Panggil Aku Jin

Panggil Aku Jin
Episode 46


__ADS_3

kabut itu semakin tebal masuk dan menutupi lingkungan sekolah. Untungnya lampu di setiap kelas dan sudut sekolah tidak mati sehingga masih ada penerangan itu sebagai fokus mereka untuk melihat.


Akan tetapi suara lengkingan keras membuat Danial memeluk erat lengan Jin. Jantungnya berdegup kencang dengan tangan yang bergetar.


"kamu takut...?" Jin menatap tangan Danial yang mengapit lengannya.


"nggak...aku hanya gugup saja. Sekolah ini macam sekolah horor saja. Lihatlah pemandangannya, bagai di film horor ghost school"


"gugup tapi tanganmu sampai dingin begini" Jin memegang tangan Danial dan seketika Danial menggenggam tangan Jin.


"Jin, apapun yang terjadi kamu tetap harus sama aku terus ya. Aku merasakan keanehan di sekolah ini sekarang"


"iya kamu benar, aku juga merasakan itu" tatapan Jin tajam menelisik sekitar.


aaaaaa


"astaghfirullah...his bikin jantungan saja" Danial mengusap dadanya karena kaget, suara teriakan itu kembali terdengar.


Kemudian tidak lama seseorang menepuk pundak Danial, alhasil Danial melirik Jin yang ternyata tidak melakukan apapun.


"kenapa melihatku seperti itu...?" tanya Jin ketika dirinya memergoki Danial sedang menatapnya.


"kamu yang memukul pundakku...?"


"bagaimana aku bisa memukulmu. lihatlah, kedua tangan ku kau genggam seperti ini" Jin mengangkat kedua tangannya dimana dipegang oleh Danial.


"lah terus siapa yang menepuk pundakku...?"


Jin juga Danial sama-sama memutar kepala untuk melihat siapa kiranya yang berada di belakang keduanya. Ketika itu, seorang siswi dengan penampakkan yang mengejutkan membuat Danial sontak berteriak dan refleks meninju hidung siswi itu. Alhasil siswi itu kelimpungan dan kesakitan memegang hidungnya.


Siapapun yang melihat pasti akan kaget dan ketakutan. Siswi itu rambutnya acak-acakan bagai Mak lampir, juga giginya memerah bagai baru saja meminum darah. Penampakan itu membuat Danial dengan tanpa sadar meninju gadis itu.


grrrrrr....


"astaga, dia setan Jin" Danial melompat bersembunyi di belakang Jin.


siswi itu hendak menyerang namun Jin melemparnya jauh hanya dengan hentakkan satu tangannya. Entah menabrak apa tapi yang pastinya siswi itu pasti menabrak sesuatu.


"sepertinya ini kerasukan massal" Jin mulai merasakan energi jahat mulai menyelimuti sekolah.


"lagi...?" Danial mulai risau. Baru juga satu bulan merasakan kenyamanan tidak terjadi hal apapun, sekarang hal yang ditakutkan kembali terjadi.


"kita cari yang lainnya Jin, aku takut mereka kenapa-kenapa"


KYAAAAA


Suara dari dua arah mengagetkan keduanya. Empat orang siswa berlari begitu cepat ke arah mereka dengan tangan yang terulur ke depan juga mulut yang menganga lebar.


Jin menggerakkan kedua tangannya, menghentikan empat siswa itu kemudian ia menarik keempatnya dan menubrukkan mereka semua sehingga empat siswa itu jatuh dan saling menindih.


"ayo Dan, di sini tidak aman untukmu" Jin memegang tangan Danial dan mengajaknya pergi.


"lalu bagaimana dengan yang lain...?"


"kita cari tempat yang aman terlebih dahulu kemudian menghubungi mereka"


Jin melayang sementara Danial berlari. Rupanya ada beberapa siswa yang mengejar mereka. Maka Danial semakin mempercepat larinya sementara Jin terus menggenggam tangannya, menariknya untuk terus bersamanya.


"Jin mereka semakin banyak" Danial panik ketika ia memutar kepala untuk melihat ke arah belakang.


Beberapa pot bunga yang ada di depan kelas, Jin gerakkan dengan gerakkan tangannya kemudian melempar ke arah siswa yang terus mengejar mereka. Ada yang terkena lemparan itu sampai mereka terjatuh dan ada juga yang masih baik-baik saja dan terus mengejar.


Maka akhirnya, Jin berhenti dan menarik Danial untuk berada di belakangnya sementara Jin menggerakkan kedua tangannya ke depan sehingga semua siswa itu terpental melayang menabrak dinding juga sesama mereka.


"ayo" Jin kembali menarik tangan Danial.


Bertemu musholla, mereka masuk ke dalam musholla itu dan mengunci pintunya. Danial mematikan lampu di dalam musholla menyisakan satu balon yang masih menyala, sebagai penerangan di dalam. Nafasnya ngos-ngosan dan ia terus menelan ludah.


"hubungi yang lain" perintah Jin.


Danial segera merogoh ponselnya di saku celananya. Orang yang pertama ia hubungi adalah Gibran dan tepat saat panggilan masuk, Gibran langsung mengangkat telpon itu.


[halo mas]


[Dan kamu dimana...?]


[di mushola mas, mas Gibran dimana. Yang lain dimana mas...?]


[mas di taman, bersama Sharlin dan Alea. Apa yang lain tidak bersama kamu...?]


[nggak mas, aku hanya berdua dengan Jin. Sebenarnya ada apa ini mas, kenapa sekolah malah jadi seperti ini...?]


[akan kita cari tahu nanti. Tunggu kami di situ, kami akan ke sana. coba hubungi Satria atau siapa saja... katakan pada mereka agar ke mushola sekolah]


[baik mas]


"Shar, Alea...dengarkan mas. mas akan menghitung sampai tiga, dan saat itu juga kalian berdua harus berlari ke arah musholla. Di sana ada Danial juga Jin"


"lalu mas bagaimana...?" Alea seketika langsung memegang ujung baju Gibran.

__ADS_1


"mas harus mencari Kirana, Ayunda, Satria dan Zain. Kalian beranikan ke mushola. Lari sekencang-kencangnya dan jangan pernah berhenti sampai kalian tiba di musholla"


"nggak mau...aku nggak mau mas" Alea menggeleng, air matanya mulai jatuh. "mas harus ikut, aku nggak mau mas pergi sendirian"


"hei... Jangan cengeng untuk sekarang" Gibran menangkup wajah Alea. Mas akan baik-baik saja, kalian berdua juga harus baik-baik saja. Sharlin, bisa kan berlari sampai ke mushola...?" Gibran menatap Sharlin.


"sebenarnya...aku ragu mas, tapi aku akan usahakan sampai" Sharlin kemudian menggenggam tangan Alea.


"mas" Alea seketika memeluk Gibran.


"hati-hati, kita bertemu nanti di musholla" Gibran mengelus kepala Alea.


Satu....


Dua...


Gibran menahan hitungannya dan memperhatikan sekitar. setidaknya siswa-siswi yang kerasukan itu tidak begitu banyak di dekat mereka, dengan begitu Alea juga Sharlin mempunyai kesempatan untuk kabur.


tiga....


"ayo lari"


Sharlin berdiri begitu juga Alea. keduanya berlari cepat menjauhi taman. Tentu saja mereka yang berada di dekat taman langsung mengejar dua remaja itu. akan tetapi Gibran menghalau siswa-siswi dan menghajar mereka satu persatu.


berhasil membuat mereka terkapar di tanah namun tidak pingsan sebab mereka begitu kuat tanpa merasa lelah sedikitpun. Setidaknya dengan begitu Alea juga Sharlin tidak lagi mereka kejar.


"lewat mana...?" Alea dan Sharlin bersembunyi merapat di pohon ketika melihat beberapa orang berada di depan sana.


"belakang saja, pelan-pelan dan kita pasti sampai di musholla" Sharlin berbisik di telinga Alea.


Gadis itu mengangguk kemudian keduanya berjalan pelan untuk lewat belakang setiap ruangan. Mungkin saja di belakang setiap gedung tidak dipenuhi oleh mereka yang kerasukan. Cara itu berjalan mulus, keduanya bergerak cepat dan akhirnya sampai di musholla.


"Dan" panggil Sharlin mengetuk pintu mushola.


Danial membuka cepat kemudian menarik keduanya untuk masuk. Setelah itu, pintu kembali di tutup dan dikunci.


"syukurlah kalian selamat" Danial memeluk keduanya.


Gibran mencari tempat untuk bersembunyi, ia harus menghubungi tim awan biru yang lainnya. Nomor Satria menjadi target jari jempolnya untuk menekan nomor remaja itu.


[halo mas...mas Gibran dimana]


[Sat, kamu dimana Sat...sama siapa...?]


"aaaa Sat Sat... mereka mau masuk Sat" teriakan Ayunda membuat Gibran semakin cemas.


[di kantin mas... tolong mas, mereka banyak sekali]


Braaaakkk...


"aaaaaa... SATRIA"


"AY"


Tuuuuuut


"ah sial" Gibran segera berlari ke arah kantin. Suara derap langkah kakinya yang terdengar mengundang semua orang yang berada di dekatnya, mengalihkan mata dan tanpa aba-aba langsung mengejarnya.


"SATRIA"


Ayunda, kedua kaki gadis itu ditarik oleh beberapa siswa. Satria mengambil tabung gas yang di dekatnya kemudian berlari ke arah Ayunda dan menghajar mereka dengan tabung gas yang beratnya lumayan.


Buaaak


buaaak


Bughhh


Satu persatu Satria lawan akan tetapi mereka semakin banyak saja. Satria menarik tangan Ayunda dan memeluk gadis itu. Mereka sudah dikepung, tidak ada celah untuk kabur.


Grrrrrr....


Semua siswa-siswi itu melompat untuk menyerang keduanya, akan tetapi serangan itu tidak sampai mendarat di tubuh keduanya karena El-Syakir, juga Deva tiba di waktu yang tepat.


"papa" Satria menghambur memeluk El-Syakir.


Ayunda pun langsung memeluk Deva. Tim samudera ternyata berada di sekitar itu. Gibran yang baru saja datang menghela nafas lega, ia sudah panik sejak tadi.


"huufffttt... akhirnya kalian datang juga" Gibran terduduk di lantai.


Semua kursi juga meja di kantin itu sudah berhamburan kemana-mana. Keadaannya sungguh tidak lagi seperti kantin yang sering mereka datangi untuk makan siang ataupun sarapan.


"ayo kita ke mushola" ajak Deva.


"tunggu pah. Kirana... Kirana menghilang pah. Tadi...tadi dia bersama pak Danu" Ayunda cemas memikirkan teman mereka.


"bagaimana ini pah...?" Satria tentu saja ikut cemas.


"sudah ada yang lain yang mencari mereka. Sekarang ayo ke mushola" ajak El-Syakir

__ADS_1


Mereka kemudian meninggalkan kantin yang sudah begitu berantakan layaknya kapal pecah.


Sementara itu, pak Danu mengajak Kirana untuk masuk ke sebuah ruangan kelas dan bersembunyi di bawah meja. Keduanya meringkuk di bawah meja paling belakang.


Di dalam kelas itu sunyi, namun meskipun begitu mereka harus tetap waspada jangan sampai tiba-tiba ada yang datang dan menyerang mereka.


"Kirana, jalan satu-satunya adalah kita harus keluar lewat jendela" pak Danu menunjuk jendela yang tidak jauh dengan mereka.


"m-memangnya di belakang tidak ada mereka pak...?" Kirana sebenarnya takut berdua saja dengan gurunya itu. Mereka belum mengetahui siapa pelakunya maka dari itu setiap guru masih masuk ke dalam daftar nama-nama yang mereka curigai.


"tunggu sebentar aku periksa dulu" pak Danu menggunakan kedua lutut juga kedua tangannya untuk bergerak sampai di dinding kelas paling ujung. Ia berdiri pelan kemudian membuka jendela dan melihat keluar. Gelap dan juga sepi, aman untuk keduanya.


"ayo Ki, aman" panggilnya dengan pelan.


Kirana menghampiri pak Danu. laki-laki itu membantu Kirana untuk keluar lewat jendela. Setelah Kirana berhasil keluar, giliran pak Danu yang yang hendak keluar. Sayangnya suara kakinya yang tidak sengaja menendang kaca sebelahnya membuat mereka bereaksi dan berlari ke arahnya.


"ayo pak.... cepat pak" Kirana meraih tangan pak Danu.


Bughhh


Grrrrrr


Pak Danu melompat dan gerakannya itu menindih tubuh Kirana.


"maaf Ki, kamu baik-baik saja...?" pak Danu bangun dan membantu Kirana untuk berdiri.


"aku baik pak, ayo pergi pak... mereka mengejar kita nanti"


"ayo" pak Danu menarik tangan Kirana.


Bara juga Leo yang baru saja datang di kelas itu tidak menemukan apapun terkecuali mereka yang menyeringai senang melihat kedatangan keduanya.


"Kok sinarnya redup...?" Leo memperhatikan satu batu kecil berwarna hijau yang melayang di depan mereka.


"berarti sekarang mereka ke tempat lain, lihatlah batu itu melayang ke sana" tunjuk Bara.


Segera mereka mengikuti batu yang melayang itu. Siapapun yang mendatangi mereka, keduanya melawan dan tidak lama mereka menemukan tempat persembunyian pak Danu juga Kirana.


"papa" Kirana langsung memeluk Bara.


"papa...?" pak Danu kaget dan menatap bergantian Leo juga Bara.


Buuuk


Tiba-tiba Leo memukul tengkuk pak Danu sehingga laki-laki itu pingsan seketika.


"loh om, kok di pukul...?" Kirana meringis.


"dia tidak boleh tau keberadaan kami di sini. biarkan saja dia di sini. Ayo kita ke mushola" ucap Leo.


"tapi bagaimana kalau dia pelakunya Le" ucap Bara.


"kalau dia pelakunya, ngapain sampai bersembunyi di sini"


"ya mungkin saja dia hendak merencanakan sesuatu kan"


"tenang saja, kak Airin pasti bisa mendeteksi kalau dia memang pelakunya. Ayo"


_____


"ibu jangan berpegang di paha aku dong, nanti kalau si Raja bangun ibu mau tanggungjawab" Zain menggeser tangan ibu Naina di pahanya.


Tadi setelah dari toilet Zain hendak kembali ke tenda, namun sekali lagi ia melihat ibu Naina yang berjalan ke arah perpustakaan. Remaja itu penasaran dan mengikuti ibu Naina sampai akhirnya mereka berdua terjebak di dalam perpustakaan.


"si Raja siapa sih Za...?" ibu Naina tidak paham.


"Raja hidup dan kebanggaan aku bu"


"teman kamu...?"


Zain meringis dan menggaruk kepala, bingung bagaimana memberitahu guru cantik itu kalau Raja yang ia maksud adalah **** ***** miliknya.


"sudah ibu tidak usah bertanya lagi. Nanti kalau Raja bangun, aku yang susah untuk menidurkannya kembali. Tangan ibu juga tolong dikondisikan dong" Zain menangkap tangan ibu Naina yang rupanya bergerak di atas pahanya.


"ibu gugup Za, takut... biasanya memang ibu akan seperti ini kalau sedang ketakutan atau merasakan gugup yang luar biasa" ibu Naina menarik tangannya dan meremas jemarinya.


Kejadian itu membuat dirinya ketakutan. Untung saja dirinya bertemu Zain sehingga ada yang menemaninya. Bayangkan bila ia sendirian, sudah pasti dirinya akan meringkuk menangis di pojokan.


Zain kasian melihat gurunya itu. Wajahnya terlihat pucat karena keterkejutan akibat serangan tiba-tiba yang ia alami. Untung saja ia segera menarik ibu Naina kemudian mengunci pintu perpustakaan.


"ada aku bu, tenanglah" Zain memberanikan menggenggam tangan ibu Naina.


Ibu Naina menatap kedua mata Zain, remaja yang menurutnya masih begitu labil namun ternyata mempunyai sisi dewasa saat keadaan tegang seperti itu.


"sampai semuanya aman, kamu harus tetap di sini ya Za" ibu Naina memohon.


"iya... aku akan tetap di sini bersama ibu. Aku tidak akan kemana-mana" tangan Zain terangkat merapikan anak rambut ibu Naina dan menyelipkan di telinga wanita itu.


Ibu Naina mengangguk dan bersandar di bahu Zain. Ia merasa tenang ada Zain yang menemaninya.

__ADS_1


__ADS_2