Panggil Aku Jin

Panggil Aku Jin
Episode 60


__ADS_3

Mendung semakin menjadi, langit semakin hitam dengan hawa dingin yang mulai menusuk kulit. Akan tetapi tidak ada kilatan petir ataupun suara guntur menggelegar. Padahal biasanya jika cuaca berubah seperti itu maka tandanya akan turun hujan namun sampai saat ini belum juga menampakkan hujan akan turun bahkan rintik-rintik pun tidak.


lapangan sekolah sedikit jauh dari tempat mereka berdiri namun bisa dilihat sebagian saja dari parkiran para guru. Ledakkan itu mengeluarkan asap yang cukup membuat lapangan itu tertutupi.


"kita lihat ke sana" pak Adiatama melepaskan rangkulan Sharlin darinya.


"tapi papa harus dibawa ke rumah sakit" Sharlin menghalangi pak Adiatama yang akan melangkah.


"papa harus lihat ada apa di lapangan itu. Rasa sakit ini tidak seberapa dengan sakit hati para orang tua siswa yang kehilangan anak mereka karena dijadikan tumbal. jika ledakan itu adalah pertanda kalau iblis itu datang lagi, papa tidak akan pernah membiarkannya mengambil tumbal lagi meskipun papa harus mati melawannya"


"tapi pah"


"Sharlin, papa tidak apa-apa. ini hanya goresan peluru, tinggal di jahit saja. tetaplah di sini, papa akan melihat ke sana" meskipun wajahnya kian pucat menahan sakit, pak Adiatama tetap ingin tahu ada apa di lapangan itu.


"kami temani pak" ucap Zidan. "kalian tetap di sini dan cari tempat yang aman untuk bersembunyi" Zidan menatap tim awan biru.


"tapi paman, ka..."


"tidak ada tapi-tapi, atau kalian pulang" tegas Zidan yang langsung memotong ucapan Danial.


"baiklah" Danial terpaksa patuh.


"ayo Gib" Zidan mengajak.


Ketiga orang dewasa itu meninggalkan tim awan biru menuju lapangan. Setelah kepergian mereka, tim awan biru saling pandang satu sama lain.


"kita nggak mungkin di sini terus kan...?" ujar Ayunda.


"sudah di suruh cari tempat persembunyian, ya pastinya nggak mungkin berdiri di sini" timpal Alea.


"maaf, tapi aku tidak bisa jika tidak ikut papa. aku harus memastikan kalau papa tidak kenapa-kenapa"


"lalu maumu bagaimana...?" tanya Kirana.


"kita ke sana namun dengan bersembunyi di tempat yang sedikit jauh agar mereka tidak bisa melihat kita" jawab Danial.


"ide bagus. sebenarnya aku juga penasaran ledakan apa yang terjadi di lapangan itu. Ayo ke sana sekarang" Ayunda setuju.


nakal memang.....


Sudah diperingatkan untuk bersembunyi saja namun mereka malah ingin melihat juga. Pada akhirnya tim awan biru menyusul tiga orang dewasa tadi, yang pastinya mereka akan bersembunyi agar tidak ketahuan.


Di depan kelas yang dipenuhi pot bunga juga di tong sampah yang disediakan setiap masing-masing kelas, di situlah mereka bersembunyi. Melihat keadaan dengan tubuh yang tidak terlihat.


"banyak asap, mana bisa lihat kalau begini" ujar Kirana pelan.


"nanti juga asapnya hilang. diam dan jangan bersuara" Danial mengingatkan.


Lama mereka menunggu bahkan badan sudah mulai pegal membungkuk dan berjongkok. Terpaksa mereka duduk melantai walaupun keadaan lantai yang lumayan kotor.


"itu mas Gibran, tapi paman Zidan dan pak Adiatama kemana...?" Alea menunjuk Gibran yang berdiri tidak jauh dari mereka.


Sharlin seketika langsung berdiri namun dengan cepat Danial menariknya kembali sehingga remaja itu terduduk di lantai lagi.


"ngapain sih kamu, hampir saja mas Gibran mengetahui keberadaan kita" Danial mengintip, Gibran memang sedang melihat ke arah tempat mereka bersembunyi.


"aku harus cari papa, kenapa dia tidak ada bersama mas Gibran" Sharlin kembali hendak berdiri namun Danial menahannya.


"jangan gegabah Shar. Mungkin saja mereka berpencar untuk melihat keadaan sekitar. ingat Shar kita ini adalah incaran iblis itu. Itulah mengapa paman Zidan tidak membiarkan kita untuk ikut mereka tadi"


"tapi sekarang kita tetap ikut juga kan" ujar Kirana.


"ya itu karena kita bandel dan juga penasaran" jawaban Danial membuat Kirana mencebik yang mengatakan kalau mereka bandel.


"nah itu paman sama kepsek" Ayunda berucap.


Semua orang langsung kembali fokus ke depan. Benar saja, Zidan dan pak Adiatama terlihat sedang mendekati Gibran yang berdiri di tengah ujung lapangan.


"bagaimana mas, pak...?" Gibran langsung bertanya ketika keduanya sudah di depan matanya.


"tidak ada apapun" jawab Zidan melihat sekitar.


"padahal tadi suara ledakan itu begitu keras tapi kenapa sampai tidak ada apapun yang kita temukan" pak Adiatama menghela nafas.


"kalau tidak ada apapun, mungkin saja ledakan itu bukan berasal dari sekolah tapi dari luar. Namun karena begitu dekat maka terdengar seperti berasal dari dalam sekolah" Gibran berpendapat.


"itu tidak mungkin" pak Adiatama menggeleng kepala. "lagipula siapa juga yang akan melakukan hal itu, jelas akan mengganggu ketenangan orang yang tinggal di sekitar sekolah. dan juga, jelas-jelas aku mendengar ledakan itu berasal dari lapangan ini. aku sangat yakin kalau ledakan itu dari sini"


"bagaimana kalau kita berpencar untuk melihat sekitar sekolah ini. Mungkin saja kita menemukan sesuatu" ucap Zidan.


"baiklah, aku setuju" jawab pak Adiatama.


Ketiganya berpencar saling mengarah ke tujuan masing-masing dan akan bertemu lagi di lapangan itu. Tim awan biru masih di tempat persembunyian mereka.

__ADS_1


"kalian masih ingin tetap di sini...? Kalau begitu aku harus pergi mengikuti papaku" Sharlin berdiri, ia kemudian melesat untuk mengikuti pak Adiatama dari jarak beberapa meter di belakang.


"ish anak itu, belum juga kita jawab udah main pergi saja" gerutu Danial. "kalian di sini saja, aku mau mengikuti paman Zidan" Danial beranjak.


"ikutlah kak, masa kami ditinggal. Nanti kalau tiba-tiba iblis itu datang bagaimana" Alea ikut berdiri.


Semua orang ikut berdiri, dan pada akhirnya mereka sepakat untuk mengikuti Zidan juga pak Adiatama. bukan berarti tidak ingin mengikuti Gibran, hanya saja laki-laki itu tidak begitu mereka cemaskan daripada pak Adiatama dan Zidan. Karena Gibran memiliki kelebihan dalam menghadapi iblis itu nantinya.


Alea kemudian menyusul Sharlin, sementara Danial bersama Kirana dan Ayunda mengikuti Zidan.


Merasa ada yang mengikutinya, Sharlin berbalik dan melihat Alea sedang mendekat dan kemudian merangkul lengannya.


"yang lain mana...?"


"ikut paman Zidan. Eh papamu kemana...? Kok hilang...?" Alea kaget sebab tiba-tiba pak Adiatama tidak terlihat.


Sharlin kembali fokus ke depan, benar saja pak Adiatama menghilang. Keduanya berlari ke tempat dimana pak Adiatama berdiri, sudah tidak ada kepala sekolah itu di sana.


"papa...pah" teriakan Sharlin tidak membuat pak Adiatama menyahut, malah semakin sunyi dan yang terdengar hanya suara burung gagak dari atas sana


Aneh sekali, hari itu tiba-tiba burung gagak muncul terbang di sekitar sekolah, terbang berputar tanpa berniat untuk pergi.


"papa..." Sharlin kembali memanggil, sayangnya pak Adiatama sama sekali tidak menjawab.


"Dan, itu teriakan Sharlin bukan sih...?" Kirana saat itu menghentikan langkah.


"mana...? Aku kok nggak dengar. Salah dengar mungkin Ki" Danial acuh sebab memang ia tidak mendengar Sharlin berteriak.


Mereka terus mengikuti Zidan yang menyusuri belakang sekolah. Tidak lama laki-laki itu bertemu dengan Gibran.


"loh Gib, kamu kenapa di sini...?" Zidan terheran melihat keponakannya itu sudah berada di depannya.


"tidak ada apapun di tempatku memeriksa makannya aku susul paman tapi lawan arah dan kita bertemu di sini" Gibran mendekati Zidan.


"ya sudah, kita kembali ke lapangan sebab di sana kamu sudah periksa namun tidak ada apapun bukan...?"


Gibran mengangguk, keduanya memutuskan untuk kembali ke lapangan. Danial, Ayunda juga Kirana masih mengekori mereka. Tiba di


Lapangan, suara Sharlin yang terus memanggil papanya mulai terdengar jelas di telinga mereka. Saat itu juga Gibran dan Zidan berlari cepat ke tempat suara Sharlin terdengar.


"aku bilang juga apa, tadi itu memang suara Sharlin" Kirana mengomel sebab Danial tidak percaya ucapannya tadi.


"ya aku kan nggak dengar tadi"


"ada apa Sharlin...? Lalu ini kenapa kalian malah berada di sini...?" Zidan menatap tajam. Anak-anak itu menunduk tidak berani membalas tatapan Zidan.


"Sharlin, ada apa...?" tanya Zidan sekali lagi.


"papa hilang paman"


"hilang...?" Gibran dan Zidan tentu saja kaget.


"maksudnya hilang bagaimana...?" Gibran bertanya.


"tadi itu aku sama Alea ngikutin papa. tapi sampai di sini papa tiba-tiba hilang. Udah aku panggil beberapa kali namun papa tidak menjawab, bahkan sudah kami periksa di sekitar sini, papa tidak ada" Sharlin menjelaskan dengan gugup. Dirinya takut pak Adiatama kenapa-kenapa.


"coba periksa Gib" perintah Zidan.


Keduanya berpencar memeriksa, bahkan di belakang sekolah juga di mana saja, tidak mereka temukan keberadaan pak Adiatama. namun saat itu, Gibran sampai di belakang perpustakaan. pandangannya mengarah ke hutan belakang sekolah itu. Ia melihat dari jauh seseorang sedang berjalan ke arahnya. karena gelap akibat mendung, Gibran tidak begitu jelas menangkap wajah orang itu. Hingga semakin dekat, barulah Gibran kaget kalau ternyata itu adalah pak Adiatama yang sedang menggendong seseorang.


"pak" Gibran dengan cepat menyongsong kedatangan pak Adiatama.


"mas Gibran"


Seseorang memanggil, terpaksa Gibran berbalik dan senyuman Gibran mengembang saat melihat siapa yang mengarah kepadanya.


"Jin"


Jin langsung memeluk Gibran saat itu. Namun ketika melihat pak Adiatama sudah di dekat mereka, Jin melepaskan pelukannya dan mendekati kepala sekolah itu. Gibran akhirnya sadar kalau ia bersama pak Adiatama saat itu.


"astaga....ibu Amanda"


Rupanya yang pak Adiatama gendong adalah ibu Amanda. wanita itu tidak bergerak di gendongan pak Adiatama dan kedua matanya tertutup rapat.


tanpa berkata apapun, pak Adiatama melewati Gibran begitu saja. Jin dan juga Gibran mengikuti kepala sekolah itu. Mereka membawa ibu Amanda ke tengah lapangan. pak Adiatama, membaringkan tubuh wanita itu.


saat itu juga tim samudera datang tiba-tiba, mengejutkan Gibran juga pak Adiatama yang berdiri mematung memperhatikan tubuh ibu Amanda yang penuh lebam dan perutnya yang bolong.


"ya Allah...kalian kembali" Gibran berkaca-kaca dan langsung memeluk Vino yang ada di dekatnya.


"AYAH"


"PAPA"

__ADS_1


"PAH"


Danial yang dari jauh melihat mereka, berlari bersama teman-temannya. Adam tersenyum hangat dan merentangkan kedua tangannya menyambut putranya. Danial menubruk tubuh Adam dan memeluknya erat. begitu juga dengan tim awan biru lainnya, mereka langsung memeluk ayah mereka. Sharlin pun memeluk pak Adiatama saat itu.


"papa bikin jantung Sharlin copot" Sharlin menghapus air matanya, karena sejak tadi ia begitu khawatir dengan papanya itu.


"maaf" hanya satu kata yang keluar dari mulut pak Adiatama. Ia kemudian tersenyum dan melepas pelukan putranya.


"ayah...bunda mana...?" Danial baru sadar kalau Airin tidak bersama tim samudera saat itu.


"di sini sayang" Airin baru saja datang, dengan pakaian manusia bukan lagi pakaian seorang ratu karing-karing.


Senyuman Danial semakin merekah, ia berpindah mendekati Airin dan memeluknya. baru satu hari tidak bertemu, Danial begitu rindu dengan Airin.


"kangen banget Bun"


Cup


Cup


Airin mencium seluruh wajah Danial dan kembali memeluknya.


Kini mereka sedang mengelilingi tubuh ibu Amanda yang sudah menjadi mayat. wanita itu memang sudah tidak bernyawa, Airin berhasil mengatasi wanita iblis itu.


Jin menatap lurus ibu Amanda, ada yang mengganjal dalam hatinya dan entah apa ia pun tidak tau. Sementara Danial sejak tadi terus mengapit lengan Jin, bagai tidak ingin hantu itu pergi kemanapun.


"lalu apa yang harus kita lakukan...? Dia sudah mati. Apa perlu memberitahu semua orang kalau pelakunya telah tertangkap namun sudah tidak bernyawa" ucap Leo.


"harus diberitahu agar semua orang tau kalau masalah ini telah selesai" jawab pak Adiatama.


Hari itu juga berita tentang pelaku penumbalan siswa di SMA Citra Bangsa mulai tersebar luas. banyak yang merasa lega akhirnya pelakunya menyusul ke alam baka. Ibu Amanda di makamkan hari itu juga. Semua guru turut hadir untuk membawa ke tempat terakhir wanita itu.


dua hari setelah kejadian itu, hari ini adalah kepulangan Zain juga Satria dari rumah sakit. Saat itu keduanya akan di bawa pulang ke rumah keluarga Sanjaya, sebab tim samudera akan membahas hal yang penting bersama semua orang.


Kedatangan keduanya disambut hangat oleh semua orang. Tim awan biru langsung memeluk Satria juga Zain. Setelahnya mereka masuk ke dalam rumah dan berkumpul di ruang keluarga.


"tidur di sini ya, sudah lama kita tidak seperti ini setelah menikah" ucap Adam.


"tidak masalah, tentu saja kami mau" Bara menjawab mengangguk.


Ragel tidak ingin lepas dari bundanya. Namun iman bayi itu tidaklah kuat sebab jika sudah diberi tontonan Upin Ipin maka imannya akan goyah dengan cepat. Padahal saat itu Ragel sedang menempel kepada Airin, ketika baby sitter datang dan mengambilnya dan mengatakan akan menonton Upin Ipin, Ragel langsung mengangguk girang.


"sayang bunda dulu dong" Airin menunjuk pipinya.


Ummaach


Ummaach


Dengan gaya tengilnya, Ragel mencium kedua pipi Airin.


"tataaa bunaaa..."


"dadaaaa sayang" Airin membalas lambaian tangan putra kecilnya itu.


bercerita sampai larut malam, kini Vania pamit untuk masuk ke dalam kamar. Ibu Arini juga ayah Adnan sudah pamit sejak tadi. Tinggal Zidan, Gibran juga tim awan biru dan tim samudera yang masih berada di tempat.


"semoga setelah ini tidak ada lagi iblis lainnya pemakan tumbal" ucap Zidan.


"semoga saja"


"oh ya, jadi yang bernama Jin itu sekarang ada dimana...?" Zidan bertanya.


Danial menunjuk ke arah sampingnya yang artinya Jin sedang berada di sampingnya. Meskipun tidak melihat wujudnya, Zidan hanya manggut-manggut tanda mengerti.


"ya sudah, saya mau masuk kamar dulu. Kalian juga istirahatlah" Zidan menepuk pundak Adam dengan pelan, setelahnya ia beranjak meninggalkan mereka.


Kepergian Zidan membuat hening tempat itu, tidak ada yang bersuara sehingga Jin mulai mengeluarkan suaranya saat itu.


"dia....masih hidup kan...?" Jin menatap Airin.


Kening tim awan biru mengekerut, tanda bingung dengan ucapan Jin yang tiba-tiba.


"waktu itu dia hanya kritis akibat serangan membabi buta yang dilakukan oleh tante Airin. sampai akhirnya dia kabur dan kembali ke alam manusia. jelas kita tau, dia masih hidup saat itu. Tapi kenapa kemarin, dia ditemukan sudah tidak bernyawa...?" lagi Jin bersuara.


"maksudnya apa bun...?" Danial meminta penjelasan.


"Tubuh yang ditumpangi Sri Dewi akan mati ketika Sri Dewi memutuskan untuk keluar dari tubuh itu dan itu sudah terjadi pada ibu Amanda. Kemarin kita tidak sempat menangkap jiwa Sri Dewi sebab dia kabur ke alam manusia. jika tidak menemukan wadah untuk menampung jiwanya, mungkin dia tidak akan bertahan lama sebab aku melukainya cukup hebat, akan tetapi jika dirinya menemukan wadah sebagai tempatnya bersemayam, dia tetap akan kembali hidup lagi di tubuh barunya dengan mencari segala cara untuk menyembuhkan lukanya dan menstabilkan kekuatannya"


penjelasan Airin membuat tim awan biru kaget. Mereka kira masalah iblis itu sudah selesai, namun ternyata masih akan terus berkelanjutan.


"tapi kemarin kita mendapatkan ibu Amanda tidak bernyawa lagi. lalu kemana jiwa Sri Dewi pergi kalau sudah tidak di dalam tubuh ibu Amanda...?" ucap Gibran.


pertanyaan Gibran membuat mereka semua menghela nafas. Sepertinya kasus iblis pemakan tumbal, belum berakhir sampai di situ.

__ADS_1


__ADS_2