Panggil Aku Jin

Panggil Aku Jin
Episode 31


__ADS_3

"lucu sekali sih kamu.... anaknya siapa ini sih" Gibran menciumi leher Ragel, alhasil bayi itu tertawa tawa karena merasa geli.


selesai sarapan pagi semua orang berkumpul di ruang keluarga. Galang sudah berpamitan kepada semua orang untuk berangkat ke sekolah. anak remaja itu pergi bersama Gauri. sebelum ke sekolahnya, Galang mengantar adiknya terlebih dahulu ke sekolah taman kanak-kanak.


Samudera berada di gendongan ayah Adnan, berjemur sinar matahari di samping rumah di dekat kolam renang. keduanya terlihat sebab dinding yang akan ke kolam renang itu adalah dinding kaca dan hanya akan di tutupi dengan gorden berwarna putih.


hari ini para suami akan mengerjakan pekerjaan kantor di rumah saja. tentu saja membuat para istri senang sebab dapat bersama suami mereka dengan waktu yang full time meskipun mereka akan sibuk dengan laptop masing-masing, tapi hal itu tidak membuat mereka berkecil hati. dapat menemani mereka bekerja saja, hal itu sudah membuat merasa bahagia.


Gibran pun akan menghabiskan waktunya bersama keluarganya untuk saat ini. laki-laki yang sudah berumur matang untuk siap menikah itu, kini tengah sibuk mewarnai bersama putra Adam dan Airin. sementara untuk anak-anak remaja, mereka berkumpul di kamar Danial.


banyak hal yang diceritakan, banyak rencana yang terlintas di kepala mereka. satu hari itu, membuat Sharlin juga Jin menjadi lebih dekat dengan anak-anak tim samudera.


"aku nggak nyangka ternyata om Adam sama tante Airin itu orang yang luar biasa. lebih-lebih tante Airin, dia adalah seorang ratu pula. berarti kalau tante Airin seorang ratu, kamu anak dari seorang ratu dong Dan" ucap Kirana saat itu.


"bunda kan ratu di kerajaan gaib, bukan di dunia manusia" jawab Danial.


"tapi tetap saja kamu anak seorang ratu tersakti di kerajaan gaib. aku penasaran, kira-kira kerajaan karing-karing itu seperti apa ya. pengen melihat secara langsung" ucap Ayunda.


"tapi ya yang aku penasaran kan, bagaimana ceritanya sampai ayah dan bunda bertemu. secara kan mereka beda alam" Satria menggaruk kepala.


"beda alam gimana, emang kamu nggak dengar kalau dulunya om Adam adalah sosok arwah sama seperti Jin. bisa jadi kan mereka bertemu di suatu tempat, saling tatap tatapan terus jatuh cinta deh" Zain malah membayangkannya.


"iya juga sih" Satria manggut-manggut.


"tapi bukan hanya ayah sama bunda yang sakti. papa El juga sakti loh, kalian nggak lihat kerisnya tadi. amazing banget nggak sih para orang tua kita. malah pake julukan tim samudera lagi. lah kita harusnya juga begitu tau. punya nama untuk tim kita" Alea kembali meminta pencarian nama.


"ngapain punya nama segala, kitanya penakut gini. mereka tuh kan hebat, lah kita ini mah kaleng-kaleng" Danial menimpali.


"kaleng-kaleng...? elu aja kaleee" Kirana tidak menerima dirinya disebut kaleng-kaleng.


"kalau memang sekiranya perlu untuk mencari nama, ya sudah tinggal mencari saja dan menyepakati nama apa yang cocok untuk kita" Sharlin angkat suara.


"asal bukan kartun ya. heran aku....nama tim pakai Doraemon, nggak sekalian saja Barbie" Zain sudah mewanti-wanti agar tidak memberikan nama yang tidak masuk akal.


"awan biru saja bagaimana...?" usul Danial.


"awan biru...?" kening semuanya mengekerut menatap Danial dengan wajah ekspresi meminta penjelasan, kenapa sampai nama itu yang ia utarakan.


"awan adalah kumpalan asap dari pembakaran yang naik ke atas sampai ke langit yang biru. tidak menyatu namun saling melengkapi menampakkan keindahan dari bawah, siapapun yang melihat ke atas langit yang begitu cerah, akan merasakan keindahan dua warna yang melengkapi keindahan langit. kita akan menjadi awan yang naik ke tempat yang lebih tinggi dengan harapan yang begitu besar hingga harapan itu menjadi kenyataan yang indah nantinya, seperti indahnya awan yang bersatu dengan langit yang biru"


"tapi kalau mendung, maka tidak akan ada lagi keindahan awan biru. semuanya akan menjadi gelap" Jin bersuara dimana tadi dirinya hanya menyimak saja. hantu itu sedang memainkan game yang ada di ponsel Danial sambil melayang berputar-putar dengan kedua kaki terlipat.


"mendung memang akan selalu datang namun tidak akan selamanya berada di atas langit sana. keindahan itu akan muncul kembali setelah hujan turun dan mendung akan hilang. kita anggap bahwa mendung itu adalah ujian dalam tim kita. untuk melewati ujian itu maka kita harus selalu bersama dan saling melengkapi layaknya awan yang selalu setia berada di angkasa bersama langit yang biru. setelah mendung hilang, maka semuanya akan normal kembali bukan"


"boleh juga, aku suka nama itu...awan biru" Alea tersenyum, saat itu dirinya melirik Sharlin dan tanpa disangkanya rupanya remaja itupun sedang menatap dirinya. refleks Alea membuang muka, dirinya malu dan wajahnya merona.


"iya, aku juga suka. nama yang cantik" Sharlin menyunggingkan senyum, merasa lucu dengan sikap Alea yang kepergok sedang mencuri pandang ke arahnya.


"lalu kalian bagaimana...?" Danial


"aku setuju" ucap Satria.


"aku juga" Zain mengangguk.


"aku mengikut saja lah" ucap Kirana.


"terus kamu Ay...?" Danial bertanya kepada gadis itu.


"iya, aku juga setuju" Ayunda mengangguk.


"baiklah, berarti sekarang nama tim kita adalah awan biru. maju berjuang bersama" Danial menyimpan tangan kanannya di lantai.


"maju berjuang bersama"


"maju berjuang bersama"


satu persatu tangan mereka saling menindih hingga tangan Sharlin berada di atas tangan Alea. gadis itu gugup, apalagi Sharlin tersenyum ke arahnya, sungguh membuat dirinya ingin menghilang saja.


Jin yang sedang fokus dengan ponsel Danial, mulai tersenyum jahil dan mendekati Alea kemudian berbisik di telinga gadis itu.


"apa perlu aku beritahu perasaanmu padanya...?"


seketika Alea melotot, ia malu ternyata perasaannya diketahui oleh Jin. namun dengan memasang wajah jual mahal, Alea hanya mencebik dan memalingkan wajah.


"cieee..." Jin semakin menggoda Alea. semua orang heran dengan kelakuan keduanya.


"kenapa sih kak...?" tanya Sharlin.


"nggak kenapa-kenapa" Jin kembali menjauhi mereka dan duduk di jendela kamar.


(kenapa bisa sampai Jin tau sih. malu banget) Alea memukul kepalanya dengan pelan.

__ADS_1


"jelaslah aku tau, aku kan sakti" Jin menjawab dan menaik turunkan alisnya menatap Alea.


"kok kamu bisa baca pikiran aku" Alea kaget.


"baru tau ya....? udah lama kali, jadi jangan berani-berani kalian mengumpat diriku kalau tidak ku buang kalian kelaut"


"emang iya Dan...?" tanya Satria.


"hummm, waspadalah" Danial memasang wajah serius kemudian tertawa pelan.


_____


grup tim samudera.


Adam : halo para besti, masih hidup kah...?


satu detik


dua detik


tiga detik


Deva : masih lah...lagi main malah.


Vino : aku saja sudah ronde kedua kak Deva.


Bara : @Vino, @Deva...masih pagi wooooi


El-Syakir : @Bara, udah siang keles.


Bara : buset daaah...laju aja kalian.


Deva : oh harus dong. semakin tua semakin laju.


Adam : terserah kalian lah. Leo kok nggak nongol.


Vino : lagi buat adik mungkin untuk Alea.


Alana : sudah selesai kak Vino, malah sudah tiga ronde.


El-Syakir : astaga....kalian ini


Nisda : @Bara, yaaaaang, mau juga.


Adam memukul keningnya, semua teman-teman somplaknya memang tidak mengenal waktu. dan hal seperti itu bukanlah hal yang baru untuk mereka. pembahasan seperti itu sering saja terjadi, asal bukan membuka aib rumah tangga itu hal yang wajar saja.


Adam : ada yang harus kita lakukan kawan-kawan, demi menyelamatkan anak-anak kita. ini menyangkut nyawa mereka dan juga nyawa siswa-siswi di tempat mereka bersekolah.


Leo : memangnya ada masalah apa. gue pikir semuanya baik-baik saja sebab Alea tidak pernah bercerita kepadaku juga Alana.


Melati : ada apa dam...? kenapa nyawa mereka terancam...?"


El-Syakir : sebaiknya sebentar malam kalian datang ke rumah untuk membahas hal ini bersama anak-anak.


Starla : kalau begitu selesai magrib kami akan ke sana.


Nisda : kebiasaan nih mereka, nggak pernah mau cerita.


Adam : kami tunggu kalian semua di rumah.


Deva : okeh....


Vino : siiip


Bara : meluncur.


_____


perputaran waktu begitu cepat berlalu, tadinya siang kini telah berganti menjadi sore hari. pukul lima sore, semua anak-anak membawa Ragel juga Samudera bermain di halaman rumah. Gauri sedang diajari bersepeda oleh Galang, gadis kecil itu begitu bersemangat dan juga beberapa kali jatuh.


"sakit nggak...?" Galang meniup pelan lutut adiknya.


"dikit, tapi Gauri senang kok" wajahnya menampakkan keceriaan, giginya yang ompong terlihat karena senyumannya yang lebar.


"adik kakak memang hebat. nggak boleh nangis ya, nanti dimarahi sama mama"


"tapi papa udah lihat kita kak" mata indahnya melihat ke arah Zidan yang sedang berbincang bersama ayah Adnan juga para suami lainnya. sedang Gibran, laki-laki itu menuntun Ragel berjalan pelan bermain bola di rumput yang halus.


"kalau papa, nggak akan marah kok. nanti kita jelasin sama papa kenapa Gauri jatuh. mama juga nggak akan marah, tapi itu kalau Gauri nggak boleh nangis. okeh"


"okeh" dua jempol kecilnya diangkatnya ke udara.

__ADS_1


Zidan tersenyum kecil melihat kedekatan kedua anaknya.


karena akan menjelang malam, maka para istri berkumpul di dapur untuk memasak makan malam. sementara para suami bermain dengan anak-anak mereka di halaman rumah.


seperti yang mereka sepakati, tim samudera datang ke rumah Sanjaya setelah sholat magrib. kedatangan mereka membuat anak-anak merasa senang dan mendekati orang tua masing-masing.


"dia siapa...?" Leo bertanya saat melihat Sharlin duduk di samping Zain.


"teman kami pi, namanya Sharlin" Alea menjawab pertanyaan papinya.


Sharlin tersenyum dan dengan sopan mendekat kemudian mencium tangan mereka semua.


"sopan sekali, mau jadi mantu tante nggak...?" goda Nisda.


"mama" Kirana melotot dan cemberut, sementara Sharlin hanya membalas dengan senyuman dan sedikit malu.


"apa sih Ki, mama kan hanya bertanya siapa tau dia mau. malah ganteng pula. mau ya jadi mantu tante" ucap Nisda lagi.


Sharlin tersenyum kikuk dan menggaruk lehernya yang tidak gatal. sementara Alea, gadis itu memiliki rasa cemburu tatkala Sharlin akan dijodohkan dengan Kirana, padahal Nisda sebenarnya hanya bercanda.


"daripada jodohin mereka, mending Carikan buat kak Gibran saja Nis, udah kelamaan jomblo dia ini" ucap El-Syakir.


"gue lagi....gue lagi" Gibran mencebik sebab dirinya terus dibawa-bawa.


"wah kebetulan kak Gib, aku punya tetangga yang lagi cari calon suami. cantik loh kak, apalagi dia wanita sholeha. kalau mau, biar aku kenalkan sama kakak" Melati mulai menawarkan.


"nanti saja lah, aku masih nyaman seperti ini. iya kan bos ku" Gibran menggelitik Ragel yang ada di pangkuannya, Ragel tidak bisa untuk tidak tertawa.


pukul sepuluh malam, semua orang sudah masuk ke dalam kamar masing-masing untuk istirahat. namun tidak dengan tim samudera, mereka kini sedang membicarakan hal yang serius di ruang tempat biasanya semua orang berkumpul.


"lalu dimana hantu itu, kenapa sejak tadi aku tidak melihatnya...?" Vino melihat kanan dan kirinya mencari keberadaan Jin.


"mungkin di kamar Danial. dia memang selalu ada di sana" jawab Adam.


"jadi anak-anak, mereka sudah dapat melihat hal yang seperti itu...? sejak kapan...?" tanya Starla.


"sejak mereka membuka mata batin, kemarin" jawab El-Syakir.


"mas, aku juga ingin membantu" Airin mengatakan keinginannya kepada Adam.


"Ay, cukup waktu kamu melahirkan Ragel dirimu koma. aku tidak mau kamu kenapa-kenapa hanya karena memaksa untuk ikut. bukannya dokter bilang kalau kamu tidak boleh mengerjakan sesuatu yang berat. kalau kamu ikut, tentu akan bertarung bukan. lalu kalau kamu jatuh sakit lagi bagaimana. aku tidak bisa melihat kamu terbaring lagi di barankar rumah sakit Ay" dengan lembut Adam menolak keinginan Airin.


"baiklah" Airin pasrah dan mengikut saja perintah suaminya. toh mereka juga bukan manusia sembarangan, mereka pasti bisa menangkap iblis itu.


"jadi apa rencana kita...?" tanya Deva.


"kita akan menggunakan anak-anak untuk membuat dirinya keluar" jawab Adam dengan wajah yang serius.


"maksudnya kamu mau menjadikan anak-anak sebagai umpan begitu...?" Bara memperjelas.


"iya. tumbal yang dia selalu ambil adalah siswa ataupun siswi. maka dari itu harus mereka yang menjadi umpan, bukan kita


"mereka semua atau hanya salah satunya...?" tanya Melati.


"dua orang, laki-laki dan perempuan"


"aku takutnya mereka nggak akan sanggup. mereka itu penakut, apalagi mata batin mereka sudah terbuka. bagaimana nanti kalau rencananya kacau. kita belum pernah melakukan ini sebelumnya. biasanya kita yang turun tangan sendiri" ada keraguan dalam diri Alana.


"mereka tidak sendirian, kita akan berada di dekat mereka. hanya dengan begini iblis itu akan keluar dari persembunyiannya. sebab kalau kita yang turun langsung, kita tidak tau dimana persembunyian iblis itu. mereka akan dalam pengawasan kita, kamu tidak perlu cemas" El-Syakir meyakinkan Alana.


"sebenarnya aku juga takut seperti yang dirasakan oleh Alana. tapi baiklah, tidak ada salahnya kita mencoba" Nisda meyakinkan hatinya.


"malam ini, kita mulai melakukan rencana" ucap Adam.


"anak-anak sudah diberitahu...?"


"belum, akan kita beritahu sekarang. lagipula, ada Jin yang akan terus mengawasi anak-anak itu jadi jika ada dua orang yang menjadi umpan maka ada Jin yang akan bersama mereka"


"bisa ketahuan lah dam kalau Jin ikut" timpal Bara.


"tentu saja ada cara agar iblis itu tidak dapat melihat keberadaan Jin" Adam tersenyum tipis.


"cara bagaimana...?"


Adam diam dan hanya menatap mereka semua, dari diamnya Adam, mereka mulai menebak dan kini menemukan jawaban itu.


"jangan bilang apa yang kau pikirkan benar" Vino menggeleng kepala.


"sangat benar" jawab Adam.


"apa tidak berbahaya...?" lagi-lagi Alana ragu.

__ADS_1


"insya Allah tidak. hanya Jin yang dapat mengetahui bagaimana melawan iblis itu sebelum kita keluar dari tempat persembunyian, karena dia pernah berhadapan langsung dengannya"


__ADS_2