jadi mama tau cara memasang dasi" Seil mengambil kain panjang yang ada di tangan Satria dan mengalungkan di leher putranya itu.


Dengan cekatan tangan Seil bergerak sementara Satria menatap Seil tanpa berkedip sedikitpun. Dirinya mengagumi kecantikan mamanya yang masih terlihat gadis padahal sudah mempunyai dua putra. Bahkan tinggi Satria sudah melebihi mamanya dan bahkan tidak lama lagi mungkin akan sejajar dengan papanya.


"kenapa melihat mama seperti itu, humm...?" Seil telah selesai dengan tugasnya.


"mama cantik banget, pasti papa dulu tergila-gila sama mama, iya kan"


Seil terkekeh kecil kemudian tangannya bergerak memperbaiki rambut putranya. Memperbaiki kerah baju dan juga tidak lupa mencium kening putranya yang kini sudah beranjak remaja.


"kamu salah, malah mama yang tergila-gila pada papamu" Seil tersenyum kala mengingat dulu dirinya memang diam-diam mengagumi El-Syakir dan hingga mereka menjalin hubungan namun tidak seperti hubungan tim samudera yang lain. El-Syakir terlihat kaku dan bahkan sangat tidak romantis, namun saat setelah menikah, El-Syakir memperlihatkan perhatiannya yang sangat Seil impikan saat mereka pacaran dulu.


"oh ya...? Tapi memang papa ganteng banget sih, pantas saja mama tergila-gila padanya. Malah dulu janda tetangga kita saja sampai ingin menggoda papa. his kalau ingat itu, ingin rasanya aku membuang tante janda itu ke laut. Gatalnya melebihi ulat bulu" El-Syakir cemberut saat mengingat dimana Seil dulu hamil akan Samudera dan ada seorang wanita yang berusaha mendekati suaminya, malah janda pula. Untungnya El-Syakir sama sekali tidak tertarik dengan wanita seperti itu. Benar kata Satria, gatalnya melebihi ulat bulu.


"hus... nggak boleh ngomong gitu nak. Kan tante Maureen sudah minta maaf"


"tapi tetap aja aku kesal mah, untung papa nggak tertarik sama si ulat bulu itu"


"siapa yang ulat bulu...?" El-Syakir datang bersama Samudera yang ada di gendongannya.


Kedua lelaki beda generasi itu, memasuki kamar Satria dan mendekati Seil juga Satria. Samudera yang melihat mamanya, menggoyangkan kedua kaki dan tangannya serta merentangkan tangan meminta agar Seil menggendongnya.


Seil mengambil Samudera dari gendongan El-Syakir, bayi itu menggapai wajah kakaknya dengan kedua tangannya. Satria mendekat dan menciumi wajah adiknya.


"tante Maureen yang ulat bulu pah, untungnya papa nggak tertarik sama dia. Kalau sampai papa dulu mau sama ulat bulu itu, aku akan membawa mama dan adik jauh dari kehidupan papa" Satria berucap setelah menciumi wajah Samudera.


"mana mungkin papa mau dengan wanita modelan ondel-ondel seperti itu. Mama kamu lebih cantik dan lebih seksi, apalagi kalau di dalam kamar. iya kan sayang" El-Syakir mengedipkan sebelah matanya.


"sayang ih, ada Satria" Seil mencubit gemas pinggang suaminya.


"nggak apa-apa mah, anggap saja aku dinding kamar" celetuk Satria.


El-Syakir tertawa pelan kemudian menarik Satria dan Seil untuk di peluknya.


"kalian bertiga adalah harta, dan kehidupan papa, juga nafas papa. Mana mungkin papa meninggalkan kalian hanya karena barang rongsokan di luar rumah. Kecuali papa meninggalkan kalian karena kematian, kalau itu papa tidak bisa berjanji untuk terus bersama sebab maut akan datang kapan saja" El-Syakir mencium pucuk kepala Seil juga Satria.


"papa sama mama harus tetap sehat sampai aku sukses terus aku nikah, punya banyak anak. Papa sama mama harus main sama cucu-cucu papa, pokoknya papa sama mama harus terus sehat" Satria mengeratkan pelukannya di pinggang El-Syakir.


"aamiin...semoga Tuhan mengabulkan doamu nak" Seil mengaminkan begitu juga El-Syakir.


_____


"Ragel sayang, bukunya kakak jangan dihambur nak. Masukkan ke dalam tas ya" Airin mengingatkan anaknya saat Ragel memainkan buku Danial di atas ranjang.


"tas tas..." Ragel menunjuk tas Danial.


"iya...buku kakak di simpan ke dalam tas sayang"


Ragel seakan paham, ia pun memasukkan kembali buku-buku Danial ke dalam tas. setelahnya, Ragel merangkak ke arah Jin dimana hantu itu sedang bermain game di ponsel Danial.


bayi berusia satu tahun lebih itu, entah bagaimana bisa melihat Jin. berawal dari saat Jin bermain bersama Danial juga Ragel di halaman depan rumah, Ragel malah merengek ingin digendong oleh Jin. Dan sepenglihatan Galang dan Gauri, keduanya tidak melihat siapapun ke arah dimana Ragel seakan meminta ingin digendong oleh seseorang.


mulai dari situlah, Jin sering bermain bersama Ragel bahkan tak jarang bayi itu tidur bersama dirinya juga Danial. Seperti halnya semalam, setelah lelah bermain, Ragel ketiduran di kamar Danial dan alhasil Airin juga Adam tidak mengambil putra mereka lagi. Malah yang ada, Adam merasa bebas sebab tidak ada yang mengganggunya untuk bermesraan bersama sang istri di dalam kamar.


"Ji....Ji" Ragel merangkak naik di pangkuan Jin.


"ada apa anak ganteng, mau main apa...?" Jin menyimpan ponsel Danial dan memeluk Ragel yang ada di pangkuannya.


Airin sudah tidak mempermasalahkan keberadaan Jin, baginya asal Jin arwah yang baik, ia tidak akan menghalangi Danial juga Jin untuk berteman. Apalagi kini putra kecilnya semakin dekat dengan Jin, Airin senang melihat itu.


Danial baru saja selesai memakai pakaian seragam sekolah, tidak lama Adam masuk ke dalam kamar itu.


"om...ayam aku mana...?" Jin langsung menanyakan ayam bakar pesanannya.

__ADS_1


kedekatan mereka semakin hari semakin baik, Jin bahkan tidak canggung lagi terhadap Adam juga Airin.


"nih, om beli banyak" Adam menyimpan kantung plastik di atas meja belajar.


"yah...yah" Ragel bertepuk tangan melihat ayahnya datang. Ia pun merentangkan tangan meminta agar Adam menggendongnya.


"kita turun Ay, sarapan pagi" Adam mengambil Ragel dari pangkuan Jin.


"ayo sayang, kamu sudah selesai pakaian kan" Airin melihat Danial yang sedang memasang dasinya di leher.


"sudah bunda" Danial mengambil tasnya. "uang jajan aku mana...?" tangannya mengadah di depan Adam.


Dua lembar uang merah Adam berikan kepada putranya. Setelahnya mereka keluar kamar meninggalkan Jin sebab hantu itu tidak mungkin ikut makan bersama mereka di meja makan. Bisa-bisa langsung jantungan semua orang melihat piring dan sendok yang melayang.


_____


jemputan keduanya telah datang, pak Samsul bersama tim awan biru sudah berada di pinggir jalan di depan pagar.


Danial juga Satria berpamitan kepada Airin dan juga Seil yang mengantar mereka sampai di depan pagar rumah.


"dadaaaa Ragel.... Samudera" Alea melambaikan tangan dari dalam mobil.


"tataaaa" Ragel ikut melambaikan tangan. Dua gigi depannya ia perlihatkan membuat semua orang gemas ingin mencubit juga menciumnya. Jin ada di samping Airin, berdiri sambil memainkan kaki bayi itu.


"pak Samsul, hati-hati ya" ucap Airin


"tentu saja bu" pak Samsul menjawab sopan.


Mobil itu bergerak meninggalkan rumah Sanjaya, Ragel terus melambaikan tangan sampai mobil itu tidak terlihat lagi.


"Ji...Ji" sadar Jin sudah tidak ada di sampingnya, Ragel mencari keberadaan hantu itu.


"Jin sudah pergi sayang, nanti lagi mainnya ya" Airin memberitahu dengan mengecup pipi tembem putranya.


"hek...hek...Ji....Ji" seketika Ragel menangis, memberontak di gendongan ibunya karena kesal Jin meninggalkannya.


"astaga sayang, jangan begini nak" Airin kewalahan membuat Ragel tenang.


Untungnya Adam langsung menghampiri anak juga istrinya ketika mendengar putranya menangis. Ragel diambil alih olehnya dan dibawa masuk ke dalam rumah.


"pawangnya cuma empat. kalau bukan ayahnya, Danial, Jin, maka satunya adalah Gibran. Heran juga aku sama Ragel ini" Airin geleng kepala melihat kelakuan putranya.


"namanya juga anak-anak kak" Seil tertawa pelan.


"sini sayang, kamu sama tante saja ya nak ya" Airin mengambil Samudera dari gendongan Seil. Keduanya masuk ke dalam rumah.


_____


"kangen juga sama sekolah setelah liburan satu minggu" ucap Ayunda saat mereka turun dari mobil.


"aku kalau bisa, nggak mau lagi sekolah di tempat serem seperti ini. tau-tau nyawa kita udah terancam aja. kan bikin deg degan" timpal Kirana.


"bismillah saja, insya Allah kita aman" Danial begitu optimis.


"iya, lagi pula orang tua kita nggak akan tinggal diam begitu saja kalau kita kenapa-kenapa. Dan ada Jin juga yang mengawasi kita, jadi insya Allah akan aman" Zain berpikiran begitu sama dengan Danial.


siswa siswi SMA Citra Bangsa sudah banyak yang datang, tim awan biru memasuki halaman parkir para guru. Jin terus melayang bersama mereka, matanya celingukan ke sana kemari. Ia ingin memastikan apakah benar apa yang dikatakan Adam kalau salah seorang dari warga sekolah menjadi dalang dari semua tumbal yang dijadikan korban. jika itu benar berarti Jin harus waspada terhadap para guru yang mengajar di tempat itu. bisa saja mereka melihat dirinya.


Meskipun begitu pak Hamzah juga kepala sekolah sudah pernah ia dekati dan bahkan ada di dekat mereka namun kedua guru itu tidak menampakkan bahwa mereka melihat sosoknya. Itu berarti pak Hamzah juga kepala sekolah tidak masuk dalam daftar orang yang ia curigai.


"aku tinggal sebentar ya" ucap Jin.


"mau kemana...?" tanya Danial.


"memeriksa sesuatu"


"jangan jauh-jauh dan jangan ke hutan itu, Bahaya"


"aku bisa jaga diri, tidak perlu khawatir"

__ADS_1


"jangan lama tapi ya" Danial seakan enggan untuk ditinggal oleh Jin.


"hei kamu kenapa bisa manja seperti itu, macam Ragel saja, ditinggal dikit langsung nangis" Jin mengacak-acak rambut Danial.


"ish...aku serius Jin" Danial kesal dan memukul lengan hantu itu.


"iya iya, aku pergi" Jin menghilang


bel pelajaran pertama telah berbunyi, semua siswa-siswi mulai memasuki kelas masing-masing.


"Sharlin kok nggak keliatan...?" ucap Zain, saat dirinya melihat kursi tempat duduk ketua kelas mereka kosong.


"dia nggak datang mungkin" ucap Satria.


"kemarin saat main di rumah dia mengatakan nggak sabar untuk sekolah lagi. Harusnya sih dia datang, tapi kok nggak keliatan ya" Alea juga melihat kursi yang kosong itu.


"Sharlin lagi di panggil sama ibu Amanda di kantor" Kelvin memberitahu mereka saat ia mendengar percakapan mereka.


"dipanggil ngapain...?" tanya Ayunda.


"entah, mau ngasih buku mungkin. Kan jam pertama pelajaran ibu Amanda" jawab Kelvin.


"oooh...iya juga sih" semuanya manggut-manggut paham.


Hampir setengah jam menunggu Sharlin datang dengan wajah sumringah yang ia perlihatkan kepada semua timnya. Sedang tim awan biru yang lain, terheran-heran dan mengerutkan kening.


"kenapa wajahmu cengengesan seperti itu, dapat duit di jalan kau...?" tanya Zain.


"emang ekspresi orang dapat duit seperti ini ya...?" Sharlin malah bertanya balik.


"nggak ada orang yang dapat duit ekspresi wajahnya seperti orang yang kebelet pipis. Ada apaan sih, kamu senang banget kayaknya. Habis nembak cewek ya...?" Danial berasumsi.


Alea langsung melotot saat mendengar hal itu. Dengan tatapan tajam, ia perlihatkan kepada Sharlin, sementara Sharlin yang sebenarnya tidak peka, hanya acuh terhadap sikap yang Alea perlihatkan.


"kalau iya kenapa...?" Sharlin mengangkat satu alisnya.


"wuidiiiih....gercep banget lu kawan. Siapa ceweknya...?" Satria pun mulai penasaran.


"emang ada gitu cewek yang mau sama kak Sharlin, paling juga cewek itu matanya rabun" ucapan Alea sebenarnya hanya untuk meluapkan kekesalannya namun terdengar kalau gadis itu sedang bercanda.


"kamu meragukan ketampanan ku. Kalau aku nembak kamu, memang kamu bakalan nolak...?" Sharlin menyeringai menatap Alea.


"yeeee siapa juga yang mau sama kakak, ogah banget" Alea menolak padahal dalam hati ingin rasanya salto jika memang Sharlin tertarik padanya. Saat ini saja di tatap lekat oleh remaja itu, dirinya belingsatan dan merona malu.


"yaaah sayang sekali ya, aku pikir kamu bakalan terima aku tapi nyatanya enggak. cinta bertepuk sebelah tangan" Sharlin tersenyum kecut dan membuang wajah ke samping kanannya sebab seorang siswi memanggil namanya.


Alea langsung tergagap dan ingin meluruskan perkataannya tadi. sayangnya, Sharlin kini malah sibuk berbicara dengan Anjani, gadis cantik yang ternyata wakil ketua kelas di kelas itu.


"harusnya kamu terima dia saja Al, Sharlin banyak yang suka loh" ucap Kirana.


"Sharlin kan hanya bercanda juga tadi, lagian ngapain sih mikirin cinta-cintaan. Kita masih kecil woi" Danial menjitak kepala Kirana.


"sakit ege" Kirana kesal


"jangan salah ya, biarpun masih kecil tapi kita udah bisa bikin anak kecil say" Zain berlagak layaknya perempuan.


"betul banget say....kalau Alea nggak mau, biar aku sajalah yang mau sama Sharlin. Lumayan kan jadi calon mantu kepala sekolah" Ayunda cengengesan.


"yeeee...emang Sharlin mau gitu modelan kayak kamu" Alea mencibir.


"idih... cemburu nih yeee. Katanya tadi nggak mau" Ayunda menggoda Alea.


"ya...ya...e-emang aku nggak mau kok" Alea tergagap, Ayunda tertawa sebab ia tau kalau ucapan Alea tidak seperti apa yang ada di hatinya.


"sssttt...guru baru akan segera masuk" Sharlin memperingati timnya.


"guru baru...? Emang ada guru baru hari ini yang masuk...?" tanya Satria.


Sharlin mengangguk kemudian beranjak dari tempat duduknya berjalan ke arah pintu. Ia melihat ke arah jalan yang menuju kantor. Setelahnya dirinya kembali lagi dan duduk di kursinya.

__ADS_1


Semua siswa-siswi diam di tempat duduknya masing-masing. Hingga setelahnya salah seorang laki-laki masuk ke dalam kelas dengan senyuman manis dan mengedipkan mata ke arah tim awan biru.


Tim awan biru tercengang dan menganga, kecuali Sharlin. Ketua kelas mereka itu hanya tersenyum sopan kepada guru baru mereka, sementara tim awan biru lainnya, tidak berkedip sama sekali.


__ADS_2