
Tidak ada yang bisa dilakukan selain menunggu pagi datang. Namun untuk datangnya fajar, masih harus melalui beberapa jam lagi karena saat itu baru menunjukkan pukul dua dini hari.
Kejadian dari magrib hingga menjelang larut malam, tidak bisa membuat mereka untuk bergerak bebas. Harusnya acara sekolah itu berjalan dengan banyaknya pertandingan, keramaian yang tidak saling menyakiti, tawa gembira dari semua siswa-siswi SMA Citra Bangsa.
Namun yang terjadi malah sebaliknya....
kejadian aneh dan menyeramkan yang sama sekali tidak mereka duga, membuat mereka semua kalang kabut dan panik.
Adam, Vino, Zain dan ibu Naina sudah berada di musholla. Sementara di luar pagar gaib, siswa-siswi yang masih dalam keadaan kesurupan terus berusaha untuk masuk ke dalam musholla.
Ibu Naina sudah tidur di dalam musholla. guru cantik itu tidak bisa menahan kantuk yang melandanya.
"bagaimana ini om...?" tanya Jin.
Mereka berada di teras masjid, memperhatikan semua pelajar SMA Citra Bangsa berusaha menembus pagar gaib yang dibuat oleh El-Syakir.
"Danial" Adam memanggil Danial yang sedang di rangkul oleh Kirana.
"iya yah" Danial mendekati Adam begitu juga Kirana.
"kamu tidak merasakan apapun dengan kalung yang kamu pakai...?" tanya Adam.
"kalung pemberian bunda atau kalung pemberian Jin...?"
"kalung yang selalu membuat kamu kepanasan dan itu tandanya iblis itu sedang mengambil tumbalnya"
"nggak yah" Danial menggeleng pelan. "aku tidak merasakan apapun" lanjutnya lagi.
Adam menghela nafas, sepertinya iblis itu ingin bermain-main dengan mereka.
"sudah lakukan tugas kalian...?" Adam menatap semua tim awan biru.
"sudah om"
"belum yah"
Adam kembali menatap Danial yang sedang meremas jemarinya. Jin menghampiri dan mengusap pelan pundaknya.
"kami mencari keberadaan ibu Amanda namun tidak kami temukan hingga insiden ini pun terjadi" Jin menjelaskan.
"hanya ibu Amanda saja...?" Adam mencoba menggali lagi informasi.
"mas Gibran katanya akan mengurus pak Hamzah. Entah sudah ia lakukan atau belum. tapi sekarang yang tidak bersama kita adalah pak Danu, pak Hamzah, ibu Kahiyang dan pak Rahim" jelas Satria.
"Tidak masalah, nanti kita lakukan itu setelah pagi menyapa. Asal tidak ada tumbal yang diambil, semuanya akan baik-baik saja"
"apakah iblis itu akan mengambil tumbal di sekolah ini lagi...?" Sharlin bertanya. Remaja itu tidak lepas memperhatikan semua teman-teman mereka yang tidak sadar dengan apa yang mereka lakukan. "aku takut salah satu dari siswa atau siswi akan menjadi targetnya lagi. Aku tidak ingin papa terus disalahkan oleh kematian yang sudah-sudah. Bahkan terus memberikan pesangon besar untuk mereka yang mati di lingkungan sekolah ini. Meskipun begitu orang tua korban masih juga memaki papa karena tidak becus menjadi kepala sekolah"
"jadi selama ini papamu mendapatkan cacian seperti itu...?" Vino sungguh tidak percaya. yang mereka tau, tidak dialami apapun oleh pak Adiatama.
"papa memang tidak memberitahu siapapun. Namun aku pernah melihatnya langsung ketika orang tua siswa datang ke rumah dan memaki papa"
Zain merengkuh pundak Sharlin dan mengelusnya pelan. Ia tau, temannya itu merasa sedih atas apa yang harus dialami oleh papanya.
Mereka melewatkan sholat magrib dan juga sholat isya. bukan keinginan mereka, namun apa boleh buat. Untuk menyelamatkan nyawa, mereka terpaksa tidak melakukan kewajiban itu.
pukul dua dini hari telah berganti dengan pukul lima pagi. Bunyi suara adzan yang terdengar dari masjid menggunakan pengeras suara, membuat seketika semua siswa-siswi tersadar saat itu juga.
Mereka berhenti meraung, dan berteriak-teriak ingin menerobos masuk pagar gaib. bahkan terlihat mereka kebingungan ketika tersadar kalau saat ini mereka berkumpul di depan musholla. Bahkan mereka pun kaget, kepala sekolah juga guru mereka, dikelilingi oleh sebagian siswa.
"loh...kok kita di sini...?"
__ADS_1
"kok berkumpul di sini...?"
"apa yang terjadi...?"
"astaga, kenapa kita malah mengelilingi kepala sekolah...?"
sadar dari kesurupan itu, mereka menjauhi pak Adiatama juga yang lainnya yang sedang duduk di tengah-tengah mereka. Ibu Amanda dan ibu Dian bahkan sudah tertidur karena begitu mengantuknya. Ibu Amanda menggunakan bahu Gibran sebagai alas kepalanya sementara ibu Dian menggunakan kedua lututnya.
"Alhamdulillah, sepertinya mereka semua sudah sadar" El-Syakir mengucapkan syukur.
"kita sholat subuh terlebih dahulu, kebetulan suara adzan sudah terdengar" ucap Deva.
Ibu Amanda juga ibu Dian dibangunkan. Keduanya merasa lega ketika semua siswa-siswi mereka telah sadar.
"aw..ssshhh" ibu Dian merintih kesakitan. Kakinya memang terluka bahkan ada memar keunguan di sana. Ia mencoba untuk berdiri tapi sayangnya tidak sanggup karena satu kakinya tidak mempunyai tenaga.
"harus diobati, ayo saya bantu ke ruang UKS" pak Adiatama membantu ibu Dian untuk berdiri.
"terimakasih pak, tapi saya bisa jalan sendiri saja" ibu Dian melepaskan tangan pak Adiatama dari bahunya.
"semua orang yang ada di lingkungan sekolah ini adalah tanggungjawab ku ibu Dian. Jadi patuh dan mengikutlah" pak Adiatama tanpa permisi langsung menggendong tubuh ibu Dian.
"ASTAGA pak" ibu Dian malu setengah mati. Bagaimana bisa pimpinannya malah menggendongnya di hadapan semua siswanya. "turunkan saya pak, saya bisa jalan sendiri" sungguh ibu Dian benar-benar malu.
"diamlah ibu Dian, atau kamu akan saya jatuhkan" ancam pak Adiatama.
"aaa so sweet deh ibu Dian. meluk atuh bu, kalau jatuh kan sakit" ibu Amanda malah semakin menggodanya.
Semua siswa-siswi bersorak bertepuk tangan melihat kepala sekolah mereka menggendong ibu Dian. Sementara Sharlin, terbengong dengan mulut yang terbuka lebar.
"OMG Sharlin, sepertinya kamu akan secepatnya punya mama baru" Jin geleng-geleng kepala.
"cieee...mama baru nggak tuh" Zain menyenggol bahu Sharlin.
Setelah sholat subuh, matahari perlahan mulai memperlihatkan sinarnya. Semua siswa-siswi kembali ke tenda masing-masing sementara para guru juga orang tua tim awan biru masih berada di dalam musholla. Kecuali ibu Dian yang masih berada di UKS. Pak Hamzah, ibu Kahiyang, pak Danu juga pak Rahim sudah berada di dalam mushola setelah semalam mereka menghilang entah bersembunyi di mana. Bukan hanya mereka saja, guru-guru yang dari sekolah lain pun ada di tempat itu.
"pak Darwis, bapak semalaman bersembunyi dimana...?" saya benar-benar minta maaf atas kejadian tadi malam. Kepada guru-guru yang menjadi tamu kami di sini, saya sebagai kepala sekolah mengucapkan permintaan maaf yang begitu besar" pak Adiatama begitu merasa tidak enak hati.
"loh kenapa harus meminta maaf pak, memangnya semalam kejadian apa yang telah terjadi...?" pak Darwis, perwakilan dari SMA 2 xxx bertanya bingung.
"iya, kenapa harus meminta maaf. kejadian apa yang terjadi sampai kami tidak tau...?" pak Farid pun ikut bingung.
Pertanyaan dari guru-guru sekolah lain membuat semua orang mengernyitkan dahi dan saling pandang.
"kenapa bisa mereka tidak tau kejadian mengerikan tadi malam" batin Adam.
"ada apa ini, tidak mungkin mereka tidak tau kejadian semalam" pak Adiatama membatin.
"memangnya ada apa pak Adi, apakah terjadi sesuatu yang bermasalah dengan siswa-siswa kita...?" pak Dimas bertanya karena tidak ada yang menjawab pertanyaan dua guru tadi.
"ah tidak...maksud saya....saya meminta maaf jika kalian semua tidak nyaman berada di sekolah ini. Masalah tadi malam itu bukan masalah apapun, hanya masalah kecil dan kami sudah mengatasinya" pak Adiatama memberikan jawaban.
"tentu saja kami nyaman pak. Bahkan semalam kami tidur dengan nyenyak. Siswa-siswi kami pun lelap dalam tidur mereka" ibu Dinda menimpali.
setiap sekolah diutus dua guru untuk menemani siswa-siswi mereka datang ke sekolah SMA Citra Bangsa.
"syukurlah, kalau begitu mari kita sarapan terlebih dahulu. Saya telah memesan makanan untuk kita semua" ucap pak Adiatama.
Para guru dari sekolah lain berjalan terlebih dahulu menuju ke ruangan yang telah dijadikan sebagai tempat untuk makan. Tim awan biru pun kembali bergabung bersama teman-teman mereka yang lain.
"pak Rahim, kalian bisa menemani mereka. Saya harus ke kantor sebentar" ucap pak Adiatama.
__ADS_1
"baiklah. Ayo pak Hamzah, Kenan, pak Danu" ajak pak Rahim.
Semua guru meninggalkan musholla dan kini tersisa tim samudera bersama pak Adiatama juga Gibran.
"ini aneh menurutku. kenapa bisa hanya kita yang melalui masa mengerikan semalam sedangkan mereka tidur nyenyak di tenda" ucap Leo.
"iya. Aku pikir semua orang kerasukan seperti siswa-siswi sekolah ini" timpal Bara.
"itu artinya dia hanya mengincar siswa-siswi yang memang bersekolah di sini. Seharusnya itu membuat kita lega, karena iblis itu tidak menganggu orang luar yang datang ke sini. tapi kita harus juga waspada, kejadian semalam bisa saja akan terjadi lagi dan mungkin dia akan melancarkan aksinya untuk mengambil tumbal di sekolah ini lagi" ucap Adam.
"lalu kita harus bagaimana sekarang. Hanya dengan dia mengambil tumbal kak Airin akan tau siapa dalangnya. Itu berarti kita harus tetap stay di sini untuk menjaga anak-anak" El-Syakir menghela nafas.
"kak Gibran, apakah kamu sudah memasukkan batu itu ke dalam tubuh pak Hamzah...?" Adam mengalihkan mata kepada Gibran.
"sudah, aku melakukannya kemarin" Gibran menjawab.
"berarti tersisa ibu Amanda saja, karena Danial belum melakukan tugasnya itu"
"sepertinya saat ini Danial akan melancarkan aksinya. Lihatlah, dia sedang mendekat ibu Amanda" Vino menunjuk Danial sedang bersama Jin, mengikuti ibu Amanda yang sepertinya akan ke ruang UKS.
Sementara penglihatan pak Adiatama, kepala sekolah itu hanya melihat Danial berjalan seorang diri di belakang ibu Amanda.
"kalau begitu kita sarapan terlebih dahulu. Kita juga membutuhkan tenaga untuk mengalahkan iblis itu" pak Adiatama mengajak mereka.
"terimakasih banyak pak, tapi sepertinya kami harus kembali ke mobil karena kamipun mempunyai makanan di sana. Biarkan kami terlihat bahwa kami akan pulang namun sebenarnya kami masih di sekitar sekolah ini. Itu semua untuk memberikan ruang iblis itu melancarkan rencananya dan tentunya kita akan meringkusnya nanti" Adam menolak halus ajakan pak Adiatama.
"baiklah. Saya berharap kalian memang tetap akan berada di sekitar ini"
Tim samudera bergegas meninggalkan musholla. Mereka berjalan ke arah parkiran para guru. kemudian masuk ke dalam mobil dan berpura-pura meninggalkan lingkungan sekolah, padahal sebenarnya mereka mencari jalan lain untuk tetap bisa memantau keadaan sekolah.
_____
"ibu Amanda" Danial memanggil wanita yang berjalan ke arah UKS dengan piring berisi nasi juga lauk serta air botol minuman di tangannya. Wanita itu berhenti dan membalikkan tubuh.
"Danial...? Ada apa...?" ibu Amanda mengernyitkan dahi ketika melihat Danial terburu-buru berjalan ke arahnya. Sementara Jin berhenti melayang dan membiarkan Danial mendekati gurunya itu.
Dan ketika Danial semakin dekat dengan ibu Amanda, Jin menjentikkan jarinya dan seketika Danial tersandung oleh kakinya sendiri. Remaja itu jatuh ke depan, kedua tangannya berpegangan di lengan ibu Amanda. batu kecil yang ia pegang segera ia tempelkan di lengan wanita itu dan dengan cepat batu itu masuk ke dalam kulit ibu Amanda.
"astaga Danial, hati-hati dong" ibu Amanda memekik karena hampir saja ia terhuyung ke belakang dan menjatuhkan piring juga air botol minuman yang ia pegang.
"aduh..maaf bu. Saya tidak sengaja" Danial memasang wajah polosnya, merasa bersalah begitu.
"hhhh" ibu Amanda terlihat kesal kemudian menatap Danial dengan tajam. "ada apa memanggil ibu...?"
"kata pak Gibran, saya di suruh menggantikan ibu membawakan makanan untuk ibu Dian. Pak Gibran ada perlu dengan ibu" Danial berbohong karena ia tidak mendapatkan alasan untuk menjawab pertanyaan gurunya itu.
Ibu Amanda menatap Danial namun kemudian matanya melirik ke arah Jin yang sedang memperhatikan keduanya. Ketika tatapan mata Jin bertemu dengannya, ibu Amanda segera mengalihkan wajah.
"masih juga berpura-pura" gumam Jin tersenyum kecil.
"katakan kepada pak Gibran, nanti saja dia berbicara denganku. Setelah saya dari UKS saya akan kembali ke sana" tanpa menunggu jawaban Danial, ibu Amanda berbalik mengayunkan langkah meninggalkan Danial.
Jin melayang mendekat Danial yang masih menatap kepergian ibu Amanda.
"bagaimana...?" tanya Jin.
"beres" Danial tersenyum menatap Jin.
"ya sudah, ayo kembali. Sebentar lagi ada pertandingan basket"
keduanya kembali ke tenda. pagi itu SMA Citra Bangsa akan bertanding basket melawan SMA 2xxx. dan setelah basket, mereka akan bertanding sepak bola.
__ADS_1
Hari itu berjalan seperti biasanya setelah semalam mereka menghadapi hal yang di luar dugaan.
Akankah kejadian berikutnya akan menyusul...?