Panggil Aku Jin

Panggil Aku Jin
Episode 66


__ADS_3

Tidak seperti biasanya, malam itu Jin tidak membuat keonaran yang mengakibatkan Danial mengomel setiap jamnya. Malam itu Jin menjadi hantu yang pendiam.


Ditatapnya rembulan yang menerangi gelapnya bumi di malam itu. Ada kesedihan di raut wajahnya. Kedua sudut matanya nampak berair dengan bibir yang ia gigit.


hal itu membuat Danial merasa heran. Sudah berapa kali menanyakan apa yang terjadi namun jawaban Jin selalunya sama seperti jawaban sebelumnya.


Pintu kamar terbuka, terlihat Danial juga Satria memasuki kamar yang luas itu. Beberapa cemilan juga minuman mereka bawa masuk dan meletakkan di atas meja belajar.


"tumben ayam bakar dianggurin saja Jin. Nggak doyan lagi ya" Satria menatap makanan kesukaan Jin, masih utuh belum di sentuh padahal telah dibuka dari pembungkusnya.


Jin hanya melirik sekilas ke arah dalam yang terhalang dinding kaca. Setelahnya ia kembali menatap langit.


Danial pun melihat ke arah balkon kamar. Ia hanya menghela nafas kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Sementara Satria menghampiri Jin yang ada di balkon kamar. Dirinya mengikis jarak dan berdiri di samping Jin.


"apa kamu tau kenapa manusia seringkali tidak bisa mengendalikan dirinya ketika permasalahan datang menghampirinya...?" pertanyaan Satria membuat Jin memutar kepala ke arah samping. Satria tersenyum tulus dan hangat. "itu karena mereka lebih memilih memendam sendiri permasalahan itu, sehingga terkadang jalan pintas menjadi solusinya" Satria menjawab sendiri pertanyaannya.


"tapi aku bukan manusia" Jin melempar pandangan ke arah luar. Lampu penerangan di setiap gedung menjadi keindahan di malam hari.


"selama kamu memiliki perasaan, kamu tetap makhluk ciptaan Tuhan. Apa kamu sudah tidak menganggap aku juga Danial sahabatmu sehingga masalahmu sendiri saja tidak ingin kamu ceritakan"


"kan sudah aku katakan, aku tidak mempunyai masalah apapun"


"tapi bahasa tubuhmu juga diam itu memperlihatkan kalau kamu sedang tidak baik-baik saja" Danial rupanya sudah bersama mereka. Ia ikut berdiri dan mengapit Jin di tengah mereka. "ada apa Jin. Ini sudah ke sepuluh kalinya aku bertanya. Awas saja kalau jawabannya tetap sama seperti sebelumnya"


"lah memang jawabannya hanya itu kok, nggak ada jawaban yang lain"


Pletak


Saking gemasnya, Danial menjitak kening Jin. Jin semakin cemberut dan memasang tampang kesal.


"apa liat-liat, mau di colok tuh mata"


"ipi liit-liit, mii di cilik tih miti"


"hahaha"


Satria seketika menyemburkan tawa karena ekspresi Jin yang begitu lucu. Bahkan Danial terkekeh dan mencubit gemas hidung Jin yang mancung.


"apaan sih, dari tadi kdrt mulu. Sakit tau ish" begitu jengkel Jin sampai berpindah tempat di samping kanan Satria.

__ADS_1


Tidak lama terdengar dering ponsel dari dalam kamar. Berhubung itu adalah ponsel milik Satria, maka remaja itu melesat cepat meninggalkan Danial dan Jin.


Danial menggeser tubuhnya agar semakin dekat dengan Jin. Ketika itu, Jin memicingkan mata dengan raut wajah waspada.


"yaelah...aku nggak akan ngapa-ngapain loh. biasa aja tuh muka"


"kamu kan memang harus diwaspadai"


Danial hanya menghela nafas dan membuang pandangan ke atas langit. sementara Jin kembali dalam diamnya memusatkan perhatiannya ke arah lampur yang menghiasai kota.


"sebenarnya hari ini aku ulang tahun" ucap Jin lirih, namun masih di dengar oleh Danial.


Remaja itu refleks menoleh menatap Jin yang masih menatap ke luar sana. Setelahnya Jin memutar kepala membalas tatapan Danial dengan nanar. Ada kesedihan yang tergambar di raut wajahnya yang pucat.


"aku ulang tahun, dan biasanya selalu dirayakan bersama kedua orang tuaku juga adikku. Aku merindukan mereka...aku rindu mereka" suara Jin bergetar, kedua matanya sudah berkaca-kaca. Sesak, begitu sesak yang ia rasakan bagai kehilangan pasokan oksigen yang merenggut nyawanya.


Tanpa berbicara, Danial menarik Jin dan memeluknya. pecah sudah tangisan hantu itu. pundaknya naik turun, bergetar mengeluarkan suara yang membuat ngilu di hati Danial.


Satria yang mendengar suara tangisan, bergerak kembali ke arah balkon. Keningnya mengekerut ketika melihat Danial juga Jin saling berpelukan dan hantu itu dalam keadaan menangis.


"aku rindu keluargaku Dan, aku rindu mereka. Tuhan benar-benar tidak adil, kenapa iblis itu belum juga mati sementara aku diambil nyawaku. Ini nggak adil Dan, nggak adil"


Satria yang masih terhubung dengan seseorang di sambungan telepon, ia langsung mematikan panggilan itu dan mendekati keduanya. Ia pun ikut memeluk Danial juga Jin, memberikan kenyamanan bahwa dia, juga semua orang yang ada di dalam rumah itu adalah keluarga Jin yang sekarang.


"mulai sekarang anggap kami adalah keluargamu Jin. Bukankah ayah juga papa sudah menganggap kamu seperti anak mereka" ucap Satria.


Kala itu Jin hanya mengeluarkan suara tangis. Setelah merasa tenang, ia melepaskan diri dari pelukan Danial juga Satria. Dihapusnya air mata yang membasahi wajahnya yang pucat namun masih terlihat tampan.


"kita rayakan ulang tahun mu" Danial berucap mantap.


"ulang tahun...? Satria mengerjapkan mata kemudian menatap Jin. "kamu ulang tahun Jin...?"


Jin mengangguk pelan, hal itu membuat Satria kembali memeluknya. "selamat ulang tahun kawan, apapun yang kamu hadapi nanti, kami semua akan tetap bersama kamu" Satria menepuk-nepuk punggung Jin.


"aku hubungi teman-teman yang lain" ucap Danial.


"eh jangan" Jin langsung menolak dan mendorong pelan tubuh Satria. "ini sudah malam, lagipula dirayakan atau tidak juga sudah tidak ada gunanya. wong aku sudah mati, ngapain dirayain"


Danial melihat jam tangannya, masih pukul sembilan malam. "masih tempo, lagian kalau mereka tau sudah pasti mereka semua akan datang. Pokoknya kita harus merayakannya"

__ADS_1


"setuju. biar aku yang beritahu di grup" Satria langsung membuka kunci layar ponselnya dan mengirimkan pesan di guru tim awan biru.


Berselang beberapa menit, pesan Satria telah dibalas. Mereka heboh dan bersemangat, bahkan akan berangkat sekarang juga untuk ke rumah keluarga Sanjaya.


"tuh kan apa aku bilang, mereka pasti mau datang" Satria tersenyum lebar.


ketiganya kemudian turun ke lantai bawah untuk menunggu teman-teman mereka. Di lantai bawah itu sudah sepi, semua penghuni sudah masuk ke dalam kamar masing-masing. Danial menuju dapur untuk membuat minuman, agar ketika yang lain datang minuman juga cemilan sudah tersedia.


Suara motor terdengar di depan rumah sebab Jin dan Satria menunggu mereka di ruang tamu. pintu rumah dibiarkan terbuka, tim awan biru mengucapkan salam dan masuk ke dalam.


"taraaaaa" Kirana memperlihatkan kantung plastik di depan Jin. "ini ayam bakar spesial buat yang berulang tahun. Sambalnya mantap poool, kamu pasti suka"


"waaah dapat durian runtuh aku malam ini" segera Jin mengambil kantung plastik itu. "terimakasih Ki, kamu memang yang terbaik deh" Jin mengedip-ngedipkan mata.


mereka berpindah tempat ke ruang tengah. di sana Danial tengah menata gelas juga piring yang berisi berbagai macam kue. sementara Jin, langsung meninggalkan mereka melayang ke lantai atas. ia sengaja sebab mereka akan merayakan ulang tahun Jin di balkon kamar Danial.


Semua orang kini tengah berkumpul di balkon kamar. Saat itu Jin sudah sibuk menikmati ayam bakar miliknya. Tiba-tiba lampu dimatikan sehingga di tempat itu nampak gelap.


"lah kok mati...?" Jin sedikit sebab acara makannya terganggu.


Rupanya dari dalam kamar, Kirana, Ayunda juga Alea membawa kue tart yang telah disimpankan lilin. Semua orang menyanyikan lagu ulang tahun.


Jin berkaca-kaca dengan senyuman yang ia paksakan. Mereka duduk melingkar, sementara Kirana duduk di depan Jin memegang kue ulang tahun itu.


"happy birthday Jin. We love you. Kami akan selalu ada untuk kamu. mari berjuang bersama memburu iblis itu, sampai...sampai masanya nanti kamu akan....akan..." Kirana menggigit bibir karena tidak sanggup melanjutkan perkataannya.


"sampai kamu kembali ke tempat yang seharusnya" Sharlin menyambung ucapan Kirana.


"jangan pernah lupakan kami jika kamu sudah tidak bersama kami lagi nanti ya Jin" Ayunda berucap serak.


"pokoknya kamu harus selalu mengingat kami" Alea sudah menahan tangis.


Jin mengangguk dengan cepat. air matanya sudah luruh terjun membasahi pipinya. Dirinya begitu terharu sekaligus sedih. Bahagia karena menemukan orang-orang sebaik mereka, dan sedih karena suatu saat perpisahan itu pasti terjadi.


"tiup lilinnya Jin" ucap Danial.


Jin menoleh menatap Danial. Remaja itu tersenyum tulus meski pelupuk matanya sudah digenangi air. Jin pun membalas senyuman itu, kemudian meniup lilin itu hingga mati. Tidak lama lampu kembali dihidupkan menjadi terang seperti sebelumnya.


"terimakasih" suara Jin bergetar. "terimakasih untuk kebaikan kalian semua"

__ADS_1


Danial seketika langsung memeluk Jin. Saat itu mereka semua berpelukan, saling menyemangati dan memberikan kekuatan, saling memberikan dukungan bahwa esok hari dengan segala resiko yang harus dihadapi, mereka semua tetap akan bersama.


__ADS_2