
Suara sirine polisi juga ambulan saling menyahut mendatangi tempat itu. Kobaran api yang menyala, semua orang yang ada di tempat itu bergotong royong memadamkan api.
Kejadian itu membuat jalan Kaliwangi macet parah dan para polisi mengomando masyarakat untuk mengambil arah jalan yang lain. Namun tidak sedikit orang-orang berhenti ingin menyaksikan kejadian yang mengerikan itu.
Setelah api dipadamkan, pihak kepolisian juga rumah sakit serta masyarakat, bekerjasama mengeluarkan korban yang telah tewas terbakar di dalam mobil. Habis terpanggang tubuh mereka, bagai daging yang dapat dimakan. wajah hangus dengan penampakan yang mengerikan.
"astaghfirullah...kasian sekali"
"ya Allah...miris banget"
"innalilahi wainnailaihi rojiun"
Tidak dapat dibayangkan bagaimana keluarga korban ketika mengetahui kecelakaan itu. Lima mayat dievakuasi. pengemudi truk yang hanya seorang diri, dan penumpang mobil putih yang berjumlah empat orang, salah satunya adalah anak kecil dan juga anak remaja serta orang tua keduanya.
Kelima mayat itu dimasukkan ke dalam kantung jenazah dan diangkat ke mobil ambulan. Tiga mobil ambulan saat itu membawa para korban ke rumah sakit.
Ketika itu polisi mencari pemilik kafe, syukurnya tidak ada korban jiwa ketika itu selain pemilik dua kendaraan tadi. Meskipun ada pengunjung kafe yang terluka akibat terkena pecahan kaca mobil karena ledakan tadi. Dua korban laki-laki dan perempuan, dibawa ke rumah sakit untuk diobati. sementara pemilik kafe, kini mengikuti polisi ke kantor polisi untuk dimintai keterangan.
"bawa ke rumah sakit saja" ucap Leo.
"mereka tidak terluka namun hanya shock saja. Kita pulang, tapi sebelum itu biarkan mereka sadar dulu. Dengan begitu orang di rumah tidak akan khawatir lagi. Kita cari tempat yang aman" Adam menolak untuk ke rumah sakit. Karena ia berpikir Ayunda juga Sharlin hanya mengalami shock yang membuat keduanya pingsan.
"memangnya kita mau kemana kak, apa sebaiknya ke masjid saja" ucap El-Syakir.
"apa nggak sebaiknya pulang saja dam. Di rumah mereka lebih nyaman untuk istirahat" ucap Bara.
"kalau kita pulang sekarang dan mereka belum siuman, orang di rumah pasti akan sangat khawatir. Begini saja, kirim pesan di grup kalau Bara, Vino dan Kirana telah ditemukan. Katakan kalau kita semua baik-baik saja dan akan pulang sebentar lagi. Kita akan kembali jikalau Sharlin juga Ayunda kembali siuman" Adam tetap menolak, ini semua demi menjaga keamanan mental semua orang. sudah berulang kali anak-anak mereka terluka, meskipun kali ini tidak terluka parah dan tidak mempunyai luka, namun tetap saja jika pulang dalam keadaan dua orang tidak baik-baik saja, hal itu pastinya dapat membuat semua orang khawatir.
"baiklah, biar aku yang mengirim pesan" ucap Vino. dia ingin memberitahu istrinya jika dirinya baik-baik saja sekarang.
"ini kan jalan Kaliwangi, setelah jalan ini maka kita akan menemukan jalan Antasari. Di situ wilayah tempat tinggal Gibran, bagaimana kalau kita ke sana saja" Deva akhirnya bersuara.
"iya sebaiknya kita ke rumah Gibran saja kalau memang tidak ingin pulang ke rumah" Leo setuju.
"baiklah dan selama perjalanan coba hubungi Gibran, dia dimana sekarang" Adam akhirnya setuju.
Masuk ke dalam mobil masing-masing, mereka menuju ke tempat tinggal Gibran. Ketika itu, Danial menghubungi Gibran dan langsung diangkat oleh laki-laki itu.
[dimana kak...?]
[di rumah, baru saja sampai. kalian dimana sekarang...?]
[di jalan mau ke rumah kakak, Ayunda dan Sharlin pingsan]
[pingsan....? kenapa bisa pingsan. Ya sudah aku tunggu di rumah]
[baik kak, sebentar lagi kami sampai]
"udah yah" Danial memberitahu Adam setelah ia menghubungi Gibran.
"dia sudah pulang...?" Adam melirik putranya sekilas.
"sudah, katanya baru saja sampai"
Ketika tiba di rumah Gibran, laki-laki itu ternyata menunggu kedatangan mereka semua di teras rumah. Ia duduk di kursi kayu yang ada di teras rumahnya. Gibran langsung mendekati mereka saat itu.
"bawa masuk Sharlin dan Ayunda" ucap Gibran.
Deva telah menggendong Ayunda dan membawanya masuk ke dalam, sementara Adam menggendong Sharlin di punggungnya. Keduanya di tempatkan di kamar yang berbeda.
"kamu punya minyak kayu putih atau balsem gitu kak" ucap Deva. Ia ingin membalurkan minyak kayu putih di hidung putrinya. Mungkin dengan begitu Ayunda akan bangun.
"aku nggak punya, yang ada hanya frescare saja"
"ya sudahlah, ambilkan saja biar yang itu.
Gibran ke kamarnya sendiri mengambil benda yang diinginkan oleh Deva. Setelah selesai, mereka berkumpul di ruang tengah.
"eh Jin mana...?" Kirana bertanya.
"lah iya, kemana lagi sih itu anak" ucap Alea.
"apa masih di tempat kecelakaan tadi ya" gumam Danial, ia tidak merasa heran lagi jika Jin kadang menghilang begitu saja. Sebab hantu yang satu itu memang selalunya seperti itu.
__ADS_1
"nanti juga dia akan datang. ucap El-Syakir"
_____
ketika tim samudera juga tim awan biru meninggalkan tempat kecelakaan, Jin masih tetap berada di tempat itu. Dan saat ini, ia melihat kafe cinta hancur berantakan.
"apa perasaan aneh yang aku rasakan tadi adalah karena akan terjadi kecelakaan ini" gumamnya.
Masih begitu banyak orang di sekitar itu meskipun lima mayat yang meregang nyawa telah dibawa ke rumah sakit. Begitu juga dua pengunjung yang mengalami luka, meskipun bukan luka berat namun tetap saja keduanya harus mendapatkan perawatan.
Jin melayang mendekati dua mobil yang saling menindih itu. Untung saja dirinya cepat ke kafe cinta, jika tidak maka entah apa yang akan terjadi dengan teman-temannya.
kini kafe cinta telah dikelilingi dengan garis polisi. Tidak ada yang bisa masuk ke dalam selain pihak dari kepolisian.
Jin hendak pergi dari tempat itu. Tapi seketika ia merasa kesakitan dikedua telinganya. Sebab suara dengungan terdengar memekikkan pendengarannya dan hal itu membuat Jin menutup rapat dua telinganya.
hanya beberapa saat, suara dengungan itu menghilang. dan tepat saat itu, sosok yang berjubah melintas di penglihatan kedua matanya.
"m-mana mungkin" sosok itu membuat Jin membeku di tempatnya.
Ketika sadar, Jin melayang cepat untuk mengejar sosok yang memakai jubah tadi. Di depannya sana, sosok itu berjalan melewati kerumunan orang dan juga kendaraan yang lalu lalan. Tidak tertabrak, semua kendaraan itu menembus dirinya tanpa bisa tersentuh.
Jin mengejar lagi, kini ia tau kalau sosok itu adalah iblis yang mereka cari. Namun sayang, di penghujung jembatan...sosok itu tidak terlihat lagi. Yang terdengar, hanyalah suara yang entah datang darimana.
"kamu pikir bisa menghentikanku Keanu...? Bahkan untuk korban berikutnya, kamu tidak bisa menyelamatkannya. Aku bisa mengambil tumbal dengan cara apapun yang aku inginkan. Dan nantikan saja kejadian mengerikan selanjutnya. ketika aku sembuh, kamu adalah target berikutnya. Siap-siaplah dirimu untuk mati yang kedua kalinya"
Suara itu terdengar di atas sana, namun Jin tidak tau dimana keberadaan sosok itu.
"brengsek... keluar kau bajingan. jangan jadi pengecut" Jin melayang ke sana kemari untuk mencari sosok itu.
"IBLIS TERKUTUK, JADI SEMUA INI ADALAH ULAHMU. BEDEBAH, KELUAR KAU MAKHLUK HINA"
"hahaha... hahaha...akan ada saatnya kita bertemu anak manis. Disaat itu, aku pastikan semua teman-teman mu akan menjadi mayat di depan matamu sendiri"
Jin begitu marah saat itu, ia merasa begitu dipermainkan oleh manusia yang bersekutu dengan iblis. Apalah daya, semarah apapun, ia tidak bisa menyelamatkan seorang gadis yang berhasil dijadikan tumbal oleh sang iblis. gadis yang menjadi korban kecelakaan bersama adik dan kedua orang tuanya.
"aaaggghh...kenapa Tuhan... KENAPA. KENAPA KAMU MEMBIARKANNYA BEGITU SAJA. AKU PERCAYA PADAMU TUHAN, TAPI KENAPA...KENAPA KAMU LAGI-LAGI TIDAK MEMBANTUKU. KENAPA....."
Suara Jin menggelegar, tapi tetap saja tidak ada satu orangpun manusia yang dapat mendengarnya. Air matanya mengalir juga, Jin terduduk di tanah dengan perasaan begitu menyesal.
"apa yang harus aku lakukan Tuhan...apa...? Aku bahkan merelakan nyawaku dan ketika itu kamu tidak menolongku. Lalu kenapa setelah aku mati, Engkau belum juga membantuku. KENAPA YA TUHAN...?
Suara detak jantung Danial berdetak kencang. Danial memegang dadanya dan saat itu dirinya teringat dengan Jin. Kalung yang ia pakai bergetar namun tidak mengeluarkan hawa panas.
"ada apa ini, kenapa aku tiba-tiba teringat dengan Jin" batinnya. Dalam pikirannya dipenuhi oleh sosok Jin. Danial benar-benar merasakan ada sesuatu yang terjadi dengan temannya itu.
"kenapa Dan...?" tanya Zain.
"Jin"
"Jin pasti datang kok kak. Kenapa gelisah seperti itu...?" Alea bingung melihat Danial yang menampakkan wajah khawatir.
"kenapa Dan...?" Adam akhirnya bertanya.
"entahlah yah, aku tiba-tiba teringat dengan Jin dan khawatir padanya" Danial memutar kepala melihat ke arah pintu masuk.
"Jin...kembali...datanglah kepada padaku" batin Danial.
"bagaimana kalau aku ingin bertemu denganmu, apa yang harus aku lakukan...?"
"tinggal panggil namaku saja maka aku akan datang"
Dan itulah yang dilakukan Danial, dalam hati ia terus memanggil nama Jin. saat at itu Danial tiba-tiba berdiri melangkah ke arah pintu. Kirana hendak menghentikannya namun El-Syakir menahan.
"biarkan saja" ucap El-Syakir pelan.
Kirana mengangguk kemudian duduk kembali. Semua orang memperhatikan Danial yang membuka pintu. Ketika pintu terbuka lebar, sosok yang tiba-tiba merecoki pikirannya sudah berada di depan matanya.
"Jin" Danial tersenyum melihat hantu itu.
Jin menunduk tanpa mengangkat kepala. Danial heran dan mendekat, ketika ia memegang dagu Jin dan mengangkat wajah temannya itu, Jin telah berubah menjadi mengerikan. perubahan itu selalu saja terjadi ketika Jin merasakan kemarahan yang tidak dapat ia tahan.
"astaghfirullah...ada apa dengannya...?" Bara kaget melihat wajah Jin yang menakutkan.
__ADS_1
Namun bukannya mundur, Danial malah memegang kedua bahu Jin dan menatapnya lembut.
"tenanglah, ada aku. Jika dunia ini tidak mampu lagi kamu percayai maka setidaknya berikan kepercayaan mu kepadaku"
Suara Danial mampu menenangkan jiwa Jin yang tadinya menggebu-gebu. Perubahan dirinya kembali seperti sebelumnya. Namun air mata Jin, nampak di pelupuk matanya.
"semua itu adalah ulahnya Dan, dia...dia yang berulah. Membunuh keluarga yang tidak berdosa dan penyebabnya adalah aku. aku penyebabnya keluarga itu meninggal Dan, hiks...hiks...aku... karena aku semuanya terjadi"
Danial menarik Jin dan memeluknya. Jin menangis tersedu di pelukan Danial. Danial tidak tau apa yang sebenarnya terjadi, namun untuk saat ini dirinya perlu menenangkan Jin.
"mereka mati karena aku Dan, karena iblis itu ingin sembuh dari lukanya dan ingin kembali bertemu denganku untuk memusnahkanku. Dia mengambil tumbal t-tanpa kita sangka"
Semua orang saling tatap, belum mengerti ke arah mana ucapan yang dilontarkan oleh Jin. Zain, Alea juga Kirana berdiri dan mendekati Danial juga Jin. Mereka langsung memeluk keduanya. Persahabatan yang terjalin tanpa melihat siapa orangnya, mereka menenangkan Jin dengan cara memeluknya.
Setelah merasa tenang, Adam menyuruh mereka untuk masuk dan menutup pintu kembali.
"ada apa Jin...?" tanya Adam.
Jin menghela nafas dan menatap wajah semua orang. "kecelakaan itu terjadi karena ulah iblis itu. Karena kita memantaunya mengambil tumbal di sekolah, maka kini dia mengambil tumbal di luar sekolah" Jin menjawab.
"bagaimana kamu tau kalau itu adalah ulah iblis itu...?" tanya Vino.
"dia datang om...dia datang sengaja menampakkan diri kepadaku. Semuanya karena diriku, karena aku yang ingin dia musnahkan, maka keluarga.... keluarga itu mati kecelakaan" raut wajah Jin masih begitu merasa bersalah.
ketika itu tim samudera saling pandang. Jika benar iblis itu tidak lagi mengambil tumbal di sekolah, maka pekerjaan mereka akan semakin sulit.
"bagaimana ini...?" tanya Gibran.
"dia telah tau ada Gibran di sekolah yang bisa mengetahui identitasnya maka dari itu untuk mengembalikan kepulihan dirinya, ia mencari tumbal di tempat lain. Ini adalah tugas yang berat, bagaimana kita bisa tau ditempat mana dia akan melancarkan aksinya" Deva menghela nafas.
Adam segera mengambil ponselnya dan menghubungi Alana, ia ingin memastikan sesuatu.
[halo kak]
[Lana, kalian sedang memantau guru perempuan di sekolah itu kan...?]
[iya kak, memangnya ada apa...?]
"keraskan suaranya kak" ucap El-Syakir dan Adam mengangguk.
[apakah mereka masih berada di rumah masing-masing...?]
[sejauh ini mereka masih berada di rumah. Namun tidak dengan ibu Amanda karena tadi wanita itu keluar rumah dijemput seseorang]
[kapan waktunya dia keluar...?]
[satu jam yang lalu, memangnya ada apa dam...?] kali ini Starla yang bersuara.
[kalau guru yang lainnya, apa terlihat sesuatu hal yang mencurigakan yang mereka lakukan...?]
[tidak...ibu Naina sekarang sedang menerima tamu. Ibu Kahiyang sedang menonton televisi bersama ibunya dan adik-adiknya. Lalu ibu Dian, dia sedang bersantai dengan keluarganya. Memang ada apa dam...?]
[nanti kami jelaskan setelah pulang. Terimakasih] Adam langsung mematikan panggilan.
"satu jam yang lalu adalah dimana kecelakaan itu terjadi, jarak dari rumah Amanda kan jauh dengan jalan Kaliwangi" Zain berasumsi.
"benar, tapi jika itu yang melakukannya adalah iblis maka jarak jauh saja bisa ia lipat menjadi dekat" timpal Leo.
"ibu Amanda sebenarnya terluka dibagian perutnya. Di sekolah aku sempat melihat perutnya berdarah, bukan berasumsi tapi bisa jadi luka itu ia dapatkan dari kejadian di hutan itu. Mereka semua kan bisa menjadi pelaku" ucap Gibran.
"kenapa kita tidak meminta bantuan kepada Senggi saja. Dia pasti bisa membantu kita" Leo mengemukakan idenya.
"Senggi harus menghadapi perang yang ingin merebut kekuasaannya. Suaminya sekarang sedang terluka parah karena serangan dari Jin kerajaan barat. Kita tidak mungkin meminta bantuan kepadanya" Adam menjawab keinginan Leo.
"pantas saja Senggi sudah jarang datang menemui kak Airin" ucap El-Syakir.
"lalu apa yang harus kita lakukan. Kita tidak mungkin diam saja bukan" tutur Vino.
"maka dengan terpaksa aku harus meminta bantuan istriku" Adam mengusap wajahnya resah, sebenarnya ia takut jika nanti terjadi sesuatu dengan Airin namun akan lebih buruk lagi jika iblis itu selalunya mengambil tumbal.
"bunda kan lagi sakit yah, itu yang dokter katakan" Danial ragu.
"tidak ada jalan lain sayang, ayah akan berada di dekat bunda kapanpun itu"
__ADS_1
"kamu yakin kak...? Masalahnya sekarang Airin adalah manusia, dengan keadaannya yang sekarang sudah pasti akan ada efek setelahnya" ucap El-Syakir.
"kita tidak bisa menunggu lama lagi untuk bertindak, dan ini adalah jalan satu-satunya seperti yang pernah kita lakukan dulu. Istriku selalu menjadi jalan terkahir dari permasalahan kita"