
Satria dan Zain telah mendapatkan perawatan setelah keduanya dilarikan ke rumah sakit. Saat ini keadaan Satria tidak parah seperti keadaan Zain. Satria hanya diobati biasa namun tetap harus dirawat untuk sementara waktu. akan tetapi berbeda dengan Zain, remaja itu bahkan di infus dan sampai sekarang belum juga sadarkan diri.
Ibu Naina masih berada di rumah sakit, dirinya menemani Starla. Ibu dari Zain itu, terus menggenggam tangan putranya dan sesekali menciumnya.
"bangun sayang...buka matamu. Jangan membuat mama khawatir seperti dulu" suara lirih Starla membuat Ibu Naina merasa iba.
tidak dapat dipungkiri kalau ibu Naina juga begitu menghawatirkan keadaan Zain. sampai sekarang siswanya itu belum juga sadarkan diri dan bahkan panas di tubuhnya bertambah tinggi saja. Hal itu yang membuat Starla semakin dilanda rasa gelisah dan kekhawatiran.
"apa Zain pernah seperti ini sebelumnya bu saat terkena air hujan terlalu lama...?" ibu Naina bertanya.
Starla menghapus air matanya dan mengangguk menatap ibu Naina.
"aku hampir kehilangannya waktu Zain masih berumur lima tahun" Starla kembali menatap wajah putranya. "waktu itu dia dan teman-temannya mandi hujan tanpa sepengetahuan kami. Dirinya bahkan tidak bangun beberapa hari bahkan sempat masuk ke UGD. Aku dan papanya tidak pernah tau kalau Zain ternyata mempunyai sakit seperti yang dialami oleh papanya. Keduanya tidak bisa terkena air hujan terlalu lama." Starla mengelus rambut Zain dengan lembut.
ibu Naina menatap Zain dengan nanar. Entah mengapa hatinya begitu khawatir melihat keadaan Zain sekarang. Bahkan di lubuk hatinya, dia ingin sekali tetap berada di samping siswanya itu. Namun itu tidak mungkin sebab dirinya harus menemani ibu Dian. Ibu Dian juga di rawat di rumah sakit itu.
"semoga Zain cepat sadar" tangan ibu Naina terulur mengelus kepala Zain dengan lembut. Starla hanya menatap saja. Ia berpikir kalau itu adalah bentuk perihatin seorang guru terhadap siswanya.
"kalau begitu saya permisi dulu bu. saya harus melihat keadaan ibu Dian juga menjenguk siswa saya yang mengalami kecelakaan" ibu Naina menarik tangannya kembali.
"iya" Starla mengangguk. "terimakasih sudah menemaniku di sini" Starla tersenyum.
"sama-sama bu. Nanti saya akan datang lagi melihat keadaan Zain. Kalau begitu saya permisi"
Ibu Naina menatap Zain sebentar sebelum akhirnya ia keluar dari ruangan itu.
Di kamar Satria yang berada disamping kamar Zain, ibu Naina masuk ke dalam ruangan itu untuk melihat keadaan Satria.
"eh ibu Naina...mari masuk bu" Nisda tersenyum ramah.
Ibu Naina mendekati mereka yang duduk di sofa. Di dalam ruangan itu, mereka sedang menunggu kedatangan Seil juga Alana, sebab istri dari El-Syakir itu, telah dihubungi oleh mereka.
"bagaimana keadaan Satria...?" ibu Naina melihat ke arah Satria yang sedang tertidur pulas setelah meminum obat.
"dia tidak separah Zain. Semoga keduanya cepat sembuh" jawab Melati. "oh iya...ibu Dian bagaimana...? Tadi kami tidak sempat lagi melihat keadaannya sebab harus mengurus Satria dan Zain"
"ibu Dian sedang tidur di kamarnya. Dia hanya kelelahan juga luka dikakinya membengkak. Untungnya segera dilarikan ke rumah sakit." ibu Naina menimpali. "kalau begitu saya permisi ya bu, nanti akan saya datang lagi melihat keadaan mereka. Saya harus melihat keadaan ibu Dian juga kedua siswa saya yang menjadi korban kecelakaan"
rupanya mereka satu rumah sakit dengan Ceril juga Alesa. Ibu Naina langsung pamit dan keluar. Dirinya menuju ke arah kamar rawat ibu Dian. Ketika membuka pintu, ternyata sudah ada keluarga dari wanita itu, Ibu juga ayahnya. Ibu Naina hanya menyapa sebentar kemudian ia keluar untuk menemui pak Adiatama juga Rahim. Dirinya telah menghubungi mereka bahwa ia berada di rumah sakit dan menanyakan keberadaan mereka. Ia juga memberitahu kalau ibu Dian dirawat di rumah sakit itu.
di dalam kamar rawat Alesa keduanya duduk di sofa. Ibu Naina masuk ke dalam dan menghampiri mereka.
"bagaimana bisa ibu Dian berada di rumah sakit. Bukankah kamu membawanya pulang ke rumah" pak Rahim langsung bertanya setelah ibu Naina duduk bergabung bersama mereka.
Akhirnya ibu Naina menceritakan kejadian yang dirinya alami sehingga kemudian ia berada di tempat itu.
"ibu Dian menyerang kalian...?"
"iya...dan sekarang Zain sedang tidak sadarkan sejak datang tadi. Ibu Dian sudah ditemani oleh kedua orang tuanya"
"kenapa bisa sampai ibu Dian menyerang kalian...?" pak Adiatama bertanya.
"saya tidak tau pak. Tapi sepertinya dirinya kerasukan, buktinya ia bahkan bisa membuat mobil Zain terbang dan menghantam pohon"
pak Adiatama mengepalkan tangan, ia benar-benar tidak tau apa yang harus ia lakukan sekarang. Dirinya benar-benar merasa lelah dengan semua yang terjadi.
"Ceril bagaimana...?" ibu Naina langsung bertanya.
"dia koma dan sekarang berada di ruang ICU" pak Rahim menjawab.
"ya Allah" ibu Naina begitu terpukul. "lalu keluarga keduanya sudah diberitahu kan...?"
"sudah, mungkin sebentar lagi datang" tetap pak Rahim yang menjawab.
Sementara pak Adiatama menunduk dan menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia benar-benar terpukul melihat keadaan dua siswanya saat ini.
Saat itu tiba-tiba ponselnya bergetar, pak Hamzah menghubunginya dan segera pak Adiatama mengangkatnya.
[halo pak Hamzah]
[pak kepsek...siswa kita]
__ADS_1
Suara pak Hamzah terasa tertahan di tenggorokan.
[ada apa pak, semuanya baik-baik saja kan. Tidak terjadi apapun lagi kan...?]
[benar apa yang bapak katakan. Siswa kita meninggal karena dijadikan korban tumbal, dan sekarang.... sekarang ada delapan siswa kita yang meninggal di sekolah. Semua itu karena ulah dari makhluk menyeramkan yang tiba-tiba datang menyerang]
Deg
Deg
Deg
tubuh pak Adiatama bergetar, bahkan terlihat oleh pak Rahim dan ibu Naina kalau pimpinan mereka itu tubuhnya luruh ke lantai.
Pak Adiatama pernah bercerita kepada pak Hamzah kalau dirinya menaruh kecurigaan kepada situasi yang mereka alami. Meninggalnya para siswa mereka menurutnya ada kaitannya dengan cepat tumbal yang dilakukan oleh seseorang namun dirinya tidak mengetahui siapa orangnya.
waktu itu belum ada kecurigaan kalau semua guru di sekolah dicurigai oleh tim samudera juga tim awan biru. karena waktu itu mereka semua belum terlibat dalam kasus itu.
"pak...ada apa pak...?" pak Rahim langsung membantu pak Adiatama untuk duduk kembali di sofa.
"ya Allah" pak Adiatama seketika berkaca-kaca. dadanya bergemuruh, dirinya seakan tidak mempunyai tenaga untuk menopang tubuhnya. Sesak di dada membuat ia seakan sesak untuk bernafas.
"lalu kalian dimana sekarang, apakah masih di sekolah...?" pak Adiatama menghapus kasar air matanya yang sudah jatuh ke pipinya.
[semua siswa sudah kami pulangkan ke rumah masing-masing. akan tetapi siswa yang meninggal masih di sekolah. Pak Gibran...pak Gibran menghadapi sendiri makhluk itu]
[kembali ke sekolah pak Hamzah dan suruh ibu Kahiyang untuk datang ke rumah sakit. Di sini ada ibu Naina juga. Saya dan pak Rahim akan ke sekolah sekarang juga. Pergilah dan bantu pak Gibran]
[baiklah, kami tunggu di sekolah]
"ada apa pak...?" ibu Naina bertanya. begitu penasaran sampai kepala sekolah mereka menangis tanpa suara.
"delapan orang siswa kita meninggal"
"astaghfirullah"
"innalilahi"
Ibu Naina menutup mulut. kabar duka itu adalah kabar yang paling menyakitkan hatinya.
"kita berdua harus ke sekolah pak Rahim. Biarkan ibu Naina yang menjaga Alesa di sini sampai keluarganya datang"
"baik pak"
Bergegas keduanya meninggalkan kamar rawat Alesa. Keduanya menggunakan mobil masing-masing untuk mengarah ke sekolah. Diperjalanan pak Adiatama terus menghubungi Sharlin namun putranya itu tidak mengangkat telepon. nantilah panggilan kelima baru Sharlin mengangkat panggilan ayahnya.
[papa]
[kamu dimana nak...?]
[di sekolah pak bersama yang lain dan mas Gibran]
[papa sedang menuju ke sana. Bagaimana dengan pak Gibran, dia baik-baik saja kan...? Apakah iblis itu masih di sekolah...?]
[nanti setelah papa datang baru Sharlin akan memberitahu papa. Kami tunggu papa di sini]
[iya...papa akan segera sampai]
Gibran beserta tim awan biru sedang berada di halaman kantor. Semua mayat siswa itu di tutupi dengan kain seadanya. delapan orang korban tumbal, dibaringkan saling bersampingan.
mereka duduk tidak jauh dari para mayat itu. Gibran duduk bersila, ada Kirana yang mengapit lengannya dan menyandarkan kepalanya di bahu kanan laki-laki itu sementara di bahu kirinya, Ayunda yang menyandarkan kepalanya.
Alea bersandar di bahu Danial, dan Sharlin duduk memeluk kedua lututnya dengan kepala ia tundukkan.
"kasian sekali mereka" Danial menatap nanar semua mayat-mayat itu. "aku pikir pelakunya sudah ibu Dian, ternyata wali kelas kita sendiri, ibu Amanda" lanjutnya lagi.
"aku lihat mas Gibran sempat dekat dengan ibu Amanda. betul kan mas...?" Ayunda berucap.
"sejak kapan kamu memerhatikan keseharian mas...?" Gibran mencubit hidung Ayunda.
"bukan memperhatikan, tapi mataku ini entah kenapa selalu menangkap kebersamaan kalian. Lagi pula ibu Amanda cantik, kalau dia bukan pelakunya sudah pasti kami akan merestui pak Gibran mendekati ibu Amanda" ucap Ayunda.
__ADS_1
"kami dekat karena sama-sama mengajar di sekolah yang sama. Sudahlah, tidak usah membahas dia. Saat ini kita harus berdoa semoga ayah kalian semua menemukan Airin dan mengalahkan ibu Amanda" Gibran sengaja berkata seperti itu agar pembahasan dirinya dan ibu Amanda berhenti sampai disitu.
Sharlin sejak tadi diam dan bahkan terus menundukkan kepalanya setelah ia berbicara dengan papanya.
"kak Sharlin...kamu baik-baik saja...?" Alea memegang bahu temannya itu.
Sharlin mendongakkan kepalanya, terlihat wajahnya penuh kesedihan. Ketika itu semua orang sedang memperhatikannya.
"kenapa memanggil ku dengan panggilan kakak Al, padahal kita seumuran dan hanya beda bulan saja" Sharlin menegakkan badannya dengan kedua lutut ia lipat.
"aku terbiasa memanggil kak Danial juga kak Satria dengan panggilan kakak sebab mereka berdua lebih kakak dariku. Lagi pula kak Sharlin lebih tua dariku kan" Alea menjelaskan.
"lalu kenapa Zain kamu tidak memanggil dia dengan panggilan kakak...?" Sharlin masih kembali bertanya.
"tanggal lahir kami sama, hanya beda jam saja. Memangnya kakak nggak mau ya kalau aku panggil kakak...?" Alea menimpali.
"tentu saja tidak. Aku suka panggilan itu" Sharlin memegang pucuk kepala Alea dan tersenyum.
Alea tersenyum malu, jantungnya berdebar-debar tatkala Sharlin menatapnya dengan lembut dan penuh kehangatan.
tidak lama pak Adiatama datang bersama para guru lainnya. ketika melihat papanya datang, Sharlin langsung memeluk erat tubuh pak Adiatama. Kemudian ia melepaskan pelukannya dari sang putra dan berjalan mendekati para mayat siswa yang tergelatak di tanah.
begitu hancur hati pak Adiatama melihat delapan mayat siswa yang tidak bersalah namun harus menjadi korban dari kebiadaban iblis itu.
dirinya membuka kain yang menutupi salah satu mayat. darah di leher juga di dadanya masih begitu basah. Air mata pak Adiatama kembali menetes.
"ya Allah...kasihan sekali mereka" gumamnya lirih.
"sebaiknya kita memberitahu orang tua mereka pak" Kenan datang mendekat.
"lalu alasan apa yang akan kita berikan kepada orang tua mereka. Pastinya mereka tidak akan percaya dengan apa yang kita lihat" ucap pak Danu.
"tapi setidaknya kita memberitahukan mereka apa yang sebenarnya terjadi. Dan lagi...dimana makhluk mengerikan itu, kenapa dia tidak terlihat" pak Kenan menatap ke arah Gibran.
"sedang di urus oleh seseorang, ke suatu tempat dimana kita tidak akan bisa pergi ke sana" Gibran mengatakan yang sebenarnya meskipun masih ada rahasia yang ia sembunyikan.
"seseorang siapa...? Bukankah tadi kamu sendirian" ucap pak Hamzah.
"Kita bawa mereka ke rumah sakit, nanti disana orang tua mereka datang menjemput" pak Adiatama berdiri. Hal itu dapat melegakan Gibran sehingga dirinya tidak lagi harus menjawab pertanyaan pak Hamzah.
"apa kita harus memanggil polisi juga...?" tanya Kirana.
"apa yang bisa diselidiki oleh polisi jika pelakunya saja adalah makhluk mengerikan. Aku yakin mereka tidak akan percaya"
"kita hubungi pihak rumah sakit saja" ucap pak Adiatama.
Malam itu semua mayat siswa-siswi itu dibawa ke rumah sakit. Selain tim awan biru, Gibran dan juga pak Adiatama, yang lain sudah berangkat ke rumah sakit.
"bagaimana dengan iblis itu pak Gibran...?" tanya pak Adiatama.
"dia menghilang ke dunia gaib. Adam juga yang lainnya sedang ke tempat itu untuk memusnahkannya. Kita hanya bisa menunggu di tempat ini" jawab Gibran.
Pak Adiatama menghela nafas panjang. Sharlin mendekat dan memeluknya. "apa papa akan berurusan lagi dengan polisi...?"
"itu sudah jelas nak. Bahkan mungkin saat ini bisa saja papa akan masuk penjara jika tidak bisa memberikan penjelasan apa yang sebenarnya terjadi. Pihak polisi juga pasti tidak akan mempercayai jika kita memberitahukan yang sebenarnya"
"bapak tidak boleh masuk penjara, bapak kan tidak salah" ucap Ayunda.
"iya...bapak tidak salah, tidak seharusnya masuk penjara kan" timpal Danial.
"semoga saja ada jalan keluar. Saya pergi dulu, berhati-hatilah di sini. Kabari saya jika mereka telah kembali"
"tentu pak" Gibran menjawab.
"aku ikut ya pah, aku nggak mau papa diambil polisi nantinya" Sharlin memegang lengan pak Adiatama.
"tidak, kamu tetap di sini untuk menemani Danial juga pak Gibran. Papa akan baik-baik saja, percayalah" pak Adiatama mengelus wajah Sharlin.
pak Adiatama meninggalkan sekolah, kini hanya tersisa mereka kembali.
"ayah dan bunda akan baik-baik saja kan mas...?" Danial mulai sedih kembali mengingat kedua orang tuanya.
__ADS_1
"mereka akan baik-baik saja, mereka kan hebat. Kita berdoa semoga mereka datang dengan selamat"
Gibran merengkuh Danial, sehingga semuanya saat itu ikut berpelukan.