
Pagi itu di lantai bawah sudah dihebohkan dengan Ragel yang teriak kegirangan. Bagaimana tidak, bayi itu terbang mengelilingi rumah dan pelakunya tentu saja Jin. Untung saja para asisten rumah tangga juga baby sitter tidak ada di ruangan itu. Jika tidak, mereka pasti pingsan melihat bayi itu terbang sendirinya.
"tata Gau" Ragel meneriaki Gauri yang baru saja datang. Gadis kecil itu sudah cantik dan bersiap untuk ke sekolah.
Melihat kedatangan Gauri juga Galang, Jin segera mendaratkan Ragel di lantai dengan posisi berdiri.
"dek...kamu main sama siapa...? Kok dari tadi kakak dengar kamu teriak terus" Galang menghampiri Ragel dan menggendongnya.
"main ama Jin" Ragel menoleh ke belakang dimana Jin berada.
Ummaach
Jin memberikan kiss jauh dengan mata yang ia kedip kan sebelah sehingga Ragel tertawa renyah dan membalas perlakuan hantu itu.
Ummaach
Ummaach
Adam yang sedang memangku Samudera, hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah putra kecilnya itu. di ruang tengah itu, ternyata ada Adam juga El-Syakir yang menjaga kedua putra mereka. Hingga Jin datang dan mengajak Ragel untuk bermain.
"cium siapa sih dek...?" Galang mengerutkan kening tatkala ia tidak melihat siapapun di belakangnya.
"tium Jin"
"Jin...?" tubuh Galang langsung berbalik akan tetapi ia tetap tidak melihat siapapun. "lama-lama horor juga lah kamu ini" Galang bergidik kemudian membawa Ragel mendekat ke arah sofa. Jin melayang dan duduk di samping El-Syakir.
Tidak lama Zidan datang yang sudah siap dengan pakaian kantornya, bersama Vania yang memegang tas kantor suaminya itu.
"hanya mengecek saja kan mas. Setelah itu pulang. Ardi sangat berharap kamu datang. Pram, Randi, Helmi dan Furqon juga ikut"
"iya sayang. Aku hanya tandan tangan saja setelah itu pulang. Gauri mau sama papa atau sama kakak...?" Zidan berjongkok dan memegang kedua bahu putrinya.
"mau sama papa. Kan kemarin kata papa mau anterin Gauri. Supaya teman-teman Gauri di sekolah semua lihat kalau Gauri punya papa ganteng. biar melotot semua mata mereka sampai air liur meleleh" jawaban gadis kecil itu membuat semua orang terkekeh.
"oke kita let's go. biar melotot mata teman-teman kamu. Bisa-bisanya bilang papa jelek. Padahal papa ganteng kan ya, sama seperti Gauri cantik" Zidan menoel hidung mancung putrinya.
"nggak dong pah. Kalau papa sama seperti kakak Galang, om Adam, om El, kak Dan, kak Sat karena papa laki-laki. Kalau Gauri cantik seperti mama, tante Airin, tante Seil karena kami kan perempuan"
Karena gemas, El-Syakir menarik tubuh Gauri dan menciumi wajahnya. Gadis kecil itu memang selalu pandai dalam menjawab.
Galang, Gauri juga Zidan sudah berangkat terlebih dahulu. Kini tinggal Danial juga Satria yang baru saja turun dari lantai dua.
"tumben ayah sama papa masih di rumah. biasanya kan juga siap-siap berangkat ke kantor" Danial mendekati mereka bersama Satria.
"papa sama ayahmu hari ini mau ke rumah Ardi, mengantar untuk lamaran" El-Syakir menjawab.
"om Ardi udah mau nikah...?" Satria bertanya.
"Alhamdulillah, sudah bertemu jodohnya. Tinggal om kalian yang satunya, Furqon dan mas kalian Gibran" Adam menjawab sambil menimang Samudera.
"lah Furqon kan sudah punya kekasih mas, tinggal lamar saja" Airin yang baru saja datang, menimpali dan mengambil tempat di samping suaminya.
"Akhaira masih harus menyelesaikan kontrak kerjanya. Setelah melakukan pemotretan di kota A, pulang nanti Furqon bilang mereka akan membicarakan pernikahan mereka. Karena setelah dari kota A, kontrak Akhaira dengan perusahaan Himalaya grup sudah berakhir"
Maklum saja, kekasih Furqon adalah seorang model. Maka dari itu laki-laki itu harus menunggu sedikit lama untuk menikahi kekasihnya.
"wah tinggal mas Gibran kan berarti ya. Gimana kalau mas Gibran kita dekatkan dengan ibu Dian. Ibu Dian cantik loh, baik juga. Bahkan waktu lalu aku sama Danial pernah melihat mas Gibran mengantar ibu Dian ke sekolah" Satria tertarik untuk mencarikan jodoh untuk Gibran.
"nanti saja main jodoh-jodohnya. Sekarang kalian berangkat sana, nanti telat nggak bisa masuk" ucap Airin.
Keduanya berpamitan kepada semua orang. Sekarang ini tim awan biru tidak lagi diantar oleh pak Samsul sebab mereka telah memiliki kendaraan masing-masing. Awalnya mereka tidak berniat untuk membeli motor, namun karena selalu mengikuti kegiatan ekstrakurikuler diluar jam sekolah dan pulang hampir magrib apalagi tidak selalunya mereka mendapatkan waktu yang sama untuk mengikutinya maka mereka akhirnya sepakat untuk meminta kendaraan kepada orang tua mereka dan tim samudera menyetujui itu.
_____
"papa nggak ke kantor...?" Alea bertanya ketika dirinya akan berangkat namun Leo masih duduk menikmati kopinya di meja makan.
__ADS_1
"nggak sayang, papa sama mama mau mengantar om Ardi untuk lamaran" Leo menjawab.
"wah, udah mau nikah om Ardi ya. Syukur deh, Alea senang dengarnya. Kalau gitu Alea berangkat dulu ya pah mah" Alea mencium tangan Leo kemudian mendekati Alana juga mencium tangan wanita itu. Tidak lupa Alea selalu mencium perut Alana yang masih rata. "kakak sekolah dulu ya dek, anteng-anteng di perut mama. Assalamualaikum"
"wa alaikumsalam" Alea meninggalkan meja makan, juga kedua orang tuanya.
"mas... yang gantiin mas di kantor nanti siapa...?"
"kan ada Bayu sayang"
"bukannya Bayu masih di luar kota...?"
"udah pulang kemarin. Ayo siap-siap, yang lain juga sudah sementara siap-siap. Nanti kita bertemu di rumah Ardi" Leo mendekati Alana kemudian tanpa aba-aba langsung menggendong istrinya itu.
"mas" Alana yang kaget memukul dada suaminya. "kaget aku loh"
"sebelum pergi, main sebentar yuk. aku kangen sama si mungil pengen nengokin"
"tapi pelan-pelan ya"
"siap ibu ratu" Leo tersenyum sumringah dan membawa istrinya ke kamar yang ada di lantai dua.
_____
"kak, antar adik kamu ke sekolah ya" Melati datang bersama Ali, adik dari Ayunda.
"tumben...? Biasanya papa yang antar" Ayunda yang sudah memakai helm, mengernyitkan dahi.
"papa sama mama mau mengantar om Ardi untuk lamaran. Nanti pulangnya papa sama mama yang jemput adik kamu"
"ya sudah. Ayo dek sini"
Ali mendekat setelah mencium tangan Melati. Putra dari Deva dan Melati itu, memeluk erat perut kakaknya.
"hati-hati ya kak, jangan balap"
"wa alaikumsalam"
Melati kembali masuk ke dalam rumah setelah kedua anaknya tidak terlihat lagi. ia menghampiri Deva di dalam kamar mereka yang ternyata baru saja selesai mandi.
"anak-anak sudah berangkat yang...?"
"sudah mas. aku mandi dulu ya"
Melati mengambil handuk dan hendak melangkah ke kamar mandi, akan tetapi Deva malah menarik tangan istrinya itu sehingga Melati menabrak dada suaminya.
"ya ampun mas, bikin kaget saja"
"mandi bareng yuk" bisik Deva.
"lah kan mas sudah mandi, ngapain mandi lagi" tangan Melati berada di atas tangan Deva yang melingkar di perutnya.
"mandi sambil berkelana sayang, mandi plus plus namanya" ciuman hangat sudah mendarat di leher Melati.
"nanti kita telat mas, nanti saja ya"
"tapi aku maunya sekarang" Deva membalikkan tubuh Melati sehingga mereka saling berhadapan. Sebelum istrinya itu protes, ia sudah menempelkan bibirnya di bibir istrinya dan kemudian menggendong Melati membawanya ke kamar mandi masih dengan keadaan saling berpagutan bibir.
_____
"Kirana berangkat dulu ya mah pah" setelah sarapan pagi Kirana langsung berpamitan.
"hati-hati sayang" Nisda mengulurkan tangannya untuk dicium oleh putrinya.
Kirana juga mencium tangan Bara, setelahnya ia meninggalkan mereka berdua.
__ADS_1
"anak kita sudah besar ya sayang. Harusnya kita nambah anak lagi" Bara menatap punggung Kirana sampai tidak terlihat.
"pengen banget punya anak lagi ya mas...?" Nisda menatap suaminya.
Bara tersenyum kemudian menggeleng kepala. Laki-laki itu kembali memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Meskipun begitu Nisda dapat melihat betapa suaminya itu ingin memiliki anak lagi. karena traumanya yang saat melahirkan Kirana, Nisda belum berani untuk hamil lagi. Ada perasaan bersalah ketika melihat suaminya begitu dekat dengan anak bayi tim samudera lainnya juga anak kakaknya yang baru saja berumur satu minggu.
Pram dan Mita sudah memiliki dua orang anak. Nagita yang duduk di bangku SMA dan seumuran dengan Galang. Anak kedua baru saja lahir beberapa minggu yang lalu. dari awal pasangan itu ingin mempunyai anak yang tidak beda jauh umur mereka. Akan tetapi yang Maha Kuasa baru saja mengabulkan doa mereka setelah penantian panjang bahkan anak pertama mereka sudah menjadi gadis cantik. Bayi berjenis kelamin laki-laki lahir dengan selamat dan begitu tampan.
"nanti kita ke dokter ya mas"
"kamu sakit...?" Bara yang fokus dengan makanannya, mengangkat kepala untuk melihat istrinya.
"nggak" Nisda menggeleng kepala pelan. "mau konsultasi dan promil lagi. Kalau di pikir-pikir, kita memang harus menambah anak untuk mengurus kita berdua di masa tua nanti"
"kamu serius sayang...?" Bara menyimpan sendok yang ia pegang.
"iya mas. Mau kan temani aku ke rumah sakit...?"
"tentu saja. Setelah dari mengantar kak Ardi lamaran, kita langsung ke rumah sakit" Bara begitu semangat. Ia bahkan langsung memeluk istrinya saat itu. "terimakasih sayang. Aku janji akan menjaga kamu dan calon anak kita nanti. Tidak akan aku biarkan kamu mengalami hal seperti dulu, aku janji"
"iya mas, aku percaya" Nisda mengelus punggung suaminya.
_____
"ayo dek, nanti telat" Zain menyudahi sarapannya kemudian mencium kedua tangan orang tuanya.
Zafirah adik Zain langsung meneguk habis susunya. Kemudian menyalami tangan Vino dan Starla.
"jangan balap ya Za" peringatan Vino untuk putranya.
"iya pah. Assalamualaikum"
"wa alaikumsalam"
_____
seperti biasa tim awan biru akan bertemu di sekolah. Saat itu Zain baru saja sampai di sekolah Zafirah. Gadis cantik itu langsung turun dan mencium tangan kakaknya. Satu temannya telah menunggunya di pagar sekolah. Sedikit berlari, Zafirah mendekati temannya dan keduanya masuk ke halaman sekolah sementara Zain melajukan kembali mobilnya.
Di perjalanan, Zain melihat seseorang yang ia kenal berdiri di samping mobilnya. Karena penasaran Zain menghentikan motornya di dekat sosok itu.
"kenapa bu...?"
Wanita itu menoleh, dia adalah ibu Naina. Melihat Zain di dekatnya, ibu Naina lagi-lagi kembali teringat dengan kejadian yang pernah mereka alami. akan tetapi wanita itu segera menepis hal tersebut.
"ban mobil ibu bocor" ibu Naina melihat ban mobilnya yang sudah kempes.
Zain melihat sekitar, tidak ada bengkel di sekitar itu. karena ibu Naina adalah gurunya juga demi membantu sesama, Zain menawarkan bantuan untuk membonceng gurunya itu.
"terus mobil ibu bagaimana...?"
"kan bisa menghubungi bengkel untuk datang mengambilnya. Lagipula di sekitar ini nggak ada bengkel bu. Atau saya memberhentikan taksi kalau memang ibu tidak mau bonceng denganku" Zain memberikan pilihan sebab ia melihat ibu Naina seperti ragu untuk berangkat bersamanya.
"tidak usah, ibu berangkat denganmu saja" ibu Naina menjatuhkan pilihan.
Ia mengambil tasnya di dalam mobil kemudian mendekati Zain dan naik duduk di belakang Zain. Sejenak Zain melihat wajah cantik ibu Naina di kaca spionnya. Ketika itu ibu Naina juga sedang menatapnya di kaca spion sehingga pandangan keduanya bertemu. Ibu Naina gelapan dan melihat ke arah lain.
"sampai kapan mau melihat ibu terus. Ayo jalan"
"jangan geer bu, saya hanya sedang melihat kendaraan lain apakah ada yang melaju cepat atau nggak. Kan bahaya kalau tiba-tiba nabrak"
jawaban Zain membuat ibu Naina menggigit bibir. Begitu malu terlalu kepedean kalau remaja itu sedang menatap dirinya. Padahal ternyata Zain telah memperbaiki posisi kaca spionnya agar dapat melihat kendaraan yang ada di belakang mereka. Tidak lama motor Zain bergerak dan melaju lumayan kencang sebab dirinya memburu waktu agar tidak terlambat.
Ketika sampai, baru saja terdengar bel apel pagi dibunyikan. Keberuntungan berpihak kepada Zain untuk saat ini.
"terimakasih" ibu Naina turun dan berlalu pergi.
__ADS_1
"ckckck" Zain geleng kepala kemudian membuka helmnya. "setidaknya masuk barengan kek" dengan berjalan cepat Zain mengayunkan langkah sebab semua siswa sudah berkumpul di lapangan.