Panggil Aku Jin

Panggil Aku Jin
Episode 34


__ADS_3

"oh my ghost.... gurunya ganteng bingiiiiiiit, aaaa kayak artis Korea nggak sih" Aretha belingsatan melihat guru baru yang baru saja memasuki kelas mereka.


Sedang tim awan biru masih melongo dengan wajah bodoh mereka. Bagai orang yang seketika seakan hilang kesadaran. Bagaimana tidak, orang yang begitu mereka kenal sekarang ini menjadi guru mereka.


"demi apa, dia guru baru kita...? fix dia harus jadi crush gue" Selvia mulai memberikan label.


"emang dia mau gitu jadi crush kamu, perbedaan kalian bagaikan langit dan bumi woi. Ngaca sana ngaca" Ningsih mengejek.


"menghayal dulu nggak apa-apa kali Ning, siapa tau Tuhan mengabulkan kan. Oh ya ampun ganteng banget calon suami gue" Selvia menatap kagum.


"ini aku nggak salah lihat kan...?" Danial mengucek mata berulang kali dan bahkan menutup mata cukup lama kemudian membukanya lagi, dan tetap saja itu semua bukanlah mimpi.


"aduh...baru kali ini loh aku lihat dia memancarkan aura ketampanan begitu. Jadi klepek klepek aku" Ayunda mulai oleng.


Pletak


"aw... sakit Satria"


"itu mata nggak bisa lihat yang bening bening ya. Play girl banget, mau aku laporin sama mama kamu" ancam Satria kepada Ayunda.


"yeeee nggak asik banget sih, mainnya ngancam ngancam" Ayunda mencebik dan cemberut.


"selamat pagi semuanya" sapa sang guru.


"pagi pak"


"pak udah punya pacar nggak sih...?" Aretha tiba-tiba mengajukan pertanyaan.


"idih... gercep banget lu main nanya aja" Selvia geleng kepala.


"pak punya IG nggak...?"


"minta nope nya dong pak"


"alamatnya dimana pak"


tingkah para siswi membuat dia yang baru saja masuk sebagai guru di sekolah itu, geleng kepala dan menghela nafas. sepertinya kesabarannya di uji oleh anak ingusan.


"kalau kalian tidak tenang maka silahkan keluar dan berjemur di bawah sinar matahari" ucapnya tegas.


Hening......


Seketika semuanya diam dengan posisi duduk tenang dan patuh.


"perkenalkan nama saya Gibran Sanjaya, kalian bisa memanggil saya dengan panggilan bapak Gibran. Saya guru penjaskes di sekolah ini"


Gibran Sanjaya, dialah yang menjadi guru baru di sekolah SMA Citra Bangsa hari ini. Kedatangannya membuat tim awan biru melongo dan tidak percaya. bagaimana bisa laki-laki yang berparas tampan itu bisa menjadi guru sementara keahliannya adalah CEO di restorannya sendiri. bahkan sudah banyak cabang dimana-mana dan eh ternyata laki-laki itu malah nyasar di sekolah mereka.


"kak Gibran kok bisa jadi guru di sini...?" Kirana mengajukan pertanyaan.


"eh sok dekat banget anjir, pake kak segala. Sejak kapan dia jadi anak ibumu" Rahel mencibir dan menatap tidak suka kepada Kirana.


"maksud saya bapak Gibran" Kirana meralat ucapannya.


Gibran tersenyum, pasti anak-anak itu penasaran dan ingin tau apa yang membuat dirinya datang menjadi seorang guru di sekolah itu.


"itu karena kalian" jawaban Gibran membuat tim awan biru paham namun tidak dengan yang lain.


"karena cewek centil itu pak...?" ucap Rahel.


"siapa yang kamu bilangkan centil Anabelle" Alea menjawab dengan suara lantang.


"what Anabelle kamu bilang...?" Rahel shock dan kesal.


Siswa siswi menertawakan Rahel saat itu juga. Sharlin hanya menggeleng kepala, gadis itu begitu berani juga ternyata.


"sudah sudah tidak perlu ribut. Hari ini jam pelajaran pertama akan di isi dengan pelajaran saya, jam kedua barulah ibu Amanda yang akan mengajar. Siapa ketua kelasnya di kelas ini...?"


"saya pak" Sharlin mengangkat tangan.


"terus wakilnya siapa...?"


"saya pak, Anjani angkat tangan"


"Ganteng dan cantik ya, pintar juga wali kelas kalian memilih ketua kelas. Yang pasti harus mempunyai skill yang bagus sebagai ketua kelas dan wakil"


pujian Gibran membuat Anjani tersipu, memang banyak yang mengatakan kalau gadis itu begitu cantik. Sharlin pun banyak yang mengidolakannya, dan sekarang setelah tim awan biru masuk, Danial, Satria juga Zain diidolakan oleh para siswi yang lain.


Alea melihat Sharlin tersenyum manis kepada Anjani, hal itu membuat dirinya bad mood dan kesal.


"ganti pakaian kalian dengan pakaian olahraga, saya tunggu di lapangan sekolah"


"baik pak"

__ADS_1


_____


Pelajaran pertama berakhir, Gibran mengakhiri pertemuan mereka untuk hari ini. Ia pun menyuruh Sharlin untuk membawa tim awan biru di aula sekolah, di sana dirinya ingin mengatakan sesuatu kepada anak-anak itu.


Setelah berganti pakaian memakai kembali seragam sekolah, mereka kembali ke dalam kelas. Jam istirahat terdengar saat itu, siswa-siswi bergerombol keluar untuk menuju kantin.


"nggak ke kantin Shar...?" tanya Anjani.


"duluan saja An, aku ada urusan yang lain" Sharlin tersenyum saja


"memangnya kamu nggak lapar, apa perlu aku bawakan makanan di sini"


Alea memutar bola mata dengan malas, wakil ketua kelas mereka itu begitu terlihat sedang ingin mendekati Sharlin. Padahal kemarin-kemarin Anjani tidak mencari perhatian Sharlin namun untuk saat ini, Alea sepertinya mempunyai saingan.


"nggak terimakasih, tidak perlu merepotkan dirimu. Aku juga akan makan bersama mereka" Sharlin menunjuk tim awan biru yang masih duduk anteng di kursi mereka.


"oh ya sudah, aku duluan ya" Anjani tersenyum manis.


"oke"


Sharlin mendekati tim awan biru, ia langsung mengambil botol minuman yang ada di tangan Alea dimana gadis itu baru saja meminum isinya.


"eh kak" Alea menahan.


"kenapa...?" Sharlin menatapnya.


"itu....bekas bibir aku, mending minum yang ini saja deh" Alea memberikan botol minuman yang baru.


"yang ini saja, aku sudah kehausan" seketika Sharlin menempelkan bibirnya di tempat dimana bibir Alea menempel di sana. wajah gadis itu merona, tidak menyangka Sharlin tidak jijik dengan bekasnya.


"hiyaaaa...itu secara nggak langsung kalian udah ciuman loh" Zain menggoda keduanya.


"apaan sih, ya nggak mungkinlah" Alea ngambek namun merasa berbunga-bunga dan malu malu meong.


"nggak apa-apa, siapa tau besok lusa jodoh aku Alea kan...ya walaupun sebenarnya dia nggak suka sama aku" Sharlin menutup botol itu dan menyimpan di depannya.


"nggak usah mikirin jodoh, kita masih bau kencur... kencing aja belum lurus" celetuk Danial.


"yeee kamu aja kali kencingnya belok-belok" ucap Satria


"apaan sih, kok malah pada bahas kencing" Ayunda risih.


"oh iya, kak Gibran tadi menyuruh kita untuk ke aula sekolah, katanya ada yang mau dia katakan" ucap Sharlin.


"ya iya, ayok"


di aula sekolah, mereka menunggu kedatangan Gibran. Tempat yang biasa dijadikan saat ada acara sekolah, mereka menunggu sambil duduk di kursi. Tidak lama pintu aula terbuka, Gibran datang dengan memegang plastik yang entah apa isinya.


"apaan tuh kak...?" tanya Satria saat Gibran sudah berada di dekat mereka.


"makanan untuk kalian, ayo makan. Aku mengambil jam istirahat kalian untuk datang di sini, makanya kakak membelikan makanan agar nggak kelaparan nantinya" Gibran menyimpan kantung plastik itu di tengah-tengah.


"waaah makasih loh kak"


Mereka membuka kantung plastik itu, namun saat melihat isinya, mereka saling pandang dan terbengong.


"kenapa diam...?" Gibran meneguk minumannya.


"di kantin nggak ada makanan seperti ini loh kak" ucap Danial.


"iya, ini mah seperti makanan di restoran mewah" ucap Sharlin.


"itu memang makanan dari restoran kakak. Sengaja tidak membungkus dengan bungkusan khusus milik restoran, supaya orang-orang di sini nggak curiga.


"wah ada es krim juga...makasih banyak kakakku sayang, makin cinta deh" Danial memeluk Gibran dan hendak menciumnya namun Gibran mendorong wajah remaja itu.


"bau keringat, udah makan sana"


"ck...cium aja nggak boleh, pelit banget" Danial mencebik, Gibran geleng kepala dan hanya mengacak rambut Danial.


Mendapatkan makanan gratis yang enak pula membuat tim awan biru merasa begitu senang. Apalagi Gibran membawakan mereka es krim, sungguh lidah mereka dimanjakan hari itu.


"aku penasaran loh sejak tadi ingin tau, kenapa sampai kak Gibran ada di sekolah ini...?" tanya Kirana, makanan mereka telah habis dan kini mereka sedang menikmati es krim cup di tangan mereka.


"terpaksa sih sebenernya kakak datang di sini, tapi setelah mendengar cerita sekolah ini dari orang tua kalian dan juga tentang keselamatan kalian, akhirnya aku mau juga menerima usulan untuk masuk menjadi guru di sekolah ini"


"siapa yang suruh kak...?" tanya Zain.


"siapa lagi kalau bukan ayah dan ibu kalian, kalau mereka yang datang jelas tidak mungkin. Katanya mereka sudah menikah semua, takut kecentol daun muda" Gibran terkekeh kalah mengingat Adam dan yang lainnya berusaha membujuknya untuk masuk ke sekolah itu.


"terus apa yang akan kakak lakukan, maksudnya tugas pertama kakak apa...?" tanya Satria.


"mencari tahu pastinya, kalian harus membantu kakak. pulang nanti, para guru akan mengadakan rapat untuk acara persahabatan antara sekolah-sekolah yang lain dengan sekolah kita. kalian mau menungguku...? Sekalian ingin melihat, apakah akan terjadi sesuatu saat masih ada kalian di sekolah ini padahal sudah menjelang sore hari"

__ADS_1


"tapi aku takut" Ayunda memelas.


"kan ada Jin, eh Jin kemana ya kok nggak balik-balik dari tadi" Danial baru sadar, teman hantunya belum juga memunculkan batang hidungnya.


"apa jangan-jangan dia kenapa-kenapa di hutan sana, gimana dong ini" Sharlin panik.


"siapa yang kenapa-kenapa...?" suara itu terdengar namun tidak memunculkan sosok yang ada.


"ih kok serem sih, muncul kek Jin jangan kayak gitu, bikin jantungan tau" Alea mulai takut.


Pertama yang muncul adalah sepasang kaki, kemudian naik ke atas sampai terlihat semua tubuhnya. Jin sedang berdiri di samping Danial.


"wah makanan, ada ayam nggak...?" dengan cepat dirinya memeriksa kantung plastik itu, saat tidak menemukan apa yang ia cari, wajahnya terlihat suram.


"kamu datang kok nggak bawa ayam sih, aku juga lapar tau" Jin menatap kesal Gibran.


"mana aku tau kalau kamu suka ayam" Gibran membela diri.


"pulang nanti kamu harus mentraktir diriku makan ayam sepuluh porsi, titik"


"wuidiiiih... dikit amat pak" Zain tergelak.


"gampang, nanti kita ke restoran. kamu bisa memilih makanan apa saja yang kamu suka"


"ayam yang masih berdarah ada nggak...?"


Plaaaak


"aw... sakit Dan... ngapain pukul aku"


"kamu mau aku buang ke laut, humm" ancaman Danial membuat Jin mencebik dan dengan kesal melayang duduk di dekat Sharlin.


"tadi aku masuk ke hutan itu, begitu luas dan aku menemukan sesuatu" ucap Jin.


"apa yang kamu temukan...?" Gibran penasaran.


"Tempat pemujaan, bisa dipastikan kalau itu adalah tempat pemujaan iblis. Bahkan diriku saja, begitu merinding melihat tempat itu, menyeramkan dan mengerikan. hal ini harus kita beritahu kepada orang tua kalian" Jin menatap satu persatu anak-anak itu.


"kamu tidak menemukan petunjuk seperti barang atau apa saja untuk mengetahui siapa pemilik tempat itu" Danial mulai memasang wajah serius.


Jin diam, ia tidak menjawab dan seketika dirinya menghilang. tepat menghilangnya Jin, saat itu juga pintu aula terbuka, seseorang telah berdiri di ambang pintu.


"pak Gibran" ucapnya heran melihat guru baru sedang berada di tempat itu, bersama beberapa orang siswa-siswi. Sedang apa di sini pak...?" pak Hamzah melangkah mendekati mereka.


"saya hanya datang melihat-lihat saja pak Hamzah dan kebetulan saya malah bertemu anak-anak ini di sini" Gibran sama sekali tidak bersikap mencurigakan, Dirinya tersenyum ramah dan sopan. Ia tidak mengatakan kalau anak-anak itu adalah keluarganya, dia tidak ingin mengungkap identitasnya secara lebih dalam.


"terus kalian ngapain di sini...?" pak Hamzah melihat bungkusan makanan juga es krim di tengah mereka.


"lagi makan pak, tempat ini paling nyaman dari orang-orang" Danial menjawab.


"kan banyak tempat yang paling nyaman selain di sini"


"maksudnya, tempat ternyaman agar nggak ada yang minta makanan kami, hehehe" Danial cengengesan, sementara jawabannya itu membuat teman-temannya melongo. Mereka seperti pelit dan kikir. Benar-benar anak si Adam.


pak Hamzah menggeleng kepala, Gibran hanya dapat tersenyum geli.


"emm pak Hamzah ada urusan apa datang ke sini...?" tanya Gibran.


"cari hantu pak"


"hah...?" Gibran bingung.


"hahaha...bapak lucu juga" pak Hamzah tertawa, Gibran hanya menggaruk kepala, dalam pikirannya apakah ekspresi wajahnya selucu itu.


"saya sedang datang memeriksa, apakah tempat ini bisa dijadikan untuk tempat tidur para tamu kita nantinya"


"maksudnya gimana ya pak...?" Sharlin bingung.


"kita akan berkemah, sekolah yang kita undang akan datang berkemah di sekolah kita. Sekaligus mengadakan acara lomba persahabatan. Akan di rapatkan nanti, ayo pak Gibran kita keluar. Kalian juga segera ke kelas, jam istirahat akan segera habis"


"baik pak" tim awan biru menjawab


"iya, mari pak" Gibran mempersilahkan Hamzah untuk berjalan terlebih dahulu.


kedua laki-laki itu telah meninggalkan gedung aula, kini tim awan biru merasakan sesuatu yang aneh.


"kok Jin menghilang ya pas pak Hamzah datang, padahal pak Hamzah juga tidak melihat dirinya" ucap Kirana.


"iya, kok kak Kean malah menghilang ya" Sharlin pun ikut bingung.


"dia kan memang hobinya suka menghilang begitu saja. udah ah, ayo balik ke kelas. bentar lagi masuk"


Sampah makanan mereka, di bungkus dan akan di buang ke tempat sampah. Jam istirahat telah habis, kini semua siswa-siswi memasuki kelas mereka.

__ADS_1


__ADS_2