
di karenakan minimarket yang mereka tuju kali ini tutup dan juga mereka harus membeli obat untuk ibu Kahiyang, maka dengan terpaksa Zain menjalankan mobil menjauh dari lorong SMA Citra Bangsa.
sesekali ia melirik ibu Amanda yang duduk di kabin tengah. Wanita itu terlihat meringis memegang perutnya dan memejamkan mata.
"emmm ibu kenapa...?" Zain memberanikan untuk bertanya.
Karena pertanyaan Zain, Satria memutar kepala untuk melihat keadaan ibu Amanda.
"sakit kah bu...?" tanya Satria, sebab ia melihat ibu Amanda terlihat menggigit bibirnya.
"Zain...antarkan ibu ke rumah" perintah ibu Amanda.
"baik bu"
Satria dan Zain saling pandang, entah apa yang terjadi dengan guru mereka itu, keduanya sama sekali tidak tau.
Perjalanan yang jauh sebab memang jarak rumah ibu Amanda tidak dekat dengan SMA Citra Bangsa.
"belok kanan apa kiri bu...?" tanya Zain.
Sebenarnya keduanya telah mengetahui dimana rumah wanita itu, hanya saja tidak mungkin kan langsung terobos begitu saja tanpa bertanya terlebih dahulu. Tentu saja ibu Amanda akan bertanya darimana mereka tau alamat rumahnya.
"belok kiri, terus berhenti di apotek Marwah. belikan ibu obat ini" ibu Amanda memberikan secarik kertas dan uang merah kepada Satria, sekalian langsung beli obat untuk ibu Kahiyang juga" lanjutnya.
Satria membaca tulisan di kertas itu sementara Zain tetap fokus mengemudi. Hanya lima puluh meter dari pertigaan tadi, apotek Marwah telah terlihat di samping kiri jalan. Zain pelan menelipir dan berhenti di depan apotek itu.
"ayo Sat" ajak Zain, membuka sabuk pengamannya.
"ibu tidak apa-apa kami tinggal sebentar...?" Satria bertanya dengan kepala melihat ke arah ibu Amanda.
"tidak apa-apa, pergilah dan cepat kembali" ibu Amanda menjawab.
Dua remaja itu masuk ke apotek dan menemui seorang wanita yang berjaga di sore hari itu.
"cari apa dek...?"
"ini mbak, mau pesan obat anti nyeri sama obat yang tertulis di kertas ini" Satria memberikan secarik kertas kepada wanita itu.
Wanita itu membaca tulisan yang ada di kertas tersebut dan mengangguk kecil.
"tunggu sebentar ya, saya carikan dulu obatnya"
"baik mbak"
Wanita itu berlalu sementara keduanya memulai percakapan.
"Sat, udah mau magrib. Kayaknya kita nggak keburu kalau sholat di sekolah" Zain melihat jam tangannya.
kedua mata Satria yang menelisik tempat itu, berhenti di sebuah jam dinding yang ada di dalam apotek itu. pukul 17.49, sudah begitu sore dan akan menjelang malam.
"pulang dari rumah ibu Amanda, kita cari masjid untuk sholat" Satria menoleh ke arah luar dimana mobil Gibran terparkir dan ibu Amanda ada di dalamnya.
"aku kok rasa deg-degan ya di dekat ibu Amanda" Zain pun ikut menoleh ke arah luar.
"berpikir positif saja, dan jangan lupa terus berdzikir di dalam hati. kita hanya berdua saat ini, jadi jikalau nanti terjadi sesuatu, jangan saling meninggalkan ya" Satria menatap Zain.
"kamu ngomong gitu kayak aku mau lari saja. Ya tentu kita harus tetap bersama" Zain meninju pelan bahu Satria.
Wanita tadi kembali dengan obat yang dipesan oleh Satria. Setelah membayar dan mengambil uang kembalian, keduanya keluar dari apotek dan masuk ke dalam mobil.
"ini bu obatnya" Satria memberikan kantung plastik putih berisi obat yang dipesan ibu Amanda.
"terimakasih" ibu Amanda mengambilnya.
"kita lanjut pulang ke rumah ibu...?" tanya Zain.
__ADS_1
"sepertinya tidak perlu, luka ibu sudah tidak sakit seperti tadi. Ibu sudah meminum obat yang rupanya masih tersisa satu tablet lagi di dalam tas. Maaf ya, ibu sudah merepotkan kalian berdua" ibu Amanda sudah tidak terlihat kesakitan seperti tadi. Wajahnya yang tadi sedikit pucat, kembali normal lagi.
"berarti tidak jadi pulang ya bu" tanya Satria.
"tidak. Kita ke minimarket saja, lalu setelah itu kita pulang"
"tapi sebentar lagi magrib bu, bagaimana kalau kita mencari masjid dulu untuk sholat magrib, setelah itu baru belanja" ujar Satria lagi.
Ibu Amanda melihat jam di layar ponselnya. Sudah pukul 17.55, itu berarti mereka memang harus mencari masjid untuk menunaikan sholat.
"baiklah, kita lurus saja mengikuti jalan ini. di perempatan jalan, ada masjid sebelah kanan, kita berhenti di situ" ucap ibu Amanda.
Zain menyalakan mesin mobil dan segera kendaraan roda empat itu bergerak mengikuti jalan yang disebutkan oleh ibu Amanda. Tiba di perempatan, memang ada masjid besar di sebelah kanan. Akan tetapi mobil itu harus berbelok lagi sebab masjid itu ada di sebrang jalan satunya.
Zain terus saja lurus sampai menemukan belokan. Kemudian ia mengambil jalan satunya dan berhenti di depan masjid.
"eh Za, itu bukannya kakak kelas yang masuk anggota OSIS nggak sih" Satria menepuk lengan Zain untuk melihat ke arah yang ia tunjuk.
"yang mana...?" Zain mematikan mesin mobil dan mengarahkan pandangan ke arah sebrang jalan.
"itu... yang rambutnya panjang dan pakai topi. Temannya yang satunya pakai masker"
Ibu Amanda pun ikut melihat ke arah sebrang jalan. Benar saja, ada dua remaja perempuan yang sedang berdiri di pinggir jalan. ia mengenal kedua gadis itu.
"itu Ceril sama Alesa. Tapi sedang apa mereka di situ" ucap ibu Amanda.
Suara ibu Amanda terdengar di telinga Zain dan Satria.
"eh benar. Mereka yang temannya kak Bunga kan. tapi kok kak Bunga nggak ada ya" ujar Zain.
"mungkin mereka berdua sama seperti kita, ada yang ingin dibeli jadinya meminta izin untuk keluar. Lagipula kan mereka anggota OSIS, jadi nggak rumit lah kalau mau keluar lingkungan sekolah" timpal Satria.
Ibu Amanda membuka pintu mobil dan turun dari mobil. Satria dan Zain saling pandang dan keduanya pun ikut turun.
Suara pengantar adzan mulai terdengar di masjid yang besar itu. Ibu Amanda memanggil Ceril dan Alesa namun kedua gadis itu tidak mendengar suaranya. Keduanya gadis itu pergi menaiki sepeda motor yang dibawa oleh Alesa.
"ibu tidak bisa sholat. Kalian saja, ibu tunggu di mobil" ibu Amanda kembali masuk ke dalam mobil.
"tidak bisa sholat gimana maksudnya ya Sat...?" Zain garuk-garuk kepala. "apa jangan-jangan ibu Amanda memang iblis itu Sat. Dia nggak mau sholat karena kepanasan pastinya" Zain mulai curiga.
"mungkin dia tanggal merah, tapi....bisa jadi yang kamu bilang ada benernya" Satria ikut penasaran.
"terus gimana...?"
"hei... masih ngapain di situ. Kenapa tidak masuk, sudah adzan tuh" ibu Amanda mengagetkan keduanya.
"i-iya bu, ini juga mau masuk" Zain dengan cepat menarik lengan Satria.
Akan tetapi sebelum mereka ke tempat wudhu, Zain menghentikan langkahnya dan Satria pun ikut berhenti.
"kita belum menghubungi yang lainnya loh Sat. Mereka pasti khawatir kita belum pulang"
"ya sudah, kamu telpon Sharlin atau Danial saja dan beritahu mereka"
Zain mengambil ponselnya di saku celananya. Helaan nafasnya terdengar ketika melihat ponselnya itu mati total.
"lobet Sat" ujarnya.
Satria pun mengambil ponselnya dan hal yang sama terjadi. Ponselnya pun lobet tanpa bisa dihidupkan.
"mau gimana lagi, ponsel aku juga ternyata lobet" Satria memasukkan kembali ponselnya di saku celananya. "ayo sholat dulu, sudah selesai adzan itu" Satria melangkah lebih dulu ke tempat wudhu khusus untuk laki-laki.
Malam itu lebih dingin dari malam sebelumnya. Apalagi kilat di langit sana juga guntur yang terdengar keras menandakan kalau sebentar lagi akan turun hujan.
sholat magrib telah dilakukan, dua remaja tim awan biru bergegas keluar masjid dan menuju ke mobil. Di kabin depan, keduanya masuk namun kemudian ekspresi Zain berubah kaget saat melihat ibu Amanda tidak ada di tempatnya.
__ADS_1
"lah, ibu Amanda kemana Sat...?"
Satria dengan cepat menoleh ke arah belakang. Benar saja, ibu Amanda tidak ada di tempat duduknya tadi, bahkan tasnya pun tidak ia tinggalkan di mobil itu.
"apa sudah pergi. Tapi kenapa nggak nunggu kita dulu" ucap Zain lagi.
"kamu punya nomor ibu Amanda tidak...?" Satria beralih menatap Zain.
"ponsel kita kan lobet Sat"
"astaga iya" Satria menepuk jidatnya. "terus gimana...? Apa mungkin ke kamar mandi di masjid ini kali ya"
"mau cari di luar...?"
"cari sajalah. bentar lagi hujan, tuh sudah mulai rintik-rintik" Satria menengadahkan tangannya. Air hujan mengenai telapak tangannya.
"tapi kalau memang dia ke kamar mandi, pasti nanti dia datang lagi kan. Mending tunggu saja di mobil deh"
keduanya sepakat untuk menunggu ibu Amanda di mobil. Orang-orang yang ikut sholat berjamaah di masjid sudah membubarkan diri sejak tadi. Masjid itu kembali sepi dan hanya ada beberapa orang lagi yang masih duduk cerita di teras masjid.
dari detik ke menit dan bahkan sudah setengah jam mereka menunggu, tidak ada tanda-tanda ibu Amanda akan kembali. Keduanya dilema dan frustasi.
"gimana, malah udah hujan lagi" Zain menutup kaca mobil.
"kita pulang saja, tapi mampir dulu ke supermarket"
Zain menyalakan mesin mobil, mobil itu bergerak pelan keluar dari halaman masjid. Ketika akan melaju pergi, seseorang tiba-tiba menghadang mereka. Zain refleks menginjak rem secara mendadak. Satria yang belum memakai sabuk pengaman, kepalanya terbentur ke depan.
"aaaggghh sial" Satria memegang kepalanya yang sakit. "siapa sih tuh orang, cari mati kayaknya"
Zain masih mengatur detak jantungnya yang berdegup kencang. Kedua tangannya dingin dan nafasnya kian terengah-engah.
Tok
Tok
Tok
kaca mobil di ketuk dari luar, Satria menurunkan kaca mobil dan betapa kagetnya ia melihat siapa yang hampir mereka tabrak tadi.
"ibu...astaga ibu darimana saja" Satria mengeraskan suaranya sebab hujan kian semakin deras.
"di depan" ibu Amanda menunjuk ke arah depan. Ia usap air hujan yang mengguyur wajahnya. "di depan sana ada kecelakaan, Ceril dan Alesa, mereka ditabrak mobil truk. sekarang mereka dibawa ke rumah sakit. Kalian pulanglah dan beritahu kepala sekolah tentang kejadian ini"
"lalu ibu mau kemana...?" tanya Satria lagi.
"ke rumah sakit, ibu jadi wali Ceril dan Alesa. Ada pak Rahim yang akan mengantar ibu. Pulang dan beritahu kepala sekolah juga para guru. Ponsel ibu lobet tidak bisa mengabari mereka" ibu Amanda segera pergi setelah mengatakan itu.
Di dalam mobil Satria dan Zain masih mencerna setiap apa yang diucapkan oleh ibu Amanda tadi. Semakin tegang keduanya ketika pikiran mereka tertuju kepada hal yang mereka curigai.
"jangan-jangan, ini ulah iblis itu Za"
"kita pulang. Pakai sabuk pengaman mu Sat, aku harus ngebut untuk sampai ke sekolah"
Satria memakai sabuk pengamannya dan Zain segera menyalakan mesin mobil kemudian mobil itu bergerak. Semakin lama semakin melaju, namun kemudian ia memperlambat laju mobilnya ketika akan melewati jalan tempat kecelakaan Ceril juga Alesa.
Jalan yang tadinya lenggang berubah menjadi macet. Semua kendaraan tidak bisa mempercepat laju kendaraan mereka.
Keduanya fokus melihat ke arah jalan dimana sudah digenangi darah segar. Banyak warga yang bergerombol dan juga para polisi yang mengamankan keadaan sekitar.
"Za, lihat" Satria menunjuk ke arah kios yang lampunya tidak begitu terang.
Zain mengarahkan matanya ke arah yang ditunjuk oleh Satria. Seseorang sedang berdiri sendirian, dengan wajah datar pandangannya fokus ke arah tempat kecelakaan itu. orang itu memakai jubah hitam namun wajahnya ia perlihatkan.
"itu...."
__ADS_1
"bukankah dia warga SMA Citra Bangsa" ucap Satria yang kaget melihat orang itu berada di tempat kecelakaan.