
satu bulan telah berlalu dan selama itu tidak ada lagi korban nyawa di SMA Citra Bangsa juga di tempatnya lainnya. Tapi apakah semuanya akan baik-baik saja...?
Tidak sama sekali
karena hari ini tepat setelah satu bulan, hari ini sudah tiga kali terjadi kecelakaan tragis. Angkot yang terjun bebas di sungai dan semua penumpangnya adalah anak sekolah. Dua siswi yang bertabrakan dengan mobil dan salah satunya meninggal di tempat serta satu siswi yang dengan sengaja menabrakkan dirinya sendiri di kereta. Semua kejadian itu terjadi di jalan yang berbeda.
Jin lagi-lagi bertemu dengan seorang yang menjadi dalang dari semua kejadian itu. Betapa geramnya ia karena iblis itu seakan sedang mengerjai dan mengejek. Dia seakan berkata.....Lihatlah, bahkan pasukan kalian banyak namun aku masih bisa mencari tumbal di tempat lain.
Saat itu Jin bertemu dengannya ditempat kecelakaan yang terakhir, dimana seorang siswi remaja dengan sengaja berlari begitu cepat dan menabrakkan diri di kereta yang melintas. Tidak ada yang selamat dengan kejadian itu, sudah pasti siswi itu meninggal dan mungkin tubuhnya hancur.
"bagaimana Kean, kamu suka dengan kejutan yang saya buat...? Saya tau kamu pasti sangat suka bukan" masih menggunakan jubahnya, orang itu berhadapan dengan Jin.
Lalu bagaimana dengan suaranya...?
Bahkan suaranya saja terdengar seperti suara monster, itulah mengapa Jin tidak bisa menebak apakah yang berada di hadapannya itu adalah laki-laki atau seorang wanita.
"hanya seorang pengecut yang bermain seperti itu. kenapa tidak kamu lawan saja aku dan kita akhiri semuanya"
"tidak segampang itu anak manis, selagi kalian tidak bisa menangkap ku maka aku tidak akan pernah untuk berhenti. Jadi selamat menikmati pertunjukkan yang saya buat"
Orang itu berbalik dan meninggalkan Jin. Ketika itu Jin mengarahkan telapak tangannya ke arah tiang listrik yang ada di sekitar itu. Tiba-tiba tiang listrik itu korsleting dan miring ke kiri menandakan akan tumbang. Tiang listrik itu hendak mengenai orang itu, namun rupanya dengan cepat ia berkelit sehingga tiang listrik itu hanya mengenai jalanan.
"kita akan saling berhadapan nanti Keanu Alexander, lihatlah nanti bagaimana aku membunuhmu untuk kedua kalinya" orang itu telah menghilang dan hanya menyisakan suara saja yang terdengar.
"kakak....kakak" Ragel berjalan tertatih menuju ke arah pintu.
"mau kemana nak...?" Airin menghampiri putranya dan menggendongnya.
" Dan...kak Dan" Ragel berceloteh menunjuk keluar
"kak Dan sekolah sayang, nanti pulangnya sore. Tadi kan kak Dan sudah pamitan sama Ragel" Airin membawa Ragel ke karpet tempatnya ia bermain.
"cekoa...?" mata bulatnya berkedip-kedip menatap bundanya.
"iya sayang...kakak Dan sama kakak Sat sekolah. Kakak Galang juga sekolah sama kak Gauri. Nanti kalau Ragel sudah besar baru deh anak bunda ini sekolah juga" Airin menoel hidung anaknya itu.
"cekoa Buna cekoa...ael cekoa" Ragel berdiri dan menarik tangan Airin untuk keluar kamar.
ketika itu pintu kamar mandi terbuka, Adam keluar hanya menggunakan handuk melilit pinggangnya. Melihat anak dan istrinya saling tarik-menarik bagai tali tambang, Adam mengernyit dan mendekati mereka.
"mau pada kemana...?"
"ayah...cekoa yah cekoa, agel cekoa. Kak Dan cekoa, agel mau mau" Ragel berpindah menghampiri Adam ketika melihat ayahnya itu.
"cekoa...? Cekoa apaan sayang...?" Adam menggendong putranya itu dan membawanya ke ranjang.
"cekoa...mau agel cekoa, kak Dan"
Adam menggaruk pelipis dan menatap istrinya yang tertawa kecil melihat suaminya kebingungan.
"dia mau sekolah mas, ke sekolahnya Danial" Airin menghampiri putra dan suaminya.
"oooh sekolah"
Ragel langsung mengangguk cepat membenarkan, ia bertepuk tangan dan kembali berbicara hal yang membuat dirinya dua orang tuanya pusing. kadang Adam berkata kalau anaknya menggunakan bahasa alien.
putra kedua mereka telah diambil oleh baby sitter. Airin mulai menyewa baby sitter karena terkadang ibu mertuanya diperebutkan oleh Gauri dan Ragel. belum lagi Samudera yang begitu lengket dengan neneknya itu, alhasil Airin menyewa seorang baby sitter untuk mengurus anaknya. Itupun adalah permintaan Adam, suami brondongnya itu.
"mas, aku siap melakukannya" tiba-tiba Airin datang dan memeluk Adam dari belakang ketika suaminya itu sedang hendak memakai kemeja.
"kamu yakin Ay...?" Adam berbalik dan menatap istrinya.
"yakinlah mas, demi keselamatan anak-anak dan juga anak-anak lainnya. Walaupun menjadi manusia tapi bukan berarti kekuatanku menghilang mas"
"iya aku tau, hanya saja kamu sedang tidak begitu sehat setelah melahirkan Ragel"
"aku akan baik-baik saja, bukankah kamu tidak akan membiarkan aku melawannya seorang diri. Kita akan bersama-sama memusnahkannya" Adam mengangguk dan keduanya pun berpelukan.
"lalu bagaimana perkembangan kamera yang kalian simpan, apakah tidak ada gerak gerik yang mencurigakan dari semua guru itu...?"
Adam menggeleng kemudian melepaskan pelukannya. Ia melingkarkan kedua tangannya di pinggang sang istri.
"aku rasa dia tau kalau kita sedang mengawasinya maka dari itu dia tidak menampakkan gerakan yang membuat kita curiga" Adam melenyipkan rambut Airin ke telinga wanita itu.
"maka kalau begitu kita cari dia di kegiatan sekolah ini. entah siapapun dia, mereka pasti salah satu dari guru-guru di sekolah"
_____
"pak Samsul, berhenti di depan itu saja pak" ucap Danial.
"loh kenapa den, kan sekolahnya masih harus masuk ke dalam lagi" pak Samsul tentu saja bertanya.
"nggak apa-apa pak, pengen jalan kaki saja dari sini. Kalian nggak keberatan kan gais...?" Danial meminta persetujuan.
"sebenarnya sih keberatan, itu masih jauh loh kita jalannya. Tapi demi kesejahteraan bersama, maka ya udahlah aku mengikut saja" Ayunda menjawab.
"anak pintar" Danial mengedipkan mata kepada Ayunda.
Mobil itu berhenti di pinggir jalan. Mereka semua keluar dan setelahnya pak Samsul pergi meninggalkan mereka.
__ADS_1
"seger banget udara pagi, tapi sayangnya sekolahnya serem" Kirana menghirup udara sebanyak-banyaknya.
"hari ini kayaknya kita mulai akan kedatangan tamu dari sekolah lain kan...?" ucap Zain.
"dengar-dengar sih gitu. Acaranya tiga hari dan semuanya menginap di sekolah kita. Seru juga ya" timpal Satria.
"tapi....kalau tiba-tiba iblis itu mengambil tumbal lagi bagaimana...?" Alea ketakutan dengan itu.
"sudah satu bulan ini tidak terjadi apapun, semoga kedepannya tetap seperti ini" ucap Danial.
"tapi yang menjadi korban sekarang adalah diluar lingkungan sekolah" Jin tiba-tiba sudah bersama mereka. "sudah banyak korban ia mengambil hari ini" Jin terlihat putus asa.
"lalu apa yang harus kita lakukan, masa iya kita berdiam diri terus" ucap Zain.
Para remaja itu terus berjalan sambil bercerita. Hingga tidak lama sebuah mobil melintas di depan mereka semua dan setelahnya mobil itu berhenti dan mundur lagi. Mereka semua saling pandang dan menatap mobil hitam itu. Kaca mobil di turunkan, dia yang berada di dalam tersenyum kepada mereka semua.
"pagi bu" sapa Danial dengan sopan.
"aku melihat kalian begitu serius membahas sesuatu. Sedang membahas apa...?" wanita itu bertanya.
"biasa bu masalah anak remaja" Satria menjawab.
wanita itu menatap Satria dan terus memperhatikannya, alhasil Satria tidak nyaman dengan tatapan ibu Amanda. Di belakang Satria, ada Jin yang berdiri menatap lurus ke arah ibu Amanda.
"sudah sehat Sat...?"
"Alhamdulillah sudah bu"
Ibu Amanda manggut-manggut dan tersenyum kecil, kemudian menaikkan kembali kaca mobilnya dan meninggalkan mereka.
"tumben tuh bu Amanda nyapa kita, ada angin apa...?" Ayunda menatap mobil Amanda yang sudah menjauh.
"dia kan memang ramah orangnya Ay" ucap Kirana.
Mereka kembali berjalan sebab sekolah masih lumayan jauh untuk mereka sampai.
"apa kamu merasakan sesuatu, kenapa menatap ibu Amanda seperti tadi...?" Danial berbisik di telinga Jin.
"entahlah, tapi aku merasa dia seperti bisa melihatku"
"kamu yakin...?"
"ketika dia menatap Satria, beberapa detik saja tatapan kami bertemu. Apa ibu Amanda pelakunya...?"
"hah...? Yang benar...? Jadi ibu Amanda pelakunya...?" Kirana langsung shock apalagi suaranya membuat beberapa siswa yang berjalan kaki melihat ke arah mereka.
"sorry" Kirana mengatupkan kedua tangannya.
"tapi.... mungkin saja itu kebetulan bukan. Lagian selama ini dia tidak pernah berlagak seperti bisa melihatmu. Beberapa kali kita bertemu dia dan kamu bersama kami kan" Zain mengungkapkan alasannya.
"manusia sekarang pandai berakting kawan, jangan tertipu dengan wajahnya yang manis dan sikapnya yang lembut" Danial menepuk bahu Zain.
Hari itu mereka kedatangan tiga tamu dari sekolah lain. kegiatan persahabatan akan berlangsung sore nanti dan pagi ini adalah acara penyambutan. Harusnya kegiatan seperti itu tidak diadakan untuk menginap, namun semua guru sepakat untuk melanjutkan dengan acar camping. Akan lebih seru jika mereka camping bersama sekolah lain, semakin mempererat tali silaturahmi antar sekolah dan juga siswa siswinya.
yang hanya diperbolehkan untuk ikut camping adalah semua anggota OSIS SMA Citra Bangsa dan semua kelas X. Sementara kelas XI dan XII yang tidak termasuk dalam anggota OSIS, pukul empat sore mereka harus pulang ke rumah. itu adalah aturan yang telah disepakati.
Danial dan Satria sibuk mempersiapkan pakaian mereka. Ketika dipulangkan tadi, mereka harus kembali ke sekolah karena mereka adalah siswa kelas X begitu juga tim awan biru yang lain.
"astaga dek, jangan dihambur lagi dong pakaian kakak" Danial menepuk keningnya ketika melihat pakaian yang sudah ia siapkan di atas ranjangnya, dihambur oleh Ragel ke lantai.
"itung atu atu...uwa uwa" Ragel membuang langsung dengan tas ransel kakaknya.
"ya kalau menghitung jangan dibuang juga pakaian kakak. Kamu nakal ya" Danial memungut semua bajunya dan kembali menyimpan di atas tempat tidurnya.
"Jin amana...?" Ragel mencari keberadaan Jin, karena ketika Danial pulang bersama Satria, hantu itu tidak kelihatan. Mata bulatnya melihat ke segala arah.
"gentayangan dia, kenapa memangnya udah kangen sama Jin...?"
"anen itung atu atu uwa uwa, pepat nanam puyuh" Ragel berceloteh panjang kali lebar.
"mau menghitung...? Ayo deh menghitung sama kakak. Kita mulai ya"
Ragel mengangguk dan bertepuk tangan. Biasanya jika ia bersama Jin maka dirinya akan diajak berhitung oleh Jin, itulah mengapa Ragel mencari keberadaan Jin.
"satu"
"atu"
"dua"
"uwa"
"tiga"
"iga"
"empat"
"pepat, nanam, ebian puyuh. holeeee..." Ragel bertepuk tertawa girang memperlihatkan giginya yang kecil yang baru beberapa saja.
__ADS_1
"hadeeeh kebiasaan, lima tujuh delapannya suka hilang" Danial terkekeh menggeleng kepala.
"ulang deh, nanti kakak kasih kue" rayu Danial.
"kue...?" Ragel memiringkan kepalanya.
"ho'oh, asal adek menghitung yang benar. Gimana...?
"oke" anak kecil itu mengangkat jempolnya, Danial gemes dan langsung menciumi wajah adiknya itu.
"mulai ya...satu"
"atu"
"dua"
"uwa"
"tiga"
"iga"
"empat"
"pepat nanam ebian puyuh, holeeee" lagi lagi Ragel bertepuk tangan.
"ya salam, terserah kamulah dek" Danial geleng kepala.
"apek" Ragel membaringkan tubuhnya di kasur.
"padahal hanya menghitung, udah capek aja kamu. kebanyakan drama lah kamu ini dek"
"mimi...kak Dan mimi"
Danial mengambil botol yang berisi susu di atas meja belajarnya kemudian memberikannya kepada Ragel. Anak itu langsung menyedot kuat sambil memegang satu kakinya dan mengangkat ke atas.
"makasih mah" Satria berterima kasih karena Seil telah selesai menyiapkan barang-barang yang perlu ia bawa.
remaja itu sedang bermain di karpet bulu bersama Samudera. bayi itu tadinya terbaring terlentang namun kemudian ia mengguling dirinya menjadi menelungkup.
"waaah hebat ya, adik siapa sih ini" Satria langsung mengangkat Samudera dan memangkunya.
"tetap hati-hati ya sayang, jangan pernah sedikitpun terpisah dengan teman-teman mu" Seil menghampiri kedua putranya.
"iya mah, in saya Allah, Allah selalu melindungi kami. Lagipula ada kak Gibran. Papa dan ayah juga akan mengawasi kami kan...?"
"tapi sekarang papamu belum pulang" ada keraguan dalam hati Seil untuk melepas anaknya ikut kegiatan sekolah itu.
"doakan aku baik-baik saja mah, in saya Allah doa mama adalah yang paling mujarab" Satria menenangkan hati ibunya.
Setelah sholat ashar, tim awan biru sudah berada di kediaman Sanjaya untuk menjemput Danial dan Satria. Seperti biasa, pak Samsul yang akan mengantarkan mereka.
"tataaaa..." Ragel melambaikan tangan dan memberikan kiss jauh"
"dadaaaa anak ganteng" Alea membalas.
Mobil itu meninggalkan kediaman keluarga Sanjaya.
"aku berdoa semoga adikku adalah laki-laki nantinya. Rasanya pengen banget punya adik laki-laki" Alea tersenyum membayangkan.
"kalau cewek gimana...?" tanya Ayunda.
"yaaa tetap aku sayanglah. tapi nggak ada salahnya kan berharap dan meminta, siapa tau Tuhan mengabulkan"
Di perjalanan tiba-tiba pak Samsul menepikan mobil di pinggir jalan. Semua anak-anak itu heran.
"kenapa pak...?" tanya Danial.
"tunggu sebentar" pak Samsul keluar untuk melihat ban mobilnya. "astaga, siapa yang iseng menabur paku di sini" pak Samsul geram sendiri.
"ada apa pak...?" Danial, Satria dan Zain ikut keluar.
"ban mobil bocor terkena paku" pak Samsul menunjuk ban mobilnya.
"kalau begitu bawa ke bengkel saja pak" ucap Zain.
"lalu kalian bagaimana...?" pak Samsul tidak tega menurunkan anak-anak itu.
"kami bisa pesan taksi online atau nunggu taksi konvensional. bapak ke bengkel saja" kawan Satria.
Tidak mempunyai pilihan, pak Samsul memang harus membawa mobilnya ke bengkel. Semua tim awan biru turun di tempat itu. pak Samsul kemudian meninggalkan mereka untuk mencari bengkel.
"lalu kita bagaimana...?" tanya Ayunda, tas ransel kecil berada di punggungnya.
"ya mau bagaimana lagi, terpaksa pesan taksi online" jawab Danial.
dua taksi online telah dipesan oleh mereka, di pinggir jalan itu mereka menunggu sambil berteduh di sebuah ruko yang tidak berpenghuni. ketika itu, ada sebuah mobil yang berhenti di dekat kumpulan tas mereka. Kening mengernyit dan ketika melihat siapa sosok yang ada didalam mobil, mereka semua saling pandang.
"b-bu Amanda...?" ucap Alea.
__ADS_1