
Keluar dari lorong sekolah, mereka memutuskan untuk mencari masjid terlebih dahulu sebab ternyata adzan magrib sudah terdengar memenuhi kota. Jarak rumah Sharlin masih cukup jauh. Mereka tentu tidak ingin meninggalkan sholat hanya karena lebih memilih pulang untuk sholat di rumah. Padahal mereka bisa melaksanakan kewajiban itu di masjid yang mereka temui.
Ketika Danial menstandar motornya, Jin sudah melayang hendak menjauh dari masjid. Namun saat itu Danial dengan cepat memegang ujung baju hantu itu, karena hanya baju Jin yang bisa tangannya raih.
Merasa ada yang menariknya, Jin menoleh dan mengernyitkan kening. "Ada apa...?" Tanyanya bingung.
Hanya mereka berdua di tempat itu bersama orang-orang yang berdatangan untuk sholat di masjid. Sementara tim awan biru lainnya sudah bergegas masuk ke dalam.
"Kamu mau kemana...? Kenapa tidak masuk, kita kan mau sholat"
Kening Jin semakin terlihat mengerut dengan wajah bingung. Ia pun melayang dan berdiri di samping Danial sementara remaja itu sudah melepas tangannya.
"Aku harus sholat juga...?" Jin menunjuk dadanya dengan ujung jari telunjuknya.
"Iyalah. Kamu kan sekarang sudah menjadi Jin muslim. Jadi kamu harus ikut sholat bersama kami. Harusnya dari kemarin-kemarin itu, kamu ikut sholat bersama kami"
"Tapi kan aku sudah mati, masa iya mau sholat lagi"
"Manusia dan Jin diciptakan itu semata-mata untuk beribadah. Jin muslim saja mereka sholat apalagi kamu. Pokoknya kamu harus ikut sholat. Ayo masuk, adzan sudah selesai tuh. Kita berwudhu terlebih dahulu"
Tanpa peduli Jin setuju atau tidak, Danial menarik lengan hantu itu dan membawanya ke tempat wudhu khusus untuk laki-laki. Di sana Danial berdiri di depan kran dan memutarnya sehingga airnya keluar. Sementara Jin diam menatap penuh pertanyaan.
"Kenapa hanya diam saja. Ayo berwudhu, nanti kita terlambat" Danial melihat ke arah sampingnya, menatap Jin yang sama sekali tidak melakukan apapun selain memang wajah bingung.
"Emmm...itu..." Jin menggaruk hidung. "Bagaimana caranya berwudhu...?"
"Ya ampun"
Danial spontan menepuk jidat sementara Jin meringis memperlihatkan giginya yang rapi. Sudah lama tidak melaksanakan sholat sampai ia lupa bagaimana cara berwudhu. Semasa hidup tentunya ia juga pernah melaksanakan sholat, namun setelah meninggal hal itu sudah tidak terjadi lagi. Selama ini jika tim awan biru sholat, maka Jin akan melakukan hal yang lain tanpa mengganggu atau penasaran dengan apa yang mereka lakukan.
"Ikuti aku. Pertama baca niatnya dulu"
Danial sengaja mengeraskan suaranya agar Jin bisa mendengar. Bibir hantu itu ikut bergerak melafalkan doa niat berwudhu. Setelahnya dengan pelan dan tetap fokus melihat Danial, Jin melakukan apa gerakan yang dilakukan oleh Danial. Yang terakhir bacaan selesai berwudhu, Danial kembali mengeraskan suaranya. Barulah keduanya bergegas masuk ke dalam sebab suara imam sudah terdengar melafazkan takbir.
Karena datang paling akhir, maka keduanya berdiri di barisan paling belakang. Saat itu Jin berdiri paling ujung sementara ada anak kecil di sampingnya. Jin tersenyum menyapa, tanpa disangka anak kecil itu ikut membalas senyuman Jin.
"Eh, dia bisa melihat aku" batin Jin. Ia pun mengangkat tangan dan mengelus kepala anak itu. Sementara anak kecil itu, tersenyum malu-malu.
Diakhiri dengan salam, kini waktunya mereka berdoa. Akan tetapi Jin bukan lagi mengikuti doa imam melainkan bermain dengan anak kecil itu.
"Siapa namamu...?"
"Zaidan" anak itu menjawab malu. Padahal dirinya laki-laki, akan tetapi tersipu malu ketika Jin terus memandanginya dan tersenyum hangat.
"Nama yang bagus seperti orangnya ganteng" Jin mencubit pelan hidung anak itu. "Kenalkan, nama kakak Jin"
"Jin...?" Kening anak itu terlipat.
__ADS_1
"Iya, namaku Jin"
"Setan dong" kepalanya ia miringkan agar dapat melihat jelas wajah Jin yang ada di sampingnya.
Jin terkekeh pelan, hal itu membuat Danial melirik dan memanjangkan tangan mencubit paha sahabat hantunya itu. Tentu saja Jin meringis, dengan bibir mengerucut ia menatap Danial kesal.
"Diam" ucap Danial tanpa bersuara. Kedua matanya melotot menatap Jin.
Jin hanya berdecak memasang wajah masam. Namun kemudian ia tersenyum dan mengajak Zaidan bercerita sehingga anak itu tertawa kecil. Tawanya itu rupanya sampai di telinga ayahnya. Laki-laki yang memakai baju kokoh berwarna putih yang rupanya duduk di samping Danial memalingkan wajahnya menatap ke arah putranya.
"Zaidan" tegurnya dengan lembut namun kedua matanya menunjukkan ketegasan.
Zaidan yang tersenyum lebar kala itu, langsung mengatupkan mulutnya dengan rapat. "Maaf" ucapnya dengan kepala tertunduk. Takut jika ayahnya marah padanya.
Danial menoleh ke samping kemudian mengangkat tangan mengelus kepala Zaidan. Anak itu mengangkat kepala dan tersenyum ketika Danial memberikan senyuman tulusnya.
"Anak pintar" pujinya, membuat Zaidan tersenyum malu-malu.
Ketika itu berdoa telah selesai. Sebagian orang memilih keluar namun ada sebagian yang lebih memilih duduk melingkar dan mengajar anak-anak mengaji. Saat itu Zaidan dipanggil oleh ayahnya. Ternyata ayah Zaidan lah yang mengajar anak-anak itu mengaji.
"Dadaaa kakak" lambaian tangan kecilnya ia berikan kepada Jin juga Danial.
"Bye bye anak ganteng" Jin mencium sebentar pucuk kepala Zaidan kemudian melepas anak itu menghampiri ayahnya.
Tim awan biru keluar dari masjid. Saat itu Jin melayang dan dilihat oleh Zaidan sebab anak itu rupanya mengalihkan pandangan ke arah mereka. Mulutnya yang terkatup menganga dengan mata yang tidak berkedip.
Ayah Zaidan melihat ke arah yang ditunjuk oleh putranya. Yang dirinya lihat hanyalah beberapa empat remaja laki-laki yang keluar masjid. Bahkan ketiganya berjalan normal, tidak seperti yang dikatakan oleh putranya.
"Mereka melangkah Zai bukan terbang" ayah Zaidan geleng kepala.
"Bukan yah, kakak tadi yang mengobrol denganku...dia terbang"
"Kakak yang duduk di samping ayah...?"
"Bukan yah, tapi yang duduk di samping aku. Kakak yang pakai baju warna putih, dia tampan tapi mukanya pucat" Zaidan masih menatap kepergian tim awan biru padahal mereka sudah tidak terlihat.
"Yang pakai baju putih...? Perasaan tadi tidak ada seorangpun yang duduk di samping Zaidan selain anak yang memakai seragam sekolah tadi. Dan tadi aku lihat dia tidak terbang" ayah Zaidan sedang berpikir.
Tanpa memikirkan hal itu, dirinya kembali fokus kepada anak-anak yang ia ajar. Dirinya hanya merasa kalau Zaidan salah lihat dan tidak sedang dalam keadaan serius.
Kini tim awan biru telah tiba di rumah Sharlin. Terkecuali Sharlin, mereka menganga sebab di samping rumah itu banyak sekali tanaman bunga mawar. Sampai terlihat seperti taman memanjakan mata.
"Indah sekali. Siapa yang menanam bunga mawar sebagai ini kak...?" Alea takjub.
Sharlin yang baru saja melepas helmnya, memalingkan wajah menatap bunga-bunga mawar yang bermekaran indah di samping rumah.
"Papa yang tanam, papa juga yang rawat" Sharlin menjawab. "Ayo masuk" ajaknya melangkah lebih dulu.
__ADS_1
"Nggak nyangka ternyata kepseknya kita bisa merawat bunga" ucap Zain kagum.
Mereka semua masuk ke dalam rumah tapi tidak dengan Jin. Hantu itu sibuk menatap sekeliling rumah, mengamati rumah besar itu dengan teliti. Sampai seseorang menghentikan pengamatannya.
"Jin, ayo" Kirana memanggil kemudian gadis itu tidak terlihat lagi setelah ia terhalang oleh dinding.
Jin melayang menyusul teman-temannya, mereka dibawa ke lantai dua oleh Sharlin. Remaja itu menunjukkan kamar yang akan ditempati para laki-laki juga para perempuan. Para lelaki akan tidur di kamarnya sementara para perempuan akan tidur di kamar yang lain.
"Kalian mandilah dulu sebelum waktu isya tiba. Pasti badan kalian pada lengket semua" Sharlin meletakkan tasnya di atas meja belajarnya.
"Aku dulu yang mandi, gerah banget sumpah" Satria segera mengambil handuk yang tergantung kemudian melengos masuk ke kamar mandi.
Sharlin menyalakan AC kamarnya agar mereka tidak kepanasan. Kemudian membuka baju seragamnya menyisakan baju kaos warna putih yang ia pakai.
"Kamu hanya tinggal berdua sama papamu Shar...?" Tanya Danial yang berbaring terlentang di ranjang. Jin saat itu sedang menelisik setiap buku novel yang ada di rak buku Sharlin.
"Nggak, ada bi Nani sama pak Wanto juga. Bi Nani art di rumah ini kalau pak Wanto yang jadi satpam tadi di depan" Sharlin duduk di kursi belajar.
"Terus papamu kemana, kok nggak keliatan. Mobilnya juga nggak ada" tanya Zain.
"Iya ya, kok papa nggak ada di rumah" Sharlin segera mengambil ponselnya di dalam tas kemudian menghubungi Adiatama. Akan tetapi panggilan yang ia lakukan tidak direspon. "Papa kemana sih" kembali Sharlin menghubungi Adiatama.
"Kenapa Shar...?" Danial bangun dan mengambil posisi duduk.
"Papa nggak akan aku hubungi" ada raut kecemasan di wajah Sharlin.
"Mungkin dia ada urusan. Tenanglah, paling sebentar lagi pak Adi pulang" ucap Zain.
Satria keluar dan digantikan lagi oleh yang lain. Jin yang ingin keluar kamar, menghilang begitu saja tanpa sepengetahuan yang lain. Ia memunculkan diri di belakang rumah. Dengan sebuah kolam renang juga ditambah kolam ikan yang berada sedikit jauh. Gazebo tempat bersantai juga lengkap dengan kursi dan meja yang terletak di samping kolam. Jin memilih mendekati kolam ikan itu, menatap tanpa berkedip dan juga datar.
"Om Adi merawat kalian dengan baik" gumamnya pelan. "
Jin berbalik akan masuk kedalam rumah. Saat itu dirinya dikagetkan dengan suara Danial yang tiba-tiba berteriak keras memanggil namanya. Saat itu juga Jin menghilang dan tiba di kamar Sharlin. Ia panik ketika melihat Danial meraung sakit memegang lehernya.
"AAAGGGHH JIIIIN"
Teriakan terakhir Danial membuat remaja itu pingsan seketika.
"DANIAL"
semuanya panik, Jin mendekat dan mengangkat Danial ke atas ranjang.
"Apa yang terjadi. Kenapa dengan Danial...?" Ayunda baru saja datang. Alea dan Kirana datang bersamanya.
Saat itu semua orang saling pandang. Tubuh mereka menegang dengan nafas yang tidak beraturan.
"Tumbal" ucap mereka bersamaan.
__ADS_1