Panggil Aku Jin

Panggil Aku Jin
Episode 26


__ADS_3

"bang Manaf nunjuk siapa...?" tanya Alea, sebab dirinya tidak melihat apapun di atas pohon sana.


"mungkin itu Jin, iya kan Dan...?" Kirana bertanya namun kedua matanya tetap menatap ke arah luar.


Danial tidak menjawab, ia berdiri dan melangkah keluar sebab Manaf mengayunkan langkah mendekati pohon itu. tepat di bawah Jin, Manaf berdiri dan mendongak ke atas.


"assalamualaikum hamba Allah" lembut dan halus, Manaf menyapa Jin yang kaget karena Manaf tiba-tiba sudah datang menghampirinya.


"assalamualaikum" salam Manaf sekali lagi.


Jin tidak menjawab, dirinya diam menatap tajam Manaf yang tersenyum lembut kepadanya. laki-laki itu sama sekali tidak takut ataupun ingin pergi dari tempat itu.


Danial menghampiri Manaf dan berdiri di belakangnya, sementara yang lain begitu penasaran akhirnya ikut keluar namun hanya batas sampai di teras rumah.


"mengucapkan salam adalah sesuatu yang wajib terkecuali kamu hamba Allah yang ingkar kepada-Nya" ucap Manaf.


"aku tidak percaya Tuhan" Jin akhirnya bersuara dengan nada dingin dan penuh penekanan. tatapannya memperlihatkan kebencian dan kemarahan.


"Jin" Danial memanggil hantu itu, menegur karena lagi-lagi Jin mengatakan hal itu


"jadi dia temanmu...?" Manaf memutar kepala ke samping kanan, dan melirik Danial melalui ekor matanya. "tidak sepantaran manusia dan makhluk gaib berteman apalagi hidup bersama. kamu harusnya tidak datang ke alam manusia" Manaf kembali mendongak ke atas.


"bukan urusanmu dan jangan ikut campur"


"kalau tidak mau aku ikut campur maka silahkan pergi dari sini. aku tidak menerima tamu dari bangsa jin ataupun dari bangsa lelembut dan arwah seperti mu"


Jin semakin marah, wajahnya begitu menampakkan kemarahan yang teramat sangat. tiba-tiba angin kencang datang berhembus, daun-daun yang berada di tanah terbang ke sana kemari. pohon-pohon yang ada bergoyang ke kanan dan ke kiri. bahkan jendela yang sengaja dibuka, menimbulkan suara yang begitu keras sehingga mereka yang berada di teras rumah terkejut dan ketakutan.


"kenapa tiba-tiba ada angin kencang begini" ucap Zain


"padahal tidak mendung" Ayunda melihat ke atas sana, cuaca masih seperti biasanya namun angin kencang membuat mereka harus berpegangan satu sama lain.


"Jin, hentikan" ucap Danial, ia tau kalau hantu itu yang melakukan semua itu. "aku bilang berhenti Jin"


praaaaang


"astagfirullahaladzim"


kaca jendela yang tiba-tiba pecah dan berserakan, membuat anak-anak itu ketakutan dan berlari menjauhi rumah.


"bang Manaf, ada apa ini...?" Sharlin mendekati Manaf yang diam menatap lurus ke atas.


"Jin, aku tidak akan membantumu kalau kamu masih terus seperti ini. jika kamu tidak bersyahadat, aku tidak akan membantumu" suara lantang Danial membuat semua orang menoleh kepadanya namun tidak dengan Manaf.


"BERANINYA KAMU MEMPERMAINKAN KU"


suara Jin berubah menjadi menakutkan dan tiba-tiba tubuh Danial terangkat ke atas bagaikan magnet yang dengan cepat melesat ke atas.


"Danial, astaga Danial itu kenapa" Kirana panik


Satria, Zain dan Sharlin berlari dan memegang kedua kaki Danial sehingga remaja itu mengambang di udara.


Manaf menggerakkan bibirnya, detik berikutnya Jin melepaskan Danial hingga remaja itu terjatuh ke tanah menindih ketiga temannya. Jin merasakan panas sebab Manaf menyerangnya dengan doa yang ia baca.


"MANUSIA TERKUTUK"


"kamulah makhluk yang terkutuk, makhluk hina dan rendah. berani sekali menyakiti manusia, Allah akan begitu murka padamu" Manaf berkata lantang dan keras.


perubahan yang dilakukan Jin kepada dirinya membuat Danial menyuruh Manaf untuk masuk ke dalam rumah sebab dirinya takut Jin akan menyakiti mereka. kedua mata biru itu kini telah berubah menjadi merah, belati tertancap di dadanya dan juga kuku itu menjadi panjang dan tajam.


"bang Manaf, ayo masuk bang" Danial tidak ingin laki-laki itu terluka


"kalian saja yang masuk, biar dia aku yang hadapi. cepat masuk ke dalam rumah" ucapnya dengan keras.


karena ketakutan meskipun mereka tidak melihat Manaf berhadapan dengan siapa namun remaja-remaja itu memilih masuk ke dalam rumah dan menutup pintu, terkecuali Manaf dan Danial. Danial masih bertahan di luar dan tidak ingin meninggalkan Manaf. sementara yang di dalam, mereka mengintip dari jendela.


tiba-tiba Manaf terbatuk, darah segar keluar dari mulutnya. Danial semakin panik dan membantu Manaf untuk tetap dalam posisinya berdiri. Jin menyeringai melihat manusia yang ia lawan, terluka karenanya. namun ternyata Manaf bukan seseorang yang dapat ditumbangkan begitu saja. laki-laki itu duduk bersila dan berdzikir menggunakan jari-jari tangannya.


"aaaggghh... BERHENTI MANUSIA TERKUTUK, AKU BUNUH KAMU" Jin seperti terbakar, dirinya melayang hendak menyerang Manaf, namun tubuhnya terpental mengenai batang pohon mangga.


"BERHENTI....AKU BILANG BERHENTI"


"Jin"


Danial mendekati Jin yang teriak kepanasan. hantu itu seketika mencekik leher Danial dan


jleb

__ADS_1


ughhh


kuku tajam itu tertancap di perut Danial, tatapan sayu Danial dan air mata yang keluar membuat Jin tersadar dan kembali ke wujudnya yang semula. Manaf berhenti dan dengan cepat menghampiri Danial yang hampir terjatuh namun Jin menahan tubuhnya.


angin kencang berhenti seketika, daun-daunan kembali jatuh ke tanah. Satria dengan cepat membuka pintu dan berlari ke luar saat melihat Danial jatuh ke tanah namun tidak sampai tergelatak sebab ada yang menahan tubuhnya dan mereka tidak melihatnya.


"Dan" Satria mendekat, Manaf menghentikannya.


"dia kenapa bang, Danial kenapa...?" Satria panik karena baju seragam sekolah saudaranya itu kini berdarah.


"apa yang kamu lakukan, kenapa datang padaku jika tau kamu akan dalam bahaya" Jin sangat merasa bersalah, dirinya memangku tubuh Danial.


"k-karena aku tau....k-kamu sebenarnya baik. tolong.... tolong dengarkan aku kali ini" Danial menggenggam tangan Jin "percayalah, Tuhan selalu bersama manusia yang membutuhkannya. jangan membencinya, kita tidak pantas melakukan itu"


Jin tidak menjawab, dirinya melihat Manaf yang berdiri di dekat mereka.


"tolong... tolong bawa di ke rumah sakit, aku akan melakukan apa yang dia katakan, tolong selamatkan dia. lukanya begitu dalam, dia bisa kehabisan darah" kali ini Jin panik dan begitu cemas, bahkan tanpa terasa air matanya jatuh tepat di mata Danial. hantu itu menangis, menangisi Danial yang terluka karena perbuatannya.


tanpa mengatakan apapun, Manaf menggendong Danial di punggungnya dan membawanya masuk ke dalam rumah. tidak lama seorang wanita datang terburu-buru masuk ke dalam rumah dan langsung menuju kamar.


"apa yang terjadi Man...? anak siapa ini...?"


"dia terluka Sin, aku mengandalkan mu"


"baiklah, kalian keluar biar aku yang menanganinya"


"tapi bang" Alea enggan untuk pergi saat Manaf meminta mereka untuk keluar.


"Sintia adalah dokter, dia akan menanganinya" Manaf meyakinkan mereka.


semua orang keluar dari kamar itu dan kini di dalam hanya ada Danial, Sintia dan Jin yang terus berada di dekat Danial. hantu itu menatap sayu Danial yang terbaring tidak lagi sadarkan diri.


"maafkan aku" Jin nampak berkaca-kaca, perasaan bersalah menyelimutinya.


di luar kamar, Satria memeluk Alea sebab gadis itu mulai menangis takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan kepada saudara mereka. hampir mendekati waktu dzuhur, wanita yang bernama Sintia itu keluar dan semua orang langsung mendekatinya.


"bagaimana kakak saya dok, dia baik-baik saja kan. lukanya tidak parah kan...?" sambil menghapus air matanya, Alea menanyakan keadaan Danial.


"dia baik-baik saja, sekarang dia belum sadarkan diri, mungkin menunggu beberapa jam lagi. kalau mau lihat silahkan" Sintia memberikan mereka jalan untuk masuk ke dalam kamar.


mereka tentu saja langsung menerobos masuk, Manaf mengantar Sintia di depan. wanita itu memberitahu untuk menebus obat di apotek agar diberikan kepada Danial.


"kenapa tidak dibawa ke rumah sakit saja"


"aku rasa daripada membawanya ke rumah sakit dan membutuhkan waktu lama, bukankah lebih cepat aku memanggilmu ke sini. dia membutuhkan pertolongan dengan cepat, makanya itu aku menghubungimu"


"hummm, aku memang hanya dihubungi saat kamu butuh saja" Sintia menyindir


"kamu kan dokter, membutuhkan bantuan darimu bukan perbuatan yang salah kan. lagipula selain itu, aku suka melihat...."


"melihat apa...?" Sintia meminta agar Manaf meneruskan perkataannya.


"bukan apa-apa, sekali lagi terimakasih"


"nggak jelas banget kamu Man. ya sudah aku pergi dulu, nanti sore aku akan datang melihat keadaannya itupun kalau aku tidak sibuk di rumah sakit"


"iya, titip salam sama Murran, jangan lupa kalau nikah undang aku" Manaf tersenyum


tadinya wajah Sintia terlihat biasa saja, namun saat Manaf menyebut nama laki-laki itu, perubahan wajah Sintia begitu terlihat. hembusan nafas panjang keluar dari lubang hidung wanita cantik itu.


"iya. aku pergi ya, assalamualaikum "


"wa alaikumsalam"


Sintia masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan Manaf yang masih berdiri menatap mobil merah itu keluar dari halaman rumah dan akhirnya tidak terlihat lagi.


"kenapa wajahnya seperti itu ya" gumam Manaf menerka-nerka.


di dalam kamar mereka mengelilingi tubuh Danial yang terbungkus selimut sampai dada. Alea dan Satria berada di samping kanannya sementara Jin, tetap di tempatnya tanpa beranjak.


"bagaimana ini, nanti kalau tante Airin menelpon dan menanyakan Danial, kita harus menjawab apa. kalau kita pulang nanti, pastinya luka Danial akan diketahui" Kirana frustasi memikirkan hal itu.


"lihatlah, belum-belum apa-apa salah satu dari kita sudah terluka. aku tidak yakin kita bisa menghadapi monster itu. aku....aku takut mati" Ayunda sungguh dibuat takut sekarang.


"Allahuakbar Allahuakbar"


"sudah adzan, kalian tidak ingin sholat...?" Manaf datang mengingatkan mereka.

__ADS_1


"terus siapa yang akan menjaga Danial...?" tanya Zain


"dia sudah mempunyai penjaga" Manaf melihat ke arah Jin "kamu harus menepati janji" ucap Manaf lagi.


"apa Jin ada di sini...? abang bisa melihat dia...?" Satria bertanya, kedua matanya menelusuri sudut ruangan.


"sejak tadi dia ada disini. ayo kita ke masjid, untuk perempuan biar kalian sholat di rumah saja. ada mukenah di kamar sebelah, kalian bisa menggunakan itu"


Satria, Sharlin dan Zain mengikuti Manaf keluar kamar sementara para perempuan, menuju ke kamar sebelah. tinggallah Danial dan Jin di dalam kamar. wajah remaja itu pucat dan bibir menghitam.


"kalau Engkau benar-benar mendengar doa makhluk yang Engkau ciptakan, maka buatlah dia bangun secepatnya" Jin berbicara sendiri


mungkin Tuhan ingin menunjukkan Dia Maha Kuasa, Maha segalanya. harusnya Danial sadar beberapa jam ke depan, itu adalah perkiraan dokter Sintia sebab wanita itu memberikan obat bius kepada Danial. namun saat itu jemari Danial bergerak dan tidak lama kedua matanya terbuka. Danial sadar dan langsung melihat Jin yang sedang menundukkan kepala bersandar di kepala ranjang.


"Jin" suara lemah Danial mengangkat kepala hantu itu


"kamu sadar....kamu benar-benar sadar...?" melihat Danial siuman, Jin begitu bahagia. binar kedua matanya menampakkan kelegaan.


"kamu menangis...?"


pertanyaan itu membuat Jin dengan cepat menghapus air matanya, air mata bahagia bercampur kesedihan. sedih karena perbuatannya, Danial menjadi seperti itu dan bahagia karena kali ini Tuhan mengabulkan doanya.


"tidak, aku tidak menangis" Jin menggeleng pelan


"lalu kenapa matamu berair...?"


"itu mimisan" spontan Jin menjawab


"sejak kapan mimisan keluarnya di mata dan berubah menjadi bening" Danial merasa lucu, dia ingin bangun namun Jin menahannya.


"jangan bergerak dulu, tetaplah berbaring. kata dokter tadi, kamu belum bisa bergerak bebas nanti lukamu berdarah"


"aku tidak apa-apa, aku baik-baik saja"


"tapi aku yang tidak baiklah saja" Jin menatap sayu Danial "aku....minta maaf, maafkan aku" kepala Jin tertunduk kembali


"hei...sejak kapan kamu jadi cengeng seperti ini, biasanya juga kamu garang seperti kucing betina"


"kau pikir aku kucing apa" cebik Jin


Danial tersenyum, tersenyum sumringah karena ia tau Jin mengkhawatirkan dirinya.


"Jin"


"humm, apa kamu butuh sesuatu...?"


"tidak ada...selain kamu"


"aku...?" Jin bertanya dan Danial mengangguk


"aku butuh kamu untuk melindungi aku nantinya. bukankah kita rekan yang akan bekerjasama, itu yang kamu katakan di awal kita bertemu"


"tapi aku sekarang telah menyakitimu, aku tidak pantas dijadikan rekan. kita batalkan saja rencana itu, aku tidak ingin menyakiti siapapun lagi"


Danial menggeleng dan mengambil kedua tangan Jin, tangan itu begitu dingin tanpa kehangatan. kedua tangan itu ia simpan di atas perutnya.


"lakukan apa yang aku inginkan, maka dengan begitu kamu tidak akan menyakitiku lagi. aku mohon Jin, selain ridho dari Tuhan, kita tidak membutuhkan apapun lagi. melangitkan doa pada Tuhan adalah cara kita meminta pertolongan dan perlindungan. coba kamu pikir lagi, apakah selama ini tidak pernah sekalipun Tuhan mengabulkan doamu, walau hanya sekali saja...?"


Jin terdiam, ia baru saja melangitkan doa meminta Danial segera sadar dan tanpa ia duga remaja itu kini ternyata benar-benar sadar. ia kini mulai berpikir apakah doanya di dengar dan dikabulkan.


"Jin"


"bagaimana kalau Tuhan tidak mendengarkan doamu dan doa teman-teman mu...?"


"apakah kamu tau, ada alasan kenapa permintaan kita kadang tidak terkabul. bisa jadi apa yang kita minta tidak baik untuk ke depannya dan Tuhan maha mengetahui segalanya, maka olehnya itu Dia tidak memberikan apa yang kita minta"


"tapi aku meminta untuk diselamatkan, bukankah itu adalah hal yang baik. aku ingin hidup, aku ingin selamat lalu kenapa permintaanku tidak dikabulkan...?"


"takdir....itu semua adalah takdir Jin. Kullu nafsin dzaaikatul maut, setiap yang bernyawa akan merasakan mati. baik aku, kamu yang sudah mati dan semua makhluk yang bernyawa pasti akan mati Jin. tinggal menunggu waktunya saja. yang namanya takdir, mungkin takdir kehidupan bisa dirubah misalnya kemiskinan. dengan giat berusaha, bekerja dan menabung suatu saat pasti akan berhasil, tidak lupa diiringi dengan doa. namun takdir kematian, tidak ada yang dapat merubah itu termasuk malaikat sekalipun"


"aku ingin kita tetap bersama apapun yang terjadi, dan aku ingin kamu seperti kami. kamu mau kan, dengan begitu kamu tidak akan selalu menghindariku saat aku melakukan ibadah di rumah"


"iya, aku mau"


"benarkah...?"


"humm"

__ADS_1


jawaban Jin membuat senyuman lebar di wajah Danial, bahkan dengan cepat Danial menarik hantu itu dan memeluknya erat.


__ADS_2