Pelet Cinta

Pelet Cinta
16. Pulang


__ADS_3

Setelah ibu dan ayah ku tahu tentang kejadian di desa, aku pun disuruh pulang. Jadi aku meminta izin kepada bapak kepala puskesmas untuk tidak bekerja selama 3 hari.


Dony pun menawarkan untuk mengantar ku. Karena dia sekalian ada pelatihan di kota. Membutuhkan 6 jam menuju rumah ku.


Karena bersamanya, 6 jam perjalanan yang jauh terasa tidak lama.


"Janji ya, kamu harus sms, dan telpon aku. " dony memerintah ku.


"Heyy, bagaimana nanti aku menjelaskannya pada ibu ku, di rumah aku tidak lepas dari hp," kataku kepadanya.


"Jelaskan saja kamu mehubungi pacarmu, " ucap dony.


Aku pun memandangi nya, bagaimana bisa orang setampan ini menyukai ku. Rambutnya, hidungnya, bibirnya... Tidak ada cela kurasa. Bagaimana aku tidak tergoda melihat orang setampan ini, batin ku.


"Ada apa? Kenapa kamu memandangi ku. " ternyata saat sambil menyetir dia menyadari aku memandanginya.


"Ga pa-pa, " ucap ku singkat.


"Apa kamu sangat menyukaiku, apa aku perlu berhenti agar kita dapat... " dia memonyongkan bibirnya dan mengarahkannya kepada ku.


Langsung ku pukul kecil bibirnya.


"Iihhh kau otak mesum". Candaku kepadanya.


" fokus saja dengan jalan, kau mau kita mati !!" ancam ku kepadanya.


Dia pun hanya tertawa melihat tingkah ku.


Setelah 5 jam perjalanan akhirnya aku dan dony sampai di rumah. Ibu dan ayah langsung keluar rumah saat melihat mobil masuk pekarangan.


Ada raut bingung melihat anak gadisnya diantar mobil prinadi, biasanya mobil angkutan umum. Lalu ibu dan ayah pun mempersilahkan dony masuk.


Aku membawa tas dan langsung memasukkannya ke kamar. Setelah itu menuju dapur untuk membantu ibu yang sedang menyiapkan air minuman.


"Bisa aku bantu bu. " ku ambil piring dan membuka bungkua kue kering.


"Siapa dia nia, pacar?." ibu langsung melirik ku sambil menunggu jawaban ku.


"Namanya dokter dony, teman kerja di kantor. " aku tidak mau menatap ibu. Aku merasa salah tingkah. Aku bingung menjelaskannya.


Tapi nyatanya ibu mengetahui tingkah laku anaknya, ibu juga sudah mengerti dari tingkah ku. Ibu dan aku pun kembali ke ruang tamu. Dan menyuguhkan teh hangat dan kue kering.

__ADS_1


"Nginap disini saja nak dony, pasti capek 6 jam perjalanan. " tawaran ayah ku kepadanya. Rupanya setelah kami tinggal di dapur mereka sudah bisa mengakrabkan diri mereka. Aku pun tersenyum lega.


"Sebenarnya bisa saja pak, tapi saya harus berangkat lagi ke kota. Karena saya ada pelatihan lagi. " sambil melihat jam tangannya.


"Ayo diminum, istirahat dulu, jadi nak dony ini satu puskesmas. nak dony kerja bagian apa disana? " tanya ibu ku menimpali percakapan ayah, sambil duduk di samping ayah.


"Dokter bu, " ucap dony dengan senyuman.


"Ohh Pak Dokter ya... Gimana Nia dipuskesmas. Tidak nakal kan, kalo nakal marahi saja dia. " canda ibu ku, tapi pada saat dony membuka jaketnya. Ibu pun melihat kalung yang tergantung di leher dony, yaitu lambang keyakinannya. Seketika wajah ibu pun berubah dan memandang ku. Aku hanya diam, dan setelah itu wajah ibu ku kembali dengan senyumannya.


Aku tahu dia menyembunyikan banyak pertanyaan.


lumayan lama dony di rumah, akhirnya dony pun pamit. Dia bersalaman dengan ke dua orang tua ku dan pergi.


Aku ke kamar untuk membongkar baju di dalam taa. Akhirnya aku kembali ke kamar ini meski 3 hari saja.


Ibu pun datang menghampiriku,


"Alhamdulillah, Anak mama sudah mulai memakai kerudung, semoga istiqomah ya Nak! " ucap ibu dengan senang.


"Iya Bu, Kata pak Kiayi kemaren harus membentengi diri dan memperbaiki diri dalam hal agama terlebih memperbaiki cara berpakaian. " Aku sambil melepas kerudung.


Di situlah ibu melihat kalung inisial yang tergantung di leher ku.


Aku hanya diam, melanjutkan membongkar baju.


"Dia non muslim Nak, kecuali dia mau mengikuti kita. Tapi, ku rasa jangan berharap. Keluarga dia berbeda dengan kita. Kamu secara perlahan menyakiti hatimu sendiri," terang ibu kepada ku.


"Iya bu, " ucapku lirih.


Lalu ibu pun berlalu. Sepeninggal ibu, aku meneteskan air mata di kamar. Benteng yang akan kami lewati sangat jelas terlihat. Dan sangat tinggi.


...****************...


Malam hari...


"Ayo nia, kita ke majlis ta'lim. Pakai kerudung yang cantik. " Ibu ikut memilah-milah kerudung.


Setelah 5 kerudung di coba-coba akhirnya selesai juga memakai kerudung. Lalu kami pun berangkat dengan berjalan kaki saja, karena acara majlis ta'lim nya dekat rumah saja.


Kami tidak sendirian, banyak juga para tetangga ber-iringan pergi menuju mesjid. Sangat meriah dan padat karena penceramah nya yang diundang cukup terkenal.

__ADS_1


Kami pun larut dalam mendengarkan isi ceramah. Sampai tidak terasa 2 jam duduk mendengarkan dan akhirnya pun acara berakhir. Kami berjalan ber-iringan. Ibu pun berjalan dengan temannya yang bertemu saat majlis ta'lim tadi. Mereka bercerita sambil sesekali memandang ku.


Sedangkan ayah berjalan di belakang kami. Ketika kami sudah sampai di rumah, ibu pun berpamitan.


"Jadi besok pagi ya bu, jam 9, " ucap teman ibu. Aku pun hanya senyum dan bersalaman agar terlihat ramah di hadapan beliau.


"Nia, Nia, Besar sudah kamu ya Nak! " Ucap teman ibu.


"Inggih bu. "


Lalu setelah itu beliaupun pergi.


...****************...


Pagi hari.


Ibu sudah sangat sibuk mulai subuh tadi, dan sampai sekarang pun masih sibuk.


Jam 9 teman ibu datang dengan rombongan keluarganya.


Lalu aku pun disuruh ibu untuk menyuguhkan teh dan kue kering. Setelah itu akupun masuk lagi ke dapur. Aku tidak tahu apa yang dibicarakan mereka. Aku asyik SMS an dengan dony.


"Nia ... Nia, ayo kemari! " ibu ku setengah berteriak.


Aku pun menghampiri. Dan ibu langsung memegang bahu ku.


"Nah ini kenalkan, nama nya Nia. " sambil menyuruhku duduk dikursi tamu disamping ibu.


Aku yang bingung hanya senyum saja. Mereka pun pamit pulang, lalu kami bersalaman.


Sambil membersihkan meja tamu, aku pun bertanya. "Teman ibu itu jauh ya rumahnya? "


"Iya, mereka bertepatan pas kunjungan kerumah neneknya disini. Teman ibu waktu kecil. " ibu sambil berlalu membawa baki yang penuh cangkir ke dapur. Dan aku mengikuti ibu membawa piring kue yang telah kosong.


"Teman ibu tadi punya anak, yang pakai peci hitam tadi. Nah itu Dia lulusan Al Azhar Mesir, sekarang dia mengajar jadi guru di Pondok Pesantren, " terang ibu sambil mau mencuci piring.


"Ooo .... " Aku meletakkan piring dan mengambil sabun untuk membantu ibu mencuci piring.


"Ganteng kan?, " tanya ibu ku.


"Yah mana tau, tidak memperhatikan. " aku berlalu kekamar. Karena sudah selesai mencuci.

__ADS_1


Tumben ibu memuji anak orang dihadapanku. Sebenarnya ya cukup ganteng, sekilas ku pandang. Entahlah apa maksud ibu.


__ADS_2