
" Nduk nduk... " teriak bu painah mencegat aku.
" wes masuk dulu ke rumah ya nduk, ada yang mau ibu ceritakan" sambil menarik tangan ku.
Wajah beliau panik dan cemas.
Aku tau ini pasti ada masalah. Sehabis pulang dari kampung halaman bertemu orang tua ku. Keadaan ku sudah stabil dari kejadian beberapa hari yang lalu.
Aku sudah siap dengan segala kemungkinan untuk mendengar cerita ketika aku tidak berada di desa ini.
"Nduukkk malam ini kamu nginap sama ibu dirumah ya. Nanti tidur sama tika " jelas ibu kepada ku
Sambil menarik ku untuk masuk kedalam rumah.
sambil duduk di kursi tamu aku bertanya penasaran.
"Memang ada apa lagi bu? " tanya ku.
" Aaduhh gimana ya ngomong nya, mmmm yo wes tapi dengerin ya. Jangan takut. " Elus ibu painah ke bahu ku .
" Pak de lihat si anu sore kemarin,, ya ada lah orang pokoknya bolak balik depan rumah mu. Terus dia ada nanem sesuatu. Pak de curiga nduk! " jelas bu painah sambil gemetaran.
" Kenapa bu? Maling? " tanyaku
" Ga tau nya itu saat dibongkar hasil yang di tanem dengan kain putih ternyata buat pelet kamu, boneka dengan foto kamu, kemenyan dan macam-macam lagi, tapi tenang ya nduk." ibu painah menghela nafas.
Aku pun bagai disambar petir. Badan ku panas dingin. Aku beristigfar pelan.
" Pak de sudah langkahi 7 kali bolak balik bungkusan itu. Terus yang ditanam juga dikencingi bapak. Lalu langsung bapak bakar, tapi biar lebih amannya. Kamu tidur disini dulu sampai keadaan membaik." tawar bu painah kepada ku.
" Rumah mu juga mau tak kasih siraman air ayat kursi dan ayat yassin nduk. " jelas bu painah.
Ya ampun, ada yang mau jahat dengan ku. Siapa gerangan. Aku hanya mengangguk kan kepala ku.
"Inggih bu. Tapi besok aku akan tetap kerja diposkesdes bu. Ga pa-pa. Kalo kenapa-kenapa pasti bilang kok dengan bu de dan pak de" terangku.
"Iya nduk, bidan yuli juga sudah tak ceritakan. Jadi saat bekerja, dia tetap waspada menemani mu ya nduk. " kata bu painah.
Sungguh ku berterimakasih kepada beliau. Betapa peduli dan kasih nya kepada ku si anak perantauan ini.
Malam ini pun aku menginap di rumah pak mitro dan tidur dengan dik tika.
...****************...
Besok pagi.
Aku pun sudah siap bekerja melayani masyarakat desa meranti ini.
Ada beberapa pasien hari ini kami layani, jam 12 kami tutup pelayanan.
Aku siap-siap untuk merapikan berkas di atas meja pemeriksaan. Ka yuli diluar menyapu teras.
Pak sutris datang, tanpa menyapa yuli dia masuk dengan membusungkan dadanya. Wajah nya seolah tertahan, matanya merah.
Dia langsung masuk dan menuju ruangan pemeriksaan. Tempat aku yang masih membersihkan meja pemeriksaan
__ADS_1
" Mba nia" kata nya tegas menyapaku.
" Ada apa bapak? Bisa saya bantu? " Aku terkaget kaget karena dia masuk tanpa mengucapkan salam atau permisi, tapi aku tetap berusaha tidak terkejut dan tetap sesuai motto pelayanan dan menanyakan apa keperluan beliau.
Kenapa dengan beliau ini. Sakit apa fikir ku, beliau terlihat tegang, mata yang sangat merah. Dan tangan mengepal dengan erat.
"Aku suka sama sampeyan, Aku cinta! Aku ingin sampeyan jadi istri ku" Kata pak sutris, pria yang berumur 50 an lebih menyatakan cinta kepada ku.
Aku berfikir beliau sepertinya tidak beres,.. Jelas aku semakin terkejut dengan pernyataan beliau.
Tapi ku berusaha tetap tenang. Dan mencoba menjawab beliau.
"Maaf bapak, Sampeyan sudah saya anggap bapak sendiri". Ucap ku menjelaskan kepada beliau.
" Tidak bisa, Kamu harus jadi istri ku. Kamu juga cinta kan sama aku" Kata dia dengan nada tinggi.
Aku gemetar, tapi aku tetap tegar menghadapinya. Ku lirik ka yuli dibelakang pak sutris yang tadi menyapu sekarang dia memegang sapu dengan erat, seolah bersiap jikalau ada apa-apa dia akan memukuli pak sutris.
"Saya ini diperantauan pak, Sampeyan sama kaya pak mitro dan pak sugeng. Sudah saya anggap seperti ayah sendiri, tempat saya berlindung di desa ini. " terang ku lagi. Semua nama tokoh di masyarakat ini ku sebut untuk menyamakan beliau dengan mereka yang ku hormati.
"Pokoknya kamu harus cinta aku, aku tak bisa tidur semenjak kamu memberi aku obat dengan gratis dan apalagi ketika kita duduk berdua di angkutan desa, jelas kamu suka aku, kamu ciiiiinta aku" terang beliau menyimpulkan kejadian dahulu dengan sungguh pasti.
Aku takut dengan beliau yang mengencangkan suaranya.
terfikir ku kembali. Apakah bapak ini yang mau mempelet aku, mungkin fikir beliau pelet yang dia kirim akan mempan dan berfungsi sehingga aku bertekuk lutut bersimpuh kepadanya.
Ya Allah, hanya karena saat itu dan sikap baik ku dia salah mengartikan nya.
Ku kuat kan lagi diriku dan mengeluarkan suara untuk menjelaskan, jelas aku gemetaran. Kaki ku rasanya tidak berpijak lagi dilantai. Tapi aku harus kuat. Jangan gentar,.. Batin ku menguatkan aku kembali.
" Bukan begitu bapak, obat itu memang gratis bapak dari pemerintah. dan kalau diangkutan umum, saat itu hanya tempat disamping bapak yang kosong" Bela ku untuk meluruskan kesalahpahaman beliau dengan suara yang gemetar tapi tetap ku usahakan tegas.
BRAAAKKKK.
Kedua tangan nya menggeprak memukul meja dihadapan ku. Lalu dia berkata dengan amarah.
Kaca pelindung di meja pemeriksaan pecah, darah mengalir ditangannya. Aku pun langsung menghindar dan tangan ku melindungi wajah ku.
Ada kaca kecil tertancap di punggung tangan ku.
"Ingat, Kau akan jatuh dipelukan ku. Jangan panggil aku sutris kalau kau tak ku miliki. Dan jangan lupa, jika kau tidak dapat ku miliki. Semua nya juga tidak dapat memiliki mu. Dokter itu pun tidak dapat memiliki mu. " Ancam dia kepada ku.
" Antara dua, jika dokter itu yang mati atau kau saja yang mati agar tidak ada yang akan memiliki mu" Ancam dia lagi.
Aku masih berdiri sambil tersandar di lemari kaca tempat aku menyimpan obat, tapi tetap berdiri tegak menghadapi dia saat menghardik dan mengancam ku.
Ternyaya dia mengawasi ku, dan pastinya dokter dony pun dalam bahaya, fikir ku.
Setelah itu dia keluar. Dan masih menunjuk ke wajah ku dengan telunjuknya.
"KAU MILIKI KU, MILIK KU NIA"
"KAU MILIK KU"
" Kau Milikku"
__ADS_1
Dia bergumam sambil pergi.
Ka yuli menyamping tersandar kedinding sambil mencoba berlari ke arah ku sambil menghindari pak sutris.
Setelah pak sutris berlalu dan menghilang. Ka yuli langsung menghampiri ku.
Dia memeluk ku mencoba menenangkan ku yang berdiri terpaku tak bergerak, aku syok.
"Nia, Nia, Nia kamu tidak apa-apa?! " tanya ka yuli sambil menggapai wajah ku dengan kedua tangannya agar menyadarkan ku dari syok ku.
"Tangan mu berdarah nia! " ucap ka yuli sambil mencoba mengambil perban dan mencoba mencabut serpihan kaca yang masih tertancap.
Lalu aku pun terduduk lemah lunglai. Seketika aku menangis sejadi-jadinya dan tangan ku masih dibersihkannya dan diperbannya, setelah selesai aku pun langsunh memeluk ka yuli.
" Aku takut kak" isak ku dalam pelukannya.
Lalu dia mencoba menenangkan ku, dan memberiku minum air putih.
" Ayo minum nia, ga pa-pa....
Ada aku nia disini. Dia sudah pergi,..
dasar Orang gila. Tua bangka, bau tanah. tidak sadar diri. !" ka yuli mengumpat sambil menenangkan ku.
Setelah ku mendengar umpatan ka yuli , pandangan ku ke wajah nya seketika wajahnya tidak jelas .......
Dan ......
Hitam......
Nia Pingsan !
...****************...
Yuli :
Nia pingsan dipangkuan ku. Aku kaget dan mengguncang tubuh nia.
"Nia,,,, dek niaa... " Lalu ku letakkan kepalanya dibawah. Ku beri dia minyak kayu putih. Ku pijat kaki nya.
Ku buka kancing bajunya depannya untuk mengoleskan minyak kayu putih. 5 menit kemudian, nia berangsur sadar.
" Nia tunggu sebentar ya. Kak yuli akan panggil pak mitro dulu" segera ku berlsri kerumah pak mitro untuk mengabarkan kejadian ini.
Akhirnya kami pun menggotong nia dibawa kerumah pak mitro.
Keadaan nia sudah setengah sadar, tapi masih dalam keadaan lemah. Dia hanya terdiam seperti orang linglung. Setelah sampai di rumah aku pun memasang infus ditangan nia.
Tangannya dingin sekali seperti menggenggam es,. Ya Tuhan lindungi anak ini. Doa ku dalam batin.
Ibu painah, tika, andre dan tetangga lainnya menggerumbungi nia, mencoba menguatkan dia.
Aku menceritakan kejadian tadi secara detail dengan pak mitro. Pak mitro wajah nya merah padam menahan amarah.
"Aaaaaaakhhhhhhhhhh,.......!!!!!!!!!!!!!!!! "
__ADS_1
Tiba- tiba kami dikejutkan dengan teriakan yang melengking.
BERSAMBUNG,...........