
Tim samudera juga Zidan dan para pengawalnya telah tiba di rumah Ardi. Mobil mewah berjejer rapi di halaman rumah laki-laki itu. mereka berpasangan dan hanya Furqon juga Pram yang tidak memiliki pasangan. Hal itu karena putranya dengan Mita baru saja berumur satu minggu lebih dan tentu saja tidak bisa di tinggalkan begitu saja sementara Furqon, kekasihnya sedang ke luar kota melakukan sesi pemotretan.
"Masya Allah...rame bener yang mengantar lamaran. bakalan kaget calon istri Ardi melihat yang datang melamar kayak macam mau demo saja" ucap Vino ketika ia keluar dari mobilnya bersama Starla.
"yang mau dilamar anak perempuan satu-satunya pengusaha sukses. insya Allah kalau melihat paman Zidan, mereka langsung terima. kita ini bukan kaleng-kaleng loh" timpal Bara
Mereka semua masuk ke dalam rumah. Ardi juga kedua orang tuanya sudah menunggu di ruang tengah. Ada juga paman Ardi dan istrinya yaitu saudara dari papanya Ardi.
"waaah satu rombongan ini mah, penguasaha semua lagi. semoga niat baik kita ini dimudahkan dan dilancarkan juga langsung diterima dengan baik" pak Heru yang tidak lain adalah paman dari Ardi, terharu melihat teman-teman Ardi bersedia mengantarnya lamaran.
"aamiin"
Semua orang mengaminkan doa pak Heru. Mereka semua kemudian bersiap untuk menuju ke rumah wanita yang akan dilamar Ardi.
"gugup ya kak...?" Deva menegur Ardi saat laki-laki itu terlihat selalu menghela nafas panjang.
"banget" Ardi tersenyum paksa. "huufffttt... bismillah" ia pun melangkah menyusul kedua orang tuanya ke dalam mobil.
Di dalam mobil Ardi tidak henti-hentinya membaca doa. Meskipun sudah diberitahu oleh sang kekasih untuk datang melamarnya, namun tetap saja Ardi merasa gugup. Ia sedikit takut sebab ayah dari sang kekasih sebenarnya sudah menjodohkan putrinya dengan laki-laki lain. maka dari itu kekasih Ardi memintanya untuk segera datang melamarnya, dengan begitu perjodohan itu tidak akan terjadi.
"kamu kenapa sih nak, gelisah begitu papa perhatikan" pak Haris memperhatikan putranya lewat spion gantung.
"nervous pah, gimana kalau papanya Shafira tidak menerima lamaran Ardi"
"belum juga di coba sudah menyerah saja kamu. Dia kan belum tau kalau Shafira sudah punya kekasih yaitu kamu. Mungkin kalau dia sudah tau, dia tidak akan menjodohkan Shafira. Kalaupun di tolak ya sudah menjadi konsekuensi dari kita pihak laki-laki dan itu berarti kalian tidak berjodoh" pak Haris tersenyum kepada putranya.
"tenangkan dirimu nak, insya Allah semuanya baik-baik saja" ibu Miranda berkata lembut.
"Shafira sudah memberitahu papanya kan kalau kita akan ke rumahnya...?" kembali pak Haris bersuara.
"iya pah, kemarin itu Shafira memberitahu. Makanya hari ini kita ke rumahnya"
Iringan mobil mewah itu berhenti di pagar rumah tujuan mereka. Salah seorang laki-laki baya datang membukakan pagar dan mempersilahkan mereka semua untuk masuk ke dalam. Mobil pertama yang masuk ke halaman rumah adalah mobil Zidan kemudian diikuti mobil yang lainnya. Berjejer terparkir rapi di halaman rumah yang luas.
"besar banget rumahnya mas" Sisil kagum melihat rumah mewah itu.
"kamu pengen rumah besar seperti ini sayang...?" Helmi bertanya setelah mematikan mesin mobilnya.
Sisil mengalihkan mata ke arah suaminya. Ia tersenyum lembut dan menggeleng pelan kemudian mengambil tangan Helmi dan menggenggamnya erat.
"aku nggak butuh rumah mewah mas. Lagipula rumah kita kan sudah tergolong besar juga meskipun tidak sebesar rumah ini ataupun rumah Zidan dan yang lainnya. Bagiku, sebesar apapun rumahnya yang penting kita nyaman dan betah, juga aku akan lebih nyaman kalau bersama kamu di rumah impian kita"
Helmi tersenyum teduh, ia mencium punggung tangan istrinya juga kening wanita yang ia cintai itu. Begitu bersyukur mendapatkan Sisil yang berhati lembut bagai malaikat.
"aku cinta sama kamu sayang"
"iya, aku tau. Aku juga cinta sama kamu juga anak-anak kita" Sisil tetap tersenyum lembut.
"suatu saat jika Azam dan Jihan berumahtangga, tinggal kita berdua di dalam rumah. Aku harap kita bisa menua bersama dan menggendong cucu-cucu kita nantinya"
"aamiin" Sisil mengaminkan harapan suaminya.
Semua orang keluar dari mobil. Sang pemilik rumah telah menunggu ke datang mereka di depan pintu. Ketika melihat Zidan, papa Shafira tentu saja kaget dan menatap istrinya yang berdiri di sampingnya.
"itu pak Zidan loh pah juga pak Adam yang bekerjasama dengan perusahaan papa" ibu Inggit berbisik.
Pak Darmawan sungguh tidak menyangka, laki-laki yang akan melamar putrinya mempunyai keluarga seorang pengusaha bahkan bukan hanya satu orang melainkan beberapa orang.
"assalamualaikum pak" pak Haris tersenyum dan mengulurkan tangan.
"wa alaikumsalam" pak Darmawan menyambut uluran tangan pak Haris. Ia dan istrinya mempersilahkan semuanya untuk masuk ke dalam.
di ruang tamu mereka berkumpul, saat itu ibu Inggit memanggil Shafira untuk bergabung bersama mereka. Ardi semakin meremas jemarinya, perasaan risau mulai menghampiri.
__ADS_1
"tetap tenang dan jangan grogi nanti kamu pingsan lagi. Apa kata dunia lamaran saja sudah pingsan lebih lebih malam pertama. Sepertinya kamu akan mati-mati ayam, kejang-kejang dan langsung struk" Furqon berbisik di telinga Ardi.
Plaaaak
Ardi memukul lengan sahabatnya itu. Memang sahabat tidak ada akhlak, bukannya menenangkannya ini malah membuatnya kesal.
Tidak lama ibu Inggit datang bersama Shafira. Wanita itu langsung tersenyum ketika dirinya bertatapan dengan Ardi. ia senang, Ardi memberanikan diri untuk datang melamarnya.
"Adi mana mah...?" pak Darmawan menatap istrinya.
"tadi keluar sebentar, tapi kok belum pulang juga ya" ibu Inggit melihat ke arah pintu masuk.
"mungkin ke sekolah pah, kan mas Adi bilang semalam ada rapat" timpal Shafira.
pak Darmawan menghela nafas. ia inginnya anak lelakinya ada di tempat itu namun ternyata malah memilih ke sekolah. Sungguh membuatnya kecewa. akan tetapi rupanya kekecewaan itu tidak berlangsung lama sebab yang diharapkan ada, telah datang saat itu juga.
"assalamualaikum"
"wa alaikumsalam"
Semua orang menoleh ke arah sumber suara. betapa kagetnya tim samudera juga Zidan ketika melihat siapa yang datang saat itu. Sementara laki-laki yang datang itu pun tidak kalah kagetnya melihat tamu kedua orang tuanya saat itu.
"pak Adiatama" gumam Adam.
Memang benar yang datang saat itu adalah pak Adiatama. Rupanya yang akan dilamar oleh Ardi adalah adik dari pak Adiatama, kepala sekolah SMA Citra Bangsa.
"pak Adam, senang bertemu dengan anda lagi" pak Adiatama menyapa ketika ia telah duduk di samping mamanya.
Adam tersenyum begitu juga tim samudera yang lain. Sementara pak Darmawan juga ibu Inggit saling tatap satu sama lain.
"kamu kenal pak Adam Adi...?" tanya pak Darmawan.
"kenal pah, dia orang tua murid di sekolah ku"
"s-saya pak" Ardi bersuara. Rasanya lidahnya keluh untuk berbicara.
Pak Haris kemudian mengambil alih pembicaraan. ia mengutarakan maksud dan tujuan mereka datang bertamu pada hari itu. bahkan sudah membawa seserahan untuk melamar Shafira.
"kalau saya boleh tau, pak Zidan ini siapanya bapak...?" tanya pak Darmawan.
Mendapatkan pertanyaan seperti itu, pak Haris melirik Zidan yang duduk bersama Vania. Laki-laki itu langsung menegakkan punggungnya ketika namanya mulai di singgung.
"pak Darmawan ini sudah saya anggap seperti ayah saya sendiri begitu juga Ardi yang telah saya anggap sebagai adik saya. Ardi adalah sahabat saya sekaligus pengawal saya dulu namun sekarang dia mempunyai posisi penting di perusahaan wisma mulia milik istri saya. Ardi dan laki-laki yang duduk disampingnya lah yang mengurus perusahaan itu sekarang. Keduanya adalah adik untuk saya"
"perusahaan wisma mulia...?" raut wajah pak Darmawan terlihat kaget. "kemarin asisten saya hendak bertemu dengan pimpinan perusahaan itu, namun diundur karena pimpinannya sedang keluar kota. Jadi bosnya itu adalah kamu...?" pak Darmawan menatap Ardi.
"bukan pak, saya hanya menjalankan tugas saja. bos yang sebenarnya adalah istri dari mas Zidan, Vania Larissa" Ardi menjawab.
"jadi bagaimana pak Darmawan dengan niat baik kami ini. Kami menerima segala keputusan yang bapak berikan. Insya Allah anak saya akan menerimanya dengan ikhlas" pak Haris mengambil alih kembali pembicaraan.
"sebenarnya saya sudah berniat menjodohkan Shafira dengan anak teman saya"
"pah, kan papa tau kalau Shafira nggak mau" Shafira memberikan penolakan.
"tapi papa sudah membicarakan ini dengan mereka juga putranya dan mereka setuju dengan itu"
"tapi Fira nggak setuju. papa kenapa sih nggak pernah mengerti perasaan Fira" Shafira mulai marah.
"Shafira, rendahkan suaramu" tegur Adiatama.
Shafira meremas ujung gaunnya. ia benar-benar kesal dengan papanya yang mengambil keputusan secara sepihak. Wanita itu sudah nampak berkaca-kaca. Ibu Inggit hanya bisa mengelus punggungnya untuk menenangkannya.
"pah, cukup aku....cukup aku yang papa kendalikan masalah seperti ini, jangan juga libatkan Shafira. Dia berhak mencari pilihannya sendiri"
__ADS_1
Shafira langsung mengangkat kepala ketika Adiatama berbicara seperti itu. Ia langsung bergeser dan memeluk kakaknya itu.
Sementara tim samudera juga yang lainnya, hanya bisa menyaksikan drama keluarga itu. Sepertinya terlihat kalau pak Darmawan begitu mengekang anak-anaknya. Ingin rasanya mereka mengatakan kalau sekarang bukan lagi zamannya saling menjodohkan. Anak-anak berhak mengambil keputusan apapun terkait masalah hidupnya selama itu masih di jalan yang benar. Dan orang tua hanya perlu memantau dan menasehati saja.
Ardi merasakan ngilu di hatinya ketika melihat Shafira menangis di pelukan kakaknya. ia benar-benar tidak menyangka wanita itu begitu ingin hidup bersama dirinya.
"saya memang tidak sekaya om juga tidak mempunyai perusahaan seperti om. tapi saya mempunyai impian untuk membahagiakan Shafira jika dia menjadi istri saya" ucap Ardi membuat pak Darmawan menatap lekat dirinya.
Shafira masih memeluk Adiatama, sementara Airin terus memperhatikan keduanya. Lebih tepatnya memperhatikan Adiatama. rupanya saat itu Adiatama melirik ke arahnya. Ketika pandangan keduanya bertemu, Adiatama tidak memalingkan wajah namun juga tidak tersenyum dan ataupun membuka suara.
Hingga kemudian Airin mengalihkan mata ketika mendengar suara pak Darmawan yang mengambil keputusan menerima lamaran itu. tidak ada alasan untuk menolak jika laki-laki yang datang mapan dan bisa menghidupi anaknya.
"Alhamdulillah" semuanya bernafas lega.
Shafira langsung tersenyum dan memeluk mamanya. Seserahan telah di terima oleh keluarga pak Darmawan. pemasangan cincin pun dilakukan dan kemudian mereka membicarakan tanggal pernikahan dimana kedua belah pihak sepakat untuk menikahkan putra putri mereka bulan depan.
"selamat bro, akhirnya si Tole ketemu juga nanti dengan sarangnya" Furqon menggoda Ardi.
Ardi mencebik namun senyuman di bibirnya tidak pernah luntur. Begitu bersyukur akhirnya bisa melamar wanita kekasih hatinya.
_____
"papa kamu nggak datang ya Shar" tanya Zain.
"nggak, lagi ada acara di rumah opa. tante aku mau di lamar makanya papa nggak datang" jawab Sharlin.
Semuanya manggut-manggut tanda mengerti. Kini adalah istirahat kedua, mereka lebih memilih berkumpul di belakang kelas.
"harusnya ya papa kamu ngerayain ulang tahun sama keluargamu, lah ini kok malah ngundang kami makan malam" celetuk Ayunda.
"biasanya juga kami hanya merayakan bertiga. Aku, papa sama tante Shafira. tapi kali ini papa ingin lebih dekat dengan kalian saja, sebagai sahabat dari anaknya ini. Lagi pula hubungan opa sama papa kurang baik, jadi.... biasanya papa selalu merayakan hari ulang tahunnya bersama aku"
"kok bisa gitu...?" Jin penasaran.
"entah" Sharlin mengangkat bahu. "pulang sekolah langsung ke mall ya" lanjutnya lagi.
"oke"
"ingat ayam bakar harus dibeli ya, kalau nggak aku ngamuk" Jin mengancam Danial. Hantu itu sibuk memakan coklat yang entah ia ambil dimana.
Sungguh Jin berbeda dengan Adam. kalau dulu, Adam hanya akan memakan bunga melati namun kalau Jin, asal dirasanya enak... langsung dimakannya sampaikan habis.
"Jin, itu coklat siapa...?" Danial bingung sebab seingatnya ia tidak membeli apapun untuk hantu itu.
belum juga dijawab, si pemilik coklat langsung mencari makanan itu di dalam lacinya. Danial memicingkan mata menatap Jin dengan tatapan mengintimidasi.
"aku dapat ini loh...di bawah kolong meja bukan curi" Jin mulai was-was, ia ngeri dengan tatapan Danial.
"pulang di rumah, ku eksekusi kamu Jin" batin Danial tersenyum licik.
"aku kembalikan deh" Jin melayang dan menaruh kulit coklat itu di atas meja siswa tadi. "moon maap yaaa, tadi coklatnya aku pinjam sedikit, hanya sedikit kok. Itu masih ada dan silahkan dinikmati"
"sedikit tapi tuh mulut udah belepotan gitu. Ada ada saja kamu Jin" Satria geleng kepala.
Melihat coklatnya hanya tersisa kulitnya saja. siswa itu teriak keras membuat siswa lain menutup telinga.
"SIAPA YANG MEMAKAN COKLATKUUUUUU"
Suaranya melengking membuat semua orang menutup telinga. Menghentakkan kakinya dan mulai berkaca-kaca karena kesal bercampur jengkel.
"Jin tanggung jawab" Alea menatap Jin yang rupanya juga kaget dengan suara teriakan siswa itu.
"alamak... kabur ah" Jin kabur menghilang begitu saja.
__ADS_1
"dasar biang kerok" batin Danial.