
"Ya Allah...siapa kali ini yang akan jadi korban" tubuh Alea menegang seketika.
"Bagaimana ini, apa yang harus kita lakukan" suara Kirana bergetar. Bagaimana tidak, bayangan tentang seseorang yang akan mati, menghantui pikirannya.
"Di sekolah tadi sudah nggak ada orang selain kita kan" Satria menanyakan hal itu karena jangan sampai iblis itu mengincar siswa SMA Citra Bangsa. Jin mengatakan kalau dirinya mencuriga seseorang dan itu adalah warga di sekolah terkenal itu.
"Nggak ad..."
"Zalifa" Ayunda langsung memotong ucapan Zain. "Tadi Zalifa masih di sekolah, iya dia masih di sekolah dan belum pulang" Ayunda mulai panik.
"Zalifa siapa...?" Tanya Sharlin.
"Zalifa siswa kelas X.3. Tadi pas kita pulang dia belum pulang karena kalungnya hilang. Tapi dia bilang akan ada yang jemput, makanya tadi aku tinggal. Ya Allah, aku jadi kepikiran dia" Ayunda menggigit bibir, terlihat wajahnya begitu tegang.
"Kalian jaga Danial" ucap Jin.
"Mau kemana...?" Sharlin menahan lengan Jin ketika hantu itu hendak menghilang.
"Ke sekolah"
"Aku ikut"
"Aku jug" timpal Zain.
"Baiklah, aku pergi lebih dulu dan kalian menyusul nanti" Jin seketika menghilang dari pandangan mereka.
"Ayo Shar" Zain bergegas mengambil ponselnya juga kunci motornya. "Kita boncengan saja" lanjutnya lagi.
"Hati-hati" ucap Kirana.
Keduanya mengangguk dan meninggalkan kamar. Sementara para perempuan tetap berada di rumah karena tidak mungkin mereka meninggalkan Danial begitu saja.
"Bagaimana ini...? Apa tidak sebaiknya kita hubungi papa juga om Adam dan yang lainnya" Ayunda gelisah di tempat duduknya.
Alea melihat jam yang berada di atas nakas, pukul 10 malam. Masih belum terlalu larut untuk menghubungi para orang tua mereka.
"Aku akan menghubungi papa" ucapnya mengambil ponselnya.
Mereka menghubungi orang tua masing-masing. Sayangnya tidak ada yang menjawab panggilan mereka satu orang pun. Ketiganya gelisah dan mulai panik.
"Angkat dong pah" Kirana menggigit jari.
"Coba mas Gibran, mudah-mudahan dia angkat" usul Ayunda.
Kirana mencari nomor Gibran namun sialnya nomor laki-laki itu sedang tidak aktif. Mencoba beberapa kali tetap saja tidak bisa dihubungi.
"Ya Allah bagaimana ini, kenapa semuanya nggak bisa di hubungi"
Mereka bertiga begitu khawatir. Khawatir akan ada jatuhnya korban lagi juga khawatir dengan keselamatan ketiga teman mereka. Bagaimanapun mereka bukanlah tandingan iblis itu tanpa bantuan dari para orang tua mereka.
Eughhh
Erangan kecil terdengar dari mulut Danial. Mendengar itu, Alea mendekat dan memegang lengan kakak sepupunya itu. Kedua mata Danial terbuka dan ia pun bangun bersandar di kepala ranjang.
"Aku pingsan lagi...?" Danial bertanya menatap semua orang.
"Iya. Bagaimana dengan lehermu kak, masih panas...?"
Danial memegang lehernya, teringat dengan kejadian yang ia alami membuat wajahnya menegang.
"Tumbal...ya Allah iblis itu pasti mengambil tumbal"
"Yang lain sudah ke sekolah. Temanku Zalifa masih ada di sana saat kita pulang tadi. Semoga dia tidak kenapa-kenapa" Ayunda duduk di ranjang itu.
"Kita susul mereka" Danial menyingkap selimutnya.
Ketiganya tidak menolak ajakan Danial. Memang mereka sebenarnya ingin kesana namun karena Danial sedang pingsan maka mereka harus menunggu sahabat mereka itu bangun dari tidurnya.
_____
"Ambil jalur kiri Za, itu jalan pintas tapi sepi sih sebenernya. Kamu berani kan...?" Sharlin menunjuk arah jalan yang beberapa meter berada di depan mereka.
__ADS_1
"Memangnya itu hutan...?" Zain memperbesar volume suaranya.
"Bukan hutan juga sih, tapi memang tidak ada yang berani lewat di jalan itu karena katanya angker makanya sepi"
"Persetan dengan angker, yang penting cepat sampai tujuan" Zain mengambil jalur kiri sesuai yang diarahkan Sharlin.
Kecepatan Zain sudah sungguh begitu kencang, Sharlin sampai memeluk remaja itu sebab dirinya takut jangan sampai ia terjatuh. Bak pasangan kekasih saja padahal keduanya adalah laki-laki.
"Kiri lagi Za" ucap Sharlin dengan keras.
Zain mengambil lagi jalur kiri, keluar dari jalan poros memasuki lorong yang memang ternyata cukup sepi. Hanya ada beberapa rumah yang mereka temukan, setelahnya hanya semak-semak dan perkebunan yang sudah tidak terawat. Bukannya takut, mereka malah semakin berani dan Zain tidak pernah menurunkan kecepatan yang ia gunakan.
"Eh Za Za Za... berhenti Za, awas ada orang" teriakan Sharlin menepuk bahu Zain.
Zain lekas menginjak rem, bahkan karena tiba-tiba kedua jatuh bersama motor mereka. Bukan terlempar, hanya saja Zain kaget karena ada sosok yang tiba-tiba saja berdiri di tengah jalan.
"Wooooiii...mau mati ya lu" Zain emosi seketika.
Sharlin bangkit dan membantu Zain untuk berdiri sebab kaki remaja itu di tindih oleh motor. Sharlin juga membangunkan motor yang terbaring di jalan.
Bukannya minggir, sosok itu malah diam berdiri dengan kepala yang tertunduk. Keduanya mengarahkan senter ponsel ke arah sosok itu.
"Kayaknya dia bukan orang Za" bisik Sharlin.
"Masa sih...?" Kening Zain mengkerut.
Zain mengambil topinya yang terjatuh ke tanah kemudian memasangnya di kepala. Remaja itu memperhatikan sekitar, sungguh sangat mustahil jika ada orang yang berkeliaran di tempat seperti itu. Kini ia mulai curiga, sosok itu bukanlah manusia.
"Kamu minggir atau aku tabrak"
"Hihihi...hihihi"
"Alamaaaak...mba Kunti Za"
Sosok itu mengangkat kepala menampakkan wajahnya yang mengerikan dengan senyuman yang menyeringai. Seketika Zain dan Sharlin kaget. Namun sungguh di luar dugaan. Bukannya kabur, Sharlin malah mengambil batu di pinggir jalan dan
Bughhh
Remaja itu melempar mba Kunti dengan batu yang ia pegang. Tepat di kepala, batu itu mendarat sehingga tawa mba Kunti lenyap seketika.
Kunti itu kaget, bukannya takut dua manusia itu malah melawan. Malah dirinya dilempari batu pula.
Mungkin saking kesalnya sehingga Zain dan Sharlin tidak takut sama sekali. Atau mungkin keduanya sudah terbiasa dengan hal itu. Sebab iblis yang mereka lihat lebih menyeramkan dari mba Kunti.
Grrrrr
Mba Kunti menatap tajam, melayang menyerang keduanya. Saat itu juga Zain berlari dan melayangkan tendangan ke perut setan itu. Alhasil mba Kunti terpental di pohon pisang yang ada di sekitar itu.
"Mampus lah kau situ" umpat Zain.
"Huuhuhuuu... huuhuhuuu"
"Lah, dia nangis Za"
"Woi berhenti menangis setan"
"Kyaaaaaa" mba Kunti melarikan diri, terbang menjauh.
"Ckckck... kejamnya banget sama cewek kau Za"
"Cewek jadi-jadian begitu nggak akan gue lembut-lembutin" Zain menaiki motornya. "Ayo, kita harus cepat sampai di sekolah" Sharlin kembali bonceng di belakang Zain, perlahan motor itu bergerak dan menjauh.
"Tadi itu kuntilanak loh Za, kok kita berani ya sekarang" Sharlin menempelkan dagunya di bahu Zain.
"Iya juga ya, tadi itu benaran setan kan ya...?"
"Bukan, tadi itu demit. Ya jelas setanlah anjir, malah matanya melotot mau keluar lagi. Aku merinding nih" Sharlin melingkarkan kedua tangannya di perut Zain.
Zain pun ikut bergidik, bagaimana bisa mereka begitu berani melawan kuntilanak tadi. Tidak habis pikir olehnya, keberanian itu datang darimana. Karena mulai takut, ia kembali tancap gas.
Di sekolah, pertarungan arwah melawan iblis pemakan tumbal mulai terjadi. Ketika Jin tiba di sekolah, dirinya langsung melayang ke gedung tempat latihan Ayunda tadi sore. Benar saja, sosok yang mengerikan itu hendak mulai memangsa Zalifa.
__ADS_1
Gerakan tangan Jin mengarahkan sebuah kursi dan melemparnya ke arah iblis itu. Suara hantaman keras terdengar. Sang iblis mundur beberapa langkah. Jin menghilang seketika dan tiba di secepat kilat di depan iblis itu.
Bughhh
Satu pukulan melayang di wajah iblis itu. Bukan hanya itu, Jin melayangkan tendangan di perut sehingga iblis itu menghantam lantai.
Seorang gadis terkulai tidak sadarkan diri di lantai. Tidak jauh darinya, seorang laki-laki pun mengalami hal yang sama seperti Zalifa.
Begitu marah karena santapannya digagalkan, iblis itu melayangkan semua kursi yang ada di ruangan itu. Kursi-kursi itu terbang begitu cepat hendak menyerang Jin. Namun rupanya Jin menghadang sehingga benda-benda itu mengambang di udara. Hingga akhirnya Jin mengembalikan serangan itu kepada sang pemilik. Iblis itu menghancurkan semua kursi itu hanya dalam satu kali terpukan.
"Selalu kamu yang mengacaukan urusanku arwah sialan" suara berat nan menyeramkan terdengar dari sang iblis.
"Selama kamu belum lenyap, aku akan selalu mencampuri urusanmu jika itu menyangkut tumbal yang akan kau ambil"
Jin melindungi Zalifa juga laki-laki tadi dengan kekuatannya. Hanya dengan begitu agar iblis itu tidak dapat menyentuh keduanya.
"Kenapa tidak memilih memutuskan menerima penawaranku Keanu. Aku bisa membuat dirimu menjadi manusia seperti dulu, dan aku akan membantumu mencari keluargamu"
Jin tersenyum miring, tatapannya tidak sekalipun lepas dari iblis itu. "Aku tidak sudi menerima tawaran kamu iblis terkutuk. Misiku hanyalah untuk menghabisimu"
"Hahaha... hahahaha"
Tawa iblis itu menggelegar memenuhi gedung. Detik berikutnya ia kembali berubah menjadi wujud manusia. Sungguh Jin begitu kenal dengan sosok manusia itu.
"Kean" panggilnya dengan lembut. Tatapannya teduh dengan senyuman yang hangat.
"Om" Jin nampak berkaca-kaca, dugaannya selama ini memang benar.
Anehnya senyuman hangat itu berubah menjadi seringai yang terbit di bibirnya. Kedua matanya bahkan menatap nyalang sosok Jin yang berdiri jauh darinya.
"Aku tidak akan membiarkanmu melawanku laki-laki brengsek" Adiatama terlihat berbicara dengan dirinya sendiri.
"Lawan om...aku yakin om bisa. Lawan dia om, dia tidak berhak menguasai tubuh om Adi. Lawan dia om" Jin tau kini Adiatama sedang berusaha melawan agar Sri Dewi tidak dapat menguasai kewarasannya.
Adiatama menjambak rambutnya, terlihat begitu keras perjuangan yang ia lakukan. Kembali tatapannya teduh dengan penuh kasih sayang. Tubuhnya berdiri tegap dengan senyuman hangat.
"Jaga Sharlin Kean, dia sudah menganggap kamu seperti kakaknya pengganti Ningsih"
"Om" Jin hendak mendekat namun Adiatama melarang.
"Om masih di sini" Adiatama menunjuk dirinya. "Itu kata sandi yang akan kita gunakan nanti. Jika nanti kamu bertanya apakah om masih di situ, maka jawaban yang akan om berikan adalah kata sandi tadi. Andai kata bukan itu jawabannya, maka berarti itu bukan om melainkan dia"
"Om...aku akan membantu sekuat tenaga untuk menyelamatkan om dari dia. Aku janji om, aku janji" Jin mulai meneteskan air mata.
"Om sudah siap jika nanti akan mati di tangan mu Kean"
"Nggak, om nggak akan mati. Aku tidak akan melakukan itu" Jin menggeleng kepala dengan cepat.
Adiatama tersenyum lagi, dirinya merentangkan kedua tangannya meminta Jin untuk memeluknya. Tanpa menolak, Jin melayang dan menubruk tubuh Adiatama. Jin menangis sesenggukan di pelukan laki-laki itu. Tidak bisa ia bayangkan bagaimana nanti jika Sharlin akan kehilangan ayahnya. Remaja itu pasti akan begitu bersedih.
Braaaakkk...
"Jin"
"Kak Kean"
Kedatangan Zain dan Sharlin membuat Adiatama melepas pelukannya dan berlari ke arah jendela kemudian melompat dari sana. Untungnya keduanya tidak melihat ke arah dimana Adiatama juga Jin berdiri sehingga dua remaja itu tidak mengetahui siapa yang dihadapi oleh Jin.
"Jin, kamu baik-baik saja" keduanya menghampiri Jin.
Jin menguasap air matanya dan berusaha untuk tersenyum. Namun matanya yang basah membuat Zain dan Sharlin mengerutkan kening.
"Kamu menangis Jin...?" Tanya Zain.
"Tidak, ayo kita harus pergi dari sini. Bantu aku membawa mereka" Jin melayang mendekati Zalifa dan laki-laki itu.
Sharlin melihat sekeliling, saat mereka tiba tidak ada siapapun di tempat itu selain Jin dan juga dua orang yang sedang pingsan.
"Apakah iblis itu kabur" gumamnya.
Ia pun hendak menghampiri yang lain namun di bawah sana, kaki kanannya menginjak sesuatu. Kepalanya tertunduk untuk melihat dan gerakan tangannya terulur mengambil benda itu.
__ADS_1
"Jam tangan" ucapnya pelan.
Diperiksanya jam tangan itu dengan teliti, sampai kemudian wajahnya tegang ketika merasa ia mengenal jam tangan itu.