
dua bulan berlalu, setelah peristiwa mengerikan yang terjadi di SMA Citra Bangsa, kini kehidupan semua orang normal seperti sebelumnya. Tidak ada lagi siswa-siswi yang meninggal seperti sebelumnya, dan bahkan hutan di belakang sekolah tidak lagi menjadi angker seperti pertama kali berita burung beredar.
Meskipun begitu karena itu adalah hutan, maka pihak sekolah tidak mengizinkan siswa masuk terlalu dalam di hutan itu. Takutnya di dalam hutan itu ada binatang buas yang membahayakan keselamatan mereka.
SMA Citra Bangsa, adalah sekolah favorit yang banyak diminati oleh siswa. Akan tetapi banyak sebagian dari orang tua siswa yang memindahkan anak mereka di sekolah lain. Meskipun begitu tidak mengurangi banyaknya siswa-siswi di sekolah itu.
Bukan hanya siswa lain yang pindah sekolah, tim samudera pun hendak ingin memindahkan anak-anak mereka di sekolah lain. Namun tim awan biru menolak, sebab misi mereka benar-benar belum terselesaikan. Iblis itu masih ada dan entah berada di dalam tubuh siapa, yang pasti mereka tidak ingin meninggalkan sekolah itu sampai mereka berhasil membantu Jin menunaikan sumpahnya untuk menghabisi iblis itu yang tidak lain adalah Sri Dewi.
"kami akan baik-baik saja pah, bukankah papa sama yang lainnya terus memantau kami"
"iya yah, ada Jin juga yang selalu melindungi kami"
itulah jawaban Satria juga Danial ketika El-Syakir dan Adam meminta mereka untuk pindah sekolah. selain iblis itu, mereka juga beranggapan bahwa sekolah anak-anak mereka itu begitu jauh sehingga keduanya berniat untuk memasukkan Satria juga Danial di sekolah yang tidak jauh. Akan tetapi dua remaja itu tidak ingin pindah sekolah. Tim awan biru yang lainnya pun sepakat untuk tidak pindah ke sekolah lain.
malam itu, setelah sholat isya Danial melanjutkan mengaji. sementara Jin berada di balkon kamar Danial, memperhatikan pemandangan kota di malam hari itu.
"apa kamu tidak ingin kembali menjadi manusia Keanu...? aku bisa mewujudkan itu jika kamu mau"
Ucapan ibu Amanda yang dikuasai tubuhnya oleh Sri Dewi, memberikan iming-iming yang sebenarnya sangat Jin inginkan. Ketika berada di alam lain, wanita itu sengaja kabur dari Airin dan membawa Jin ke tempat dimana dia mengira Airin tidak akan menemukannya. tapi nyatanya, Airin tetap menemukan Sri Dewi saat itu.
flashback
"kamu pikir dengan membawaku kemari, akan membuat aku takut padamu. Bahkan kamu berubah menjadi makhluk apapun, aku tidak akan takut padamu" Jin menatap nyalang ibu Amanda.
Wanita itu hanya terkekeh kecil, berjalan dan duduk santai di atas batu. Ia mengambil dua batu kecil dan memainkan di tangannya.
"apa kamu tidak ingin kembali menjadi manusia Keanu...? aku bisa mewujudkan itu jika kamu mau" ibu Amanda tersenyum tipis.
"keinginanku saat ini hanya ingin melenyapkan mu wanita iblis" Jin menjawab dingin.
Ibu Amanda terkekeh, bahunya naik turun dengan kepala yang ia tundukkan. Menurutnya jawaban Jin begitu lucu sehingga wanita itu, tidak berhenti untuk tertawa.
"ternyata kamu adalah arwah yang munafik ya Kean. Aku tau kalau kamu begitu ingin hidup kembali. Kamu tau...? Aku bisa melakukan apapun yang aku mau, termasuk membuat kamu menjadi manusia lagi. Apa kamu tidak ingin berkumpul bersama keluargamu lagi...?" ibu Amanda menatap Jin dengan tatapan menghipnotis. "apa kamu tidak iri melihat anak-anak seusia mu menikmati hidup dengan baik...? aku bisa mengabulkan itu dengan mudah.
"sudahi omong kosong mu itu, orang yang sudah meninggal tidak akan hidup lagi. Lagipula aku tidak ingin kembali, yang aku mau hanya menghabisimu"
ibu Amanda tersenyum tipis dengan kaki yang ia silangkan. "padahal begitu mudah aku melakukannya. Tinggal memilih mau tubuh yang mana. Danial kah, atau Zain, atau juga Sharlin. Jika kamu mengambil alih tubuh mereka, hidupmu akan kembali normal seperti sebelumnya. Memangnya kamu tidak iri dengan kehidupan mereka yang bersenang-senang bersama keluarga, kamu tidak ingin merasakan seperti mereka lagi.."
Siapa yang tidak ingin kembali hidup sebagai manusia lagi. menjadi arwah gentayangan bukanlah hal yang diinginkan, meskipun apapun bisa dilakukan dengan mudah akan tetapi semua itu tidak membuat Jin merasa bahagia.
Kadang selalu menyalahkan takdir, kenapa begitu cepat dirinya diambil Tuhan. Perasaan benci dan kesal kembali berkecamuk di dalam hatinya. tentu saja dalam hatinya begitu ingin kembali menjadi manusia dan mencari keluarganya.
diamnya Jin membuat Sri Dewi tersenyum menyeringai. Sayangnya kata-kata manis yang ia berikan harus berakhir sebab Airin datang tiba-tiba dan menyerangnya.
__ADS_1
Flashback end
"kamu kenapa Jin...?" Danial menepuk bahu Jin kemudian berdiri di samping hantu itu.
"memangnya aku kenapa...?" Jin malah bertanya balik.
"aku lihat kamu beberapa hari ini, kamu sering murung dan melamun. Apa yang kamu pikirkan...?" masih dengan pakaian sholatnya, Danial menemani Jin saat itu.
"tidak memikirkan apapun. Hanya sedang menerka-nerka, iblis itu bersemayam di dalam tubuh siapa saat ini" memang itu sebenarnya yang dipikirkan oleh Jin. Dimana dan siapa, dua kata pertanyaan itu memenuhi kepalanya.
"entahlah, aku juga bingung. Waktu itu kan tidak ada siapapun selain kami, pak kepala sekolah, paman Zidan dan mas Gibran" Danial menghela nafas, dirinya juga penasaran akan hal itu.
"sebenarnya aku mencurigai seseorang" ungkap Jin.
Ucapan hantu itu langsung membuat Danial menoleh ke arahnya. Bahkan badannya sudah sepenuhnya menghadap ke arahnya.
"siapa...?"
tok tok tok
"Danial....makan malam syg" suara Airin terdengar di luar kamar itu.
Mendengar suara bundanya, Danial bergegas kembali masuk ke dalam kamar dan membuka pintu kamar itu.
"baru mau sholat sayang...?" Airin bertanya dengan Ragel yang berada di gendongannya.
"sudah selesai bun, cuman belum ganti baju aja" Danial menjawab sambil mencium pipi Ragel.
"ya sudah, ganti baju gih terus turun di bawah. Bilang sama Jin, ayam bakar untuknya ada di bawah.ayo Ragel sama bunda, kakak Dan mau ganti baju dulu" Airin ingin mengambil kembali Ragel namun bayi itu malah memeluk erat leher Danial.
"na mau" Ragel menggeleng cepat.
"nggak apa-apa bun, biar Ragel sama aku. Nanti kami berdua nyusul ke bawah"
Airin tidak lagi memaksa putra kecilnya untuk ikut bersama dengannya. Semakin dipaksa maka drama paduan suara akan kembali terdengar. Airin turun lebih dulu sementara Danial membawa Ragel masuk ke dalam kamarnya.
"hai kembaran" Jin melambaikan tangan ketika Ragel sedang di dudukkan di kasur.
"Jin... Jin" Ragel bertepuk tangan senang. ia memang selalu girang jika bersama dengan Jin. Bagaimana tidak, hal ekstrim mereka sering lakukan berdua. Jin mengajaknya terbang, tentu saja Ragel begitu suka dan bahkan ketagihan.
Jin melayang mendekati Ragel dan mendudukkan tubuh Ragel di pangkuannya.
"menghitung yuk. nanti kalau benar, aku ajak terbang tinggi. Mau nggak...?"
__ADS_1
"mau mau mau" Ragel langsung mengangguk semangat empat lima.
Danial yang mencari pakaiannya di lemari melirik sekilas ke arah dua laki-laki beda generasi itu. Kalau sudah ada mereka berdua, kamar Danial di sulap menjadi kapal pecah.
"ayo mulai" perintah Jin.
"atu, uwa, iga, papat, Ima, nanam, bilan, puyuh holeeeeee" tangan kecilnya bertepuk tangan, begitu senang bagai mendapatkan hadiah.
"hadeeeh... selalunya tujuh dan delapan selalu hilang" Danial menggeleng kepala.
Jin terkekeh begitu gemas dan menciumi leher Ragel, alhasil bayi itu cekikikan karena geli.
"tujuh dan delapan kok nggak di sebut. Ulang ah, nggak bisa terbang kalau masih salah"
"ulang agi...?" mata bulatnya menatap Jin.
"iya, ulang lagi" Jin mengangguk.
"atu, uwa, iga, papat, haaah apeeek" Ragel malah berbaring di kasur.
belum apa-apa bayi itu sudah mengeluh capek. Selalunya seperti itu dan hal itu membuat Jin menggelitik perutnya saking gemasnya.
Makan malam telah selesai, larut malam mulai menghampiri. rumah besar itu mulai sepi namun Satria dan Danial masih berada di ruang keluarga mengerjakan tugas mereka. Tugas prakarya yang harus dikumpulkan besok. Saat ini keduanya sedang membuat rumah khas pedesaan.
"pagarnya mau pakai warna apa...?" tanya Satria.
"pagar bambu kan...?" Danial menjawab sambil menempelkan tiang penyangga di bagian teras.
"eh iya, bukan beton kan ya...?"
"bukanlah....ini kan rumah pedesaan zaman dulu"
"ribet banget sih" Jin ternyata menemani keduanya saat itu.
"hoaaam" Satria menguap lebar. Dilihatnya jam tangannya, sudah pukul sebelas malam. "lanjut besok aja ya Dan, ngantuk banget aku. Besok kan pelajaran terakhir prakarya"
Danial ikutan menguap sambil meregangkan otot-otot tubuhnya. "ya sudah, lanjut besok di sekolah"
Semua peralatan mereka di bereskan dan keduanya naik ke lantai dua masuk ke dalam kamar masing-masing.
Danial sudah tertidur dengan pulas. Ada Jin yang berdiri di samping ranjang dan terus memperhatikan wajah teduh Danial yang sedang pulas.
"padahal begitu mudah aku melakukannya. Tinggal memilih mau tubuh yang mana. Danial kah, Satria, atau Zain, atau juga Sharlin. Jika kamu mengambil alih tubuh mereka, hidupmu akan kembali normal seperti sebelumnya. Memangnya kamu tidak iri dengan kehidupan mereka yang bersenang-senang bersama keluarga, kamu tidak ingin merasakan seperti mereka lagi.."
__ADS_1
Perkataan ibu Amanda kembali terngiang di kepala Jin. bagai sudah melekat seperti magnet, meski Jin berusaha menampik untuk tidak peduli, akan tetapi ucapan itu selalu menghampiri pikirannya dan menggerakkan hatinya untuk melakukan sesuatu.
Tangannya terulur ke depan dan mengelus kepala Danial dengan lembut. "maaf Dan" tidak ada kata lain selain ucapan maaf yang keluar dari mulutnya.