
terik panas matahari membuat sebagian siswa-siswi tidak betah berada di dalam tenda. Maka di dalam kelas menjadi tempat untuk berkumpul dan bercerita. Apalagi di dalam kelas terdapat kipas angin yang bisa menyejukkan mereka.
"sapu dulu deh, kotor banget nih. Terus semua kursi dan mejanya di pindahin ke belakang biar leluasa kita baringnya" ucap Kirana.
Semua siswa kelas X2 bekerjasama membersihkan ruang kelas mereka. Para lelaki mengangkat kursi dan meja menata di di sudut paling belakang, sementara para perempuan menyapu bersih ruangan itu.
"akhirnya...bisa baring nyaman juga" Kelvin begitu saja membaringkan tubuhnya di lantai yang dingin itu.
"harusnya sih pakai tikar atau apa gitu. Nggak di pel masih kotor tau" Selvia mencolek lantai dengan ujung telunjuknya.
"repot kalau harus pel lagi Sel. lagian ini udah bersih kok. nyaman banget" Ayunda langsung menaruh bantal kecilnya di lantai.
Mereka semua memutuskan untuk tidur siang setelah makan tadi. Panasnya matahari membuat mereka begitu malas untuk bergerak. Untungnya tidak ada lagi kegiatan apapun kecuali sore hari. Para anggota OSIS mewajibkan semua peserta untuk mengikuti senam sore.
Yap senam sore...
Karena jika pagi mereka akan terlambat untuk mengadakan kegiatan. Alhasil senam sore pun jadi.
"kok aku nggak bisa tidur ya" Aretha gelisah dalam baringnya. Kadang kedua matanya tertutup dan setelah itu ia melek lagi.
"ish... tidur Retha, jangan gelisah mulu kenapa sih" Kirana mengomel karena Aretha dekat dengannya.
"nggak bisa tidur aku. Mending kita ngerumpi yuk" Aretha langsung bangun.
para lelaki sudah ada yang tertidur pulas padahal belum lama kepalanya mendarat di bantal kecil yang mereka punya. Bahkan para lelaki tim awan biru pun, sudah menutup mata dengan posisi terlentang dan ada juga yang miring.
Lalu Jin dimana...?
hantu itu sibuk memainkan ponsel Danial. Ia terngkurap di samping Danial yang sedang tidur miring menghadap ke arahnya. Sementara ponsel Danial ia simpan di lantai dan jemarinya bermain di layar ponsel itu.
"ngerumpi aja sama dinding, aku ngantuk" Kirana membelakangi Aretha.
Gadis itu cemberut dan terpaksa kembali membaringkan tubuhnya. Karena memang tidak bisa tidur, maka ia mengusir kebosanannya dengan bermain ponsel. Pada akhirnya, Aretha pun ikut menyusul ke alam mimpi.
Sore harinya setelah sholat ashar, semua orang bersiap untuk senam santai di lapangan.
"nanti izin ke minimarket yuk, beli sampo. Kepalaku busuk banget sumpah. keringatan terus soalnya" ucap Satria yang sedang memakai sepatunya.
"kayaknya nggak bakal di izinin deh. Paling kita selesainya menjelang magrib. Nggak keburu sholat kalau mau keluar" Sharlin berdiri dan melompat kecil setelah ia selesai memasang sepatunya.
"gimana kalau pergi sekarang saja. Yaa dua orang lah yang meminta izin. Sama mas Gibran saja biar cepat, kan dia guru di sini juga" Zain memberikan ide.
"terus yang mau keluar siapa...?" ingat ya, kita itu dalam masa harus terus waspada di setiap keadaan. Setidaknya yang keluar jangan hanya satu orang" ucap Alea
"aku sama Jin saja kalau begitu. gimana Jin...?" Danial menoleh ke arah Jin yang sibuk membuka IG Danial.
"boleh boleh saja sih, tapi harus beli ayam bakar ya" Jin malah meminta upah.
"hadeeeh...itu ayam yang kamu makan tadi lewatnya dimana sih Jin. Heran banget" Ayunda berdecak.
"lewat mulut masuk ke tenggorokan, langsung ke perut" Jin menjawab enteng.
prrriiiiiit
Suara pluit membuat semua siswa-siswi berlarian ke arah lapangan. Ada yang berlari tanpa alas kaki karena belum selesai memakai sepatu, ada juga yang hanya memakai sebelah namun harus terpaksa memegang satu sepatu lagi karena jika terlambat ke lapangan maka akan dihukum.
"jadi gimana, siapa yang mau pergi...?" tanya Kirana.
"aku aja deh, sekalian mau ngambil uang di ATM" Zain bersedia.
"siapa yang mau temani...?" tanya Danial.
__ADS_1
"nggak usah, lagian kan minimarket depan sana ada. Ini juga masih sore, masih banyak orang-orang yang lalu lalang. Aku sendiri saja"
"yakin kamu Za...?" tanya Satria.
"yakin. Udah sana ke lapangan, aku mau ketemu mas Gibran dulu di kantor"
"aku ikut" ucap Satria. "aku temani kamu, berdua setidaknya lebih aman"
"baiklah" Zain pun setuju
"terus kalian perginya pakai apa...?" tanya Sharlin.
"kan ada mobil mas Gibran. Pergi dulu ya. Kalau ada yang mau dititip lagi tinggal kirim di wa, bye" Zain menarik Satria melengos pergi begitu saja.
tim awan biru melihat punggung Zain dan Satria yang semakin menjauh karena mereka berdua berlari kecil menuju kantor.
"hei...kalian kok masih di sini. Semuanya udah pada ngumpul di lapangan" Bunga yang sedang mengecek semua tenda, menegur mereka.
"eh iya kak. Ayo gais" Sharlin tanpa sadar memegang tangan Alea dan menariknya untuk ikut berlari ke lapangan.
Bunga melihat itu, tentu saja dirinya bertanya-tanya siapa gadis yang Sharlin ajak untuk berlari. Namun karena tugasnya lebih penting, ia mengesampingkan hal itu terlebih dahulu.
Di depan kantor Zain dan Satria bertemu dengan Gibran juga ibu Dian dan ibu Naina. Ibu Dian menggunakan tongkat untuk berjalan dan di sampingnya ibu Naina berdiri memegang bahunya.
Tidak lama pak Rahim keluar bersenandung kecil, ia pun berpamitan kepada semua orang karena harus pergi untuk sementara.
"mau kemana Za...?" tanya Gibran.
"mau izin keluar mas, ke minimarket. Sekalian mau pinjam mobilnya" ucap Zain.
Ibu Naina saat itu mencuri pandang ke arah Zain. Ketika itu juga Zain sedang melirik ke arahnya. Keduanya sama-sama kikuk, tentu saja karena kejadian semalam yang terjadi di perpustakaan.
"ambil di tas mas yang ada di atas meja. Jangan lama-lama ya, kalau sudah selesai belanja langsung pulang"
"siap" Zain memberikan hormat membuat Gibran mengacak rambutnya. Setelahnya remaja itu masuk ke dalam kantor untuk mengambil kunci mobil. Satria menunggunya di luar.
Ibu Naina juga ibu Dian sudah telah berlalu dan kini mereka telah berada di parkiran. Menggunakan mobil ibu Naina, kedua guru itu meninggalkan lingkungan sekolah.
"cari apa Za...?"
"eh astaghfirullah" Zain kaget ketika tiba-tiba ibu Amanda sudah berada di dekatnya. "eh ibu Manda, ini bu saya sedang mencari kunci mobil pak Gibran"
"memangnya kamu mau kemana...?"
"mau keluar bu, ke minimarket"
"siapa yang mau ke minimarket...?" ibu Kahiyang bertanya, wanita itu baru saja dari kamar mandi.
"s-saya bu" Zain menjawab kikuk.
"wah kebetulan sekali. Kalau gitu ibu titip obat anti nyeri ya Za di apotek. Tunggu sebentar ibu ambil uangnya dulu" ibu Kahiyang menuju mejanya.
Zain diam saja, tidak mungkin ia menolak permintaan gurunya itu.
"ibu boleh ikut nggak Za. Ibu juga mau membeli sesuatu dan harus saya sendiri yang membelinya. Tidak mungkin aku menyuruh kamu" ibu Amanda yang tadinya diam, dirinya menawarkan diri.
"emmm..."
"nih Za uangnya. Ingat ya obat anti nyeri" ibu Kahiyang memberikan uang merah kepada Zain.
"baik bu"
__ADS_1
"jadi gimana Za, ibu boleh ikut kan...?" ibu Amanda bertanya lagi.
"i-iya...boleh bu" Zain mengangguk dengan terpaksa.
Mereka keluar dan menghampiri Satria yang sedang berdiri menatap ke arah taman. Zain menepuk pundaknya sehingga Satria menoleh.
"sudah...?"
"sudah, emmm ibu Amanda ikut dengan kita" Zain memberitahu
Satria menatap ibu Amanda yang sedang melihat ke arah mereka berdua. Satria mengangguk setuju, karena masalahnya alasan apa yang akan mereka berikan untuk menolak guru mereka itu.
Perasaan Zain mulai deg degan dan was-was. Pasalnya saat ini mereka bersama dengan seseorang yang masih dicurigai oleh orang tua tim awan biru.
"tegang banget sih Za, kamu sakit...?" ibu Amanda memperhatikan wajah remaja itu.
"tidak bu, saya sehat kok" Zain berusaha tersenyum.
Ketiganya berjalan ke arah parkiran dan masuk ke dalam mobil. Mobil itu pelan bergerak keluar dari parkiran dan meninggalkan sekolah.
Senam sore berlanjut dengan menyenangkan. semua orang terlihat menikmati setiap gerakan yang di ajarkan oleh anggota OSIS yang berada di depan mereka semua. hingga pukul lima lewat, senam dihentikan.
"adik-adik semua, malam ini adalah malam terakhir kita bermalam di sekolah. jadi sesuai rapat kesepakatan anggota OSIS, malam ini kita akan mengadakan api unggun. Sekaligus perpisahan kita dengan sekolah lain yang telah bersedia datang ke sekolah kita untuk mempererat tali silaturahmi"
Prok
Prok
Prok
riuhan tepuk tangan begitu meriah. Semua orang semangat ketika mendengar penyampaian dari seorang siswa laki-laki yang menjadi ketua OSIS di sekolah itu. Sementara Bunga, berdiri di sampingnya.
"jadi sekarang kita semua, akan mencari kayu bakar di sekitar hutan belakang sekolah. Hanya sampai di belakang sekolah saja ya, jangan masuk sampai ke dalam hutan. Kalian mengerti...?"
"mengerti kak"
"baiklah, kita lakukan sekarang. Bersama-sama kita mencari kayu bakar. Ada para guru juga yang akan mengawasi kita"
Bergerombol mereka menuju ke belakang sekolah. Para guru menyusul dari belakang mereka.
"kepala sekolah kenapa tidak kelihatan pak Hamzah...?" tanya pak Kenan. Mereka berjalan beriringan.
"dia ada urusan, nanti malam baru balik" pak Hamzah menjawab.
Ibu Kahiyang juga pak Gibran bergabung bersama para guru yang dari sekolah lain. Sementara pak Danu berbaur dengan para siswa.
Seperti yang dikatakan ketua OSIS, semua siswa hanya mencari kayu bakar disekitar belakang sekolah itu saja. tidak ada yang berani masuk sampai ke dalam sana. Rumor tentang hutan angker itu masih melekat jelas di kepala semua warga SMA Citra Bangsa.
"ini sudah setengah enam tapi Zain sama Satria kenapa belum pulang juga" Sharlin mulai gelisah.
Mereka telah kembali mencari kayu bakar, bahkan sudah membersihkan diri dan bersiap menunggu waktu magrib. Di dalam tenda, mereka semua berkumpul.
"telpon gih, aku kok khawatir gini ya" Danial memegang dadanya yang berdebar tidak karuan. Gelisah dan begitu khawatir.
"nggak aktif. Duh gimana ini, malah sudah mau malam. Apa kita susul saja" Ayunda mulai panik.
"nomor Satria nggak aktif juga kah...?" tanya Jin.
"nggak, dua-duanya nggak aktif. kita beritahu mas Gibran, aku nggak tenang, sumpah" Danial keluar dari tenda.
Yang lain menyusul dan mencari keberadaan Gibran di aula sekolah, karena tadi mereka melihat laki-laki itu bersama pak Danu berjalan ke arah aula.
__ADS_1