
Sharlin menutup mata saat kuku tajam makhluk itu hendak ditancapkan di perut Danial. sungguh, dirinya tidak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi dengan teman sekelasnya itu. beberapa detik menutup mata, ia tidak mendengar suara teriakan Danial. Sharlin membuka kedua matanya. tepat di hadapannya dan dengan kedua matanya, ia melihat Danial melayang di udara berhenti di depannya. hal itu karena Jin datang tepat waktu, menarik Danial dan memeluknya hingga melayang ke arah samping. setelah itu Jin menendang bahu makhluk itu membuat makhluk itu menghantam besi dinding. setelahnya Jin melayang membawa Danial ke arah Sharlin.
"lari Dan" perintah Jin
"lalu kamu bagaimana...?" Danial memegang erat ujung baju Jin. hal itu di saksikan oleh Sharlin membuat kening remaja itu semakin mengkerut dan bingung
"aku akan baik-baik saja. pergilah, sembunyi di mana saja"
"nggak mau Jin, aku nggak mau meninggalkan kamu" Danial menggeleng, dirinya tidak ingin terjadi sesuatu dengan Jin "kita kabur bersama saja" lanjutnya
"kamu bicara dengan siapa Dan, Jin siapa" Sharlin memperhatikan tangan Danial yang seperti memegang sesuatu padahal yang ia lihat remaja itu hanya mengepalkan tangannya tanpa memegang apapun. ia lihat Danial seperti menghentikan seseorang karena kedua tangannya melayang di udara. padahal yang sebenarnya Danial sedang memegang ujung baju dan lengan Jin
belum sempat menjawab, makhluk itu kembali menyerang mereka. ia berlari cepat hendak melayangkan pukulan ke arah mereka. Jin yang tidak punya pilihan lain, ia menarik Danial dan Sharlin ke dalam dekapannya. kemudian melompat dari lantai tiga ke lantai bawah, lebih tepatnya di lapangan sekolah.
"ALLAHUAKBAR aaaaaa"
Sharlin histeris karena tiba-tiba ada yang menarik tubuhnya dan tanpa aba-aba dirinya sudah melompat dari lantai tiga. ketiganya berputar di udara dan mendarat di tengah lapangan. Sharlin bahkan hampir jantungan dan tubuhnya merasa lemas, kedua kakinya tidak mempunyai tenaga untuk berdiri.
"Dan, mana kalungmu...?" Jin memeriksa leher Danial, kalung itu masih ada di sana "tiup kalung itu" lanjutnya
"tiup...?"
"cepatlah, agar kita bisa pergi dari sini. ayo cepatan" desak Jin
Danial mengangguk kemudian mengambil kalung yang ia simpan di balik bajunya. makhluk itu ternyata sudah berada di depan mereka lagi. Jin meniup mata kalung yang seperti terompet itu. seketika makhluk itu menutup telinga dan menjerit kesakitan.
"ayo lari, jangan berhenti meniup kalung itu" Jin membantu Sharlin untuk berdiri
Danial membantu Sharlin untuk berlari meskipun kesulitan karena remaja itu seakan tidak mempunyai tulang untuk berpijak di tanah. Danial masih terus meniup kalung itu. merasa begitu marah, makhluk itu mengarahkan tangannya ke arah pot bunga yang ada di depan kelas X. tiga pot bunga melayang di udara dan hendak menghantam kedua tubuh anak remaja itu. Jin melindungi mereka, hanya menatap tajam tiga pot bunga itu, ketiga benda itu berhenti dan hanya mengambang tanpa menyentuh Danial dan Sharlin. tiga pot bunga itu, Jin lempar ke arah makhluk itu. setelah itu Jin menyusul Danial dan Sharlin yang sudah berada di dalam mobil.
Jin menembus pintu mobil dan sudah berada di kabin tengah "tetap tiup kalungnya, dan cepat nyalakan mobilnya" ucapnya mendesak, makhluk itu memang kesakitan namun dirinya berjalan ke arah mereka
"cepat Dan, kita bisa mati di sini" Sharlin bertambah takut melihat makhluk itu semakin dekat dengan mereka
karena begitu kalut, Danial melepas mata kalungnya yang ada di mulutnya. makhluk itu tentu tidak lagi kesakitan. Danial menyalakan mesin mobil dan berjalan mundur untuk keluar dari pagar sekolah. sayangnya, mobil itu malah ditarik oleh makhluk itu seperti magnet yang semakin ke arahnya.
"Jin, lakukan sesuatu" Danial panik begitu juga dengan Sharlin
Jin menelisik sekitar, ia mengarahkan mata ke arah taman sekolah. sedikit lagi mobil itu akan tiba di depan makhluk itu. Jin mengarahkan semua kursi yang ada di taman sekolah sehingga kursi-kursi itu melayang dan menghantam tubuh makhluk itu.
makhluk itu tersungkur dan semua kursi itu menindih tubuhnya. mereka terbebas dari tarikan magnet. seketika Danial memutar setir mobil sehingga mobil itu pun ikut berputar. setelahnya Danial melajukan mobil itu begitu kencang meninggalkan sekolah.
Jin melihat ke arah belakang, makhluk itu tidak lagi mengikuti mereka.
"apakah kita sudah aman...?" tanya Danial
"sudah" Jin bersandar di kursinya
"semoga saja, lebih cepat lagi. hampir saja kita mati di sekolah dan menjadi korban berikutnya" Sharlin yang mengira Danial bertanya padanya, menjawab dengan nafas yang memburu
degup jantung Danial masih belum normal. bahkan kedua tangannya yang dingin dan gemetar membuatnya tidak fokus untuk menyetir. Jin tau akan hal itu. ia pun memegang bahu Danial membuat remaja itu menatap Jin di spion gantung.
"jangan takut, ada aku di sini" dengan lembut Jin tersenyum hangat
baru beberapa hari bersama, barulah saat itu Jin tersenyum hangat kepada Danial. Danial mengangguk dan ikut tersenyum, namun seketika senyum itu pudar saat Sharlin menanyakan sesuatu hal padanya.
"siapa Jin, Danial" Sharlin yang sudah bisa menguasai dirinya menatap lekat Danial. pertanyaan itu sudah ada dalam kepalanya sejak tadi mereka masih berada di sekolah
"apa maksudmu, aku tidak mengerti" Danial melirik Jin yang sedang duduk santai di belakang mereka
"hei...kau pikir aku tuli saat kamu beberapa kali menyebut nama Jin di sekolah. bahkan...bahkan kejadian yang hampir membuat aku jantungan, masih begitu jelas di ingatan aku. aku yakin bukan kamu yang melakukan itu kan. maka cepatlah katakan padaku, siapa Jin. apakah.....dia makhluk astral...?" kalimat terakhir, sengaja Sharlin memelankan suaranya
"bicara apa sih kamu ini. apa kepalamu terbentur saat kita di sekolah tadi"
"Danial Zabdan Sanjaya, aku bukan anak kecil yang gampang kamu bodohi ya. jelas-jelas aku mendengar kamu memanggil nama Jin. apa kamu mempunyai teman gaib. bahkan saat di depan mataku sendiri, kamu berbicara seorang diri seakan sedang berbicara dengan orang lain. Jin, satu kata itu yang terus kamu panggil. katakan atau aku akan melaporkanmu kepada orang tuamu karena kamu kabur dari rumah sakit. aku yakin mereka pasti nggak tau kalau kamu kabur dari tempat itu kan" Sharlin mengancam
"iya iya iya, akan aku beritahu. tapi nanti kamu jangan kaget atau langsung jatuh pingsan"
"oke, berhenti di depan itu" Sharlin menunjuk ada pohon besar di pinggir jalan
Danial menginjak rem dan mobil pun berhenti. keduanya keluar begitu juga dengan Jin yang dengan santai duduk di atas mobil.
__ADS_1
(apakah boleh aku memberitahu tentangmu kepadanya...?) Danial bertanya dalam hati
"terserah padamu" Jin mengangkat bahu
Danial mendengus, sebenarnya dirinya tidak ingin ada satu orang pun yang tau akan keberadaan teman gaibnya itu. ia takut mereka akan memberitahu orang-orang kalau dia berteman dengan makhluk gaib. apalagi jika kedua orang tuanya tau, bisa-bisa dia di ruqyah. padahal jika Danial tau bagaimana orang tuanya dulu saat masih muda, sudah pasti bukan hanya akan melakukan ruqyah namun akan lebih dari itu.
"hei, apa yang kamu lamunkan. ayo tunjukkan padaku dimana temanmu itu" Sharlin bersidekap di depan Danial
"aku akan memberitahu tapi aku minta satu hal" Danial menatap lekat wajah Sharlin
"aku tau apa yang kamu inginkan. kamu tidak ingin aku membocorkan rahasia mu kan...?" ucapan Sharlin diangguki oleh Danial
"tenang saja, aku bukan laki-laki bermulut ember yang akan menyebarkan berita yang tentunya di luar nalar manusia" Sharlin berucap yakin
"memang ada gitu manusia bermulut amber...?" Jin menggaruk kepala
"janji ya, kalau kamu ingkar maka pantatmu bisulan"
"ih... jangan gitu lah. iya iya aku janji" Sharlin refleks memegang bokongnya
Danial kembali menghadap ke arah Jin yang masih di atas mobil. remaja itu mengkode teman gaibnya itu untuk memperlihatkan diri kepada Sharlin.
"katakan padanya, dirinya harus membuka mata batin agar bisa melihatku. kamu pun harus membuka mata batin agar dapat melihat mereka yang akan biasa kamu lihat jika kamu membantuku nanti" ucap Jin
"mata batin...?"
"hummm, apakah kamu tau kalau kamu itu melihatku karena kita telah terikat. beda halnya dengan Sharlin. dia tidak akan dapat melihatku karena mata batinnya tidak terbuka dan kamu juga seperti itu, kamu tidak akan bisa melihat makhluk gaib lainnya selain aku jika mata batinmu tidak dibuka"
"ada apa, kamu sedang berbicara dengan yang bernama Jin itu...?" Sharlin mendekat Danial
"iya"
"lantas, kenapa dia tidak menunjukkan diri padaku" Sharlin melihat ke arah dimana Danial sedang melihat Jin namun ia tidak melihat apapun
"untuk bisa melihatnya, kamu harus membuka mata batinmu" Danial memutar kepala ke arah samping untuk dapat melihat wajah Sharlin
"mata batin...?"
"iya, kalau nggak kamu nggak bisa melihat dia"
"ya itu sih terserah kamu"
Sharlin belum mengambil keputusan. dirinya berjalan bolak-balik memikirkan keputusan yang harus dirinya ambil. hingga akhirnya ia pun berhenti dan berbalik ke arah Danial.
"aku siap membuka mata batinku" ucap Sharlin dengan mantap
"kamu yakin...?" Danial tentu saja kaget dengan keputusan ketua kelasnya itu
sementara Jin, dirinya memperhatikan keduanya tanpa ingin menyela pembicaraan mereka.
"saat rumor dimana di sekolah kita selalu mengambil tumbal para siswi, aku sama sekali tidak percaya. waktu itu aku masih duduk di bangku kelas 6 SD. ayah belum menjabat sebagai kepala sekolah di SMA Citra Bangsa" Sharlin memilih duduk di bawa pohon itu
"kamu tau juga tentang rumor itu...?" Danial ikut duduk di samping Sharlin
"iya" Sharlin mengangguk "bahkan kakakku, kakakku meninggal di sekolah itu juga" dengan raut wajah sedih Sharlin menjelaskan
"innalilahi" Danial tentu saja kaget
"bukan hanya kakakku melainkan sahabatnya pun juga ikut mati bunuh diri. iya, siswi dan siswa yang ditemukan meninggal akan dinyatakan bunuh diri"
"subhanallah, kakakmu dan sahabatnya meninggal di sekolah itu...?" Danial membulatkan mata
Sharlin kembali mengangguk, ia mengangkat kepala agar air mata yang membuat kedua matanya panas tidak jatuh ke pipinya.
"tapi setelah melihat Zalifa tadi, aku kini percaya kalau ternyata sekolah itu sangatlah angker dan memang rumor pengambilan tumbal itu adalah benar. kamu tau Dan, kakakku meninggal karena dinyatakan bunuh diri menggantung dirinya di ruang kesenian. sementara sahabatnya itu, dia meninggal karena menusuk dadanya sendiri dengan belati. kak Keanu, meninggal setelah satu minggu kematian kakakku"
"Keanu...?" gumam Danial
(kenapa aku seperti pernah mendengar nama itu ya) batinnya
Danial melihat ke arah Jin, hantu itu hanya menatap datar ke arah mereka namun bisa Danial lihat tatapan hantu itu begitu lekat mengarah ke arah Sharlin.
__ADS_1
"apakah kakakmu sudah lama meninggal...?" Danial bertanya lagi
"delapan tahun yang lalu"
"sudah lama juga ya"
"Dan" Sharlin memperbaiki posisi duduknya "darimana kamu tau kalau di sekolah akan ada korban tumbal malam ini. kamu tidak mungkin tau begitu saja kan"
"emm itu.... sebenarnya...." Danial menggaruk kepalanya, bingung harus menjelaskan seperti apa
"itu sebenarnya apa, katakan padaku" desak Sharlin
"Jin yang memberitahuku" jawab Danial jujur
"Jin...?"
"iya" Danial mengangguk
"tapi bagaimana bisa dia tau, apakah dia tinggal di lingkungan sekolah...?"
Danial terdiam dan memikirkan pertanyaan Sharlin. benar apa yang dikatakan ketua kelasnya itu. darimana Jin bisa tau kalau Zalifa akan menjadi korban tumbal malam itu. bahkan hantu itu sudah begitu tau cara menghadapi makhluk menyeramkan yang mereka hadapi tadi.
sejak pertama bertemu, Danial sudah pernah siapa Jin sebenarnya dan kini rasa penasaran itu semakin besar. apa hubungannya Jin dengan sekolah itu, apakah Jin tau sesuatu. kini berbagai ragam pertanyaan memenuhi kepala Danial, hingga ia begitu lekat menatap Jin yang kini juga sedang melihat ke arahnya.
"akan aku ceritakan semuanya, sekarang kita pulang. beritahu padanya agar sepulang sekolah nanti, kalian mencari seseorang yang dapat membuka mata batin kalian berdua" Jin melayang dan masuk ke dalam mobil
"Shar, sebaiknya kita pulang dan kita bicarakan hal ini di sekolah besok. kejadian tadi cukuplah kita berdua saja yang tau. dan satu lagi, kamu harus berjanji untuk merahasiakan tentang keberadaan Jin" Danial menatap dengan memohon
"baiklah sebaiknya kita memang pulang. aku ingin mencari seorang ustad besok untuk membuka mata batinku. aku harus bisa melihat temanmu yang bernama Jin itu. jika dia tau kejadian tadi akan terjadi, maka pasti dia banyak tau tentang misteri penumbalan ini. ayo, aku antar kamu ke rumah sakit. biar aku saja yang menyetir"
keduanya masuk ke dalam mobil dan meninggalkan tempat itu. rumah sakit yang menjadi tujuan mereka, kini mobil itu telah parkir di halamannya. setelah Danial turun, Sharlin melambaikan tangan untuk segera pulang sementara Danial menunggu sampai temannya itu tidak terlihat lagi barulah dirinya berbalik untuk masuk ke dalam rumah sakit.
hanya dua langkah ia melangkahkan kakinya, Danial berhenti dan terdiam mematung di tempatnya. Airin telah berdiri di depan pintu rumah sakit menatap lurus ke arahnya. wanita itu berjalan melangkah mendekati Danial dan berdiri tepat di hadapannya. tatapan tajam Airin membuat Danial merinding, tatapan itu sama seperti saat dirinya terbaring di ranjang rumah sakit. aura mistis, Danial dapat merasakan hawa itu keluar dari bundanya.
"b-bunda" bibir Danial bergetar menahan takut
"Danial Zabdan, darimana kamu....?"
suara bundanya yang tegas dan penuh penekanan, membuat Danial tidak berkutik. kedua tangannya terasa dingin gemetar. Danial menelan ludah dengan susah payah.
"Danial"
"anu bun, aku....aku..." Danial tergagap meremas jemarinya yang kini semakin dingin
"sayang"
panggilan Adam membuat Airin memutar tubuhnya melihat suaminya itu berlari ke arah mereka.
"Danial" Adam mendekati putranya itu "kamu darimana, kenapa larut malam seperti ini kamu keluyuran...?"
"itu...aku...aku tadi"
"masuklah, kita bicara di dalam kamarmu" perintah Adam
Danial mengangguk dan melangkah menjauh dari mereka. Airin menghela nafas, Adam segera merengkuh pinggang istrinya dan mengelus lembut punggungnya.
"ada yang aneh dengan anak kita mas"
"aneh gimana sayang, dia masih seperti dulu. penakut kalau dimarahi"
"bukan itu mas. aku merasa Danial sedang menyembunyikan sesuatu dari kita. kenapa aku merasa dia sedang menyembunyikan seseorang" Airin menatap punggung anaknya yang masuk ke dalam rumah sakit
"apa maksudmu sayang...?"
"apakah kamu tau, aku pernah mendengar Danial berbicara sendiri di dalam kamarnya. aku kira dia sedang bersama Satria tapi kenyataan setelah aku membuka pintu, dia seorang diri di dalam kamar. tidak ada siapapun temannya. alasannya, dia sedang menelpon seseorang"
"mungkin memang benar dia sedang bicara lewat telepon sayang"
"kamu salah mas, ponselnya ada di atas meja sedang dirinya berada di kasur. lalu bagaimana dirinya bisa berbicara lewat sambungan telepon. bahkan aku begitu merasakan ada aura gaib yang tersimpan di dalam kamarnya. aku begitu yakin mas"
"masa sih anak kita berteman dengan hantu" Adam mulai berpikir
__ADS_1
"kenapa nggak mungkin. dulunya juga El-Syakir berteman dengan kamu saat kamu masih menjadi arwah kan"
"sudahlah sayang, itu pasti hanya pikiranmu saja. Danial masih begitu polos untuk hal seperti itu. ayo masuk, kita istirahat lagi"