
pemberitahuan libur mendadak dari kepala sekolah membuat siswa-siswi bertanya-tanya. ada apa, kenapa dan mengapa, tiga kata itu dilemparkan kepada sesama mereka namun sudah pasti mereka tidak akan mendapatkan jawaban. mereka hanya menerka-nerka apa yang terjadi sebenarnya. ada berasumsi bahwa mereka libur karena perihal masalah Zalifa yang hampir bunuh diri, ada juga yang mengatakan kalau semua itu karena para korban siswi yang meninggal kemarin-kemarin sehingga kepala sekolah tidak ingin terjadi dengan mereka semua dan akhirnya memilih untuk libur sementara.
hari itu, semua siswa-siswi di pulangkan lebih awal dari jam biasanya mereka pulang. setelah memberikan pengarahan, kepala sekolah membubarkan mereka semua untuk ke kelas mengambil tas masing-masing dan pulang ke rumah masing-masing.
dari kelas XII kelas XI dan kelas X, tidak ada lagi yang tersisa di ruangan kecuali di ruangan kelas X.2 yang masih nampak beberapa orang siswa-siswi duduk melingkar di ruangan itu dengan wajah masing-masing menampilkan keseriusan. makhluk gaib yang bersama mereka, hanya duduk di jendela dan memperhatikan mereka semua.
"kalau begitu aku ikut" Satria, mengagetkan temannya yang lain mengambil keputusan itu.
"kak, itu bahaya" Alea menggeleng tanda tidak setuju.
"bagi kita itu sama saja. bukankah makhluk itu akan terus mengambil tumbal dan bisa jadi besok lusa salah satu diantara kita, atau kita semua akan menjadi tumbalnya. bukankah itu sama saja kalau kita juga akan mati. aku akan ikut, setidaknya dengan begitu jika nanti aku mati maka aku tidak mati sia-sia sebab aku melakukan perlawanan" Satria mengatakan itu dengan begitu yakin, keberanian El-Syakir sepertinya menurun kepada putranya.
"jangan gegabah Sat, kalau kamu kenapa-kenapa bagaimana. aku tidak bisa melindungi kamu" Danial khawatir, apa jadinya nanti jika terjadi sesuatu dengan Satria. membayangkan itu saja dirinya tidak sanggup.
"lalu kamu kenapa bertekad untuk melawan makhluk itu padahal dia berbahaya. dia bisa membunuh kalian berdua. kenapa tetap kekeuh ingin melawan kalau kamu tidak bisa melindungi diri kamu sendiri" Satria menatap tajam Danial.
"karena aku punya Jin" dengan cepat Danial menjawab dan menoleh ke arah Jin yang hanya menatap mereka datar.
"ya sudah, maka katakan pada Jin kalau dia juga harus melindungi ku. dia berteman dengan sepupuku itu artinya dia juga harus berteman denganku. jika tidak, aku akan mengatakan kepada ayah dan bunda kalau kamu mempunyai teman tak kasat mata. aku yakin mereka akan percaya padaku"
ancaman dari Satria membuat Danial menghela nafas. jika saudaranya itu memberitahukan perihal Jin kepada mereka, dirinya takut kedua orang tuanya tidak akan mengizinkannya untuk berteman dengan makhluk gaib. apalagi Jin pernah mengatakan padanya kalau hantu itu merasakan ada energi yang kuat pada diri bundanya. awalnya Danial tidak percaya akan hal itu namun bagaimana bundanya pernah menanyakan tentang teman gaibnya, Danial mulai berpikir apakah bundanya itu mempunyai mata yang tembus pandang. jika itu benar maka sudah pasti bundanya dapat melihat Jin nantinya.
"bagaimana...?" Satria memberikan penawaran.
"baiklah, tapi....jangan sampai kamu kenapa-kenapa. kamu harus bisa melindungi diri sebab Jin terkadang tidak bisa memantau kita setiap jam" Danial pun setuju
"memangnya kamu yakin Sat...?" tanya Sharlin
"apa aku tengah sedang bercanda sekarang...? Satria memperlihatkan wajah yang serius.
"kalian kok berani banget sih, itu iblis loh atau setan atau semacamnya terserah. bagaimana nanti kalian bisa menghadapi dia, semalam saja Danial dan Sharlin hampir mati ditangannya" Kirana sungguh tidak percaya tiga remaja laki-laki itu begitu nekat melakukan hal itu.
"masih ada yang mempunyai kekuatan besar Ki, Allah SWT lebih besar berkaki lipat dari makhluknya" ucap Sharlin.
"masih percaya saja kalian dengan kekuatan Tuhan. dia itu sama sekali tidak peduli dengan hambanya yang meminta pertolongan. bahkan Dia hanya melihat saja saat aku mati, sekarang kalian mengandalkannya...? omong kosong" Jin membuat Danial menatap tajam ke arah hantu itu. sementara yang ditatap hanya menatap datar.
(kamu menghina Tuhanku Jin, Tuhan kamu juga, Tuhan semua makhluk yang ada di bumi ini. kenapa bisa kamu mempunyai pikiran seperti itu. setiap yang bernyawa pasti akan merasakan yang namanya Kematian. kamu mati karena itu sudah takdirmu, apa kamu tidak pernah berpikir logis seperti itu) dalam hati Danial menahan marah
"jangan ajari aku tentang berpikir logis. harusnya Tuhan melindungi setiap manusia yang berada dalam bahaya. bukankah Dia berjanji untuk mengabulkan semua doa makhluknya. lalu kenapa Dia yang kamu sebut sebagai Tuhan itu tidak mengabulkan doaku saat aku berdoa hampir setiap hari untuk meminta perlindungan agar Dia melindungi ku saat aku dalam keadaan akan dibunuh" Jin membalas tatapan Danial dengan begitu tajam, aura kemarahan mulai muncul kepermukaan.
Danial tidak lagi membalas, jika dirinya tetap berdebat dengan Jin, ia takut hantu itu akan mengamuk dan mengagetkan teman-temannya yang saat ini bahkan belum melihatnya tapi ingin membantu.
"jika Satria ikut maka aku juga akan ikut. mungkin dengan bersama-sama melakukannya kita bisa membunuh makhluk itu" kini Zain bersuara.
"terus kita gimana...?" Ayunda bersuara.
"sebaiknya kalian tidak usah ikut andil. cukup diam saja dan tidak memberitahu orang tua kita kalau kami melakukan hal ini" timpal Sharlin.
Alea, Ayunda dan Kirana saling tatap satu sama lain. ingin ikut membantu namun mereka takut, tidak ikut tapi mereka khawatir dengan teman-teman mereka. mereka terus menimbang-nimbang keputusan yang harus mereka ambil. kemudian Ayunda bersuara membuat Alea dan Kirana menatap tidak percaya.
"aku juga akan ikut" ucap Ayunda
"Ay" Kirana dan Alea sungguh dibuat terkejut dengan keputusan gadis itu.
"benar apa kata Satria Al, Ki. kita menghindarinya bukan berarti dia akan menjauh. walaupun kita tidak ikut, tapi besok lusa bisa jadi kita yang akan menjadi korban berikutnya. daripada hanya duduk diam dan melihat, lebih baik bertindak meskipun....." ucapan Ayunda tertahan, ia meremas jemarinya dan menggigit bibir "meskipun mungkin kita akan kehilangan nyawa. tapi bukankah ada Tuhan yang akan melindungi kita" Ayunda menatap semua orang.
(kamu dengar kan, bahkan jika kami harus kehilangan nyawa sekalipun kami masih tetap percaya kepada Tuhan kalau Dia akan melindungi kami. takdir setiap orang telah digariskan sejak dirinya masih berada dalam kandungan. aku percaya Tuhanku, dan itu adalah Tuhanmu juga) Danial kembali berkata dalam hati dan menatap Jin
__ADS_1
hantu itu tidak menjawab, ia menghilang begitu saja sementara Danial benar-benar frustasi, bagaimana meyakinkan Jin kalau semua yang dialaminya adalah takdir yang sudah digariskan untuknya.
"gimana Ki...?" tanya Alea
"jangan ikut kalau kalian ragu. Ayunda, sebaiknya kamu juga tidak usah ikut. biar kami para laki-laki yang melakukan hal berbahaya, aku takutnya saat melihat kalian makhluk itu akan mengincar kalian bertiga" Danial menatap ketiganya.
"saja saja Dan, dia tetap akan mengincar tumbal juga kan. kalau kami yang dia incar nantinya, aku yakin kalian bisa melindungi kami" Ayunda tetap pada pendiriannya.
"kalau gitu aku juga ikut. bekerjasama kita insya Allah bisa melakukanya dengan meminta perlindungan kepada Allah" Kirana akhirnya mengambil keputusan.
"kalau semuanya ikut berarti aku juga akan ikut. selama ini kita selalu melakukan hal bersama-sama, bahkan masuk di sekolah ini pun kita tetap bersama. mungkin saja kan, Danial yang ingin kita sekolah di sini adalah rencana Tuhan, maksudnya bisa jadi kita adalah anak-anak yang akan mengakhiri semua kejadian mengerikan itu dengan tindakan yang kita ambil" ucap Alea
"kalau kalian semuanya ikut, berarti kalian juga harus membuka mata batin. itu adalah langkah pertama kita. kalian setuju...?" tanya Sharlin
saling pandang satu sama lain, mereka mengangguk dengan yakin.
"setuju" serempak mereka menjawab.
"baiklah, bismillahirrahmanirrahim....semoga kita dilindungi oleh Allah SWT dan dapat menghancurkan makhluk itu. mari kita melakukan segala cara untuk mengakhiri semuanya" Sharlin menyimpan tangannya di depan semua orang. Danial kemudian menyimpan tangan kanannya di atas tangan Sharlin begitu seterusnya.
"kita tim chibi-chibi siap melakukan perlawanan" Alea membuat semua orang melongo. Sharlin tersenyum merasa lucu dengan tingkah gadis itu.
"tim chibi-chibi...? iiiiwwww....kamu pikir kami ini para lelaki makhluk jadi-jadian. ogah banget tim chibi-chibi" Danial menolak, sungguh nama tim yang aneh menurutnya.
"jadi apa nama yang cocok untuk tim kita...?" tanya Ayunda
"harus banget ya pakai nama...?" tanya Satria
"iyalah, ayo cepat cari nama yang cocok untuk tim kita. apa perlu tim Teletubbies saja" ucap Kirana
"kenapa nggak sekalian saja tim Upin Ipin" Zain mendengus. nama macam apa pula sebuah tontonan kartun diangkat menjadi nama sebuah tim.
"kalau mereka mau. tapi nanti sajalah kita pikirkan itu. sekarang kalian siap menanggung semua resikonya....?" tanya Sharlin
"siap" mereka semua mengangguk
"siap melawan rasa takut...?"
"siap"
"bismillahirrahmanirrahim, kita pasti bisa"
mereka kini telah berada di jalan raya, menunggu taksi online yang mereka pesan di aplikasi. Danial terus melihat ke arah jalan lorong sekolah, berharap Jin datang ikut bersama mereka. rupanya hantu itu telah berada di samping kirinya namun ia tidak menyadari sejak tadi.
"kenapa terus melihat ke arah sana...?" pertanyaan Jin seketika memutar kepala Danial untuk melihat ke arahnya.
"sejak kapan kamu berdiri di sini...?" tanya Danial
"sejak tadi"
"masih marah padaku...?"
"memangnya kapan aku marah...?" tanpa melihat Danial, Jin hanya menatap kendaraan yang berlalu lalang di depan mereka.
mereka yang melihat Danial berbicara sendiri tidak lagi kaget sebab mereka tau kalau Danial sedang berbicara dengan temannya yang tak kasat mata. namun meskipun begitu rasa penasaran itu semakin besar, mereka ingin juga melihat bagaimana penampakan hantu yang bernama Jin itu.
"kita nggak ngasih tau pak Samsul kalau kita pulang lebih awal...?" tanya Zain memecah keheningan
__ADS_1
"oh iya lupa. sebentar aku telpon dulu" Alea membuka res tasnya dan mengambil ponselnya. nomor pak Samsul ia cari kemudian menghubungi sopir itu kalau mereka pulang lebih awal dan tidak perlu dijemput sebab akan bermain di rumah teman.
[baik non, nanti kalau begitu bapak jemput di rumah temannya non]
[iya pak, nanti aku hubungi lagi ya]
[siap non]
"beres" Alea kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas
"Shar, kamu nggak memberitahu papamu kalau ikut bersama kami. nanti kalau dia cari kamu bagaimana...?" Satria bertanya
"aku sudah mengirimkan pesan dan papa mengizinkan" jawab Sharlin
dua taksi online yang dipesan datang dan berhenti di depan mereka. satu persatu masuk ke dalam mobil itu. bergerak pelan kedua mobil itu saling beriringan bergabung bersama mobil lain yang bergerak searah dengan keduanya. Jin melayang mengikuti di sisi sebelah kanan salah satu kendaraan roda empat itu.
30 menit kedua taksi itu berhenti di depan rumah berwarna abu-abu. sebagiannya sudah mengelupas, mungkin karena terkena air hujan terus-menerus atau panas matahari.
remaja-remaja itu turun dari taksi, setelahnya dua kendaraan itu pelan keluar dari pekarangan rumah. di halaman rumah, tiga pohon mangga saling berjejer dan di bawahnya tempat duduk yang dibuat seperti gazebo namun tanpa atap dan tiang. di samping rumah terdapat dua pohon rambutan dan jambu air. sepertinya pemilik rumah itu begitu menyukai buah-buahan.
rumah itu tidak terlalu besar, jika diperkirakan mungkin hanya terdapat tiga kamar tidur di dalam. teras rumah yang tidak begitu luas dan ada satu kandang burung kakatua yang menggantung di samping rumah. hewan di dalam kandangnya itu sedang sibuk mematuk makanannya.
mereka berjalan pelan naik ke atas teras, selain Sharlin, mereka celingukan melihat ke sana sini. sementara Jin, melayang ke atas pohon dan duduk bersandar dengan nyaman di sana.
"rumah siapa ini Shar...?" tanya Danial
"rumah bang Manaf. semoga saja dia ada di rumah karena aku belum memberitahu kalau kita akan ke sini" Sharlin menjawab dan mendekat pintu rumah itu. di ketuk beberapa kali tidak lupa mengucapkan salam.
tok
tok
tok
"assalamualaikum bang, bang Manaf" teriak Sharlin lagi sebab masih belum ada suara jawaban dari dalam
"nggak ada di rumah mungkin Shar. ini masih jam 09.00 pagi, mungkin dia pergi kerja" Kirana mengintip di kaca jendela, sayangnya gelap karena terhalang gorden.
"apa ada di kafe ya" ucap Sharlin pelan
belum memutuskan untuk pergi, mereka lebih memilih duduk di kursi dan sebagiannya duduk melantai sebab teras rumah itu begitu bersih, tidak terlihat kotor sedikitpun.
tiba-tiba pintu rumah di buka, mereka semua menoleh. nampak seorang laki-laki yang masih muda berdiri di ambang pintu dan menatap heran mereka. namun ketika dirinya melihat Sharlin, laki-laki itu tersenyum dan mengerti kalau orang asing yang baru saja ia lihat adalah teman dari Sharlin. semuanya berdiri dan Sharlin mendekatinya.
"assalamualaikum bang"
"wa alaikumsalam. wah rame sekali, tumben datang ke sini bawa pasukan" dengan ramah ia tersenyum
"bang Manaf habis sholat ya...? maaf ya bang, suaraku tadi sudah mengganggu abang"
"tidak apa-apa, ayo masuk"
dipersilahkan oleh tuan rumah, mereka masuk ke dalam duduk di ruang tengah hanya beralaskan karpet sebab tidak ada sofa untuk tempat mereka duduk. mereka telah masuk semua, namun Manaf masih berdiri di ambang pintu membuat mereka bingung.
"kenapa bang...?" tanya Sharlin karena Manaf menatap lurus ke atas pohon sana.
"dia teman kalian kan...?" Manaf menunjuk ke arah pohon mangga "kenapa tidak diajak masuk" lanjutnya lagi.
__ADS_1
Danial memajukan kepalanya, ia melihat yang ditunjuk Manaf adalah Jin yang sedang duduk di atas pohon, bersiul begitu santai dan menggoyangkan kakinya. sementara yang lain, mereka tidak melihat apapun selain daun-daun dan batang pohon.