Panggil Aku Jin

Panggil Aku Jin
Episode 36


__ADS_3

"mas bagaimana, apa sudah bisa menghubungi Gibran...?"


Airin terlihat begitu cemas di samping suaminya. Bagaimana tidak, nomor Gibran tidak lagi aktif setelah tadi sempat tersambung namun kemudian akhirnya mati. berulang kali Adam menghubungi nomor Gibran, tetap yang menyambutnya ada suara operator.


"astaghfirullah... bagaimana ini yang, anak-anak belum pulang juga. cari mereka sekarang yang" Seil mulai mendesak suaminya.


"iya...kami akan mencari mereka" El-Syakir mengangguk. "ayo kak, kita harus panggil yang lainnya".


"assalamualaikum"


belum sempat Adam menjawab, suara salam terdengar dari luar. Karena mereka berada di ruang tamu maka suara yang berada di depan akan terdengar.


"wa alaikumsalam"


Tim samudera datang tepat waktu saat mereka ingin menghubungi mereka. ibu Arini mulai mengambil Samudera dari pangkuan Seil dan membawa bayi itu bersama Ragel yang ia tuntun untuk ke ruang keluarga. Saat itu Zidan belum pulang sebab laki-laki itu berada diluar kota.


Ibu Arini ternyata membawa Samudera dan Ragel untuk bermain bersama art mereka sebelum akhirnya ibu Arini kembali lagi ke ruang tengah bersama dengan Gauri. Dengan begitu tidak akan ada rewelnya anak kecil saat mereka sedang berdiskusi.


"kenapa nggak pindah aja sih mereka om, kan dengan begitu mereka nggak buat orang sport jantung terus. Aku takutnya nanti mereka kenapa-kenapa" Galang yang kala itu ikut bergabung bersama mereka, mengeluarkan pendapatnya.


"iya, om memang akan memindahkan mereka tapi setelah masalah di sekolah itu selesai" jawab Adam.


"maksudnya bagaimana...? Memangnya sekolah itu mempunyai masalah apa...? Ayah Adnan tentu saja bertanya, dirinya baru saja mendengar hal itu. Bahkan Vania, ibu Arini pun baru mengetahuinya.


"sebenarnya...di sekolah itu ada isu tentang siswa yang dijadikan tumbal. sudah banyak siswa siswi yang ditemukan meninggal di sekolah itu. Bahkan dari dulu kejadian itu terjadi"


"astaghfirullahaladzim, lalu kenapa tidak memindahkan anak-anak sekarang saja. nyawa mereka bisa terancam setiap harinya, ini tidak boleh di biarkan. Ibu tidak mau cucu-cucu ibu kenapa-kenapa. Pokoknya ibu mau mereka harus pindah, tidak boleh tidak" ibu Arini langsung mengambil keputusan saat itu juga.


"kita akan bicarakan itu bu, sekarang kami harus pergi mencari anak-anak" ucap El-Syakir.


"pergi sekarang saja, hal ini tidak bisa di tunda lagi" ucap Leo.


"Alana kok nggak ikut Le...?" tanya Nisda kepada sepupunya itu.


"Alana sedang hamil sekarang, jadi aku tidak mengizinkan untuk bersama kita"


"masya Allah...sekian lama menanti akhirnya ngisi juga ya. Alea pasti senang akan segera mempunyai adik" Starla turut bahagia.


"selamat Le, akhirnya anak kedua akan launching juga. tapi sekarang bukan waktunya kita untuk bersenang-senang. Ayo berangkat sekarang" ucap Adam.


berpamitan kepada semua orang, tim samudera kini akan menaiki mobil masing-masing. Saat itu Airin memaksa untuk ikut bersama mereka sebab jika dirinya hanya menunggu kabar saja, Airin sama sekali tidak bisa tenang. Seil bahkan ingin pula, namun El-Syakir menahan.


"Ragel membutuhkan kamu Ay. Percayalah padaku, anak kita akan kembali dengan selamat. Aku akan membawanya pulang" Adam mengecup kening istrinya.


"tapi mas"


"Ay"


Ucapan tegas itu membuat Airin tidak lagi memaksa. Adam tau Airin adalah penguasa hutan timur, namun bagaimanapun dirinya tidak ingin melarang pantangan dokter dan membiarkan istrinya kelelahan. Saat ini Airin tidak lagi seperti yang dulu. Wanita itu telah kembali ke tubuh aslinya, dan sesakti apapun kekuatan yang ia miliki, Adam tidak ingin mengambil resiko.


"berjanjilah untuk menghabisi iblis itu dan membawa putra kita pulang"


"tentu Ay"


Seil yang masih berada di pelukan El-Syakir, menangis begitu takut akan kehilangan Satria. Dengan lembut El-Syakir menenangkan istrinya dan mendoakan mereka agar dengan mudah bisa menemukan anak-anak.


Selesai drama dengan dua istri mereka, Adam juga El-Syakir masuk ke dalam mobil. Tim samudera berangkat ke sekolah SMA Citra Bangsa.


_____


"aku nggak kuat Sat...aku nggak kuat" Ayunda menghentikan larinya, Satria yang memegang tangannya dengan erat ikut berhenti. Keduanya terengah-engah sementara yang lain terus berlari tanpa sadar dua diantara mereka sudah tertinggal jauh.


"harus kuat Ay...kalau nggak iblis itu akan menangkap kita. Ayo aku bantu papah"


"nggak bisa Sat nggak bisa, kaki aku sakit. Aku nggak bisa lari lagi" Ayunda duduk begitu saja di tanah. Tenaganya tidak lagi ada, jangankan untuk berlari, untuk menopang tubuhnya saja dirinya tidak mampu.


"Ay...ayolah...kita bisa tertangkap" Satria berusaha menarik tangan Ayunda agar gadis itu bangkit.


auuuuuu.....


Deg

__ADS_1


Suara itu semakin membuat tubuh Ayunda gemetar sementara Satria tegang. Suara itu terdengar jauh namun bukankah terkadang terdengar jauh bisa saja menjadi dekat.


tanpa banyak pikir, Satria duduk di depan Ayunda dan membelakangi gadis itu. Ia pun menarik tubuh Ayunda agar naik diatas punggungnya. Ayunda tidak menolak, lagi pula selain seperti mereka tidak mempunyai pilihan lain untuk bisa kembali kabur.


Satria berusaha bangkit dan Ayunda melingkarkan tangannya di leher Satria. Meski tidak secepat tadi, Satria mulai berlari untuk menjauh. Dengan senter ponsel yang dipegang oleh Ayunda, tanpa jalan yang jelas Satria terus berlari.


Merasa telah jauh dan juga begitu lelah, Satria berhenti dan menurunkan Ayunda. Keduanya bersandar di pohon dengan nafas memburu. Jantung berdegup kencang, keringat membasahi baju sekolah mereka.


"haaah....haaah" Satria mencoba mengatur nafas, ia lap keringatnya dengan lengan bajunya.


dilihatnya Ayunda juga sama seperti dirinya. wajah cantik gadis itu basah akan keringatnya. dengan lembut Satria melap keringat Ayunda dengan jemari tangannya. Ayunda yang kaget refleks menatap Satria. begitu dekat wajah keduanya sehingga adu nafas mereka begitu sangat terdengar.


Ayunda dapat melihat wajah tampan sahabatnya sedekat itu, dan ternyata Satria memang terlihat berbeda saat itu juga.


"apa aku menakutkan sampai kamu melotot seperti itu...?" Satria memperhatikan wajah Ayunda.


"aku baru sadar ternyata kamu tampan" Ayunda dengan senyuman manisnya, ia berikan kepada Satria.


"kamu memang seperti bukan, begitu terang-terangan mengatakan tampan kepada setiap laki-laki yang kamu sukai. Kak Galang juga masuk di dalam kriteria mu"


Satria menarik wajahnya, meskipun keduanya sudah bersahabat sejak kecil namun belum pernah keduanya begitu dekat dan seintim itu.


"memangnya salah kalau aku mengatakan itu. Lagipula karena mereka memang tampan makanya aku memuji mereka, begitu juga dengan dirimu"


"berhenti membual Ay, aku tidak termakan dengan pujian mu"


Ayunda diam namun kepalanya ia sandarkan di bahu Satria. Tidak ada tempat ternyaman saat ini selain di bahu sahabatnya itu.


"sekarang bagaimana...?"


Satria melihat sekeliling mereka, sepertinya mereka sudah jauh dari bahaya. Setidaknya tempat mereka saat ini sudah aman dari kejaran makhluk itu.


"di sini saja dulu"


"sampai kapan...?"


"sampai benar-benar aman"


"jangan tinggalkan aku ya Sat, pokoknya kamu harus terus sama-sama aku terus" Ayunda menggenggam tangan Satria.


_____


"stop...stop Dan...stop" Zain yang berada di belakang Danial, Sharlin juga Alea, memanggil ketiga temannya untuk berhenti.


Kirana saat ini bersama dirinya. Saat itu Kirana menoleh ke belakang, dirinya mengira Satria juga Ayunda berada tepat di belakang mereka namun nyatanya dua teman mereka itu hilang begitu saja.


"haaah...haah, aku capek...capek banget" Alea menjatuhkan tubuhnya di tanah. Bukan hanya dirinya, bahkan yang lainnya pun mengambil nafas dan mengeluarkannya dengan mulut terbuka lebar.


"s-sepertinya...haah...haah, sepertinya kita aman sekarang" ucap Sharlin dengan nafas memburu.


"tapi Satria sama Ayunda nggak bersama kita sekarang" ucap Kirana.


"hah, serius...?" Danial yang sedang berbaring telentang, langsung bangun seketika karena kaget.


"lah iya, kemana mereka. Bukannya tadi kita larinya sama-sama. Apa jangan mereka salah mengambil jalan...?" Sharlin pun tidak menyangka dua teman mereka hilang begitu saja.


"astaga...lalu apa yang harus kita lakukan. Jujur saja aku takut banget kalau harus kembali ke sana" Kirana mulai berkaca-kaca.


Danial bangkit dan memberitahu mereka bahwa apapun yang terjadi, dirinya harus mencari keberadaan Satria juga Ayunda. Ia tidak mungkin pulang tanpa saudara dan sahabatnya.


"aku ikut" Sharlin pun ikut bangkit.


Semuanya bangkit dari duduk mereka, pembicaraan untuk mencari Ayunda juga Satria memberikan kesimpulan mereka akan kembali mengambil jalan untuk kembali ke belakang.


"bismillahirrahmanirrahim, lindungi kami Tuhan" menarik nafas dan menghembusnya dengan keras, Danial melangkah lebih dulu setelah itu semua temannya mengikutinya.


_____


kantuk mulai menyerang terlebih lagi dingin semakin membuat tubuh menggigil. Satria merasa kasihan kepada Ayunda yang mengeluh karena dingin. Akhirnya ia pun memberanikan diri untuk memeluk gadis itu, memberikan rasa hangat agar dingin tidak begitu terasa.


grrrr....

__ADS_1


"astaghfirullah, apa itu...?" Ayunda tersentak, suara yang tiba-tiba itu membuatnya terkejut.


"sssttt"


Satria mengisyaratkan agar Ayunda tidak bersuara. dengan pelan Satria berdiri, mengeluarkan kepalanya untuk melihat suara apa itu. Di dalam kegelapan pandangannya tidak sampai jauh beberapa meter. Dirinya mencoba fokus hingga tiba ketika sosok yang mengerikan itu muncul di kegelapan. Hal itu membuat Satria benar-benar tegang, iblis itu kini ternyata bisa menyusul keduanya namun tidak dapat melihat mereka karena terhalang oleh pohon besar.


pohon tempat persembunyian mereka berjarak sedikit jauh dan berada di samping kanan iblis itu. Sementara iblis itu terus berjalan ke arah depan. Satria berbalik dan tanpa suara menarik lengan Ayunda agar gadis itu berdiri.


"ada apa...?" Ayunda kebingungan dengan sikap Satria.


"sssttt...jangan bersuara" Satria berbisik agar Ayunda tidak mengeluarkan suaranya.


Keduanya mengganti posisi ke sebelah kiri agar tidak terlihat oleh sang iblis. Satria kembali melihat dengan mengeluarkan kepalanya. iblis itu tidak terlihat lagi di telan gelapnya malam.


Keduanya duduk tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk pergi dari tempat itu. Mengambil arah jalan ke kanan, mereka saling berpegangan tangan dan terus berjalan cepat sebab jika untuk berlari, Ayunda tidak sanggup lagi.


Namun ternyata di perjalanan mereka itu, di depan sana sosok yang mengerikan itu sudah berdiri di tengah-tengah jalan dan menatap lurus ke arah mereka. Ayunda langsung histeris, berlindung di belakang punggung Satria. tubuh keduanya menegang karena iblis itu menemukan mereka.


"halo anak-anak manis, mau kemana humm...?" suara berat terdengar menakutkan membuat Satria juga Ayunda merinding.


Satria berbalik menarik tangan Ayunda untuk berlari menyelamatkan diri. Suara tawa iblis itu menggelegar dan setelahnya makhluk mengerikan itu kembali berada di depan mereka.


"astaghfirullah... bagaimana ini Sat. Aku belum mau mati" Ayunda mulai berkaca-kaca. Takut dan gemetar yang ia rasakan.


Sang iblis semakin maju sementara mereka semakin mundur. Genggaman tangan Satria tidak terlepas dari jemari Ayunda. Tanpa diduga, tubuh Ayunda tiba-tiba melayang tertarik bagai magnet ke arah iblis itu. Satria sekuat tenaga menahan dengan kedua tangannya.


"Satria.... Satria tolong Sat... tolong" Ayunda menangis histeris, tarikan itu semakin kuat.


"aaaggghh....LEPASIN DIA BRENGSEK" tidak sanggup menahan, Satria terbawa bersama Ayunda. namun dirinya mendapatkan batu besar dan menahan kakinya di batu itu agar pertahanannya tidak runtuh.


Tubuh Ayunda mengambang dengan kedua tangan ditarik oleh Satria sementara tubuhnya tertarik ke arah sang iblis.


Satria meraba apa saja yang ada di sampingnya. Sebuah batu di dapatnya dengan satu tangannya masih berusaha menahan Ayunda. dirinya membacakan ayat kursi juga surah lainnya sebagai penangkal jin. Setelahnya dengan keras ia melempar batu itu ke depan. Tepat mengenai kepala sang iblis, batu itu mendarat dan seketika tubuh Ayunda jatuh ke tanah.


Sang iblis teriak kesakitan, begitu marah dan murka karena ulah anak bocah yang membuatnya terluka. Sementara itu, Satria membantu Ayunda untuk bangun. Mereka hendak berlari sayangnya seketika tubuh keduanya tidak dapat bergerak.


Iblis itu mendekati mereka, mencekik leher Satria dan melemparnya ke batang pohon.


Bughhh....


Tubuh remaja itu mendarat di tubuh seseorang. Dirinya tidak mengenai batang pohon karena Gibran datang tepat waktu. Gibran menangkap Satria saat itu juga. Sementara Jin, langsung melayangkan tendangan bebas di kepala juga dada sang iblis yang hendak menerkam Ayunda.


Tubuh sang iblis tersungkur di tanah, sementara Jin memeluk Ayunda dan melayang membawanya ke tempat aman bersama Satria.


"Jin" Satria dengan cepat memeluk Jin saat itu.


Ternyata tim awan biru bersama Jin dan Gibran namun mereka baru saja tiba. Kirana juga Alea langsung memeluk Ayunda, menangis tersedu dan begitu bersyukur teman mereka selamat.


"Satria" Danial menarik Satria dan memeluknya. Zain ikut memeluk keduanya, akhirnya mereka menemukan dua teman mereka itu.


Sang iblis murka karena lagi-lagi santapannya digagalkan oleh Jin.


"Keanu Alexander...masih betah berada di dunia ternyata kamu. Apa perlu saya membunuhmu untuk kedua kalinya"


"tidak segampang bicaramu iblis terkutuk" Jin maju ke depan, saling berhadapan dengan sang iblis yang mempunyai jarak beberapa meter.


"kamu hanyalah arwah yang tidak berguna, sebaiknya kembali ke tempatmu dan jangan menggangguku"


"harusnya kamu yang pergi ke neraka dan berhenti menganggu warga sekolah"


"hahaha... mereka semua adalah makanan ku, tidak mungkin aku meninggalkan mereka"


"kalau begitu aku yang akan memaksa kamu untuk pergi"


"memangnya kamu bisa...? dulu saja kamu mati di tanganku, apakah kali ini kamu ingin mati lagi di tanganku...?"


"kalaupun aku mati lagi, kamu harus ikut bersamaku"


"hahaha... hahaha"


Suara tawa itu membuat tim awan biru bergidik. Tadinya malam kini berubah menjadi seperti di sore hari. Wajah menakutkan dan bentuk tubuh iblis itu dapat dilihat dengan begitu jelas oleh mereka.

__ADS_1


"ya Allah...dia menyeramkan sekali" Kirana ketakutan


"mari kita bermain-main anak-anak manis"


__ADS_2