Panggil Aku Jin

Panggil Aku Jin
Episode 54


__ADS_3

"nggak nyangka aku kalau pelakunya ternyata ibu Dian" ucap Danial


pertarungan bundanya juga ibu Dian masih terus berlanjut. belum ada yang kalah untuk saat ini. Semua orang menonton dengan serius.


"calon mamanya Sharlin tuh" timpal Jin.


"idih....jangan sampai deh" Sharlin bergidik ngeri.


Papanya mau menikah dengan ibu Dian...?


Auto kejang-kejang dirinya, bisa-bisa baru satu hari menjadi nyonya Adiatama, dirinya dan papanya sudah mati esok harinya. Membayangkan mereka akan satu rumah, sudah membuat Sharlin ngeri.


"padahal semalam dia jadi korban kengerian teman-teman di sekolah saat mereka kesurupan. Memang the best lah aktingnya ibu Dian ini" Kirana berdecak kesal. Ia kesal karena ternyata selama ini mereka malah salah mencurigai seseorang. Ibu Amanda, guru mereka itu sebenarnya ada dalam pikiran mereka semua setelah pak Hamzah terbebas dari tuduhan meskipun mereka harus tetap waspada kepada laki-laki itu.


"ho'oh, sampai digendong pula sama kepala sekolah. So sweet banget nggak sih" Alea melirik Sharlin untuk melihat reaksi remaja itu.


"nggak lucu Al" Sharlin kesal jika mengingat hal itu.


Leo mendekati Adam "apa kita hanya akan diam saja dam...?" tanya Leo.


"memangnya mau ngapain lagi. Sampai sekarang istriku belum memanggil untuk membantunya bukan" Adam tetap berdiri memfokuskan mata ke depan.


Bughhh


Bughhh


Airin berhasil memukul dada ibu Dian. Wanita itu terjungkal dan mendarat kasar di tanah.


Swing


Tidak sampai di situ, tanpa menunggu ibu Dian bangkit, Airin melesatkan serangan sehingga wanita itu terpental jauh. Tidak lama Airin mengarahkan tongkatnya ke arah ibu Dinda. Tubuh wanita itu terikat oleh kekuatan tongkat milik ratu Sundari.


tubuh ibu Dinda melayang dan tidak dapat bergerak. Airin menguncinya dan membawanya semakin dekat dengannya.


"lepaskan.... LEPASKAN AKU" ibu Dian memberontak. Sorot matanya tajam menatap Airin.


semua orang mendekat dan berdiri di belakang Airin. Sementara Adam maju ke depan sejajar dengan istrinya. Jin pun ikut maju, tangannya mengepal menatap tajam ibu Dian.


"kamu ingin balas dendam Keanu...? Ibu Dian tersenyum smirk, bagai mengejek Jin yang saat ini menatap ke arahnya.


"tante, apakah boleh aku membunuh wanita iblis ini" Jin meminta izin, akan tetapi sorot matanya tetap menatap ibu Dian yang memasang wajah tersenyum tipis.


"tidak Jin, yang kita lakukan sekarang adalah mengeluarkan iblis di dalam tubuhnya dan memusnahkannya atau mengurungnya" Airin tidak mengizinkan Jin untuk menghabisi ibu Dian.


Danial menatap lamat-lamat ibu Dian. Ada sesuatu yang aneh yang sedang ia pikirkan sekarang.


"bukankah ini aneh" ucap Danial tiba-tiba.


"aneh bagaimana maksudmu Dan...?" Deva mengalihkan mata kepada Danial.


"kenapa ibu Dian tidak merubah wujudnya menjadi iblis yang mengerikan itu. Harusnya jika memang ibu Dian pelakunya, bukankah setiap mengambil tumbalnya dia akan menjadi sosok yang menyeramkan itu. Satria dan Zain bermaksud untuk dia bunuh kan. Sama seperti saat dia mengincar Zalifa, dia merubah wujudnya. Saat juga dia mengincar kita di hutan itu, bukankah dia juga berubah wujud"


Asumsi Danial membuat tim awan biru saling pandang. sementara ibu Dian, tertawa pelan bahkan terkekeh kecil bagai ada sesuatu yang menurutnya lucu. dan detik berikutnya ia memasang wajah menyeringai.


Jin menarik paksa jubah hitam yang dipakai ibu Dian sehingga terlihat pakaian yang dikenakan wanita itu. Piyama tidur melekat di tubuhnya, juga kakinya yang terluka masih ada dan terlihat diperban. Ia tatap dalam-dalam kedua mata wanita itu, ibu Dian hanya menatapnya tanpa ekspresi namun tetap seringai di sudut bibirnya.


Ketika itu Jin dapat melihat warna mata ibu Dian, bagai mata kucing yang berubah seketika namun kemudian kembali berganti seperti sebelumnya.


"BRENGSEK....SIAPA KAMU" Jin kala itu langsung mencekik leher ibu Dian.


Ughhh


Jin mematahkan sihir Airin sehingga kini ibu Dian berada di dalam kendalinya. Wanita itu dicekiknya begitu kuat sampai kedua matanya melotot dengan kedua tangan memegang tangan Jin yang ada di lehernya.


"Jin, lepaskan...dia bisa mati" Bara mendekat dan menarik paksa Jin untuk menjauh dari ibu Dian.


Akan tetapi Jin yang sudah diselimuti amarah, menepis kasar tangan Bara. Jin kini berubah, wujudnya berubah seperti saat dimana Danial melihatnya di dalam mimpinya. Luka tusuk di dadanya, jemarinya yang mempunyai kuku tajam juga matanya yang berubah menjadi merah, bukan lagi mata Indah yang berwarna biru.

__ADS_1


"astaga Jin" Danial melesat ke arah Jin dan memeluknya dari belakang. "Jin, kendalikan dirimu. ibu Dian bisa mati. Lepaskan Jin... lepas"


"DIA BUKAN IBLIS ITU... BERANINYA DIA BERMAIN-MAIN DENGANKU" suara Jin terdengar berat dan menakutkan.


Airin tidak mungkin membiarkan itu. Ia melayang mendekati Jin dan menariknya dengan satu kali hentakan. Tubuh ibu Dian jatuh ke tanah, wanita itu langsung pingsan seketika sementara asap hitam keluar dari tubuhnya dan menghilang.


Danial masih dalam keadaan memeluk Jin, sementara Leo mendekati ibu Dian. Leher wanita itu memerah, terlihat jelas telapak tangan Jin yang melingkar di lehernya.


"tenang Jin.. Tenang" Danial membalikkan tubuh Jin dan menangkup wajah hantu itu.


dada Jin yang memburu perlahan mulai teratur, dirinya kembali ke wujud semula. Sementara Airin mendekati ibu Dian dan memeriksa luka di perut juga di punggung wanita itu. Luka yang diberikan oleh Adam menggunakan keris larangapati milik El-Syakir.


"bagaimana bisa...?" semua orang terkejut.


Ibu Dian tidak memiliki luka apapun di perut juga di punggungnya. Bahkan untuk bekas luka pun tidak terlihat. Yang terluka hanyalah bagian kakinya yang diperban.


"bukan dia pelakunya" ucap Ayunda.


"tapi....tapi kenapa yang kita temukan adalah dirinya. Dia yang ada di sekitar ini dan dia juga yang ingin mencelakai Satria juga Zain. Batu itu mengarah kepadanya bukan" Leo semakin bingung dengan situasi sekarang.


"yang mempunyai luka itu bukankah dia adalah ...." tim awan biru saling pandang.


"kita ditipu" Adam mengepalkan tangan. Begitu geram, beraninya iblis itu mengelabui mereka dengan menjadikan ibu Dian sebagai kambing hitam agar identitas aslinya tidak terbongkar.


"gawat Bun. Ceril dan Alesa" Danial membulatkan mata mengingat dua kakak kelasnya itu.


"BRENGSEK" Jin menghilang begitu cepat.


semua orang menjadi panik. Mereka salah mengejar target, ibu Dian bukanlah sosok yang seharusnya mereka tangkap.


"kita kembali. ke rumah sakit dan ke sekolah. Kita bagi menjadi dua tim" ucap Adam.


"aaaggghh"


tiba-tiba Danial kesakitan, kalung di lehernya mengeluarkan hawa panas yang tidak mampu ia kendalikan. Tubuhnya jatuh luruh ke bawah, dengan kedua lututnya ia jadikan tumpuan.


Semua orang saling pandang, jika sudah terjadi seperti itu maka bahaya mulai akan terjadi.


"TUMBAL" ucap semua orang.


"AAAGGGHH...AYAH PANAS"


Bughhh


"DANIAL"


Tubuh Danial jatuh pingsan. Jika sudah seperti itu, maka itu tandanya bukan hanya satu atau dua tumbal yang akan diincar. Biasanya Danial dapat menahan panasnya kalung itu. Namun malam itu, dirinya lemah dan tidak sadarkan diri. Seperti pertama kalinya iblis itu mengambil tumbal.


"mas, aku harus pergi. tapi bagaimana dengan Danial" Airin yang sedang memeluk tubuh putranya, menatap Adam dengan sendu.


"kamu harapan kami satu-satunya Ay...Hanya kamu. Pergilah, kami akan menyusul mu dengan bantuan batu hijau yang kamu berikan. Nyawa banyak orang harus di selamatkan" Adam mengambil alih tubuh Danial dari pelukan istrinya


Airin mencium lembut kening putranya sebelum akhirnya dirinya menghilang.


Kini mereka bergegas untuk kembali. Ibu Dian digendong oleh Deva dan dibawa ke mobil, Sementara Adam, menggendong putranya. batu hijau pemberian Airin, menjadi penunjuk jalan untuk mereka sampai kepada tempat dimana sebenarnya si pelaku berada.


Jin tiba di rumah sakit. Ia melayang ke sana kemari mencari dimana Ceril juga Alesa di rawat. Ketika itu ia melihat Rahim sedang berada di depan ruang operasi. Segera Jin menghilang dan kini telah berada di ruangan itu.


Ceril sedang di operasi, hanya gadis itu saja sementara Alesa entah berada dimana. Semuanya nampak baik-baik saja, bahkan Jin seorang dokter juga dua suster sedang melakukan tugas mereka dengan serius.


Jin menghilang lagi dan kini ia telah berada di samping pak Rahim. Tidak lama pak Adiatama datang membawa botol minuman di tangannya.


"Alesa bagaimana pak...?" tanya Rahim setelah pak Adiatama duduk di sampingnya.


"sudah di masukkan ke ruang rawat, kenanga" jawab pak Adiatama.


Mendapatkan informasi itu, Jin melayang mencari keberadaan Alesa. Ia menemukan gadis itu, gadis yang lehernya di pasangkan gips juga kakinya. Kemuning bagian lengannya diperban.

__ADS_1


"di sini aman. Lalu dimana iblis itu" Jin mengepalkan tangannya.


sesaat dirinya menatap sendu ke arah Alesa. dirinya merasa kasihan dengan gadis itu. namun meskipun begitu Jin merasa lega karena keduanya masih berada di dunia ini.


"apakah dia kembali ke sekolah...?" gumamnya. Sebab ia tidak melihat keberadaan sosok yang dicarinya.


Seketika itu Jin menghilang, ketika dirinya sampai di pagar sekolah... Airin sudah berada di tempat itu.


"tante" Jin kaget melihat keberadaan Airin.


"dia mengambil tumbal lagi Jin. Danial tersiksa karena hawa panas kalung itu. Dia berada di sekolah ini. tapi lihatlah, dia memagari sekolah ini agar kita tidak bisa masuk" Airin menunjuk sekolah itu yang keliling oleh asap hitam.


"lalu apa yang harus kita lakukan Tan...?" Jin mulai resah dan mulai panik. Ia dekati pagar sekolah, ketika menjulurkan tangannya...panas menjalar sampai di bahunya. Refleks Jin mundur dan berdiri kembali di sisi Airin.


"biar aku yang melakukannya" ucap Airin. "dia pikir bisa menghalangiku begitu saja" aura mistis wajah Airin, mulai nampak.


Tongkat saktinya mengeluarkan cahaya hijau kemudian ia arahkan ke arah asap hitam yang mengelilingi sekolah.


ddduuuaaaar


Hanya satu kali serangan, ledakkan keras terjadi. Asap hitam menghilang dan sekolah SMA Citra Bangsa terlihat seperti sebelumnya. Namun hal yang pertama kali mereka dengar adalah lengkingan suara yang sepertinya terjadi ricuh di dalam sana.


Secepat keduanya melesat masuk ke halaman sekolah. Hal yang mengerikan terjadi di depan mata. Bukan lagi kesurupan, namun siswa-siswi sekolah itu sudah banyak yang tergelatak bersimbah darah di tanah. sementara mereka yang masih selamat, berlindung di belakang punggung semua para guru.


Gibran, pak Hamzah, pak Danu dan pak Kenan menjadi tameng untuk semua siswa mereka. Para guru sekolah lain bergabung bersama mereka. akan tetapi tidak dipungkiri, mereka merasa ngeri dan ketakutan ketika melihat sosok makhluk menyeramkan berada di tengah-tengah mereka dan bahkan membunuh sebagian siswi.


lidah panjangnya menjilati darah yang menempel di bibirnya. Darah segar yang dari para siswi yang kini sudah tidak bernyawa di sekitarnya.


"aku mau pulang...hiks...hiks...aku mau pulang" seorang siswi menangis di pelukan ibu Kahiyang.


Tidak ada yang tidak menangis. Bagaimana tidak, teman-teman mereka sudah banyak yang tergelatak menjadi mayat. delapan orang siswi menjadi santapan dari iblis itu.


iblis itu menatap semua orang. Hingga tidak lama, dua siswi tiba-tiba tertarik melayang kearahnya bagai magnet yang begitu cepat melesat ke arahnya.


"AAAAAA LUNA...."


"ZENA"


Hap


Gibran berhasil menangkap tangan siswi yang bernama Luna dan dirinya menghentakkan satu kakinya ke tanah sehingga tubuh Luna seketika jatuh ke tanah. akan tetapi untuk Zena, gadis itu berhasil di tarik oleh iblis itu.


"AAAAAA"


Bughhh


Zena teriak histeris ketika dirinya sudah berada di depan iblis itu. Airin melesat secepatnya dan memukul dada iblis itu menggunakan tongkatnya. Zena ia tarik dan di bawa ke arah teman-temannya.


"Zena" semua teman-temannya memeluk gadis itu.


"Airin" Gibran bernafas lega, ratu penguasa hutan timur datang dalam keadaan yang begitu mereka butuhkan. dirinya masih memeluk Luna yang berusaha untuk menenangkan gadis itu karena terisak menangis.


"mas" Jin melayang mendekati Gibran.


Gibran menyuruh Luna berkumpul bersama siswa-siswi yang lain. Gadis itu langsung di sambut oleh ibu Kahiyang dan memeluknya.


"bawa semua orang ke tempat aman. Bawa mereka pergi dari sekolah ini" perintah Airin kepada Gibran.


Gibran patuh dan memerintahkan semua orang untuk meninggalkan sekolah. Tentu saja mereka langsung berlari ke arah pagar sekolah.


"pak Hamzah, tolong pantau semua siswa-siswi kita. Aku harus memantau dari sini" ucap Gibran setelah mereka berada di pagar sekolah.


"kita pergi bersama Pak Gibran. Kamu bisa mati jika menghadapi sendirian makhluk itu" pak Hamzah tidak ingin meninggalkan Gibran begitu saja.


"maaf pak, tapi saya harus tetap di sini. percayalah, saya akan baik-baik saja. Tolong lindungi semua siswa-siswi kita" setelah mengatakan itu, Gibran meninggalkan mereka.


"ayo pak Hamzah, jangan terlalu berlama-lama di sini" ajak pak Kenan.

__ADS_1


Setelah sepi, maka Airin memasang pagar gaib agar iblis yang mereka hadapi sekarang tidak akan bisa untuk melarikan diri. Kini saatnya dirinya memberikan pelajaran kepada iblis peminum darah manusia itu.


__ADS_2