Panggil Aku Jin

Panggil Aku Jin
Episode 23


__ADS_3

pagi hari Danial telah siap dengan seragam sekolahnya. Airin sebenarnya masih tidak mengizinkan putranya itu untuk ke sekolah namun Danial terus saja merengek dan meminta kepada ayahnya untuk menjelaskan kepada bundanya kalau dirinya sekarang sudah baik-baik saja.


"aku sudah sehat loh bun, lihatlah anak bunda ini sudah bisa mengangkat yang berat-berat" Danial mengangkat kursi yang ada di dekat ranjangnya, untuk membuktikan kalau dirinya sekarang sudah sembuh namun Airin tetap dengan pendiriannya


"ayah" Danial merengek di samping Adam, anak itu menggoyangkan lengan ayahnya untuk meminta pembelaan


"sayang, sepertinya anak kita ini memang sudah sembuh. lihatlah, dia sudah bisa merengek tidak seperti semalam yang macam kucing di siram air. diam dan suaranya hilang. menatap kamu saja dia nggak berani" Adam melirik Danial yang sedang mencuri pandang ke arah bundanya


mendengar ucapan suaminya, Airin menghela nafas kemudian melambaikan tangan kepada Danial agar mendekat ke arahnya yang sedang duduk di sofa. Danial melepas tangannya dari lengan sang ayah dan menghampiri bundanya.


"bunda akan mengizinkan kamu untuk ke sekolah, tapi ada syaratnya"


"syarat...?"


"humm...kalau nggak mau menerima syarat dari bunda berarti kamu nggak boleh ke sekolah"


Danial yang ditatap oleh bundanya, mengalihkan pandangan ke arah ayahnya yang sedang duduk di ranjang miliknya.


"nggak usah minta pembelaan sama ayah, ayah kamu itu tetap akan takluk sama bunda" Airin mengedipkan mata ke arah Adam


"ih bunda genit" Danial menahan senyum melihat bundanya menggoda ayahnya


"ya ampun Ay, jantung aku makin nggak karuan ini. macam gendang bertalu-talu. sayang banyak-banyak tumpah-tumpah lumer-lumer deh Ay" Adam menyatukan kedua tangannya membentuk hati


"kok Ay sih mas...?"


"singkatan dari Ayang, bagus kan kayak ada manis-manisnya gitu aku panggil Ay" Adam membalas mengedipkan mata, Airin menjadi tersipu


"idih...ayah ternyata juga genit" Danial mencibir


"genit sama pasangan halal itu nggak ada dosanya loh nak. nanti kamu juga akan merasakan jika suatu saat kamu sudah menikah. sekarang bagaimana, mau terima syarat dari bunda nggak...?"


Danial yang mengarahkan mata ke arah Adam, kini memutar kepala untuk melihat wajah bundanya.


"syaratnya nggak aneh-aneh tapi kan...?" entah mengapa Danial seakan takut bundanya memberikan syarat yang susah


"nggak, jadi gimana...?"


"ya udah deh. apa syaratnya...?"


Danial akhirnya menerima syarat dari bundanya, sementara Adam tanpa ikut campur, dirinya hanya memantau keduanya dari ranjang tempat Danial.


"bunda tau kamu punya teman" Airin kini mulai memasang wajah serius


"ya iyalah bun, teman aku kan banyak. ada Satria, Zain dan juga..."


"bukan itu maksud bunda" Airin memotong ucapan anaknya


"Ay" Adam memanggil pelan, ia menggeleng kepala


"aku yakin mas, sangat yakin" Airin membalas tatapan Adam


"tapi nggak harus di sini Ay"


"justru sekarang waktu yang tepat mas"


Danial melihat kedua orang tuanya menjadi bingung dan menggaruk kepala.


"ada apa sih bun....yah..?" akhirnya Danial bertanya menatap bergantian wajah kedua orang tuanya


semalam setelah mereka menemukan Danial yang hilang dari rumah sakit. Airin memberitahu Adam akan menanyakan kecurigaannya itu kepada anaknya. dirinya benar-benar yakin kalau putranya itu memiliki teman gaib dan hal itu bisa ia rasakan.


"aku pernah menjadi penguasa wilayah kerajaan gaib mas, aroma dan bau mereka tentu saja aku tau" ucap Airin saat dirinya berbincang dengan Adam larut malam itu


"tapi kalaupun ada, pasti aku akan melihatnya juga sayang, tapi ini aku nggak pernah melihat Danial bersama sosok gaib"


"itu karena dia tidak memperlihatkan diri, tapi aku sangat yakin saat Danial berbicara sendiri di dalam kamar waktu itu dan aku merasakan kehadirannya meskipun dia menghilang setelah aku datang"


"kamu yakin sayang...? aku kok jadi ragu"


"aku tetap akan memaksa Danial untuk bicara"


dan saat inilah Airin dan putranya duduk saling berhadapan. wajah serius Airin membuat Danial tiba-tiba merasakan hal yang tidak enak.


"k-kenapa bun...?" dengan terbata Danial bertanya


"bunda tau kalau kamu mempunyai teman tak kasat mata, benar kan yang bunda ucapkan"


Deg


bagai melakukan sebuah kejahatan dan dirinya tertangkap basah, Danial berkeringat dingin dan bahkan kedua tangannya merasakan hawa dingin yang begitu membuat dirinya ketakutan. Danial mematung dan menelan ludah, jemarinya diremas dengan perasaan cemas dan gelisah.

__ADS_1


"jawab Danial Zabdan Sanjaya" ucap Airin penuh penekanan


"m-mana mungkin aku punya teman gaib Bun" Danial menunduk, tidak berani menatap kedua netra mata bundanya


"kamu tidak ingin jujur dengan bunda dan juga ayah...? bagaimana kalau nanti bunda menemukan temanmu itu dan bunda siksa dengan memanggil ustad"


"jangan" refleks Danial menolak


Adam beranjak dari ranjang rumah sakit itu dan melangkah mendekati anak dan istrinya. Adam duduk di samping Airin kemudian memegang kedua tangan Danial yang sudah berkeringat.


"memang benar kalau kamu punya teman gaib nak...?" tanya Adam dengan lembut


"nggak yah, aku kan takut setan, jadi mana mungkin aku punya teman hantu" Danial menggeleng, tetap menunduk dan tidak berani menatap mata kedua orang tuanya


dirinya tidak mungkin menceritakan yang sebenarnya kalau ia memiliki teman gaib yaitu Jin. bisa-bisa Jin dipaksa berpisah dengannya dan Danial tidak ingin itu terjadi. bagaimanapun juga mereka harus memecahkan kasus di sekolah sebelum Jin diketahui keberadaanya. dan juga Danial sudah nyaman berteman dengan hantu itu meskipun Jin kadang cuek terhadapnya. namun melihat sikap hangat Jin kemarin, Danial semakin tidak ingin dipisahkan dengan hantu itu.


"Danial, kamu kenapa keras kepala sih nak"


"assalamualaikum"


pintu terbuka lebar, teman-teman Danial datang menjemputnya di rumah sakit. Danial bernafas lega saat anak-anak tim samudera itu datang tepat waktu. dirinya bisa terselamatkan dari desakan kedua orang tuanya untuk jujur mengenai teman tak kasat mata.


"wa alaikumsalam" ketiganya menjawab


mereka mendekati Adam dan Airin kemudian mencium tangan keduanya.


"ayo Dan, udah telat nih" Zain melihat jam tangannya


"Bun, yah... Danial ke sekolah dulu ya" Danial mencium tangan kedua orang tuanya


"hati-hati ya, kalau sudah waktunya pulang walaupun pak Samsul belum datang, kalian jalan kaki saja sampai di jalan raya dan menghubungi ayah atau orang tua kalian" Adam memberikan nasehat


"iya yah"


"iya om"


"ayo Ay, kita antar mereka ke depan sekalian kita juga pulang ke rumah" ajak Adam


Airin mengangguk kemudian mengambil tas perlengkapan pakaian Danial. mereka meninggalkan kamar itu menuju lobi rumah sakit.


"pak Samsul, hati-hati ya" ucap Airin saat mereka telah tiba di parkiran


segera anak-anak itu masuk ke dalam mobil, setelahnya mobil itu bergerak meninggalkan rumah sakit.


"sudah jangan terlalu di pikirkan, anak kita akan baik-baik saja" Adam mengelus pundak Airin


"iya" Airin tersenyum dan mengangguk


"ke hotel yuk Ay" bisik Adam di telinga Airin


"ke hotel...? ngapain mas...?" kening Airin mengkerut


"bikin adik untuk Ragel"


plaaaak


Airin memukul lengan suaminya itu, benar-benar tidak habis pikir dengan pikiran laki-laki itu.


"jangan aneh-aneh deh mas. Ragel baru satu tahun lebih, masa sudah mau punya adik"


"ya nggak apa-apa, selama aku bisa menafkahi kalian kan nggak jadi masalah"


"emang iya, tapi aku belum siap. nanti sajalah kalau Ragel sudah besar"


"kalau gitu kita cicil aja dulu sampai nunggu Ragel besar. kepalanya dulu, baru tangannya setelah itu yang lainnya lagi. nah setelah Ragel besar kan, dia juga sudah lengkap tinggal launching aja"


"ya ampun mas, kamu ini. bilang aja mau itu di hotel, nggak usah bawa-bawa mau bikin adik buat Ragel"


"hehehe...kok tau sih Ay, dukun ya" Adam cengengesan dan mencolek dagu istrinya dengan mesra


Airin memutar bola matanya dan meninggalkan Adam masuk ke dalam mobil.


"kok di tinggal sih Ay" Adam ikut masuk ke dalam mobil "gimana, mau nggak ke hotel" Adam memakai sabuk pengaman


"di rumah kan bisa mas, lagian kasian ibu seharian jagain Ragel. kita pulang aja ya. nanti malam aku kasih servis plus plus deh" Airin tersenyum nakal


"okeeeeh... demi servis plus plus, apa sih yang enggak buat ibu negara"


Adam semakin bersemangat, sepanjang jalan dirinya bersiul dan sesekali mengedipkan mata ke arah istrinya. Airin hanya tertawa menanggapi sikap suaminya itu.


di sekolah setelah Danial dan teman-temannya masuk ke dalam kelas, rumor tentang semalaman pun mulai terkuak. padahal baru semalam namun pagi ini keberadaan mengenai Zalifa yang hampir mati di lingkungan sekolah, mulai terdengar dari telinga ke telinga yang lain.

__ADS_1


"yang benar kamu...?" Aretha tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya


"benaran, tadi ya kakaknya Zalifa datang dan menemui kepala sekolah di ruangannya" ucap Selvia


"ih kok ngeri sih, ngapain juga Zalifa mau bunuh diri" Ramon bergidik


"kenapa sih...?" Satria yang tidak tahu menahu soal kejadian itu, penasaran dan bertanya


"semalam siswi X.4 hampir mati bunuh diri dari lantai tiga" jawab Kelvin


"bunuh diri...? kok bisa...?" Ayunda menimpali


Danial yang tau tentang kejadian itu, hanya diam tanpa menanggapi. dirinya sedang mencari seseorang namun sampai saat itu ia belum juga melihat Sharlin di ruangan itu.


"ya bisalah Ay kalau punya niatan dari awal. tapi ya, aku lihat tadi Kamila dan Ananta dipanggil ke ruangan kepala sekolah. sepertinya mereka terlibat deh" ucap Aretha


"jangan-jangan memang mereka terlibat. kan sering tuh mereka membuli Zalifa cuman nggak ada yang berani lapor. untungnya pak Hamzah tau hal itu karena keduanya kepergok sedang mengintimidasi Zalifa di toilet" ucap Selvia


"tapi semalam kan kita nggak menemukan Zalifa. Ananta juga nggak mengatakan apapun kalau ada Zalifa di sekolah itu. dia hanya mengatakan kalau Kamila kerasukan. apa mereka memang sengaja tidak memberitahu sehingga Zalifa kita tinggal seorang diri" Kirana berkata pelan, tidak ingin didengar oleh orang lain


"aku nggak mau suudzon sih ya, tapi setelah mendengar pak Hamzah bilang kalau Zalifa adalah siswi yang dibuli mereka berdua, mungkin apa yang dikatakan Kirana ada benarnya" Alea berpendapat


"terus keadaan Zalifa bagaimana sekarang...?" tanya Danial


semalam mereka tidak lagi mencari tahu bagaimana keadaan gadis itu setelah selamat dari maut. Danial penasaran, apakah gadis itu baik-baik saja sekarang atau kondisinya parah.


"ya nggak tau, coba tanya sama sahabatnya...siapa tau dia tau bagaimana keadaan Zalifa" jawab Selvia


"semoga dia baik-baik saja" gumam Danial


sejak pagi tadi Danial tidak melihat keberadaan Jin. bahkan telah dipanggil beberapa kali, hantu itu tidak juga memunculkan diri. hingga tidak lama Sharlin masuk ke dalam kelas dan berdiri di depan semua teman-temannya.


"ibu Kahiyang tidak jadi masuk hari ini, dia berpesan untuk mengerjakan soal dihalaman 60 dan di kumpul saat jam istirahat" Sharlin menyampaikan pesan


"kamu dari kantor ya Shar, bagaimana Ananta dan Kamila, di hukum apa sama papa kamu...?" Mona bertanya


"papa...?" serentak Danial dan teman-temannya berucap, saling pandang satu sama lainnya


"kalian nggak tau ya, apa memang pura-pura nggak tau...?" Ramon menelisik wajah mereka satu persatu


"nggak, emangnya papanya Sharlin berhak ya menghukum Kamila dan Ananta...?" tanya Zain


"ya iyalah, papanya kan kepala sekolah di sini. masa kalian nggak tau"


"kepala sekolah...?" lagi-lagi mereka terkejut


sungguh mereka tidak tau soal itu jika bukan hari ini. pantas saja kemarin-kemarin Sharlin selalu pulang bersama kepala sekolah mereka, ternyata mereka adalah anak dan ayah.


"itu urusan sekolah, kita nggak perlu tau. kerjakan saja tugas dari ibu Kahiyang" Sharlin menjawab pertanyaan Mona kemudian berjalan ke arah tempat duduknya


sepanjang jam pelajaran, Danial tidak fokus. dirinya terus memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya dengan mereka. semua orang sedang sibuk mengerjakan soal, Danial malah sibuk menekan ujung pulpennya hingga menimbulkan suara.


"kamu kenapa sih kak, melamun aja dari tadi" Alea menegur Danial


"nggak kenapa-kenapa"


Danial melihat ke arah Sharlin, remaja itu sedang sibuk mengerjapkan soal di buku tulisnya.


pelajar pertama berkahir, Sharlin menyuruh semua teman-temannya untuk mengumpulkan buku tugas mereka di atas mejanya. saat Danial yang maju, Sharlin mengangkat kepala melihat remaja itu.


"temani aku ke kantor bawa ini" ucap Sharlin


sebenarnya alasannya bukan hanya itu, Sharlin ingin membicarakan persoalan semalam bersama Danial.


"oke" Danial mengangguk "kalian duluan aja ke kantin, aku mau temani Sharlin dulu ke kantor" Danial memberitahu teman-temannya, mereka mengangguk


"eh nanti kita kerja kelompok dimana...?" tanya Alea


"kerja kelompok apa...?" Kirana bertanya bingung


"kan kita punya tugas kelompok dari ibu Amanda" jawab Alea


"nanti saja dibahas, setelah pulang sekolah" jawab Sharlin sambil tersenyum ke arah gadis itu


Alea pun membalas senyuman itu, dalam hati dirinya memuji ketampanan Sharlin saat remaja itu tersenyum. sepertinya Sharlin telah menjadi crush untuk seorang Queen Alea.


"ayo Dan" ajak Sharlin


"ayo"


Danial dan Sharlin menuju ke kantor sementara Satria serta lainnya berjalan ke arah kantin. tugas mereka telah di kumpulkan kepada ibu Kahiyang, Sharlin kemudian mengajak Danial ke tempat sepi. mereka berjalan gudang dan memilih untuk berbicara di belakang gedung itu.

__ADS_1


__ADS_2