Panggil Aku Jin

Panggil Aku Jin
Episode 45


__ADS_3

"assalamualaikum ibu cantik" Zain tanpa meminta izin langsung duduk di dekat ibu Naina. Wanita itu mengerutkan kening ketika tiba-tiba Zain datang tanpa ia panggil.


"wa alaikumsalam, kenapa Za...?" ibu Naina yang sedang menulis sesuatu di bukunya, menutup benda itu.


Tadinya Zain ingin ke kamar mandi, akan tetapi saat melihat ibu Naina yang sibuk sendiri di teras musholla, remaja itu mulai memikirkan sebuah ide. Ia ambil batu kecil yang ada di saku celananya.


"siapapun yang kalian temukan, maka lakukan tugas itu tanpa dicurigai oleh target kita. Lakukan secara alami, kalian paham...?"


"paham mas"


Zain teringat dengan ucapan Gibran, remaja itu menggenggam batu kecil itu kemudian berjalan ke arah musholla. Ia melihat sekitar, setidaknya jika sepi maka ia bisa melakukan aksinya. Bukan melakukan sesuatu hal yang kurang ajar, namun hanya melakukan sebuah misi. Dan sekarang kini Zain telah duduk di samping ibu Naina, tidak berdempetan namun dekat.


"ibu sedang apa...?"


Pertanyaan Zain mendapatkan tatapan bingung dari ibu Naina. Wanita cantik itu mengangkat satu alis dan kemudian menempelkan telapak tangannya di kening Zain.


"nggak panas kok" ucapnya menarik tangannya kembali.


"kan emang aku nggak panas bu"


"tapi kamu aneh"


"loh kok aneh, emang aneh bagaimana...?" Zain berani menatap manik mata ibu Naina. seorang guru yang umurnya masih begitu muda, 25 tahun bahkan banyak siswa yang mengidolakan guru cantik itu.


"sudahlah, lupakan. Sekarang katakan apa maksud tujuanmu datang ke sini. Kamu mau sholat...?"


"bukan" Zain menggeleng kepala.


"terus...?"


"pengen temani ibu saja, bolehkan guru cantik" Zain cengengesan memperlihatkan deretan giginya.


"sejak kapan kamu gombal begitu Za, tidak cocok dengan wajahmu yang biasanya cool dan pendiam" ibu Naina menggeleng kepala kemudian melanjutkan menulisnya.


"darimana ibu tau kalau aku pendiam...? Cieee ibu sering mehartiin aku ya...?" kedua alis Zain naik turun.


"narsis" ibu Naina mencebik. "kalau tidak ada perlu denganku maka pergilah, aku sedang berkosentrasi sekarang"


"memangnya ibu ngerjain apa sih...?"


Set...


Zain dengan cepat menggeser posisinya lebih dekat dengan ibu Naina. Tentu saja wanita itu terkejut, apalagi wajah Zain dekat dan menunduk melihat apa yang ia tulis.


"Zain"


"apa Bu"


Deg


Jantung Zain hampir melompat ketika dirinya baru sadar ternyata wajahnya begitu dekat dengan ibu Naina.


Gugup...?


Tentu saja, akan tetapi sayang kalau mundur. Demi misi, ia rela menahan malu dan biarlah dirinya dianggap caper oleh sang guru.


"ternyata memang benar kalau ibu cantik ya" lolos begitu saja pujian itu dari mulut Zain. Jujur dalam hatinya kalau memang ibu Naina begitu cantik menurutnya.


Ibu Naina langsung mendorong tubuh Zain untuk menjauh. Akan tetapi Zain berpegangan di lengan wanita itu sehingga keduanya saling bersentuhan. Tidak ingin membuang kesempatan, Zain segera menempelkan batu kecil itu di lengan ibu Naina sampai batu itu masuk ke dalam kulit.


"ekhem"


Suara deheman membuat keduanya tersadar dan menoleh. Pak Kenan, bersidekap dengan tatapan mata yang lekat.


"romantis sekali" ucap pak Kenan tersenyum penuh arti.


Ibu Naina seketika menghempaskan tangan Zain. Remaja itu kaget dan kikuk menggaruk kepala.

__ADS_1


"ada apa pak Kenan...?" tanya ibu Naina.


"aku butuh yang kamu kerjakan sekarang ibu Nai, di suruh kepala sekolah. Sudah keliling aku mencari ibu, ternyata malah berduaan dengan brondong di sini ya bu" alis pak Kenan naik turun.


"buang pikiran itu jauh-jauh pak Kenan. Ini tidak seperti yang kamu lihat, dan almbillah...aku sudah selesai" ibu Naina memberikan satu lembar kertas kepada pak Kenan.


"oke, terimakasih ibu Nai dan silahkan di lanjutkan percakapannya" pak Kenan balik badan mengambil langkah menjauhi musholla.


Ibu Naina memutar kepala melihat Zain yang masih setia berdiri di sampingnya. Remaja itu menggaruk kepala, bingung sekaligus canggung apalagi tindakannya tadi sudah terlewat batas.


"kenapa masih di sini...?"


"hehehe" Zain cengengesan. "ketus amat sih bu. Entar nggak cantik lagi loh"


"hhh...aku sudah cantik dari orok jadi nggak akan pernah jadi jelek. matamu itu yg perlu aku colok, ganjen dan genit. Sudah sana, kami jangan mengganggu lagi"


Ibu Naina mengusir Zain mendorong tubuh remaja itu. Tidak mempunyai pilihan, Zain pun pergi namun ke toilet karena memang rencana awalnya dia akan ke toilet.


dari jauh, ternyata tim awan biru sejak tadi sedang memperhatikan Zain dan ibu Naina. Aksi teman mereka itu, patut di ajukan jempol, si tampan yang pemberani.


"eh tapi jangan-jangan Zain memang suka lagi sama ibu Nai" ucap Danial.


"nggak ada yang salah dengan itu" Sharlin menjawab santai. "ibu Naina cantik, semua guru di sini itu masih muda dan cantik-cantik...banyak siswa yang menjadi crush dari guru mereka sendiri" lanjutnya.


"termasuk kamu...?" Alea bertanya dengan tatapan lekat.


"entah" Sharlin mengangkat bahu dan beranjak dari duduknya.


"mau kemana...?" tanya Satria.


"tuh... ngikutin guru cantik, aku mau coba trik seperti Zain tadi" Sharlin mengedipkan mata menunjuk ibu Kahiyang. "bye bye" Sharlin segera bergerak menyusul ibu Kahiyang yang sedang berjalan bersama siswa-siswi lainnya.


melihat kepergian Sharlin, Alea terus menatap punggung remaja itu. Ia merasa tidak suka dengan sikap Sharlin sekarang. Hatinya kesal bercampur jengkel luar biasa.


"kalau gitu kita mencari target yang lainnya. Ayo" Ayunda menarik tangan Kirana.


"aku mau pak Danu saja, nah kamu ke pak Kenan saja noh. Kebetulan dia sedang sibuk-sibuknya tuh. pura-pura jatuh saja terus pegang tangannya, langsung tempelkan batunya dan selesai deh" ujar Kirana.


"terus pak Hamzah siapa...?" Jin bertanya.


"emmm kayaknya mas Gibran sendiri yang akan melakukannya, kita kan sudah mempunyai tugas masing-masing" ucap Satria.


"ya sudah kalau begitu, biar Danial aku yang temani" ucapnya lagi.


"tapi kan kamu bilang ibu Amanda bisa melihat kamu" Danial menoleh ke arah Jin.


"bisa melihat aku belum tentu dia pelakunya selama kita belum mendapatkan bukti. lagipula aku juga memang penasaran apakah dia benar-benar bisa melihatku atau tidak. Ayo Dan, kita cari ibu Amanda" Jin menarik tangan Danial.


Mereka membubarkan diri, keberadaan masing-masing guru yang menjadi target mereka harus ditemukan dan memulai rencana.


_____


"permisi bu" Sharlin datang dengan botol air minum juga snack dikedua tangannya. ia mengincar ibu Kahiyang dan sekarang remaja itu suda berada di hadapan sang guru.


Ibu Kahiyang sedang bercerita dengan pak Rahim juga Gibran di taman sekolah. Ketika melihat mereka, Sharlin mulai mantap untuk maju apalagi ada Gibran bersama kedua guru itu.


"ada Sharlin...?" tanya Gibran.


"pembagian snack dari anggota OSIS pak, kebetulan saya bertugas membawa di sini" Sharlin tersenyum.


"lah, perasaan di agenda kita tidak ada yang namanya pembagian snack seperti ini" pak Rahim heran melihat makanan itu di tangan Sharlin yang ia simpan di depan perutnya.


"emmm..."


"ada kok bu, baru saja di adakan dan itu adalah usul dari kepala sekolah. Menjamu tamu adalah sesuatu yang sangat diperlakukan agar tamu kita nyaman dan betah" Alea tiba-tiba datang membawa nampan berisi tiga gelas es buah. "tadinya ini untuk mereka yang akan bertanding bola kaki, namun karena gagal maka dibagikan kepada semua orang"


"ya sudah.... simpan itu di tengah saja" ucap ibu Kahiyang.

__ADS_1


Alea pelan membawa pegangannya untuk menaruh di tengah, akan tetapi dirinya sengaja membuat keseimbangannya goyah sehingga es buah itu tumpah di baji pak Rahim.


"Al" Gibran menegur.


"ya ampun maaf pak, maaf sekali. aduh bagaimana ini" Alea pura-pura panik, ia menaruh pegangannya dan menyentuh kulit lengan pak Rahim. Saat itu juga batu kecil itu ia tempelkan di lengan guru itu.


"Alea... yang basah adalah bajuku, kenapa kamu malah melap lenganku" tegur pak Rahim.


"hah...? Eh, i-iya kah...maaf maaf pak" Alea segera melap baju pak Rahim.


Sharlin langsung menyimpan makanan yang ada di tangannya kemudian memutari pak Rahim juga Alea dan berhenti di belakang ibu Kahiyang. Remaja itu langsung menekan tengkuk ibu Kahiyang sehingga batu kecil itu masuk ke dalam. Akan tetapi perlakuannya itu mengagetkan ibu Kahiyang dan menoleh ke arahnya.


"apa yang kamu lakukan Shar...?" ibu Kahiyang memegang tengkuknya.


"maaf bu, tadi ada semut jadi aku berniat untuk membuangnya dan sekarang semut itu sudah tidak ada" Sharlin bersikap biasa saja.


"oh, terimakasih ya"


"sama-sama bu" Sharlin kembali ke posisinya tadi.


Gibran tersenyum dan menatap Sharlin. Ketika remaja itu melirik ke arahnya, Gibran mengedipkan mata dibalas oleh Sharlin.


"sudah sudah... sebaiknya kalian berdua kembali ke tenda" pak Rahim menahan tangan Alea untuk membersihkan lagi bajunya.


"tapi pak, baju baik masih basah"


"kamu usap-usap seratus kali pun, bajunya tetap tidak akan kering. biar aku mengurus diriku sendiri, kalian berdua kembali" tegas pak Rahim.


Alea juga Sharlin menatap ke arah Gibran. Laki-laki itu mengangguk pelan tanda menyuruh mereka untuk pergi.


"baiklah kalau begitu, sekali lagi maaf ya pak" Alea memasang wajah merasa bersalah.


"humm" pak Rahim hanya menjawab singkat.


Kedua remaja itu segera pergi meninggalkan tiga guru mereka. Setelah jauh, keduanya saling tos dan kembali ke tenda.


_____


"kok ibu Amanda nggak kelihatan ya Jin" Danial terus celingukan mencari keberadaan ibu Amanda.


"ke toilet mungkin" Jin terus melayang mengelilingi Danial.


"lah... ngapain...?"


"bikin anak"


Plaaaak


"aduh...kok dipukul sih"


"jawabanmu itu sungguh menjengkelkan, orang aku bertanya serius juga" Danial memang wajah kesal.


"dan pertanyaan mu itu sungguh luar biasa oon. Menurutmu kalau orang ke toilet mau ngapain...? Nggak mungkin pergi nge DJ kan. Heran bange" Jin menatap Danial dengan tatapan jengkel.


"ck...ya sudah ayo cari lagi. Barangkali dia terselip dimana gitu" Danial melanjutkan langkah.


"kamu pikir dia pemotong kuku. Kalau nggak dicari, dimana-mana dia ada tapi kalau dicari, macam hilang ditelan bumi, padahal memang ada di atas meja" Jin melayang mengikuti Danial.


"eh itu...itu pak Danu Jin" Danial melihat pak Danu berjalan ke arah aula sekolah.


"target kita kan ibu Amanda bukan pak Danu" Jin ikut menatap punggung pak Danu.


"iya sih" Danial mengangguk setuju.


Tidak lama pak Danu kembali lagi dan ketika itu langsung didekati oleh Kirana. Keduanya terlihat sedang berbicara.


"udah ada Kirana, ayo kita cari mangsa kita yang lain"

__ADS_1


Danial mencari keberadaan ibu Amanda. Sudah berkeliling di tempat perkemahan namun mereka tidak melihat wanita cantik itu. Hari sudah semakin sore, semua siswa diarahkan untuk segera bersiap sholat magrib di musholla. akan tetapi hal mengejutkan terjadi dihari menjelang magrib itu. Tiba-tiba kabut yang entah datang darimana, masuk ke dalam lingkungan sekolah. Penglihatan mulai terhalang dan yang lebih mengejutkan lagi, suara teriakan lengkingan kesakitan para siswa-siswi terdengar begitu jelas di telinga.


"astaga...apa yang terjadi" tubuh Danial seketika menegang.


__ADS_2