Pelet Cinta

Pelet Cinta
12. Tragedi II


__ADS_3

Setelah Aku berkeliling dengan maya, aku pun mendapatkan rumah baru untuk di sewa. Lumayan murah. Hanya 300 ribu untuk 1 rumah full. Wc sudah didalam, dan ada 2 kamar. Dan sudah mendapatkan fasilitas kasur dan tv.


Rumahnya pun dekat dengan puskesmas. Sekitar 500 meter.


Ku fikir aku sudah bisa menginap langsung disini. Tanpa harus memindahkan barang-barang ku dari desa.


Tiba-tiba aku dapat pesan berantai bahwa dokter dony mengalami musibah. Dia di rampok saat pulang dari desa kemaren sehabis mengunjungi ku.


Aku pun langsung mencari ojek sepeda motor buat mengantar kan ku ke rumah sakit. setengah jam dari kecamatan menuju rumah sakit.


...****************...


Sesampainya dirumah sakit. Aku pun mencari kamar dokter dony. Setelah sampai tepat didepan kamar VIP. Aku bertemu ibu dan bapak nya dokter dony. Aku pun bersalaman memperkenalkan diri dan izin untuk menjenguknya.


Ketika aku memasuki kamar nya. Dia tertidur dengan oksigen dihidungnya. Sedikit luka dan memar di wajahnya.


Ku hampiri, ku ambil kursi dan duduk disamping kasur nya.


"Bagaimana ini terjadi? " aku bertanya kepada diri sendiri. Sambil berlinang air mata. Aku duduk sambil terus memandanginya.


" Nak, kami mau pulang dulu sekaligus membawa perlengkapan. Kami tinggal sebentar ya. " kata ibu dony.


"Oh iya bu, tidak apa-apa jikalau ibu bapak istirahat saja dirumah. Biar saya yang menjaga dokter dony malam ini. " tawar ku kepada beliau, karena aku tahu. Hanya mereka berdua saja dirumah, pasti perlu istirahat.


Ide ku pun disambut dengan baik. Akhirnya bapak dan ibu dony akan istirahat dirumah.


Aku kembali duduk disamping dony dan menggenggam tangannya. Otak ku sudah dapat menyimpulkan bahwa kejadian ini pun pasti ada hubungannya dengan kejadian aku di desa meranti. Ini sangat terlewat batas.

__ADS_1


Tak terasa aku pun tertidur tertelungkup bersandar di ranjang dony.


Ternyata dony sudah bangun. Dia mengusap kepala ku pelan. Aku pun terbangun.


"Bagaimana keadaanmu don? " tanya ku kepada nya.


"Baik, sudah mendingan" ucapnya lirih.


"Apa yang luka? " tanya ku kepada nya.


Dia hanya mengusap wajah ku.


"Aku rindu dengan mu nia, sangat rindu!" ucap dony sambil memandangku.


Lalu dia meminta ku untuk menolongnya untuk merubah posisi rebahan dia menjadi setengah duduk di kasur.


"Aku dengar kamu dirampok sehabis pulang dari desa itu, kan? Apa kan ku bilang, orang yang berada di dekat ku itu dalam bahaya." tanya ku kepadanya untuk memastikan.


"Ini jelas ada keterkaitan dengan ancaman orang itu" ku utarakan spekulasi ku kepada dokter dony.


"Tenang saja. Ini akan di usut oleh pihak berwajib, kamu tidak usah memikirkannya." ucap dony kepada ku.


"Aku takut kamu kenapa-kenapa" ucap ku penuh khawatir. Dan menggenggam tangannya.


"Malah aku yang harusnya mengkhawatirkan mu! " ucap dony.


"Tapi buktinya kan kamu se... " Aku terhenti berbicara karena mulut ku sudah dipaksa nya untuk berhenti dengan ciumannya.

__ADS_1


Setelah menciumku untuk menyuruhku diam. Dia menaruh telunjuknya kebibir ku. "Sssttttttttttt...... , jika kau membahas itu lagi kau akan ku cium lagi! " ancam dia dengan mesra.


Aku pun menghela nafas dan diam. Bibir ku cemberut. Aku tidak dapar berkata-kata lagi. Lalu aku pun mengambil buah apel untuk mengupasnya.


"Aku pindah don dari desa, sekarang aku sudah dapat rumah sewa di kecamatan" ku beri tahu dia. Sambil mengupas apel dan menyusun dipiring dan menyuguhkan kepada dony.


"Bagus lah kalo begitu. Harusnya kamu punya teman disana. Agar tidak sendirian" ucap dia menyarankan ku.


"Tidak apa-apa, kan di kecamatan sudah lumayan rapat rumah-rumahnya. Jelas lebih aman, kalo ada apa-apa aku tinggal teriak sekencang-kencangnya" ucap ku sambil tertawa kecil.


"Teriakan mu saja yang tidak nyaring". Dony meremehkan suara ku sambil tertawa. Dia mengejek-ngejek suara ku.


" Heyyyy apa perlu ku contohkan disini, " ancam ku dengan nakal kepadanya. Lalu kami pun tertawa bersama sambil melupakan kejadian yang tengah kami alami.


Malam semakin larut. Aku rebahan dikasur sebelah yang memang disediakan untuk keluarga yang menemani pasien. Aku berbaring kearah dony dan memandanginya.


Kami pun saling berhadapan, saling berpandangan. Dia mengucapkan tanpa bersuara "Selamat tidur, mimpi indah cintaku" ia tersenyum dan lalu memejamkan matanya. Aku pun tersenyum dan juga mencoba menutup mata untuk tidur, tapi kami pun berpandangan lagi.



...****************...


Setelah 3 hari di rumah sakit, dia sudah diperbolehkan pulang kerumah. Aku hanya menemaninya 1 malam itu saja.


Orang tua dony sudah mulai mengenalku sebagai rekan kerja dan teman dekat dony. Meski tidak menjelaskan hubungan, orang tua pasti mengetahui perihal anaknya. Tapi tanda-tanda untuk merestui hubungan kami tidak terlihat celahnya.


Itu belum kami fikirkan, karena fokus dengan permasalahan hal ghaib ini. Karena dokter dony mendapat musibah. Rencana aku pun tertunda untuk mengunjungi kiayi dengan maya untuk memagar dan membentengi diriku hal-hal mistis.

__ADS_1


__ADS_2