
"sambil nunggu kak Gibran selesai rapat, kita ke belakang sekolah yuk. Aku sejak pertama datang ke sekolah ini, penasaran banget seperti apa di dalam hutan belakang sekolah" Zain yang memasukkan buku-buku ke dalam tasnya, mengutarakan keinginannya.
"nggak ah, serem tau Za. Apalagi kalau iblis itu tau kita masuk ke sarangnya, kan bahaya" Kirana menolak.
"sebenarnya aku sih pengen juga masuk ke dalam hutan itu. Pengen lihat bagaimana tempat pemujaan yang Jin bilang tadi. Siapa tau kita menemukan sesuatu" Danial menatap semua teman-temannya.
Sharlin yang kala itu baru saja mematikan kipas angin juga menutup gorden jendela, ia langsung menghampiri mereka.
"bahaya Dan, apalagi kak Kean entah kemana dia sekarang. Setelah menghilang di aula tadi, dia belum juga nongol" Sharlin membereskan buku-bukunya, ia pun memakai jaketnya yang sering ia bawa
"kalau benar apa yang dikatakan om Adam kalau dalangnya adalah salah satu dari warga sekolah, harusnya aman dong kita masuk ke sana. Aku juga penasaran, seserem apa hutan itu, meskipun ada takut juga sih. Masa iya kita mainnya di hutan" Ayunda penasaran namun juga takut.
"jadi sebenarnya kalian mau ke sana atau nggak...?" tanya Danial.
"memangnya kalian berani...? aku kalau rame-rame ya ayo, tapi jangan saling meninggalkan ya" Alea pun ingin ikut.
"aku punya ini" Danial mengeluarkan kalung yang ada di dalam bajunya. "kalung ini bisa melindungi kita. Sekarang kita siap-siap" Danial berucap yakin"
"tapi..."Satria agak ragu.
"kalau kamu ragu, kamu di sini saja menunggu kami. Kalau sampai nanti dalam waktu satu jam kami nggak datang, kamu bisa memberitahu kak Gibran" ucap Danial.
"nggak, aku tetap ikut" ucap Satria.
"kalian yakin...?" Sharlin mulai resah.
"yakin, ayolah Shar, demi mencari bukti" ucap Zain.
Pada akhirnya Sharlin berhasil mereka ajak. Padahal saat itu sudah menjelang sore hari. Harusnya mereka pulang jam 4 sore, namun karena ada rapat dewan guru maka semua siswa dipulangkan jam 3 sore.
Karena belum sholat ashar, mereka mengerjakan ibadah itu di musholla sekolah. Dan kini mereka telah berdiri di belakang perpustakaan. Sebelum masuk ke tempat itu, mereka berwudhu terlebih dahulu dan kemudian membaca doa. Ada begitu besar keraguan dalam diri, namun rasa penasaran lebih mendominasi sehingga tim awan biru memberanikan diri untuk masuk menjelajahi hutan terlarang.
"kita nggak bawa apa-apa, kita hanya bawa ponsel untuk penerangan jika nanti kita kemalaman. Siapa yang baterai ponselnya masih banyak...?" Danial melihat semua temannya.
"aku...masih tersisa 80%" Kirana mengangkat tangannya.
"aku juga, tersisa 65%" Alea pun juga mengangkat tangan.
"oke... berarti ponsel kalian di non aktifkan, karena jika baterai ponsel kami habis maka ponsel kalian berdua yang akan dipakai" ucap Danial. "kalian siap kan...?" lanjut Danial.
"bismillahirrahmanirrahim...siap" mereka mengangguk yakin.
Satu persatu masuk ke celah pagar untuk bisa masuk ke dalam hutan. Sebelum tiba gilirannya, Danial memutar kepala melihat ke belakang.
"Jin, jika kamu dengar aku...maka susul kami nanti" gumamnya kemudian menyusul teman-temannya.
_____
Sudah 20 menit rapat telah selesai dan kini Gibran menunggu kedatangan tim awan biru dimana mereka telah sepakat akan bertemu setelah rapat berakhir. Namun sampai detik ke menit, tujuh remaja itu belum juga menunjukkan tanda-tanda keberadaan mereka.
"mereka kemana lagi" Gibran menggaruk pelipis, mulai resah dan khawatir.
"nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan" itulah yang didengar oleh Gibran saat menghubungi nomor Danial.
Satu persatu ia menghubungi anak-anak itu kecuali Sharlin karena dirinya tidak mempunyai nomor telepon remaja itu. Hari sudah semakin sore, bahkan hanya dia seorang diri sebab guru-guru yang lain telah pulang sejak tadi.
"ya Tuhan...ini anak-anak pada kemana sih"
Drrrttt.... drrrttt
helaan nafas panjang keluar dari hidungnya, Adam menghubunginya dan tentu saja laki-laki itu akan menanyakan keberadaan putranya. Sayangnya, ponselnya mati tiba-tiba dan hal itu semakin membuat Gibran kesal.
"sialan, pake lobet segala lagi nih ponsel" Gibran mulai rada emosi.
"pak Gibran" suara seseorang mengagetkan dirinya yang sedang bersandar di mobil.
"astaga pak Hamzah, bikin kaget saja" Gibran mengelus dada.
"belum pulang pak...? Bukannya rapat sudah selesai sejak tadi" ucap pak Hamzah.
"bapak juga kenapa belum pulang...?" Gibran melempar senyum saat bertanya.
"hahaha" pak Hamzah tertawa, ia menggeleng kepala. Matanya yang sipit seakan tidak terlihat saat dirinya tertawa. "saya melupakan ponselku di kantor, kalau pak Gibran...?"
"saya tidak mempunyai urusan apapun, hanya saja di sini begitu nyaman saja kalau sore hari seperti ini. Apalagi di taman itu"
"jadi bapak masih ingin tetap di sini...?"
"tidak, saya sudah akan pulang"
"oh ya sudah, hati-hati pak. Saya juga akan pulang setelah mengambil ponsel saya"
pak Hamzah melangkah meninggalkan Gibran di parkiran seorang diri. sementara Gibran hendak masuk ke dalam mobilnya namun saat itu dicegah oleh Jin.
"anak-anak kemana Jin...?"
"bukannya tadi mereka sama kakak ya...?" Jin pun bingung.
"astaga" Gibran memijit pelipisnya. "sudah lama aku menunggu di sini tapi mereka belum datang juga. Pak Samsul tidak akan menjemput mereka sebab sekarang mereka akan pulang bersama aku terus. Ya Allah.... kemana sih perginya, malah sudah menjelang malam lagi" Gibran semakin gelisah.
__ADS_1
Jin pun mulai khawatir, jangan sampai mereka kemalaman di sekolah ini, bisa bahaya. Dirinya melihat ke arah hutan belakang sekolah, pikirannya apakah mereka masuk ke dalam hutan itu.
"tapi tidak mungkin....mana berani mereka masuk tanpa ada aku. Tapi.... Danial itu nekad" Jin bergumam, antara ingin memeriksa ke sana tapi jangan sampai anak-anak itu tidak berada di sana.
"bagaimana ini Jin, coba bantu aku berpikir"
"telpon om Adam saja kak, atau om El"
"itu dia masalahnya, ponsel aku lobet. kalau aku pergi lalu anak-anak masih di sekolah ini bagaimana...?" Gibran menggigit bibir. "apa mereka ke hutan itu ya" lanjutnya.
"itu juga yang aku pikirkan kak" Jin menatap Gibran.
"tapi nggak mungkinlah, mana berani mereka ke sana" Gibran menggeleng, pikirannya itu sepertinya tidak benar.
"tapi kemungkinannya iya kak. Bagaimana kalau kita berdua mencari mereka ke sana. atau kalau kakak tidak mau, kakak pulang saja, biar aku yang akan mencari keberadaan mereka"
"tidak tidak...aku harus bertanggungjawab kepada keselamatan mereka. Ya sudah, ayo kita cari mereka"
Saat itu Gibran meninggalkan parkiran bersama Jin yang melayang di sampingnya. Namun seketika Jin menghilang lagi dengan tiba-tiba, dan setelahnya tidak lama pak Hamzah bertemu dengan Gibran.
"loh pak Gibran mau kemana...?" pak Hamzah mengerutkan kening, mengapa Gibran belum pulang juga.
"masih mengurus sesuatu pak. Silahkan pulang terlebih dahulu, saya ingin ke perpustakaan sebentar"
"tapi ini sudah hampir menjelang malam loh pak"
"sudah biasa saya berteman kan malam pak. Permisi pak, saya hanya ingin mencari ketenangan. Kalau pulang, rasanya malas banget"
"wah...aneh juga ya bapak ini. Ya sudah, saya pulang lebih dulu kalau begitu. Hati-hati pak, banyak setannya loh" pak Hamzah tertawa pelan.
"paling saya ajak kenalan, hehehe" Gibran cengengesan, pak Hamzah geleng kepala dan berlalu menuju parkiran.
Gibran dapat melihat pak Hamzah masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan sekolah. Saat itu juga, Jin memanggil Gibran dari arah belakang perpustakaan. Dengan berlari, Gibran menghampiri arwah itu.
"kamu kenapa malah hilang begitu saja Jin...?"
"sengaja kak, soalnya kalau benar pelakunya adalah orang di dalam sekolah ini, kan bisa kacau kalau dia melihat saya yang pernah dia bunuh"
"ya sudah, jadi kita akan masuk ke dalam hutan itu...?" Gibran melihat kabut yang mulai menyelimuti hutan.
"aku mendapatkan ini" Jin menemukan gantungan tas di rerumputan tepat di samping pagar. "kalau tidak salah, ini punya Alea. Aku semakin yakin kalau mereka masuk ke dalam hutan sana. ayo kak sebelum terjadi sesuatu dengan mereka"
"ayo" Gibran pun mengangguk.
_____
Hawa di dalam hutan itu bagai saat fajar mulai menyapa dan berada di pegunungan. udaranya begitu dingin dan tentu saja hal itu membuat mereka menggigil.
"pakai ini" tanpa di duga, Sharlin membuka sweater yang ia pakai dan memberikan kepada Alea.
"buat aku kak...?" Alea menunjuk dirinya.
"humm" Sharlin mengangguk dan tersenyum, hal itu membuat Alea terpana. Demi apapun senyuman Sharlin bagai gula yang begitu manis. Dirinya bahkan sampai tidak berkedip apalagi saat ini keduanya berada di bagian paling belakang sementara yang lain di depan mereka.
"hei...kok diam sih, ambil nih"
"eh...i-iya" Alea jadi salah tingkah sebab ketahuan memperhatikan wajah tampan ketua kelas mereka itu.
Sementara Kirana, gadis itu mengapit lengan Zain bagai tidak ingin ditinggal pergi. Bahkan ia pun meraih pinggang Zain dan merapatkan badan kepadanya.
"aku tau kamu takut Ki, tapi jangan kayak gini juga Napa. Nanti kalau aku khilaf, kamu mau tanggungjawab" Zain seakan menahan nafas karena kelakuan sahabatnya itu.
"nggak apa-apa, sekalian aja kita khilaf bareng yang penting sama kamu" Kirana, wajahnya yang cantik membuat Zain salah tingkah saat ditatap dalam oleh gadis itu.
"emang korslet lah otak kamu ini" Zain memundurkan wajah Kirana dan mencoba melepaskan pelukan gadis itu, sayangnya Kirana malah semakin memeluknya erat.
"Ki...aku nggak leluasa gerak tau kalau begini"
"ya udah begini aja kalau gitu" Kirana melepaskan pelukannya dan kemudian mengambil lengan Zain dan ia letakkan di pundaknya. "kalau seperti ini kamu nyaman kan sama aku...?" kembali Kirana menatap wajah Zain.
"humm" Zain pasrah dan fokus kembali ke depan.
"Za"
"hummm"
"kamu....suka cewek seperti apa sih...?"
"kenapa nanya yang seperti itu...?"
"yaa...aku penasaran saja gitu. Ada nggak cewek yang kamu suka"
"entah" Zain mengangkat bahu.
"maksudku cewek yang lagi dekat dengan kamu gitu"
"ada, dan itu adalah kamu, Ayunda juga Alea"
"maksud aku"
__ADS_1
"KYAAAAA APA INI...MAMAAAAA....ADA ULAR"
Ayunda refleks melompat ke punggung Satria. Danial mengarahkan senter ponselnya, dapat dilihat ular yang tidak begitu besar, tepat berada di depan mereka.
"hus...hus" Danial mengusir.
"ck...dia bukan ayam atau kucing loh Dan. Masa iya kamu ngusirnya kayak gitu" Satria menggeleng.
ranting kayu yang ada di dekatnya Danial ambil dan mendekatkan ke ular itu. Seketika ular itu merayap melilit ranting kayu itu kemudian Danial melempar jauh dari mereka.
"hiiiiiii....geli banget" Ayunda bergidik.
"ularnya udah nggak ada, ayo turun" ucap Satria.
Ayunda turun dari punggung Satria, namun dengan cepat gadis itu menggenggam tangan Satria.
"pokoknya kita harus seperti ini terus sampai pulang, kamu nggak boleh protes dan nggak mau" paksa Ayunda.
"lah, emang kamu siapa maksa orang banget" Satria ingin melepaskan genggaman tangan Ayunda namun gadis itu seerat mungkin menahan.
"ck... katanya suka sama kak Galang, lah ini malah pdkt sama Satria" Danial mengejek.
"yang nyata-nyata aja nggak apalagi, daripada aku ngelahuin kak Galang yang belum bisa aku gapai. mending sama cicit kesayangan keluarga Sanjaya saja. lagi pula pasti Satria mau kan sama aku, secara aku cantik, imut dan manis" Ayunda mengedip-ngedipkan mata kepada Satria.
"ck... lebai lu. Minggir sana" Satria mendorong kepala Ayunda, hendak kembali berjalan namun rupanya tangannya masih digenggam oleh Ayunda. Maka dengan terpaksa Satria menarik gadis itu agar sejajar dengannya.
tidak mendapatkan air untuk berwudhu maka mereka pun bertayamum. tas mereka digunakan sebagai sajadah. Karena perempuan memakai rok panjang, maka yang mereka butuhkan hanya sweater para lelaki untuk menutupi lengan dan juga kepala mereka. Dalam keadaan darurat, mereka terpaksa melakukan hal itu daripada tidak sholat sama sekali.
"pulang saja nggak sih, kita sudah jalan cukup jauh namun nggak ketemu-ketemu sama yang dicari" Sharlin mengusulkan idenya.
"sayang kalau pulang Shar, kita sudah jalan sejauh ini ya harusnya langsung saja lah. Nanggung banget kalau pulang" jawab Danial.
"tapi ini udah malam Dan, malah dingin banget lagi. Benar kata Sharlin, mending pulang saja deh. Nanti kita bisa komunikasi dengan kak Gibran untuk datang lagi" Zain pun akhirnya mengalah padahal tadinya dirinya yang begitu ingin masuk ke dalam hutan itu.
"nah, aku sih sebenernya begitu dari awal. kita komunikasi sama kak Gibran atau orang tua kita dulu" ucap Kirana.
"mereka nggak akan mungkin masuk ke dalam sini karena percuma, jika dalangnya tidak ditemukan maka iblis itu nggak akan muncul" ucap Satria.
"lantas kita ngapain datang ke sini kalau jawabannya sudah ada sih" Alea kesal.
"aku hanya ingin memancing agar orang itu keluar. Aku yakin, dia bisa merasakan kehadiran kita di tempatnya sendiri. kita banyak, pastinya dia begitu senang untuk mendatangi kita" Danial mulai serius.
"jadi kamu ngejadiin kita umpan...?" Ayunda melebarkan mata.
"sorry kawan, tapi percayalah Jin pasti akan datang membantu kita"
"kamu seyakin itu dia akan datang...?" tanya Satria.
"ada ini" Danial menunjukkan kalungnya. "aku yakin Jin dapat merasakan energi kalung ini jika aku tiup nantinya, kalung ini kan miliknya"
auuuuuu....
"astaghfirullah, suara apa itu...?" Alea refleks memegang lengan Sharlin.
"semacam suara serigala nggak sih. Ini kan hutan, pasti banyak binatang buasnya" Kirana mulai takut.
Apalagi dingin semakin menusuk, malam semakin merangkak. ingin pulang namun tanggung, tidak ingin pulang sebagian mulai ketakutan.
"pulang aja yuk, aku takut banget. Bagaimana kalau iblis itu menemukan kita di sini"
"sssttt" Danial menempelkan jari telunjuknya di bibir. "lihat" ucapnya pelan menunjuk ke depan sana.
Meskipun tidak begitu terang namun dapat mereka lihat sebuah tempat yang tidak pernah lihat sebelumnya. Ada dua batu besar yang berdiri tegak namun tidak merapat. Bagai gapura pintu masuk dan juga di tengah kedua batu itu, ada pula batu memanjang yang terlihat seperti meja. Di lapisi kain putih. Ada dupa dan lilin yang menyala. tempat itu di kelilingi empat pohon berukuran besar. Yang lebih mengerikan lagi, terlihat sebuah patung menakutkan tepat di depan dupa. Seakan memperlihatkan kalau sepertinya patung itu adalah yang dipuja oleh seseorang.
Seseorang yang entah datang darimana memakai jubah hitam dan menutup kepalanya. Ia datang membawakan lilin di tangannya. Mengelilingi patung itu sebanyak tujuh kali.
Mereka dengan cepat bersembunyi, bahkan menutup mulut agar tidak menimbulkan suara. Sebab nafas mereka pun terdengar begitu jelas.
"dia pasti dalangnya" Sharlin berucap pelan.
"lalu bagaimana ini...?" tanya Alea yang sebenarnya sudah benar-benar takut.
Kraaaak
Suara ranting kayu yang diinjak oleh salah satu dari mereka membuat mereka begitu terkejut dan saling pandang. Orang itu pun melihat setengah badan yang ia arahkan ke suara yang ia dengar.
"selamat datang anak-anak manis, selamat datang ke tempat pemujaan ku. Aku tau kalian ada di sana"
Deg
Deg
Deg
tubuh Alea bergetar hebat, Sharlin menangkapnya saat gadis itu kehilangan keseimbangan. Mereka semua diam, saling tatap dan meneguk ludah dengan begitu susah.
"LARI"
Teriakan Danial membuat mereka tersadar dan berlari begitu cepat meninggalkan tempat mengerikan itu.
__ADS_1