
"kenapa berhenti, kita kan harus kembali ke sekolah" tanya Satria ketika Zain menghentikan mobilnya di tempat aman.
"apa kamu tidak penasaran kemana dia akan pergi sekarang. Setidaknya kita harus tau apakah dia akan kembali ke sekolah ataukah pergi ke tempat lain" Zain membuka sabuk pengamannya.
"jangan bilang kamu mempunyai ide untuk mengikutinya"
"memang itu yang ada di dalam kepalaku" Zain membenarkan.
"jangan gila Za, kita hanya berdua saja. jangan gegabah seperti apa yang kita lakukan saat memasuki hutan terlarang itu. Kita tidak bersama yang lainnya, bahkan Jin pun tidak bersama kita"
"tidak akan ketahuan kalau kita berhati-hati" Zain masih tetap kekeuh.
"nggak, aku tetap nggak setuju. Pakai sabuk pengaman mu kembali dan kita pulang ke sekolah" Satria menahan lengan Zain.
"apa kamu lupa kalau Danial mempunyai kalung yang bisa menandakan kalau iblis itu telah mengambil tumbal lagi. Mereka pastinya akan datang ke sini. Aku saja baru terpikirkan itu saat sekarang ini"
"tapi..."
"dia hilang Sat" Zain menunjuk ke arah dimana sosok itu tadi berdiri. dengan cepat ia keluar dari mobil.
Satria pun ikut keluar dan menelisik ke segala arah, mencari tau kemana perginya sosok itu.
"cepat banget hilangnya"
Keduanya kini malah fokus mencari keberadaan sosok itu dan mulai melupakan tujuan awal mereka.
"balik aja deh Sat, kamu benar kita harus ke sekolah untuk menjemput yang lainnya. Mobil mas Gibran kan kita yang pakai" Zain pada akhirnya menyerah.
"ya sudah ayo. Mereka harus tau siapa sebenarnya dalangnya"
Mereka berdua kembali ke mobil. baju mereka pun sudah basah sebab hujan belum juga reda saat itu.
Semakin lama jalanan tidak lagi macet separah tadi. Penglihatan Zain terganggu akibat hujan yang turun. Remaja itu ingin sekali mengebut untuk bisa segera sampai di sekolah, namun Zain memikirkan resiko jika ia melakukan itu. jangan sampai terjadi sesuatu yang membuat keduanya celaka.
"Sat, di depan ada orang"
Lampu mobil yang menerangi jalan mereka, mengenai seseorang yang berdiri di pinggir jalan sambil melambaikan tangan ke depan. Itu berarti orang tersebut membutuhkan bantuan. seseorang itu menggunakan payung agar dirinya tidak basah terkena air hujan.
Zain memelankan laju mobilnya dan berhenti di samping seseorang itu.
"ibu Naina...?" Zain kaget melihat wanita itu.
"Za, kalian mau ke sekolah kan...?" suara ibu Naina ia keraskan.
"iya bu. Ibu sendiri ngapain di sini, mobilnya kenapa...?" Zain melirik mobil ibu Naina yang terparkir di pinggir jalan.
"mogok, mobil ibu nggak mau nyala. Ibu numpang sama kalian ya. Dari tadi ibu menunggu kendaraan tapi tidak ada satupun yang berhenti"
"ya sudah, naiklah bu" ajak Zain.
segera ibu Naina masuk ke dalam mobil dan payungnya ia simpan di bawah kakinya.
"pakai ini bu, untuk melap baju ibu yang basah" Satria menodorkan tisu kepada gurunya itu.
"terimakasih. Kalian kenapa pulang malam seperti ini...?"
Ibu Naina melap pakaiannya, sementara Zain kembali menjalankan mobilnya.
"karena sore hari kami keluar sekolah, pastinya malam baru pulang. Apakah ibu sudah tau kabar mengenai kak Ceril dan kak Alesa...?" Zain melihat ibu Naina di spion gantung.
"memangnya kenapa dengan mereka...? ibu Naina menatap bahu keduanya.
"mereka kecelakaan bu, sekarang dilarikan ke rumah sakit. Pak Rahim dan ibu Amanda sekarang sedang menuju ke rumah sakit"
"innalilahi. kecelakaan...? Bagaimana bisa kecelakaan, bukankah mereka di sekolah...?"
"mereka izin keluar seperti kami bu. Ibu Amanda meminta kami untuk memberitahu kepala sekolah dan guru-guru lainnya"
"biar saya yang menghubungi guru-guru di sekolah" ibu Naina mengambil ponselnya.
Wanita itu mencari nomor pak Hamzah namun baru menekan nomor teman sesama guru itu, tiba-tiba panggilan mati begitu saja.
__ADS_1
"loh kenapa ini" ibu Naina heran. "yang benar saja, kenapa tidak ada signal sama sekali...?" ibu Naina menggerakkan ponselnya ke kanan dan ke kiri.
"nggak ada signal bagaimana bu...?" tanya Satria.
"ini aneh, ponsel saya tidak menemukan signal satu batang pun. coba ponsel kalian" ibu Naina terheran-heran.
"ponsel kami lobet bu, makanya itu kami tidak bisa menghubungi teman-teman di sekolah"
Ibu Naina terus menggerakkan ponselnya namun tetap saja benda pipih itu tidak menangkap satu pun signal yang ada.
"astaga...ada apa ini. Apa ponselku yang rusak. Tapi tadi saya baru saja berbicara dengan ibu Dian lewat telepon" gumamnya sambil terus menggerakkan ponselnya.
"ibu Dian sudah tiba di rumahnya ya bu...?" tanya Satria.
"iya, ini tadi aku baru dari rumahnya namun tiba-tiba mobilku mogok"
Satria dan Zain saling lirik, mereka tidak sabar ingin segera sampai di sekolah.
Mobil itu terus bergerak, guntur semakin keras terdengar dan kilatan petir sungguh menakutkan di langit sana. Tadinya masih mereka temukan beberapa kendaraan yang saling melewati dengan kendaraan mereka, namun sekarang ini jalanan itu sudah nampak begitu sepi.
"Za, ini kita nggak salah jalan kan...?" Satria menoleh ke arah jendela, merasa asing dengan keadaan sekitarnya itu.
"ini jalan yang sering kita lewati ke sekolah kan ya. Masa iya aku salah jalan" Zain masih tetap berpikir positif.
"tapi kok sepi begini nggak ada orang. Padahal baru mau jam tujuh" Satria melihat jam tangan yang ada dipergelangan tangan Zain.
"kan hujan Sat, mungkin orang-orang malas untuk keluar rumah" timpalnya.
Satria tidak lagi menjawab. Mungkin memang apa yang dikatakan oleh sahabatnya itu.
Mobil itu terus berjalan hingga kemudian sudah satu jam lamanya mereka belum juga sampai di sekolah SMA Citra Bangsa, padahal jika perkiraan mereka sudah lama berputar-putar di jalanan. Kini Zain yang mulai was-was sebab sampai sekarang mereka belum juga menemukan arah jalan sekolah.
"Sat, apa memang kita salah jalan ya" ucapnya pelan
"aku bilang juga apa" Satria menghela nafas
"Zain, kamu sepertinya salah jalan. Kenapa dari tadi saya merasa kita hanya berputar-putar di sini saja" ucap ibu Naina.
"ah iyakah bu. pantas saja dari tadi kita tidak sampai-sampai. Lalu sekarang bagaimana...?" Zain melirik ibu Naina di spion gantung.
"putar arah dan kembali ke tempat dimana kalian menemukan ibu tadi. Sepertinya di tempat itu kamu sudah salah mengambil jalur" perintah ibu Naina.
"baiklah"
Zain patuh dan memutar arah. ia dan Satria mulai kedinginan sebab baju keduanya basah tapi untungnya tidak sampai basah kuyup.
mobil itu bergerak terus tanpa berhenti, akan tetapi mereka tidak menemukan mobil ibu Naina yang terparkir di pinggir jalan. Mereka malah kembali lagi ke tempat yang semual.
"Zain, kenapa kita ke sini lagi. Lihatlah pondok kecil itu, tadi kan kita berada di dekat pondok itu juga. kenapa sekarang kamu membawa kita kesini lagi" ibu Naina dibuat bingung.
Zain menghentikan mobilnya dan ia pun saling melirik dengan Satria. Kedua mata mereka melihat ke arah luar, kini perasaan keduanya mulai tidak enak.
"bu, apakah sekarang ponsel ibu sudah dapat menangkap signal...?" tanya Satria.
"belum" ibu Naina memeriksa ponselnya. "ibu juga heran, apakah karena di daerah ini tidak ada signal atau bagaimana" ibu Naina dibuat kesal oleh ponselnya sendiri karena sejak tadi benda itu tidak bisa ia gunakan untuk menghubungi siapa saja.
Hujan masih turun dengan lebatnya, sesekali suara guntur saling bersamaan dengan kilatan petir yang menyambar di langit sana.
"kenapa kita berhenti...?" tanya ibu Naina.
Bukannya menjawab, Satria dan Zain malah saling menggenggam tangan.
"Sat, apapun yang kita hadapi nanti...jangan saling meninggalkan ya" Zain menatap Satria dengan sendu.
"nggak akan, aku akan selalu menggenggam tanganmu kemanapun aku pergi" Satria meyakinkan.
Zain mengangguk paham dan tersenyum. Sebenarnya ada rasa ketakutan di dalam diri Satria. ia takut jika nanti mereka menghadapi sesuatu yang harus membuat mereka meninggalkan mobil, ia takut Zain tidak akan bisa berlari terlalu jauh. Sebab sahabatnya itu sama dengan papanya yaitu Vino, keduanya tidak bisa berada dibawah guyuran air hujan terlalu lama. Jika itu terjadi maka resikonya akan begitu fatal.
"Satria, Zain...kenapa tidak menjawab pertanyaan ibu...?" ibu Naina bertanya lagi.
belum mereka menjawab, sosok yang memakai jubah hitam telah berdiri beberapa meter di depan sana. Lampu mobil yang begitu terang memperlihatkan sosok itu menatap lurus ke arah mereka.
__ADS_1
"Sat, d-dia datang" Zain semakin erat menggenggam tangan Satria.
Ibu Naina memfokuskan pandangan ke depan. ia dapat melihat seseorang yang berdiri di depan sana.
"itu ada orang, tapi kenapa pakaiannya aneh seperti itu"
"mundur Za... mundur" Satria mengomando.
Zain menyalakan mesin mobil dan menggerakkan mundur mobil itu. Sosok itu berjalan terus ke depan bahkan sudah berlari mengejar mereka.
"kenapa dia mengejar kita, hei kenapa malah berjalan mundur" ibu Naina mulai panik.
Zain menghentikan mobil itu kemudian mobil itu bergerak cepat ke depan sehingga
Braaaakkk
"aaaa astaghfirullahaladzim" ibu Naina teriak begitu kaget, Zain dengan sengaja menabrak sosok tadi.
Bukannya berhenti, mobil itu semakin bergerak cepat. Ibu Naina menoleh ke arah belakang dan betapa terkejutnya ia saat melihat sosok yang mereka tabrak tadi sedang berlari mengejar mereka.
"dia b-bangun ....dia datang lagi Za" pekik ibu Naina.
_____
Gibran bersama tim samudera juga tim awan biru baru saja di tempat kecelakaan. Sementara pak Adiatama langsung meluncur ke rumah sakit untuk melihat keadaan dua siswanya yang menjadi korban dari kecelakaan itu.
Hujan masih turun dengan derasnya, semua orang turun dari mobil tanpa peduli mereka akan basah kuyup.
"di sini tempatnya yah" ucap Danial.
Ketika di sekolah Danial merasakan panas dilehernya akibat hawa yang dikeluarkan oleh kalung pemberian Jin dan dengan itu menandakan bahwa iblis itu sedang mengambil tumbal lagi.
"kita tunggu bunda datang" ucap Adam.
Mereka tidak dapat memastikan kemana perginya iblis itu, maka dari itu mereka menunggu kedatangan Airin.
"berteduh di sana dulu" Deva menunjuk sebuah tempat untuk berteduh, di depan ruko yang sudah tutup.
Semua orang berlari ke arah ruko itu. Adam telah menghubungi Airin dan istrinya itu sedang dalam perjalanan untuk menyusul mereka.
tiba-tiba dari dalam tubuh tim samudera, batu hijau pemberian Airin yang bersemayam di tubuh mereka keluar dari tubuh masing-masing dan melayang-layang di depan mereka. Batu itu menyala-nyala memperlihatkan warna hijau yang indah.
"kak, bukankah kalau seperti ini anak-anak ada yang berada dalam bahaya" ucap El-Syakir.
"ya Allah...Satria dan Zain" ucap Vino. "anak aku El, kita harus cari mereka" Vino gelisah, panik dan khawatir. Dirinya begitu takut terjadi sesuatu dengan Zain, apalagi sekarang hujan belum juga reda.
"sebaiknya kamu di sini saja Vin, Zain dan Satria biar aku dan Leo yang mencari mereka. Kamu kan tidak bisa terlalu lama terkena air hujan. Kalau kamu pingsan dan berakhir di rumah sakit bagaimana. Bajumu sekarang saja sudah basah" El-Syakir memberikan solusi.
"tapi El"
"Vin, kamu tetap di sini. Kita tunggu kak Airin di sini" Bara menepuk bahu Vino.
"baiklah" Vino pun mengalah.
"aku ikut om" Jin menawarkan diri.
"tentu" Leo menjawab
El-Syakir, Leo dan juga Jin mengikuti batu hijau yang akan menuntun mereka untuk menemukan Zain dan Satria. Tidak lama kepergian mereka, Airin baru saja tiba bersama para perempuan tim samudera terkecuali Alana, karena wanita itu tidak diizinkan oleh suaminya untuk ikut serta.
mereka keluar dari mobil dan berlari menuju ke arah ruko tempat berteduh semua orang.
"dua korban itu masih bisa diselamatkan. aku berhasil membuat mobil truk itu menabrak tiang listrik agar keduanya tidak dilindas oleh mobil. Meskipun begitu, kecelakaan tidak dapat dihindari karena keduanya pun menabrak mobil lain dan terbang beberapa meter. Syukurnya mereka berdua menggunakan helm" Airin langsung memberitahu semua orang.
"bunda kan masih di rumah, kok bisa langsung menyelamatkan mereka. Ini saja bunda baru datang" Danial terheran dan bingung dengan penjelasan ibunya.
"kamu lupa ya tante Airin itu siapa" ucap Kirana.
"bunda aku kan" Danial menjawab polos.
"lakukan sekarang Ay" ucap Adam, dia ingin agar Airin secepatnya menemukan keberadaan iblis itu.
__ADS_1