Panggil Aku Jin

Panggil Aku Jin
Episode 29


__ADS_3

pintu kamar dibuka dengan begitu pelan, padahal sebenarnya tidak menimbulkan suara namun dalam keadaan tidak ingin ketahuan maka kehati-hatian itu begitu melekat dalam diri.


kepala Danial juga Satria menyembul keluar. keduanya melihat ke arah kamar orang tua masing-masing. sementara Jin sudah berada di dekat tangga.


"apa yang kalian periksa, ayolah cepat" Jin mencebik melihat keduanya masih enggan untuk keluar.


"ayo gays" ajak Danial.


keluar dari kamar Danial, mereka menepaki satu persatu anak tangga untuk turun ke lantai bawah. bagai sepasang kekasih yang ingin melarikan diri dari rumah karena tidak direstui oleh kedua orang tua mereka, anak-anak itu berjalan pelan dan sampai di lantai bawah.


"bagaimana Jin...?" tanya Satria


"aman" Jin menggerakkan tangan memanggil mereka untuk mengikutinya sampai di ruang tengah.


melewati ruang tengah mereka tiba di ruang tamu. Jin menembus pintu besar berwarna coklat itu sementara Zain membuka pintu hingga mereka kini telah berada di teras rumah.


"sembunyi dulu, aku mau menangani dua orang sana" Jin menunjuk dua orang yang sedang berjaga di dekat gerbang pagar.


Jin melayang ke arah samping rumah, mengambil pot bunga yang besar dan membuangnya ke pagar beton yang mengelilingi rumah itu.


praaaaang


"apaan tuh Wan...?" keduanya terlonjak kaget.


"nggak tau, ayo lihat mana tau maling lagi"


dua orang itu berlari menuju ke samping rumah yang hampir mendekati belakang rumah. di saat itu juga, anak-anak itu bergegas dengan tergesa-gesa keluar dari gerbang rumah dan berlari menjauh.


"kenapa bisa pot bunga ini dilempar di sini Wan...?" pot bunga itu hancur berserakan di tanah.


"ya mana aku tau, aku kan bersama dengan kamu tadi"


"jangan-jangan benaran ada maling ini"


"kita periksa sekeliling rumah, bisa gawat kalau ada maling. tapi mereka masuk lewat mana, pagar dari tadi kita jaga"


"namanya maling pasti punya banyak cara. ayo berpencar, kamu ke arah kanan. kita bertemu di samping rumah dibagian sana"


keduanya berpencar untuk memeriksa setiap sudut rumah sementara Jin sudah pergi menghilang.


"mana taksinya kak...?" tanya Alea.


"itu, taksinya datang" Sharlin menunjuk dua mobil yang menghampiri mereka.


para lelaki masuk ke dalam mobil yang sama begitu juga perempuan. bergerak pelan, dua mobil itu membawa mereka ke rumah Sharlin. berkisar 20 menit, mereka berhenti di gerbang rumah yang dua tingkat, begitu modern dan terlihat mewah. namun tidak mengalahkan mewahnya rumah keluarga Sanjaya.


seseorang yang berjaga berada di pos penjagaan, buru-buru mendekati pagar dan membukanya. ia berpikir itu adalah mobil majikannya yang akan masuk ke dalam halaman, namun rupanya yang turun hanya anak-anak remaja berjumlah tujuh orang.


"den Sharlin"


"pak Gani, kok masih jaga saja. bukannya kalau malam pak Kusman yang jaga ya pak" Sharlin mendekati pak Gani.


"anaknya pak Kusman sakit, jadinya saya yang jaga den. Aden dari mana, kenapa pulang larut malam begini...?" pak Gani melihat Danial dan teman-temannya yang berkerumun di satu titik.


"aku datang mau ambil mobil pak. papa belum pulang...?" Sharlin ikut melihat ke arah teman-temannya.

__ADS_1


"belum, mungkin ada urusan di kantor sampai tidak pulang. kalau di sekolah mana ada sampai malam begini. lagian den Sharlin pulang ambil mobil mau kemana...?"


"mau ke rumah teman pak, aku sudah izin sama papa mau nginap di rumah teman. aku ambil mobil dulu ya pak"


"ya sudah, itu teman-temannya tidak diajak masuk dulu...?"


"nggak usah pak, kami buru-buru" Danial menjawab sambil tersenyum.


Sharlin berlari ke arah garasi mobil, memasuki mobilnya dan menyalakan mesinnya. perlahan mobil itu bergerak mundur kemudian keluar dari gerbang dan berhenti di pinggir jalan.


"pak Gani, kami pergi dulu ya" ucap Sharlin


"hati-hati den"


masuk ke dalam mobil dan meninggalkan rumah pak Adiatama, kepala sekolah di SMA Citra Bangsa. anak-anak itu kini menuju ke sekolah tempat mereka semua menimba ilmu.


jarak sekolah yang memang lumayan jauh, hampir satu jam mereka tiba di lorong sekolah. masuk menyusuri jalan itu dan berhenti di parkiran khusus untuk siswa-siswi.


"kok serem ya" Kirana melihat ke arah luar, begitu gelap sebab tidak ada penerangan.


"kalau kamu takut, tunggu di mobil saja" timpal Ayunda.


"nggak ah, lebih parah juga kalau aku sendirian di mobil"


semua orang turun mengikuti Jin yang melayani masuk ke halaman sekolah di parkiran khusus untuk para guru.


"sembunyi, ada yang datang" perintah Jin.


tergesa-gesa mereka berlari bersembunyi di samping mobil. pak Hamzah yang ternyata datang ke tempat itu mendekati mobil tempat mereka bersembunyi. ia membuka pintu mengambil kantung plastik berwarna merah, setelahnya kembali ia menutup pintu mobilnya dan berjalan semakin jauh.


"jadi apa rencana kita selanjutnya...?" tanya Satria.


"kalian berpencar saja. sebagian berjaga di belakang sekolah dan sebagiannya berjaga di sini. jika ada siswa-siswi yang datang, kita dapat melihat mereka" ucap Jin.


pembagian kelompok pun dilakukan. Sharlin, Danial dan Alea akan berjaga di belakang sekolah sementara yang lainnya akan berjaga di tempat itu.


"lalu Jin akan ikut siapa...?" tanya Alea.


"aku harus memeriksa ke dalam sana" Jin menunjuk hutan di belakang sekolah. "aku harus memastikan sesuatu"


"kamu mau mengantar nyawa kepada iblis itu...? nggak ya aku nggak setuju" Danial menggeleng.


"tenang saja, aku akan baik-baik saja. aku pergi dulu" Jin menghilang begitu saja.


mereka mulai melakukan tugas. Danial Sharlin dan Alea bergerak ke belakang sekolah. berjalan di tempat gelap agar tidak terlihat. mereka berhenti di belakang perpustakaan. sialnya, cahaya senter menyinari mereka. secepat mungkin mereka bersembunyi di pohon yang ada di belakang gedung perpustakaan. cahaya senter itu semakin mengarah ke arah perpustakaan.


"tidak ada apapun di sini, kita ke tempat lain saja" suara pak Danu terdengar di telinga mereka.


"kita ke depan saja" ucap pak Rahim.


kedua guru itu pergi menjauh, ketiganya dapat bernafas lega.


hampir menjelang subuh bahkan kini sudah jam empat subuh namun tidak terjadi apapun di sekolah itu. pukul setengah lima pagi, ponsel Satria mengeluarkan suara adzan.


"hoaaam... hubungi Danial Sat, kita harus pulang. bahaya kalau orang rumah tidak menemukan kita di dalam kamar" Zain berbicara sambil menguap.

__ADS_1


tanpa dihubungi tiga remaja itu telah datang. Sharlin memberikan kunci mobilnya karena Danial yang akan menyetir. tersisa 30 menit sebelum mereka tiba di rumah. dalam waktu 30 menit itu, mereka harus sudah bisa sampai di rumah keluarga Sanjaya.


suara derit ban yang bersentuhan dengan aspal jalanan, Danial begitu kencang mengemudi. di kabin belakang, Ayunda mulai pucat, perutnya bagai dikocok dan ingin muntah saat itu juga. bagaimana tidak, Danial bagai pembalap yang menyelinap di setiap kendaraan yang mulai meramaikan jalan di subuh itu.


"Ay...kamu pucat banget, jangan muntah di si..."


hueeeeek


"AAAAAAy"


belum mengakhiri ucapannya, Ayunda sudah muntah di paha Alea. gadis itu histeris dan begitu kesal.


"Danial sialan, kamu mau bunuh aku ya" Ayunda mengumpat, begitu lemas kini saat ini. Kirana melap keringat di dahi sahabatnya itu sementara Alea membersihkan muntahan Ayunda menggunakan air mineral yang diberikan oleh Satria.


"kamu mau muntah juga...?" tanya Jin kepada Sharlin. keduanya duduk di samping Danial yang sedang fokus menyetir.


"nggak lah, kak Kean kan tau kalau aku nggak pernah muntah walaupun balap seperti ini. memangnya kakak lupa waktu mengajak aku jalan-jalan dan kakak bahkan sempat bertarung balapan dengan teman kakak"


"iya, waktu itu malah Ningsih yang histeris sedang kamu malah tertawa-tawa" Jin tersenyum mengingat kisah hidupnya dulu bersama sahabatnya.


gadis cantik yang bernama Ningsih Permatasari, dimana ada dia maka gadis manis itu akan berada di sampingnya.


ciiiiit....


harusnya Danial berhenti jauh dari rumah, namun ternyata dirinya kebablasan dan berhenti di depan rumah. satu mobil hendak keluar dari pagar rumah itu.


"Dan, itu....ayah, bunda dan papa" Satria menunjuk ke depan.


Adam, El-Syakir dan Airin terlihat turun dari mobil. anehnya Airin berlari cepat menghampiri mobil itu. Jin hendak menghilang namun sayang, Airin berhasil menangkapnya saat itu juga.


"SIAPA KAMU...?"


suara Airin yang begitu keras membuat anak-anak itu panik dan takut. Jin kini dicekik olehnya, tubuh hantu itu terangkat ke atas.


"Jin"


"kak Kean"


Sharlin dan Danial biru keluar begitu juga yang lain.


"bunda lepas bunda, Jin bukan makhluk jahat, dia baik bunda" Danial mencoba melepaskan tangan Airin namun wanita itu malah mendorong putranya hingga terkapar di tanah.


"astag Ay" Adam tentu kaget, ia membantu Danial untuk bangun.


"berani sekali kamu masuk ke dalam lingkungan keluargaku" sorot mata Airin begitu tajam, anak-anak itu begitu takut melihat Airin yang saat itu. aura mistis itu begitu terasa.


uuughhh.


Jin kesakitan, lehernya begitu sakit dicekik oleh Airin. air matanya mengalir, ia menatap sendu Danial yang hendak menolongnya.


"Dan" panggilnya dengan begitu lirih.


"Jin.... lepas bunda...lepasin" Danial memeluk kaki Jin dan ingin menurunkan tubuhnya.


sayangnya Airin tidak mempedulikan teriakan putranya. dirinya semakin keras mencekik leher Jin hingga kini Jin semakin kesakitan.

__ADS_1


__ADS_2