Pelet Cinta

Pelet Cinta
17. Kembali


__ADS_3

Sudah 3 hari aku di rumah orang tua ku, aku pun pamit. Dan dony lagi yang menjemput ku. Aku masih di kamar. Tapi aku sayup-sayup dony berbicara dengan ayah ku.


"Mohon izin bapak, saya dony suka dengan anak bapak, Nia. "


"Oh ya. Emmmmm ... Tapi kan Nak Dony juga mengetahuinya. Kalo bapak atau ibu tidak pernah mengikut campuri urusan perasaan anak-anak, " ucap ayah ku pelan.


"Tapi, ujung dari sebuah rasa itu kan pasti akan menikah. Naahh menurut keyakinan bapak. Anak bapak harus dengan orang yang berkeyakinan yang sama. Itu wajib! " tegas bapak.


"Kecuali kamu .... " lalu bapa diam.


"Inggih bapak, saya mungkin lagi memantap kan hati. Setidaknya bapak mengetahui perasaan saya terhadap Nia. "


"Oh iya, terimakasih Nak Dony. Semoga kamu dapat menemukan Hidayah ya Nak. " Ayah sambil menepuk pundak dony.


Aku pun bergegas keluar, aku dan dony pamit serta bersalaman.


Ketika dony bersalaman dengan ayah, ayah menitip pesan untuk menjaga ku di tempat bekerja.


...****************...


Sesampainya di Rumah sewaan, dony pun langsung pulang. Tidak banyak yang kami bicarakan dan juga tidak membahas tentang kejelasan hubungan ini. Dan aku pun tidak berani mengungkitnya. Apalagi menyangkut keyakinannya.


Jika memang dia ingin pindah agama, biar lah itu dari panggilan hatinya sendiri. Bukan karena aku apalagi karena sebuah paksaan.


Karena perjalanan jauh. Malam ku terasa begitu singkat, aku sangat nyenyak dalm tidur ku.


...****************...


Hari- hari pun terlewati, syukurnya gangguan-gangguan akibat santet dan pelet itu sudah tidak terlalu sering. Mungkin karena itu, yang dulu awalnya aku tidak peka. Sekarang sangat peka akan hal-hal yang berbau mistis.


Hari ini bekerja seperti biasanya. Bertemu dengan Dokter Dony dan bersenda gurau. Aku tidak lagi menanyakan perihal kejelasan status hubungan kita. Layaknya pacaran, tapi tidak ada masa depan.


Aku ditelpon ibu ku. Menyuruhku segera pulang kampung. Aku pun bergegas meminta izin, dan pulang dengan angkutan umum. Tanpa memberi tahu Dony. Karena telpon ibu seperti perihal penting, tapi tidak menyatakan apa maksudnya aku harus pulang. Aku takut jika itu menyangkut kesehatan orang tua ku.


Sesampainya dirumah.


" Assalamualaikum.! "


Aku mengetuk pintu rumah yang tertutup.


"Ma ..., Bah ...! "


Tidak ada sahutan sama sekali. Ku telpon pun tidak diangkat. Ada apa ini, hatiku semakin berkecamuk. Ku coba menghampiri tetangga.


"Assalamualaikum bu,, mama dirumah kok ga ada? " tanya ku kepada beliau.

__ADS_1


"Oiya, Nia, kamu sudah datang. Tadi Mama mu berangkat ke Rumah Sakit. Ayah mu sakit, Nia. "


Bagai tersabar petir disiang bolong, kaki ku terasa tak berpijak di bumi lagi. Ternyata benar firasat ku.


"Trus ke Rumah Sakit mana bu?! " Aku panik.


"Rumah Sakit Umum Nak.!"


"Terimakasih bu. "


Aku pun langsung pergi dengan tas besar ku menuju pangkalan ojek yang tidak jauh dari rumah ku. Aku pergi dengan ojek.


Sesampainya di rumah sakit, aku pun mencari di UGD. Ternyata Ayah ku sudah masuk ke ruangan. Aku pun menuju ke ruangan.


"Tok. Tok "


Ku ketok perlahan pintu kamar rumah sakit tempat ayah ku sakit. Lalu aku masuk, terlihat ibu dan adik ku dengan wajah yang panik, cemas dan lelah.


Ku letakkan tas ku. Dan ku hampiri bangsal tempat ayah ku berbaring. Ku pandangi beliau, rupanya beliau masih dalam keadaan tidak sadar. Ku peluk ibu ku. Lalu aku pun mendengar penjelasan ibu ku.


Ternyata ayah terjatuh dengan tiba-tiba di belakang rumah, dan beliau terkena serangan stroke. Ku coba menguatkan hati ku agar tidak menangis. Jika air mata ku runtuh, maka siapa yang akan menguatkan ibu ku. Ku beri ibu ku ketenangan. Bahwa ini akan sembuh jikalau ditangani dengan cepat, ada waktu emas yang tidak boleh di lewatkan.


...****************...


1 minggu sudah aku berada merawat ayah ku, ayah sudah pulang kerumah. Beliau masih dalam keadaan pemulihan. Fisioterapi, dan menggunakan jasa urut tradisional. Segala cara di lakukan, ilmu keperawatan ku kadang tidak mempan memberi tahu untuk penyembuhan secara medis. Alhasil, dari pada berdebat dengan keluarga besar yang tidak kunjung selesai, keduanya akan di lakukan. Mau pengobatan ala medis atau pun secara tradisional. Kita lakukan secara bergantian dengan harapan kesembuhan.


"Kamu tidur Nia? " sambil menyingkap tirai kelambu.


"Tidak, kenapa ma? " aku pun menggeser tubuh ku untuk berbaring agar ibuku bisa berbaring disamping ku.


Lalu ibu pun berbaring. Ibu menghela nafas panjang.


"Begini, 1 hari sebelum Ayah mu sakit. Sebenarnya itu keluarga teman mama. Ibu Mila melamar mu untuk anaknya. Dia sudah bekerja, PNS di KUA, " terang ibu.


"Lalu saking senangnya, Ayahmu mau bersih-bersih halaman rumah dan belakang sebelum kamu datang. Dan memberi tahu mu. Tapi ternyata ini yang terjadi. "


"Mau kah kamu menerimanya? Demi Ayahmu! " harap ibu kepada ku.


Aku hanya terdiam. Antara bingung, sedih dan terkejut.


"Besok dia datang, yah intinya perkenalan dulu. Namanya Hermansyah. Herman, " ucap ibu ku.


"Temui dia besok. "


"Inggih Ma. " Aku pun berbalik. Mengusap air mata ku yang menetes.

__ADS_1


...****************...


Minggu pagi yang cerah, tapi hati ku kelabu.


Herman pun datang menemuiku.


Aku pun keluar dari ruang tengah, ku lihat seorang pria berumur sekitar 30-an.



Dia pun tersenyum melihat kedatangan ku. Aku duduk menghadapinya. Aku bingung memulai pembicaraan, jadi aku hanya terdiam.


"Ayo Herman, sambil di minum teh nya, aku tinggal dulu ya ke dalam. " Ibu ku menyapa nya dan sambil senyum dan berlalu pergi ke arah dapur.


" Inggih bu. " sambil mengangkat cangkir dan meminumnya.


"Emmm ... Nia, kenalkan aku Hermansyah, panggil Herman. " Dia mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan ku.


"Iya, Niar Damayanti." Ku jabat tangannya.


" Emm .... " Aku bingung mau berkata-kata.


" Aku kaka kelas mu Nia, Lupa ya. " dengan senyumnya.


Aku terkejut, dan langsung menatapnya mencoba mengingatnya.


"Kak Herman, Herman yang gundul, gemuk!,


uupss. " Aku mencoba menerka-nerka dan mengingat.


" Iya, itu aku! Hahahaha !" Dia tertawa lepas.


Akhirnya mencairlah suasana di ruang tamu.


Aku sampai lupa, dia ini adalah calon suami ku. Dia mengatakan bahwa sudah lama suka dengan ku. Dia bekerja di KUA di desa kampung halaman ku.


Ternyata, di ruangan sebelah ibu ku memperhatikan kami dengan meneteskan air mata.


"Kak Herman, emm ku panggil pakai Kaka saja ya, " Ucap ku kepadanya. Dan ia pun mengangguk setuju.


" Aku rasa kita tidak-, " Kata-kata ku terputus.


"Beri aku kesempatan, 3 hari saja kita saling mengenal. Bagaimana? " ucapnya kepada ku.


"Setelah 3 hari, aku akan menerima keputusan mu. Apapun itu. " tegasnya lagi kepadaku.

__ADS_1


Setelah ku berfikir, aku pun mengiyakan nya. Mana mungkin aku memberikan keputusan tanpa memberi kesempatan. Terlalu tega!


__ADS_2