
"dia mau kemana sih, kenapa malah datang ke taman"
"mau bertemu pacar mungkin kak, mumpung malam jum'at"
"memangnya kenapa kalau malam jum'at, kayak spesial aja sepertinya"
"banyak setannya"
"ck, kamu juga setan"
Gibran juga Jin sedang mengamati dari jauh apa yang dilakukan ole pak Hamzah. Bukannya langsung pulang ke rumah, laki-laki itu kini malah berhenti di sebuah taman dan duduk di kursi kayu panjang.
mengintai di balik tanaman bunga, keduanya duduk jongkok dan mengeluarkan kepala. bagai penjahat saja yang mengawasi pergerakan calon korban.
"aku pegal nih, mending duduk di sana saja kak. tuh, nggak jauh dari tempat duduk pak Hamzah" tunjuk Jin di salah satu tempat duduk yang kosong.
"tunggu sebentar kalau begitu"
Gibran meninggalkan Jin menuju mobilnya. sambil menunggu laki-laki itu, Jin terus mengawasi pak Hamzah yang sibuk dengan ponselnya kemudian terlihat laki-laki itu sedang menghubungi seseorang.
[aku sudah di taman]
[baiklah, kamu membawa Ethan kan...?]
[aku tunggu]
Suara pak Hamzah terdengar jelas di telinga Jin. pak Hamzah mengakhiri panggilan dan beranjak mendekati seorang bapak penjual mainan anak-anak. Membelai mobil-mobilan juga robot, pak Hamzah membuat senyuman di bibir seorang bapak yang sejak tadi menantikan pembeli untuk membeli jualannya.
"ambil saja kembaliannya pak" ucap pak Hamzah.
"Masya Allah, terimakasih nak. Semoga rejeki mu bertambah dan hidupmu penuh barokah" bapak itu mencium uang yang diberikan oleh pak Hamzah.
"aamiin, terimakasih doanya pak. bapak juga semoga sehat lalu" pak Hamzah tersenyum dan memutar tubuhnya kembali ke tempatnya tadi.
"sepertinya dia orang baik" Gibran datang tiba-tiba, sudah mengganti pakaiannya dengan baju yang lain. Topi dan kacamata mata hitam melekat di wajah dan kepalanya.
"ayo ke sana" ajak Gibran.
Gibran melangkah ke arah tempat duduk yang ditunjuk Jin tadi. Berjarak lumayan dekat namun saling membelakangi, Gibran duduk di tempat itu, ia dan pak Hamzah saling memunggungi. Sementara Jin, ikut duduk di samping Gibran. Kali ini Jin tidak lagi bersembunyi, ia ingin tau apakah nanti pak Hamzah dapat melihatnya atau tidak.
"papa"
Suara anak kecil memanggil ayahnya, anak itu berlari riang ke arah pak Hamzah. Dan seorang wanita mengikuti anak kecil itu, sepertinya itu adalah ibunya.
"papa kangen banget sama Ethan. Ethan kangen nggak sama papa...?" pak Hamzah memeluk erat tubuh anak kecil itu. Usia lima tahun, begitu tampan dan menggemaskan.
"itu anaknya" ucap Jin, melihat pertemuan antara ayah dan anak itu, ia merasa terharu.
"kangen dong, Ethan kangen banget sama papa. Dali kemalin Ethan pengen ketemu papa tapi nggak dibolehin sama mama" anak kecil itu mengadu.
Pak Hamzah menghela nafas berat, melirik wanita yang berdiri di dekat mereka dengan wajah datar dan tanpa senyuman.
"dia hanya ingin bertemu denganku Elena, kenapa kamu begitu melarang Ethan untuk menemuiku"
"bukankah sekarang aku membawanya untuk bertemu dengan kamu. Jadi berhenti mengomel karena telingaku panas mendengarnya" Elena mengambil tempat duduk di samping pak Hamzah, mempunyai jarak yang bisa diduduki satu orang lagi di tengah-tengah mereka.
"papa...ini buat Ethan ya...?" Ethan memegang mobil mainan yang dibeli pak Hamzah tadi.
"iya sayang, semuanya buat Ethan" lembut penuh perhatian, pak Hamzah membelai rambut anaknya.
Sementara itu dua makhluk yang berbeda alam, masih setia menjadi penonton terbaik dan pendengar terbaik. Dalam hati Gibran mempertanyakan apakah benar pak Hamzah dalangnya, melihat dirinya sekarang ia mulai merasa ragu dengan laki-laki itu.
"jangan tertipu dulu lah kak, siapa tau itu hanya kedok dia saja. Maksud aku, wajah palsunya dia" Jin berkata seketika.
"kamu bisa mendengar isi hatiku...?" Gibran tentu saja kaget.
"he'em" Jin mengangguk.
Ketika itu Gibran hendak mengatakan sesuatu namun mereka dikagetkan dengan suara pak Hamzah yang terdengar lantang saat itu. Rupa-rupanya, pak Hamzah sedang murka dengan wanita yang kini sedang bersamanya.
"kamu benar-benar nggak punya hati Elena. Kalau kamu tidak becus merawat Ethan, maka serahkan saja dia padaku. tanpa seorang ibu, Ethan bisa tumbuh dewasa bersamaku"
"jangan terlalu lebay Zah, itu hanya lebam biasa saja. nanti juga sembuh sendiri, lagi pula Ethan nakal makanya aku pukul" Elena menjawab enteng.
"wanita nggak waras. Serahkan Ethan padaku, untuk uang bulanan, aku akan tetap mengirimkan padamu asal Ethan bersamaku sekarang" pak Hamzah memeluk Ethan, luka lebam di tubuh anaknya membuat pak Hamzah geram dengan mantan istrinya itu.
"baiklah, asal uang bulanan tetap jalan aku tidak masalah. Kalau begitu aku pergi, ingat kirimkan uang yang aku butuhkan. Skincare ku habis" Elena mengambil tasnya dan pergi berlalu begitu saja.
Pak Hamzah menutup mata, mencoba meredam emosi yang benar-benar sudah hampir sampai di ubun-ubun. Andai tidak memikirkan konsekuensinya, sudah lama mungkin telapak tangannya mendarat di tubuh mantan istrinya.
"Ethan sama papa ya sayang. Mau kan tinggal sama papa...?" pak Hamzah menangkup wajah putranya.
__ADS_1
"mau pah, Ethan mau sama papa saja, nggak mau sama mama. mama suka pukul Ethan padahal Ethan nggak nakal" Ethan mengangguk dan memeluk pak Hamzah.
"ya sudah, sekarang kita pulang ya"
Pak Hamzah menggendong Ethan, hampir saja dirinya terjatuh sebab tiba-tiba kepalanya pusing. Melihat itu, Gibran dengan cepat mendekat dan menahan Ethan yang hampir terlepas dari gendongan ayahnya.
"ya Allah pak Hamzah" Gibran mengambil tubuh Ethan dan menggendongnya.
"pak Gibran" pak Hamzah memegang kepalanya.
"papa kenapa...? Sakit kepala...?" polosnya Ethan, wajah anak kecil itu bingung dengan ayahnya.
"ayo pak saya antar pulang, sepertinya bapak tidak bisa menyetir seorang diri apalagi ada anak bapak" ucap Gibran.
Jin hanya melihat dari tempat duduknya, ia membiarkan Gibran yang membantu pak Hamzah.
"tidak terimakasih, saya masih bisa menyetir" tolak pak Hamzah.
"jangan menolak pak, ini demi keselamatan bapak dan anak bapak"
Akhirnya pak Hamzah diantar pulang oleh Gibran. sementara mobil pak Hamzah, dikemudikan oleh seorang laki-laki yang disewa oleh pak Hamzah untuk membawa mobilnya itu.
"terimakasih mas" pak Hamzah memberikan upah kepada laki-laki yang membawa mobilnya.
"sama-sama mas, saya pulang dulu"
"iya, hati-hati mas"
pak Hamzah mempersilahkan Gibran untuk masuk ke dalam rumahnya. Rumah lantai dua, terlihat besar untuk ukuran pak Hamzah seorang diri yang tinggal di tempat itu.
"saya buatkan minum dulu pak, silahkan duduk"
"jangan repot-repot pak, saya tidak akan lama"
"sama sekali tidak, tunggu sebentar. Ethan sama om ini dulu ya sayang " pak Hamzah mengecup kening putranya.
"iya pah" Ethan patuh.
Kepergian pak Hamzah ke dapur, Gibran mengirimkan pesan ke grup tim samudera, dirinya telah dimasukkan ke dalam grup itu.
Gibran : apakah keris larangapati, jika melukai iblis itu...lukanya akan cepat sembuh...?.
Satu detik...
Tiga detik...
Belum ada balasan dari tim samudera. Gibran penasaran sebab ia ingin memastikan apakah luka yang diterima iblis itu bisa disembuhkan dengan cepat ataukah membutuhkan waktu yang lama.
Tin....
Pesan masuk ke dalam ponselnya, seseorang membalas pesan yang ia kirim.
El-Syakir : makhluk gaib yang terkena tusukan keris larangapati, jika mereka makhluk gaib biasa maka mereka akan langsung musnah. Namun jika iblis seperti kemarin, dia bertahan karena kekuatan dalam dirinya. luka itu masih akan bersarang di tubuhnya, di perut juga di punggungnya dimana kak Adam melukainya.
"maafkan saya, terlalu lama ya" pak Hamzah datang dengan nampan berisi dua gelas teh hangat dan juga kue bolu gulung di piring.
"harusnya saya yang meminta maaf pak, sudah merepotkan bapak"
Pak Hamzah meletakkan minuman itu di atas meja juga kue bolu gulung itu. Ethan langsung mengambil satu kue itu dan menggigitnya.
"emmm bapak sepertinya sakit ya, sejak di sekolah tadi bapak terlihat lemas dan pucat" Gibran memulai obrolan.
"saya memang sakit pak Gibran. Tapi hanya sakit biasa dan demam biasa"
"harusnya bapak istirahat saja, kalau dipaksa takutnya akan bertambah parah"
"iya, mungkin besok saya akan libur dulu. Silahkan diminum tehnya pak"
Percakapan mereka terus berlanjut hingga kemudian Gibran berpamitan untuk pulang. ketika itu Gibran tidak melihat Jin sejak tadi juga di dalam mobil pun hantu itu tidak ada.
"kemana perginya" Gibran menggaruk kepala.
Di dalam rumah pak Hamzah, laki-laki itu membawa Ethan naik ke lantai atas. Masuk ke dalam kamar, Ethan dibiarkan bermain di karpet depan televisi sementara pak Hamzah membuka pakaiannya untuk mengganti dengan pakaian lain.
Di balik tirai berwarna putih, sosok Jin berdiri memperhatikan dirinya. sampai pak Hamzah selesai bergantian dan tiba-tiba laki-laki itu refleks melihat ke arah Jin berada. Saat itu ternyata Jin langsung menghilang saat pak Hamzah menoleh ke arahnya.
"kak Gibran" Jin datang tiba-tiba.
"astaga Jin, bisa nggak sih jangan terus mengagetkan aku seperti itu" Gibran tersentak seketika.
"pak Hamzah tidak mempunyai luka apapun di tubuhnya"
__ADS_1
"kamu yakin...?"
"sangat yakin, aku melihatnya tadi. Tapi...tadi dia seperti merasakan kehadiran ku. Apakah dia bisa melihat makhluk gaib ya"
"mana aku tau. Jadi pak Hamzah bersih ya. Berarti dia kita coret dari calon tersangka"
Gibran mengirimkan pesan kepada tim samudera, memberitahu kalau pak Hamzah bersih dari tuduhan.
_____
"pak Hamzah bersih yah" ucap Danial.
"oke... sekarang waktunya bergerak sebelum ibu Amanda tiba"
Adam juga Danial mengganti kostum layaknya layaknya pekerja pembasmi serangga. Topi dan masker dikenakan, juga dua alat tangki yang berada di punggung keduanya.
Tok tok tok
Mengetuk pintu rumah, seseorang membukakan pintu dan mengernyitkan dahi melihat dua orang aneh berdiri di depannya.
"ada apa ya...?" wanita baya bertanya.
"permisi bu, kami dari pihak pemerintah ingin mensterilkan rumah ibu. Berhubung sekarang banyak penyakit yang merajalela maka dari itu kami ditugaskan untuk memasuki setiap rumah, menyemprotkan pembasmi serangga juga virus. Mohon kerjasamanya ya bu" ucap Adam.
"pembasmi virus...?" kening wanita itu semakin mengerut.
"iya, bisakah kami masuk sebab kami harus ke rumah lainnya"
"oh...i-iya silahkan"
Membuka pintu dengan lebar dan memberikan jalan. Adam juga Danial masuk dan memberitahu wanita itu agar menggunakan masker Kemudian menunggu mereka di ruang tamu. Wanita baya itu mengangguk patuh saja, begitu mudah percaya.
Masuk ke setiap kamar hingga mereka menemukan kamar yang ditempati ibu Amanda. Adam segera memasang kamera kecil di sudut ruangan di sebuah pot bunga dan juga di rak buku.
kemudian di tempat-tempat yang yang tidak bisa dilihat oleh siapapun. Setelah selesai, keduanya berpamitan pulang. ketika hendak keluar, mereka berpapasan dengan ibu Amanda yang baru saja tiba. kedua mata wanita itu membulat dengan ekspresi terkejut ketika melihat Adam juga Danial yang tidak bisa ia lihat wajah keduanya.
"mereka sedang mensterilkan rumah kita nak" ucap wanita baya yang tidak lain adalah ibunya Amanda.
"mensterilkan rumah...?" Amanda mengulang kata itu.
"iya bu dan terimakasih atas kerjasamanya. Kami permisi harus ke rumah yang lainnya" ucap Adam.
Ibu Amanda menggeser tubuhnya yang menghalangi mereka. Ketika keduanya melewatinya, kedua mata ibu Amanda menatap penuh curiga dan penasaran.
Adam melirik sekilas dan pergi, berpura-pura ke rumah yang lainnya hingga pintu rumah Amanda tertutup.
"huufffttt... untung ibu Amanda nggak curiga" Danial bernafas lega.
Adam : tugas kami beres, untuk para wanita bisa mengawasi rumah ibu Amanda sekarang.
Adam mengirimkan pesan ke grup tim samudera.
Melati : oke
Leo : rumah ibu Kahiyang selesai.
Deva : rumah ibu Dian juga selesai.
Nisda : lalu apa kabar rumah ibu Naina...?
El-Syakir : gimana Bar, udah beres belum...?
Tidak ada kabar dari Bara, semua tim harap-harap cemas menunggu pesan dari Bara.
Ketika melakukan pengintaian maka mereka berbagi kelompok. Adam bersama Danial, Leo bersama Zain juga Alea, Deva bersama El-Syakir dan Ayunda sementara Bara bersama Vino juga Kirana.
Alana : semuanya baik-baik saja kan...?
Leo : baik sayang, kamu jangan banyak pikiran...kasian baby kita.
"ini kenapa Bara belum juga mengirim pesan sih. Apa jangan-jangan terjadi sesuatu lagi" El-Syakir mulai resah.
"coba aku telpon" ucap Deva.
Menekan nomor Bara, Deva menghubungi laki-laki itu sayangnya tidak diangkat. Ia pun menghubungi nomor Vino namun sama seperti Bara, Vino tidak mengangkat panggilannya.
Deva : Bara juga Vino tidak mengangkat panggilan. Apa kita susul saja...?
Nisda : susul kak, jangan sampai suamiku kenapa-kenapa.
Starla : susul mereka kalau nggak gue sendiri yang akan ke sana.
__ADS_1
Adam : kita ke tempat Bara juga Vino sekarang.
Maka saat itu semua orang meluncur untuk ke rumah ibu Naina, rumah yang menjadi tugas bagi Bara juga Vino untuk mengintai.