
Kedua tangan Sharlin gemetar memegang jam tangan itu. Pikiran negatif mulai menghampiri kepalanya. Pertanyaan bagaimana bisa dan kenapa, berputar di dalam kepala remaja itu.
Tepat ketika dirinya membaca nama yang di jam tangan mahal itu, tubuh Sharlin hampir luruh ke lantai. Bagai tidak mempunyai tenaga, semua tulangnya seakan tidak sanggup menopang tubuhnya.
"Tidak...ini tidaklah mungkin. Aku yakin bukan"
Dalam hati ia meyakinkan bahwa sesuatu yang ia pikirkan itu tidak pernah terjadi. Dirinya harus meminta penjelasan kepada Jin, siapa sosok yang dijadikan wadah oleh iblis itu.
"Shar, bantu aku" Zain memanggilnya sebab remaja itu tidak bisa mengangkat sendiri laki-laki yang bersama Zalifa. Sementara Zalifa telah digendong oleh Jin dan dibawa pergi dari tempat itu.
Sharlin memasukkan jam tangan itu ke dalam kantung celananya kemudian kemudian mendekati Zain dan membantunya memapah laki-laki itu. Mereka membawa dua orang itu ke dalam kelas, sebab kalau di UKS mereka tidak mempunyai kunci ruangan itu.
Tidak lama Danial bersama yang lainnya tiba di sekolah. Satria menghubungi Zain menanyakan keberadaan mereka. Setelah mendapatkan kabar, mereka bergegas menuju ke ruang kelas X.2. Di Ruang kelas merekalah dua orang itu di baringkan di atas meja yang telah dijejer memanjang.
"Tumbalnya dua orang...?" Satria langsung bertanya ketika mereka sampai di dalam kelas.
"Dia yang tadi menjemput Zalifa. Kita berpapasan dengannya saat pulang sekolah" Ayunda menunjuk laki-laki yang terbaring tidak sadarkan diri itu. Ia mengenal pakaian yang dikenakan oleh laki-laki itu
"Lalu apa yang harus kita lakukan. Masa menunggu mereka sampai siuman, bisa-bisa kita tidur di sekolah" Alea menyandarkan punggungnya di kursi.
"Dia sadar" tunjuk Danial kepada laki-laki itu.
Satria mendekatinya dan membantunya untuk bangun. Laki-laki itu kebingungan melihat mereka, apalagi kini dirinya di kelilingi oleh tim awan biru.
"Siapa kalian...?"
"Kami...."
"Astaga Zalifa" ucapan Danial terhenti tatkala laki-laki itu mengingat Zalifa. Ketika melihat gadis itu masih terbaring di atas meja, ia segera turun dan menghampirinya.
"Lifa, bangun dek. Kenapa kamu jadi seperti ini" tangannya membawa kepala Zalifa untuk memeluknya.
Semua orang yang hanya diam melihat, mereka membiarkan laki-laki itu memeluk Zalifa.
"Apakah kakak tidak tau apa yang terjadi pada Zalifa...?" Kirana mulai bertanya setelah laki-laki itu mulai tenang. Ia duduk di samping Zalifa dan membelai kepala gadis itu.
"Aku tidak tau. Saat masuk ke gedung itu, tiba-tiba ada seseorang yang memukulku dari belakang dan aku pingsan. Setelah itu, aku tidak tau lagi apa yang terjadi. Memang kalian tidak tau apa yang terjadi pada adik saya. Bukankah kalian di sekolah ini, kalian pasti tau kan apa yang terjadi padanya"
"Kami juga tidak tau. Sebenarnya kami datang karena ada urusan dan juga teman kami melupakan barangnya di gedung tempat latihan itu. Makanya itu kami bisa tau kalau ada kakak juga Zalifa di sana" Zain berbohong.
Semuanya telah sepakat untuk tidak menceritakan apapun. Biarlah nanti Zalifa yang akan menceritakan sendiri apa yang terjadi padanya. Yang pasti mereka semua telah tau siapa dalangnya.
"Saya sudah menghubungi supir untuk datang menjemput kami. Terimakasih sudah menolong kami" tatapannya memindai satu persatu tim awan biru.
"Sama-sama kak" Zain mewakili teman-temannya.
Setelah Zalifa juga kakaknya meninggalkan sekolah, kini tim awan biru masih berada di ruangan kelas. Mereka semua menatap Jin yang bak sudah menjadi tersangka dalam sebuah kasus.
"Tatapan kalian seperti ingin menelanku hidup-hidup"
"Kamu sudah mati ege" timpal Satria.
"Kakak pasti melihat siapa orang yang kita hadapi sekarang kan. Beritahu kami, siapa orangnya" ucap Sharlin, dirinya begitu penasaran dan berharap semoga bukan pernyataan buruk yang akan ia dengar.
"Tidak...aku tidak tau siapa wujud manusianya" Jin berbohong.
__ADS_1
"Masa sih kamu nggak tau. Dia nggak berubah dirinya menjadi manusia gitu...?" Tanya Satria.
Jin menggeleng dan itu membuat semua orang menarik nafas. Bagaimana mereka akan mengintai iblis itu jika wujud manusianya saja mereka tidak tau.
"Kamu yakin nggak tau kak...?" Sharlin menatap lekat hantu itu.
Jin mengalihkan wajah, dirinya menarik nafas dan menggeleng tanda sebagai jawaban. "Kita pulang, ini sudah larut"
Jin melayang meninggalkan ruang kelas itu. Saat itu tiba-tiba ponsel Sharlin bergetar, di layar benda pipih itu tertulis nama papa, yang berarti Adiatama menghubungi dirinya.
[Ya pah]
[Shar, kamu dimana nak...?]
Tim awan biru saling pandang dan kembali duduk di kursi menunggu Sharlin selesai berbicara dengan papanya.
[Sharlin diluar pah]
[Kenapa masih di luar, ini sudah menjelang larut malam. Pulanglah, papa sudah menyiapkan makanan untuk kita. Ajak teman-teman mu juga]
[Baik pah]
[Ya sudah, pulanglah...papa tunggu di rumah]
"Om Adi ya kak...?" Alea bertanya setelah Sharlin selesai menelpon.
"Iya, kita di suruh pulang"
"Okelah...kita balik sekarang"
_____
Saat mereka tiba, Adiatama tengah membakar jagung bersamaan dengan ia membakar ayam. Danial bergegas mendekati Adiatama dan mengambil alih pembakaran jagung.
"Sharlin, tolong ambilkan sambal kacang yang ada di dalam kulkas" Adiatama memerintah menatap putranya sekilas kemudian sibuk lagi dengan ayam yang ia bakar.
Tanpa menjawab Sharlin bergegas turun ke lantai bawah. Sementara yang lainnya mulai sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
Makanan telah tersedia, kini mereka semua duduk melingkar di tikar. Adiatama tersenyum menatap mereka satu persatu. Hingga kemudian tatapannya berhenti kepada sosok yang duduk di samping Danial, siapa lagi kalau bukan Jin. Adiatama tersenyum sangat tipis bahkan sampai tidak kentara.
"Ayo makan, ini semua harus kalian habiskan" Adiatama membuka suara.
Dengan semangat tim awan biru mengambil porsi masing-masing. Jin pun tidak kalah heboh, melihat ayam bakar yang dicampur dengan saus kacang, membuatnya ngiler melap bibirnya dengan lidah.
"Aku mau yang besarnya Dan" ucap Jin antusias.
"Terus mau makan dimana, nanti om Adi melihat ayam melayang bagaimana" Danial berucap dalam hati.
"Tinggal sembunyi di belakangmu kan bisa. Cepetan Dan, aku lapar" rengekannya bagai anak kecil.
Danial mengambilkan apa yang Jin inginkan kemudian bersembunyi di punggung remaja itu. Lebih tepatnya Jin menghadap ke arah lain dengan punggung yang ia sandarkan di punggung Danial. Sebenarnya meskipun tidak bersembunyi, Adiatama sudah melihatnya. Akan tetapi Jin tidak ingin tim awan biru curiga dengan sikap santainya ikut bersama mereka, sudah pasti mereka akan bingung apakah Adiatama melihat Jin ataukah tidak yang jelas-jelas bersama mereka.
Lepas dengan makan-makan, mereka menikmati kue buatan Adiatama. Selain menjadi kepala sekolah, rupanya laki-laki itu juga pintar memasak.
"Emmm om Adi, sebenarnya ada yang ingin kami berikan" ucap Satria.
__ADS_1
Satu alis Adiatama terangkat, ia kemudian menaruh gelas minuman yang ia pegang. "Mau memberikan apa...?" Tanyanya dengan wajah penasaran.
Semua saling memberikan kode, saling tatap dan mengangguk kepala. Kirana kemudian mengeluarkan sebuah bingkisan dan memberikannya kepada Adiatama.
"Selamat ulang tahun om. Semoga panjang umur, banyak rezeki dan selalu sehat" ucap Kirana.
Adiatama mengambil bingkisan itu dan mengambil isinya. Ketika membukanya, Adiatama nampak terkejut dan kado yang ia terima.
"Astaga... ini jam tangan mahal. Kalian menghabiskan uang kalian hanya untuk membeli ini...?" Satu persatu ia tatap anak-anak itu.
"Kami patungan kok om, jadi tidak terasa mahal. Jangan ditolak ya om" ucap Zain.
Adiatama langsung memakai jam itu di pergelangan tangannya. "Kalian pintar memilih desain bagus. Terimakasih ya, kalian semua anak-anak yang hebat dan juga baik. Semoga suatu saat sikap manis kalian masih tetap sama seperti ini" ada maknan tersirat dalam ucapan itu, dan Jin tau akan hal itu.
"Papa bicara kok aneh gitu" Sharlin akhirnya bersuara. Sejak tadi dirinya terus memikirkan benda yang ia temukan di sekolah tadi.
"Aneh bagaimana, papa kan hanya berharap" Adiatama mengacak rambut Sharlin, kemudian mencolek hidung Sharlin dengan jari kelingking. Hal yang selalu ia lakukan kepada putranya itu. "Kamu harus ingat apa yang selalu papa lakukan ini Shar" Adiatama merangkul bahu Sharlin dan tersenyum hangat.
"Aku bahkan sudah hafal apa yang selalu papa lakukan padaku. Mengacak rambut dan mencolek hidung dengan jari. Sejak kecil papa kan selalu melakukan itu" Sharlin membalas tatapan papanya.
Satu kecupan kasih sayang mendarat di kening Sharlin. "Papa sayang kamu"
"Aku juga"
Tim awan biru terharu melihat pemandangan yang mereka lihat di depan mata. Rupanya Sharlin begitu dekat dengan papanya, itulah yang ada di dalam pikiran mereka.
Suara ponsel yang bergetar membuat Adiatama melepaskan rangkulannya di bahu Sharlin. Ia mengambil ponselnya dan menekan tombol hijau. Wajah seorang wanita cantik muncul di layar ponselnya. Senyumannya yang sumringah membuat Adiatama ikut tersenyum.
"Selamat ulang tahun kakakku sayang" Shafira, melambaikan tangan.
"Tante" Sharlin melambaikan tangan menyapa adik dari papanya itu.
Adiatama memperlihatkan semua orang, Shafira tersenyum rupanya kakaknya tidak lagi merayakan ulang tahun berdua saja dengan sang keponakan, melainkan dengan orang lain.
"Bukankah kamu sedang keluar bersama Ardi" tanya Adiatama.
"Dia sudah pulang, ini kan sudah larut malam"
"Ya sudah kalau begitu kamu tidurlah, jangan begadang terus"
"Iya iya. Kadonya nanti menyusul ya kak. I love you. Semoga tambah ganteng, tambah imut dan dapat jodoh baru"
Adiatama mendelik, namun ia tersenyum karena adiknya itu tidak pernah melewatkan ulang tahunnya meskipun hanya sekedar ucapan. Merasa sudah cukup berbincang, Adiatama mematikan panggilan.
"Apa kalian tau, Ardi yang ternyata sahabat orang tua kalian, melamar adik om tadi pagi" ucap Adiatama
Tentu saja pernyataan itu membuat tim awan biru kaget. "Jadi om Ardi melamar tantenya kak Sharlin...?" Ucap Alea.
"Iya, dan pernikahannya mungkin tidak akan lama lagi"
"Waaah nggak nyangka banget. Baguslah kalau begitu, setidaknya keluarga kita akan semakin dekat" Zain sumringah mendengarnya.
Malam itu setelah menghabiskan waktu bersama, mereka memutuskan untuk istirahat. Adiatama masih berada di dapur, dirinya sedang mencuci piring yang telah digunakan. Tadinya Ayunda juga Kirana dan Alea yang menawarkan untuk mencucinya namun dirinya menolak dan mengatakan kalau mereka adalah tamu, tidak pantas melakukan hal itu.
Sibuk dengan urusannya, tiba-tiba ujung matanya menangkap sosok yang berdiri tidak jauh darinya. Ia mengangkat kepala dan melihat sosok itu. Jin mengambang berdiri tidak jauh darinya.
__ADS_1
"Apakah om masih di situ...?"
Pertanyaan itu membuat Adiatama menyunggingkan senyum dan menatap Jin tanpa berkedip.