Pelet Cinta

Pelet Cinta
44. Kehidupan Baru


__ADS_3

Yana dan Paijo pergi mengendarai sebuah sepeda motor butut. Mereka sudah menikah secara siri dengan penghulu setempat.


"Mas, aku pengen soto lamongan, " ucap Yana melihat warung soto lamongan.


"Ga bisa Yan, ga cukup uangnya. Nanti saja habis aku gajihan. Kau tahu kan senin baru dapat gaji dari buruh kasar. "


Yana hanya terdiam sinis. Mulutnya komat kamit menirukan perkataan Paijo. Paijo melirik ke kaca spion dan melihat ekspresi Yana yang cemberut. Paijo pun hanya bisa tersenyum.


Ia tetap melajukan sepeda motor butut nya, dia tidak berniat untuk berhenti sekedar menuruti kehendak Yana.


Kandungan Yana sudah memasuki 5 bulan. Mereka menyewa kontrakan dipinggiran kota, dan dari hasil buruh kasar mereka membuka usaha berupa gerai yang menjual makanan jajanan dan minuman di tempat wisata di pinggir sungai kebanggaan kota Banja******.


Dalam 2 bulan saja, berjualan membuat kehidupan mereka sangat membaik, Penghasilan mereka lumayan untuk mencukupi hidup di kota. Dan terkadang juga memberi untuk ibu yana di lapas. Sedangkan Paijo memberi ibu dan istri pertamanya di kampung.


...****************...


Memasuki bulan ke 8 kandungan Yana. Yana pun mengeluhkan keadaan yang akan dia hadapi selanjutnya.


Malam hari.


"Mas Jo, kandungan ku kan sudah masuk 8 bulan. Kalo lahiran nanti siapa yang bantu aku? Ini pengalaman pertama ku. Apa bisa kita pakai baby sitter atau pembantu. " Yana memberanikan diri mengusulkan itu, dia sambil mengiris bawang merah untuk bahan persiapan dagangannya.


Paijo pun masih asyik dengan merapikan jualannya yang akan dia bawa ke tempat wisata.


"Gaya mu pakai baby sitter, mana uangnya. Coba ibu mu sudah keluar dari penjara. Bagaimana kalau ibu ku saja di ajak ke sini!" tawar Paijo.


"Ya bagus lah, apa benar ibu mas bisa bantu-bantu aku. Kalau datang cuma numpang bagaimana? maksud ku, ibu mu tak perlu aku suruh-suruh, " sahut Yana.


"Lagian, bini mas dikampung juga ga guna, aku yang capek kerja disini. Coba ceraikan saja dia. Dia kan ga punya anak, ngapaian sih dipertahanin mas," sambung yana.

__ADS_1


"Iya, aku juga sudah lama mau menceraikannya, cuman aku pernah berhutang jasa dengan nya. Aku tidak sampai hati. Dia sebatang kara, terus aku tinggal kesini dia yang menemani ibu ku. Bagaimaba aku ceraikan dia? " Paijo sambil mengikatkan tali ke barang bawaannya di sepeda motor bututnya.


"Masalahnya dia jadi beban hidup kita," jawab Yana kesal.


"Begini saja, ibu dan bini pertama mu ajak kesini. Kan lumayan tidak perlu bayar baby sitter. Tapi ingat ya, aku tidak mau mendengar kalau mas kumpul lagi dengannya. Jadikan dia pembantu. Dan kamu juga harus cari rumah yang lebih besar biar muat ber empat. Yang ada kalau mereka datang malah sumpek. " Yana mengancam dan menawarkan kepada suaminya.


"Emm... bagus juga usul mu sayang ku. Baik lah..., " Paijo menubit hidung istrinya yang mengembang karena Yana semakin menggemuk.


Paijo bak kerbau di cucuk di hidungnya. Ia menuruti usul istri keduanya itu. Karena Paijo sudah lama menantikan buah hati, dari istri pertamanya 5 tahun perkawinan ia juga belum mendapatkannya. Tetapi setelah dengan Yana, ia merasa beruntung telah mendapatkan penerus generasinya.


...****************...


Paijo sudah mendapatkan rumah yang di sewa, full satu rumah. Ada empat kamar, harganya pun termasuk murah di perkotaan, hanya 1 juta saja. Dan bahkan bisa dibayar perbulan. Pemiliknya tidak meminta langsung dibayar 12 bulan seperti rumah sewaan pada umum.


Paijo dan Yana sudah pindah 1 minggu dan akhirnya Paijo pun menyuruh ibu dan istri pertamanya datang ke kota.


"Kapan mas ibu mu datang? Aku sudah kewalahan ini. " Yana bermanja dengan Paijo.


"Iya Mas, kamar untuk mereka yang diujung, sudah aku siapkan. Kasurnya kan cuma 1. Jadi mereka tidur berdua saja."


" Iya makasih sayang, "Sahut Paijo sambil mengusap kepala Yana.


Di pagi yang cerah. Sengaja hari ini mereka meliburkan diri dari berjualan. Karena Paijo menjemput Ibu dan istrinya di terminal.


Paijo sengaja lebih dahulu menunggu di terminal, dia meng istemasikan waktu kedatangan mereka. Sekitar 5 jam.


Ketika bis datang, dengan segera Paijo menunggu di pintu bis yang belum terbuka. Setelah terbuka, satu persatu penumpang pun turun. Dan akhirnya ia melihat wajah istri pertamanya yang cantik di balut dengan jilbab panjangnya. Sebuah senyuman terukir di wajahnya, meski ia tahu bahwa ia telah di madu. Namun tidak ada gurat kemarahan di wajahnya, Aisyah nama istri pertama Paijo.


Aisyah menenteng 2 tas besar, sedangkan ibu nya Paijo berjalan di belakang Aisyah. Dengan segera Paijo pun mengambil dua tas tersebut di tangan Aisyah.

__ADS_1


Setelah Aisyah turun dan memastikan mertuanya turun dari bis. Aisyah pun bersalaman dengan takzim kepada suaminya.


"Assalamualaikum Bang, " Ucapnya dengan senyuman manisnya.


"Waalaikum salam, " Sahut Paijo, dan ia pun menyambut tangan Aisyah, setelah itu ia pun bersalaman dengan takzim kepada ibunya.


"Sehat kau Jo? Alhamdulillah kau sudah punya usaha ya, jadi kamu bisa mengajak ibu tinggal di rumah mu. " Ibu Paijo sambil mengelus bahu anaknya, ia merasa bangga. Sebelum hari mereka berangkat, ia pun sudah membangga banggakan Paijo yang sukses jualan di Kota. Sehingga mereka bisa di ajak ke kota untuk tinggal menetap.


"Ayo bu, Ibu ikut aku ku bonceng. Dan kamu ikut ojek. " Tunjuk Paijo pada mamang ojek yang sudah ia pesan.


Aisyah sedikit terkejut, kenapa ia harus ikut ojek. Cuman ia mencoba memaklumi nya karena yang Paijo bonceng adalah ibunya. Ia pun harus mengalah. Aisyah pun hanya mengangguk.


Sesampainya di rumah, Ibu Paijo kagum dengan rumah yang anaknya tinggali. Ibu nya mengira itu adalah rumah mereka, padahal itu hanya lah rumah sewaan saja. Entah apa yang dibicarakan Paijo kepada ibu. Ibu nya dan Aisyah pun masuk ke dalam rumah dan mereka melihat Yana yang sedang duduk di sofa dengan perut besarnya.


Yana pun bangkit dari duduknya, dia agak kesusahan dalam berdiri. Dengan segera Paijo pun membantunya berdiri.


"Ibu, kenalkan saya Sariyana Ningsih. Panggil saja Yana bu, Istri kedua Mas Paijo. " Yana pun mengenalkan dirinya dengan bersalaman dan mencium punggung tangan ibu mertuanya.


"Yana Mba Asiah, ooh Aisyahh kan! maaf salah sebut nama. " Yana pun bersalaman dengan Aisyah.


"Mari bu istirahat dulu. Nah sini bu , aisyah. Ini kamar kalian. Kasurnya cuma ini, karena belum beli , jadi kalian tidur berdua dulu ya. " Paijo menjelaskan tempat kamar mereka sambil meletakkan 2 tas besar mereka.


"Luas rumah mu ini Jo. " Ibu nya mengelilingi rumah baru mereka.


"Alhamdulillah, lebih leluasa bu. "


"Ini bu, mba sambil di minum. Pasti lelah sehabis diperjalanan. " Jamu Yana, dia tidak terlalu banyak bergerak. Karena perutnya yang membesar sudah sangat membatasi ruang geraknya.


"Ah syukurlah, istri pertama Mas Paijo kayanya orang nya penurut dan kalem. Bisa lah di tindas-tindas atau di suruh macam-macam. Aku kan sekarang jadi bisa tenang dan berleha-leha. Ada 2 yang menjadi pembantu ku di rumah, Enak saja numpang disini tanpa bayar, sudahnya kemaren di biayai oleh mas Paijo memakan hasil keringat ku berjualan. Saat nya pembalasan ku, mulai besok aku bisa berleha-leha, akhirnya aku bak Nyonya Nia juga, lihat nyonya Nia, orang yang kau usir ini sudah mulai memutar roda kehidupan menjadi di atas,"

__ADS_1


Fikiran licik Yana sudah mengatur strategi untuk menguasi Ibu mertua dan istri pertama Paijo agar dijadikan pembongkat di rumahnya. Dan rupanya, Yana merasa sangat dendam kepada Nia dan Khalid. Oleh karena itu pula ia menjadikan pecutan untuk semangat nya menaiki taraf level kehidupan mereka yang awalnya hanya jongos, sekarang mulai dalam keadaan membaik dan mempunyai usaha sendiri.


__ADS_2