Panggil Aku Jin

Panggil Aku Jin
Episode 44


__ADS_3

"sedang menunggu siapa...?" ibu Amanda bertanya setelah menurunkan kaca mobilnya.


"taksi pesanan bu" Satria menjawab.


Mereka merasa was-was bertemu dengan ibu Amanda, apalagi Jin mengatakan kalau wanita itu seakan bisa melihatnya meskipun belum bisa dipastikan.


Bukankah semua guru di sekolah SMA Citra Bangsa tetap menjadi pelaku karena pelaku utama belum tertangkap. Itulah mengapa mereka harus berhati-hati dengan semua guru.


"tumben tidak diantar, biasanya pak Samsul kan yang mengantar kalian...?" ibu Amanda menatap mereka satu persatu.


"darimana ibu tau kalau sopir papi adalah pak Samsul...?" Alea yang kala itu berada di belakang Danial, menggeser pelan tubuh Danial aga dirinya bisa terlihat jelas oleh guru mereka itu.


"dari pak Gilang, dia pernah memberitahu ibu" ibu Amanda tersenyum meskipun ditatap selidik oleh Alea. "bagaimana kalau kalian bareng ibu saja...?"


"sedekat itu ya mas Gilang dengan ibu...?" kali ini Kirana yang bertanya.


Ibu Amanda tersenyum kemudian mengangguk. "tidak terlalu dekat juga, tapi dia pernah mengatakan kalau kalian adalah keponakannya. Tapi kok manggilnya mas bukan om atau paman...?"


"mas Gibran nggak mau dipanggil paman bu, ketuaan katanya. Dia lebih suka dipanggil kakak atau mas saja. Kemarin-kemarin sih kami manggilnya kak Gibran, tapi agar lebih dekat lagi jadi kami manggilnya mas saja" Satria menjelaskan.


"ooh" kepala ibu Amanda manggut-manggut. Kalau begitu ayo bareng sama ibu"


"nggak usah bu, terimakasih. Lagipula barang kami banyak dan juga kami sudah memesan taksi online" Danial segera menolak.


"batalkan saja, lagipula kan kita searah. Barang-barang kalian bisa di simpan di bagasi mobil"


"sayang kalau dibatalkan bu, kan kasian sopirnya. Mereka juga sedang mencari nafkah" ucap Ayunda, Kirana ikut mengangguk karena memang dua gadis itu tidak ingin naik ke mobil ibu Amanda.


Ibu Amanda menatap mereka dengan tatapan lekat, satu persatu tidak luput dari jangkauan kedua matanya. Anak-anak remaja itu, ada yang melihat ke arah jalan, memeriksa ponsel dan ada juga yang memang berdiri menatap ke arahnya.


"kalian takut ibu culik...?" satu alis ibu Amanda terangkat.


"sa ae nih ibu, yang benar aja kita takut sama ibu. Hanya saja memang kami sudah memesan taksi bu, jadi nggak sampai hati juga mau batalkan" Zain menjawab dengan tersenyum dan merangkul bahu Satria.


"oh, ya sudah kalau begitu... ibu duluan. Ingat Jangan sampai telat, pertandingan bola akan dimulai sore ini. Setidaknya kelas X harus memberikan semangat kepada sekolah kita"


"siap bu, in saya Allah kami tepat waktu" Danial menjawab.


kepergian ibu Amanda membuat mereka semua lega. Bahkan menghembuskan nafas karena sepertinya sejak tadi mereka bagai menahan nafas.


"ibu Amanda baik loh ya....masa iya dia pelakunya" Ayunda menatap mobil ibu Amanda yang semakin jauh.


"kira-kira bagaimana menurutmu tentang musuh dalam selimut...? Mereka sahabat dan bahkan saudara sendiri. Yang namanya kejahatan tidak mengenal sikap orang itu baik atau tidak. Selama ada niat maka jelas akan berjalan" Danial menghela nafas panjang. sampai saat ini manusia yang bersekutu dengan iblis itu belum diketahui, semakin rumit karena iblis itu mengambil tumbal dari luar.


Mereka terus menunggu sampai rintik-rintik hujan turun. Semua tas diangkat dan dibawah ke ruko tempat berteduh. Sudah setengah jam menunggu, taksi online yang mereka pesan belum juga datang.


"kok lama sih, sudah jadi ikan kering dari tadi kita menunggu" ucap Alea.


"dicancel ya Dan...?" tanya Zain.


"nggak kok, mana mungkin aku cancel" Danial menggeleng.


"lah terus kenapa belum datang juga...?" tanya Satria.


Saat itu yang tadinya hanya turun rintik-rintik, sekarang perlahan mulai deras dan semakin deras. Sebuah motor besar yang melaju berhenti di depan mereka dan berlari kecil berteduh di dekat mereka. Laki-laki itu membuka helmnya, tim awan biru mengenal laki-laki itu.


"pak Kenan...?"


Suara Kirana mengalihkan perhatian laki-laki itu mengarah kepada mereka. Kening pak Rahim mengerut dan mendekati mereka.


"kehujanan juga...?"


"iya pak, nunggu taksi tapi nggak datang-datang" Satria menjawab.


"nggak bareng sama pak Gibran...? tadi dia juga pulang loh mau ambil perlengkapan"

__ADS_1


"tadi sebenarnya kami diantar pak, tapi karena ban mobil terkena paku dan pecah, jadinya kami turun di sini dan memesan taksi" jawab Danial.


Pak Rahim manggut-manggut, mereka kemudian terlibat perbincangan. Ditarik kesimpulan kalau pak Rahim adalah guru yang mudah bergaul dengan orang lain. Buktinya sekarang ini mereka nyaman bercerita dengan guru yang masih muda itu.


"pak maaf nih yaaa, maaf banget" Alea mendekati pak Rahim dan berdiri di depannya.


"ada apa...?" kening pak Rahim mengernyit


"bapak.... emmm apakah punya luka di perut dan di punggung...?"


Pertanyaan Alea membuat kening pak Rahim semakin mengerut, kebingungan terpampang jelas di wajahnya. Sementara gadis yang menanyainya tersenyum meringis menggaruk tengkuknya.


"emmm jangan salah paham dulu pak. Papi pernah mempunyai teman yang begitu mirip dengan bapak, tapi sayangnya temannya itu hilang bagai ditelan bumi. Pas pertama melihat pak Rahim, aku pikir mungkin bapak adalah teman papi. Temannya itu pernah membawa kabur uang papi 100 juta"


"emang iya Al...?" Ayunda malah penasaran.


"i-iya, makanya itu aku nanya... hehehe, maaf ya pak ya" Alea cengengesan.


"astaga anak ini, dia nggak tau apa kalau semua guru itu dicurigai" Danial membatin menyayangkan perbuatan adik sepupunya itu.


"tapi saya tidak mempunyai luka yang kamu tanyakan itu. Kalaupun ada bukan di perut atau di punggung tapi di paha karena kecelakaan" pak Rahim akhirnya menjawab.


Alea masih belum beranjak dari tempat ia berdiri. Pak Rahim merasa kalau gadis itu tidak mempercayai ucapannya.


"apa kamu mengira kalau saya penipu itu begitu...?"


"yaaa habisnya wajah bapak, mirip sekali dengan teman papi saya"


"ck...remaja zaman sekarang memang rada aneh. Apakah kamu tau kalau yang kamu lakukan itu, seakan menuduh tanpa bukti. Mau aku laporkan ke polisi dengan tuduhan menyudutkan dan membuat saya tidak nyaman serta penuduhan penipuan...?" pak Rahim menatap Alea dengan bersidekap.


"maafkan adik saya pak, dia memang rada-rada aneh" Danial segera menarik Alea untuk menjauhi pak Rahim.


"gila lu ya Al, bisa-bisanya elu ngelakuin itu. Otak lu simpan dimana sih" Ayunda berbisik dan juga kesal, sikap Alea kali ini benar-benar kelewatan.


"mampus lu Al" Kirana berucap pelan.


Alea menelan ludah dengan susah, bagai terjepit tenggorokannya. dirinya merutuki kebodohan yang ia lakukan. Hujan telah redah, saat itu pak Rahim berjalan ke arah motornya dan memasang helmnya. namun kemudian ia berbalik lagi dan menatap semua remaja itu.


"saya hanya ingin mengatakan kalau saya tidak mempunyai luka seperti yang disebutkan Alea tadi. Saya bukan p e n i p u, teman papimu itu" Rahim menatap tajam Alea yang mulai gugup.


Guru itu meninggalkan mereka, seketika Alea mendapatkan siraman rohani dari semua temannya.


"kamu nekad banget sih Al, gila tau nggak" Zain mencebik kesal.


"bisa-bisanya kamu bersikap seperti itu kepada pak Rahim sih Al. Dibalik kecurigaan kita, meskipun begitu dia adalah guru kita dan tidak sepantasnya kamu menanyakan hal seperti itu tadi" Satria menggeleng kepala.


"ya habisnya kita sudah satu bulan tapi belum juga menemukan pelakunya, yang ada korban tumbal semakin bertambah. Emang kalian nggak kasihan apa sama para korban dan juga calon tumbal berikutnya. Satu bulan loh gais satu bulan, dan itu bukan waktu yang singkat" Alea membela diri.


"tapi bukan dengan cara seperti tadi. Kalaupun iya dia pelakunya, apa kamu yakin dia akan jujur begitu...?" Danial bersuara.


"ya siapa tau kan karena dirinya tidak terima dianggap penipu maka dia menunjukkan luka yang aku tuduhkan tadi"


"tapi buktinya dia nggak menunjukkan apapun kan" ucap Ayunda.


"kalian kok malah marahin aku sih" Alea meninggikan suara.


"karena kamu salah" ucap Zain.


"ya setidaknya aku melakukan sesuatu, nggak kayak kalian yang hanya diam menonton saja. Emang coba kalian pikir apa yang sudah kalian lakukan untuk mencari pembunuh itu"


"gais"


Suara seseorang membuat perdebatan mereka terhenti. Sharlin datang bersama pak Adiatama. Remaja itu keluar dan menghampiri mereka.


"kok di sini, ngapain...?"

__ADS_1


"mobil bannya bocor, kami lagi nunggu taksi pesanan tapi nggak datang-datang" Danial menjawab.


"ya udah bareng aku aja, ayo. Bentar lagi pertandingan akan dimulai" Sharlin menarik tangan Danial. Alhasil mereka menumpang di mobil kepala sekolah.


tiba di sekolah, ternyata pertandingan di undur karena hujan tadi dan akan dilakukan esok pagi. Semua siswa sudah mendirikan tenda di depan kelas masing-masing dan ada juga di dekat taman.


Tim awan biru mendirikan dua tenda, satu untuk para laki-laki dan satunya untuk perempuan.


"mas Gibran" Satria melambaikan tangan ke arah Gibran yang sedang berjalan bersama pak Adiatama. Dua laki-laki itu melangkah ke arah mereka.


"anak-anak" pak Adiatama menyuruh mereka untuk berkumpul. "tetap berhati-hati ya, jangan saling berjauhan. kalau kemana-mana harus tetap bersama. bapak sudah memasang cctv di berbagai tempat, dan satu lagi jangan pernah pergi lagi ke hutan itu, kalian mengerti...?"


"mengerti pak" kompak mereka menjawab.


"pak Gibran, saya menemui para tamu kita dulu"


"baik silahkan pak"


Setelah pak Adiatama pergi, Gibran mengajak tim awan biru ke suatu tempat, tempat yang sepi yang tidak dikunjungi oleh para siswa.


"kok ke sini mas...?" tanya Sharlin.


Gibran mengeluarkan sesuatu di tas kecilnya. Sebuah kalung bermata batu yang berwarna hijau. "ini adalah pemberian mbak Airin khusus untuk kalian, dengan begini dia bisa merasakan ketika kalian dalam bahaya sebab kalung itu terhubung dengannya"


satu persatu mereka mengambil kalung itu dan memakainya, kalung yang dibuat oleh ratu penguasa hutan timur kerajaan karing-karing, sudah pasti ada sesuatu di dalam kalung itu.


"Jin kemana, kenapa tidak bersama kalian...?"


"aku di sini" Jin datang, duduk santai dengan bersila melayang.


"kamu darimana saja...?" tanya Danial.


"kenapa...? Kangen ya...?" godanya.


"ck, bukan aku tapi Ragel" cebik Danial.


"aku hanya berkeliling melihat sekitar, memastikan semuanya aman. Dalam keadaan seperti ini, aku harus tetap stay di sini. Bukan hanya aku tapi kita semua, perasaanku sekarang mulai tidak enak. Dan, pokoknya kalau kamu merasa kalung yang kamu pakai menyiksamu karena panas, cepat beritahu aku atau yang lainnya" Jin menatap Danial.


Danial menghela nafas panjang, kemudian mengeluarkan dua kalung yang sekarang ia pakai.


"sudah berkali-kali aku merasakan tapi kita bahkan tidak bisa melakukan apapun, karena dia yang mengambil tumbal dari luar sekolah" Danial memegang kedua kalung itu.


"maka dari itu, sekarang kita harus membuat agar dia ditemukan di manapun dirinya mengambil tumbal" ucap Gibran.


"caranya...?" mereka kompak menatap Gibran.


"sini"


Gibran mengumpulkan semuanya membentuk lingkaran, laki-laki itu memberitahu satu rencana dengan suara yang pelan, hanya mereka yang dapat mendengarnya.


"kalau ketahuan bagaimana...?" tanya Zain, ragu untuk melakukannya.


"maka usahakan jangan sampai ketahuan" jawab Gibran.


"tapi itu kan dari bunda, iblis itu pasti bisa merasakannya bukan. Sia-sia dong" Danial pun ikut ragu.


"kalian lupa mbak Airin itu siapa. Batu ini terbuat dari mahkota yang ia pakai dikepalanya. Iblis itu tidak akan merasakan apapun. Cukup tempelkan di kulit mereka maka batu kecil itu akan masuk ke dalam tubuh. Dengan begitu mbak Airin bisa mengetahui dimana keberadaan iblis itu berada ketika ia mengambil tumbal nanti" Gibran menjelaskan.


"berarti nanti tante Airin bisa merasakan dan mengetahui siapa dalangnya dong" Ayunda bersemangat.


"ketika ia menggunakan kekuatan iblis itu, sudah pasti mbak Airin bisa merasakan"


"okelah, mari kita memulai misi. Pokoknya kita harus secepatnya menangkap iblis itu" ucap Satria.


Gibran memberikan lagi batu kecil berwarna hijau kepada tim awan biru. Rencana mereka kali ini adalah menempelkan batu kecil itu ke kulit sasaran mereka.

__ADS_1


__ADS_2