Panggil Aku Jin

Panggil Aku Jin
Episode 63


__ADS_3

Di lapangan itu, sudah berbaris semua siswa yang berada di barisan kelas masing-masing. Sharlin yang menjadi ketua kelas, berdiri di samping temannya yang ada di dekatnya.


Jin saat itu ikut berbaris namun dengan nakalnya ia terus meniup daun telinga salah satu siswa.


"apaan sih, geli tau" Ramon memutar kepala menatap Kelvin yang ada di belakangnya dengan tatapan kesal.


"lah aku nggak ngapa-ngapain kok" tentu saja Kelvin bingung. Tiba-tiba saja Ramon sudah memarahinya.


Ramon berdecak lidah dan kembali melihat ke depan. Akan tetapi lagi-lagi dirinya dikerjai oleh Jin. kali ini bukan lagi meniup telinga namun mencolek pinggang remaja itu dengan jari telunjuknya. Alhasil Ramon kaget dan


Plaaaak


"aw...sakit ege"


Kelvin yang diam saja sejak tadi, mengelus lengannya yang di pukul oleh Ramon.


"ngapain main colek-colekan mimin. Lu kira gue papan colok"


"idih....siapa juga yang nyolek kamu. PD banget"


Jin cekikikan begitu senangnya mengerjai keduanya. Sementara Danial geleng kepala melihat tingkah hantu itu. selama mereka saling kenal, Jin sekarang sudah mulai berubah. tidak terlihat tegang seperti sebelumnya. Hantu itu sudah mulai bisa bercanda dan bahkan bertingkah yang membuat kepalanya pusing tujuh keliling. bisa merengek layaknya anak kecil jika kemauannya tidak turuti dan akan bersikap manja jika dirinya sedang korslet. Meskipun begitu, Danial senang sebab keduanya semakin dekat setiap harinya.


"berhenti membuat ulah Jin" batin Danial.


Jin yang mendengarnya langsung melihat ke arah Danial yang sedang menatapnya dengan tajam. Hantu itu langsung senyum Pepsodent dan meninggalkan Ramon juga Kelvin. Namun bukannya mendekati Danial, ia malah melayang ke depan mendekati pak Adiatama yang sedang memberikan pengarahan.


Jin berdiri tepat di depan kepala sekolah itu namun masih berjarak dua langkah. Entah apa maksud Jin melakukan itu, sikapnya itu membuat tim awan biru mengernyitkan dahi.


Sementara pak Adiatama fokus berbicara dan entah dirinya melihat Jin ataukah tidak, kepala sekolah SMA Citra Bangsa itu, tidak sedikitpun melirik hantu itu.


Sampai apel pagi selesai dan semua siswa dibubarkan oleh ketua OSIS. Jin masih tetap di tempatnya menatap lurus seseorang yang meninggalkan lapangan.


"kenapa...?" Danial yang pertama kali mendekatinya mengeluarkan pertanyaan.


"kenapa apanya...?" Jin malah bertanya balik dan menolehkan kepalanya ke arah samping agar bisa melihat Danial.


tim awan biru datang menghampiri mereka sehingga Danial mengurungkan niat untuk mengeluarkan jawaban. Mereka semua langsung menuju kelas X2 karena bel pelajaran pertama sudah terdengar di seluruh lingkungan sekolah.


"aku tidak suka pelajaran matematika" Jin yang sedang bosan, melayang berputar-putar di samping Danial.


"memangnya siapa yang menyuruhmu untuk ikut belajar...?" batin Satria yang sama saat itu sedang mengerjakan soal di buku catatannya.


Semua orang fokus tanpa ada yang berbicara ataupun saling colek-colekan. keadaan yang pasif itu membuat Jin merasa bosan berada di dalam kelas dan pada akhirnya hantu itu menghilang begitu saja.


"lah hilang" ucapan Zain terdengar oleh semua orang sehingga mereka menoleh melihat ke arahnya. Remaja itu hanya kaget karena Jin yang tadinya melayang di dekatnya sekarang sudah hilang begitu saja.


"apa yang hilang Zain...?" pak Danu langsung menginterogasi remaja itu.


"anu pak, emmm..." Zain bingung harus menjawab apa.


kening pak Danu mengernyit dan menatap Zain dengan penuh ketegasan.


"pulpen saya hilang pak. Padahal baru saja saya beli. Sepertinya jatuh saat saya berlari tadi" Zain memberikan alasan yang penuh dengan bumbu kebohongan.


"oh... lanjutkan lagi" pak Danu kembali fokus ke bukunya.


Hingga selesai pelajaran matematika berakhir, Jin tidak kembali lagi di kelas itu. Bel istirahat sudah terdengar dan pak Danu mengakhiri pelajarannya dengan tugas yang ia berikan.


"gais...besok malam kalian ada kegiatan nggak...?" Sharlin bertanya sambil memasukkan bukunya ke dalam tas.


"tumben nanya seperti itu. Ada apa...?" Ayunda memasukkan tasnya ke dalam laci meja kemudian memutar tubuhnya menghadap ke arah Sharlin.


"papa ulang tahun, dan dia mengundang kalian untuk makan malam di rumah. sekalian kita mengerjakan tugas yang diberikan ibu Dian"

__ADS_1


"wah om Adi ulang tahun...? Harus dirayakan sih itu. Suatu kehormatan kan bisa diundang makan malam oleh kepala sekolah sendiri" Alea terlihat setuju.


"gimana...?" Sharlin menatap ketiga laki-laki yang belum bersuara.


"boleh juga. kalau begitu kita harus mencari kado untuk om Adi. Gimana pulang nanti kita langsung ke mall. Hari ini nggak ada jadwal ikut kegiatan ekstra kan...?" Satria menatap semua orang.


"okelah...selama ini kan kita belum pernah masuk ke rumah Sharlin. Pernah waktu itu tapi nggak sampai masuk ke halaman rumah juga, malah kita menunggu di luar pagar" ujar Danial.


semuanya sepakat untuk menghadiri undangan makan malam oleh pak Adiatama. Mereka bergegas ke kantin sebab setelah itu jam perjalanan berikutnya akan di mulai lagi.


"kalian meninggalkan ku...?" Jin datang ketika mereka telah meyusuri jalan menuju kantin.


"bukannya kamu yang ninggalin kami ya. Main pergi saja" ucap Danial.


"aku bosan di dalam. Makanya aku mencari kesejahteraan di luar" Jin melayang di samping Danial.


"idih...gayamu kesejahteraan segala. Nggak sekalian mencari keadilan dan menegakkan hukum" celetuk Sharlin.


"itu tugas pak satpam lah"


jawaban Jin membuat semuanya memutar bola mata. Ketika itu mereka semakin dekat dengan kantin, hingga tiba-tiba satu orang siswa memanggil nama salah satunya. Zain yang dipanggil menoleh dan bukan hanya dirinya namun juga semua orang. Tiga siswa datang menghampiri dengan senyuman yang manis.


Alea yang saat itu mengapit lengan Satria, dengan sengaja di geser oleh Ananda dan gadis itu menempel di lengan Satria. Alea kesal dan kembali merebut lengan Satria dengan menarik Ananda menjauh dari kakak sepupunya itu.


"nggak punya mata ya, apa rabun...?' udah jelas aku yang di sini main dorong saja" Alea bicara sinis dan kembali mengapit lengan Satria.


Ananda hendak menyahut akan tetapi Levina mengkode agar temannya itu diam. Kemudian dirinya mendekat Danial dan memasang wajah semanis mungkin.


"mau ke kantin ya...? Tanyanya dengan lembut.


"sungguh pertanyaan bodoh" Jin berdecak dan bersidekap melayang mengelilingi mereka. "aku mencium aroma mencari perhatian" ia berhenti tepat di samping Levina.


"kami gabung ya, boleh kan" Valerina sudah memegang tangan Zain. Padahal pertanyaan dari Levina belum dijawab, gadis itu sudah menawarkan diri untuk ikut.


"boleh saja, silahkan" Danial acuh dan masuk lebih dulu.


"mau pesan apa, biar aku pesankan" ucap Levina kepada Danial.


"terimakasih, tapi saya bisa memesan sendiri" Danial menolak dan sedikit menggeser tubuhnya agar menjauh dari gadis itu. Sebab Levina malah semakin nempel padanya. "Ki, pesankan bakso ya sama es teh" Danial meminta Kirana.


"terus kalian mau pesan apa...?" Kirana menatap teman-temannya.


"bakso sajalah, pengen makan yang itu aku" ucap Satria.


"aku ayam bakar ya" sahut Jin yang menempel di lengan kanan Zain bagai pasangan kekasih.


"bisa pesankan dengan kami kan, sekalian saja gitu supaya jalan satu kali" dengan entengnya Ananda menyuruh Kirana.


"memangnya mau pesan makanan apa...?" tanya Kirana.


Valerina segera memberitahu dan setelahnya Kirana beranjak dari duduknya untuk memesankan makanan yang mereka inginkan. Saat itu Valerina beranjak dari duduknya dan mendekat Ayunda yang saat itu duduk di samping Satria


"bisa geser nggak, aku mau duduk di sini"


"kamu nggak liat udah penuh, main geser-geser saja. Lagian ngapain pindah ke sini" Alea berucap jutek, tatapannya kesal dengan tajam.


"bukan urusan Lo. Gue hanya mau duduk di samping Satria. Nggak perlu minta izin sama Lo segala kan"


"ckckck...seru nih kayaknya. Harusnya ada cemilan sih ini untuk nonton" Jin mengangkat kaki sambil bersidekap.


"minggir, lama banget sih" Valerina menggeser posisi Ayunda namun ketika itu Satria menahan lengan Ayunda dan ia pun menatap tajam Valerina yang seenak jidatnya datang mengganggu mereka.


"banyak tempat untuk kamu duduki. Di sana dan di sana bahkan masih kosong. Kalau mau kamu ke sana saja. Jangan seenaknya menyuruh orang untuk pindah. Kamu tidak punya hak untuk itu" Satria menepis tangan Valerina yang melengket di lengan Ayunda. Sementara kembali Satria menarik Ayunda untuk berdekatan dengannya.

__ADS_1


Levina mengkode Valerina untuk duduk. Gadis itu menghentakkan kakinya dan kembali ke tempat duduknya.


"kasian" Alea mencibir. ia tau ketiga gadis itu sedang mengincar tiga sahabatnya sehingga mereka bagai ulat bulu yang ingin menempel di dekat tiga laki-laki itu.


"awas saja, akan aku buat perhitungan denganmu" mengepalkan tangannya, Valerina menahan marah di dalam hatinya..


Jin tentu saja mendengar apa yang dikatakan Valerina di dalam hatinya. Hantu itu menatap dingin gadis itu kemudian dengan sengaja melayang dan menarik rambut Valerina sehingga gadis itu terjatuh ke belakang.


"ups... sorry, aku sengaja" Jin berucap tanpa dosa.


Jatuhnya Valerina membuat suasana kantin itu heboh. Banyak yang terkejut namun juga banyak yang menertawakannya. Terlebih lagi tim awan biru, mereka menahan tawa aga tidak meledak begitu keras.


Valerina dibantu oleh Levina juga Ananda. Sementara Jin melayang kembali duduk di samping Zain. ia menatap Danial yang sedang melihatnya dengan tatapan dingin.


"bukan aku pelakunya tapi tanganku ini. Kalau mau marah, marahi saja tanganku"


"tanganmu memang the best lah Jin" ucap Sharlin. Ia malah mendukung perbuatan hantu itu. Alhasil Jin tersenyum senang sebab ada yang membelanya dan tidak menerima omelan dari Danial.


Karena merasa malu, Valerina langsung meninggalkan kantin sekolah. Levina juga Ananda tidak mungkin membiarkan teman mereka pergi seorang diri. Alhasil keduanya menyusul gadis itu.


"Dan aku pergi dulu ya, sampai jumpa nanti lagi" Levina tersenyum manis namun Danial hanya memasang wajah datar.


Kepergian tiga remaja itu membuat tim awan biru merasa lega terlebih lagi para lelakinya.


"greget banget aku sama mereka" Alea langsung meneguk minumannya yang baru saja beberapa detik mendarat di atas meja.


"mereka sepertinya suka sama kalian bertiga" ucap Sharlin kepada tiga laki-laki itu.


"biarkan sajalah, aku malas meladeni mereka. Mending makan" Zain langsung memasukkan sambal ke dalam mangkuknya.


"terus pesanan mereka tadi bagaimana...? Kirana menunjuk makanan yang dipesan tiga siswa tadi.


"simpan saja, biar kita yang makan" ujar Satria.


"terus ayam bakarku mana...?" Jin menagih karena hanya dirinya yang tidak kebagian makanan.


"nggak ada ayam bakar loh di sini Jin. Ayam grepek saja mau...?" Kirana menawarkan.


"nggak ah, nanti aku jadi grepek lagi. Aku maunya ayam bakar. Dan, aku mau ayam bakar" Jin memasang wajah sedih.


"nggak ada ayam bakar Jin" Danial sibuk memakan baksonya.


"tapi aku mau. Pokoknya aku mau ayam bakar"


"makan bakso saja ya, sini aku suapi" Danial merayu.


"nggak" dengan cepat ia memalingkan wajahnya. bibir Jin mengerut ke depan.


"seksi banget tuh bibir. pengen cium deh" Zain sengaja menggoda.


"kamu pikir aku laki-laki mahalan apa. Main cium saja" Jin semakin kesal.


"janji deh kalau pulang aku beliin ayam bakar yang porsi jumbo. Tapi nggak sekarang, nanti setelah pulang" ucap Danial.


"oke, tapi harus lengkap dengan minuman bersoda, lolipop, coklat, sosis, dan kawan-kawannya"


"lah malah ngelunjak"


"suka-suka aku lah, sirik aja"


"terserah kamu lah, berdebat sampai kiamat juga aku nggak bakalan menang" Danial terpaksa mengalah.


"gitu dong" Jin seketika langsung tersenyum merekah. "demi kesejahteraan bersama" lanjutnya yang langsung memeluk manja lengan Zain karena memang hantu itu duduk di samping Zain.

__ADS_1


"kesejahteraan pala kau. malah yang ang ada kebangkrutanku sendiri" Danial ingin sekali menjitak kening hantu itu. Jika sudah meminta maka harus cepat di turuti jika tidak Jin akan ngambek bagai cewek kedatangan tamu bulanan.


Yang lain hanya terkekeh namun tidak menyahut obrolan keduanya sebab mereka sibuk menikmati bakso di depan mata.


__ADS_2