
Nia dan Yana berbelanja di mall. ada 5 lembar daster panjang yang dibelikan oleh Nia untuk Yana. Sekaligus 2 kerudung. Nia berfikir, tidak ada salahnya membelikan kerudung, meski Yana bukan orang yang berkerudung. Semoga saja dengan membelikannya itu jadi dasar ia akan berkerudung.
Sesampainya di rumah. Paijo sudah duduk di ruang tamu. Dan Yana pun masuk ke dalam rumah sambil membawa barang belanjaan.
"Sudah lama kamu Jo? "
" Belum Bu, baru saja. "
"Bi Munah sudah ngasih tahu kamar kamu? "
" Sudah Bu. "
"Bagus, tugas kamu jadi sopir Bapak, tapi kadang kamu juga bisa ngantar kan aku kemana-mana ya. "
"Siap Bu. "
Yana keluar dan membawa air minum.
"Ini Nyonya minumnya. " Yana menyuguhkan minuman sambil senyum-senyum dan mencuri pandang kepada Paijo.
Ya, Paijo ini meskipun hanya sopir. Dia lumayan ganteng dan mempunyai tubuh kekar. Jadi wajar saja, si Yana pun curi-curi pandang.
"Kamu hari ini bisa istirahat. Besok kamu mulai kerja. "
"Baik bu. "
...****************...
Setelah penantian dan urusan yang sangat ribet, pengajuan pensiun dini Nia berhasil.
Nia pun resmi tidak bekerja lagi sebagai perawat. Nia menikmati menjadi ibu rumah tangga seutuhnya. Namun yang awalnya wanita karier, ia belum terbiasa bersantai di rumah.
Banyak perabotan rumah yang jadi sasarannya untuk di rubah posisinya. Alhasil, Bi Munah, Yana dan Paijo yang ikut kelimpungan mengikuti keinginan majikannya.
"Kiri, kiri. Ya tepat. "
"Geser Jo, Yanaaa kamu jangan miring. ke atas lagi."
1 jam mereka melakukan rombak perabot di ruang tamu.
" Huuhhh cape sekali Bu. " keluh Yana.
"Ini minum air dulu. " Bi Munah menyuguhkan air es jeruk kepada Paijo dan Yana di dapur.
"Tumben Mas Jo ga nganter Tuan ke kantor. "
"Tuan pengen nyetir sendiri. Makanya aku nganggur disini."
"Yana, sana gih bersihkan sayuran. " Bi munah tidak terlalu suka melihat Yana dekat dengan Paijo. Meski ia pembantu, ia ingin Yana mendapatkan calon suami yang bisa menafkahi anaknya dengan baik.
"Jo, antarkan aku dan niko ke rumah orang tuanku."
"Siap Nyonya. Bi, makasih es jeruknya. Aku lanjut kerja. "
"Iya sama-sama."
Setelah kepergian Paijo bersama Nia. Di rumah hanya ada Bi Munah dan Yana.
"Kamu ini, jangan dekat-dekat Paijo. Ga bisa lihat ganteng sedikit, kau dekati. "
"Ya ga papa kan bu. "
__ADS_1
"Harusnya kamu mikir. ya cari pacar itu ya lebih dari kita levelnya. Biar bisa nanggung hidup mu dan aku. Kamu kira aku tidak cape jadi pembantu. "
" Mana bisa mencari, aku di dalam rumah ini saja bu. Yang ada pria nya cuma Paijo sama Tuan. "
"Yaa cari tetangga disini kek, minta kenalkan sama teman-teman mu. Kan banyak. "
"Iya nanti. "
"Assalamualaikum."
"Waalaikum salam. " dengan lekas Yana menghampiri tuannya dan membawakan tas majikannya.
"Kopi apa teh tuan? "
"Emm Teh saja."
"Baik Tuan. "
Dengan segera Yana pun membuatkan teh panas dan menyuguhkannya.
"Mana istri ku?"
"Tadi diantar Paijo ke rumah Orang tuan Nyonya, tuan. "
"Oh, ya sudah. " Khalid pun menyeruput teh panas, dan ia melonggarkan dasinya dan melepas jasnya ia bersandar ke kursi sofa. Dia sangat pusing dengan urusan di kantor.
Melihat Tuannya memijat kepala nya sendiri. Yana pun menawarkan maksud baik hatinya.
"Mau saya pijit kepalanya Tuan? "
"Kamu bisa? Boleh kalo begitu. "
Dengan perlahan Yana pun memijat kepala Tuannya dari belakang.
"Enak pijatan kamu Yan. "
"Iya Tuan, saya sering mijitin ibu. "
Yana terus memijat kepala tuannya, saking semangatnya tanpa sadar Yana menempelkan kepala Tuannya ke dadanya. Dan Khalid sadar dan tetap merasakannya.
Terbayang kembali adegan yang Khalid lihat waktu di kamar mandinya. Bayangan tubuh Yana yang tak kalah dari istrinya, bedanya Yana hanya sedikit lebih mungil. Membuat Khalid gemas.
Sedangkan Yana sangat asyik memijat dan mencium aroma wangi rambut Tuannya. Dan ia pun terbayang.
"Coba seandainya Tuan Khalid ini suamiku. Sudah kaya, gagah, tampan, sayang istri, wangi lagi. Wah nyamannyaaa. "
"Yanaa. Stop yan, bisa pijatkan kaki ku. " Pinta Khalid.
Lalu Yana berpindah ke depan. Dan Khalis merubah posisi kakinya menjadi selujurkannya di sofa.
"Ya disitu. Aku sangat cape Yan. "
Tangan Yana pun memijat kaki Tuannya. sekitar 2 menit memijat.
"Yan cukup. Aku mau istirahat, terimakasih yaa. "
"Iya Tuan. " Yana pun bangkit tanpa memperhitungkan posisinya. Dan tanpa sengaja ia mau terjatuh.
Dengan refleks Khalid menarik tangan Yana agar tidak jatuh. Karena tangannya ditarik, Yana pun malah jatuh dalam pelukan Khalid di Sofa.
Yana terkejut. Khalid pun terkejut karena Tubuh Yana menindihnya. Dan itu semakin membuat nafsu kejantanannya terbangun. Tapi Khalid terdasar. Bahwa ini tidak benar.
__ADS_1
"Ayo bangun Yan. "
"Maaf Tuan, "
Lalu Yana pun bangkit dan langsung masuk ke kamarnya. Jantungnya berdetak cepat, ia mencoba mengingat kejadian yang sangat cepat itu. Ia merasakan tubuhnya di peluk Tuannya. Sedikit tidaknya ia merasakan tubuh kekar Tuannya.
[Nia, ayo cepat pulang. ] Khalid memerintahkan Nia cepat pulang lewat sambungan telpon
Mendengar telpon suaminya tampak sangat penting. Nia pun bergegas pulang.
...****************...
Sesampainya di rumah, Nia pun langsung mencari Suaminya.
"Mas, kamu di kamar? Niko, kamu main sama Yana dulu ya. "
Dengan segera Niko pun pergi ke ruang tengah.
"Mas, Mas, " cari Nia kepada suaminya di kamar.
Rupanya Khalid keluar kamar mandi dengan handuk di pinggangnya. Dan langsung memeluk Nia.
"Loh ada apa ini? "
"Sayang, aku mau belah duren, " Ucapnya sambil memeluk Nia dan menciumi Nia.
"Tapi aku kan baru datang, ini baju masih bekas diluar. "
"Emmm biar saja. Aku sudah tidak tahan menunggu mu. "
Khalid langsung melepas kerudung Nia, dan melepas satu persatu kancing baju Istrinya.
Di gendongnya tubuh Nia dan di rebahkannya di kasur.
"Ayo kita buat Adik untuk Niko, Sayang, " Ucapnya sambil melucuti pakaian istrinya dan mereka pun bermandikan keringat di sore hari.
❤❤
"Ya sudah, aku mandi dulu ya mas. "
"Jangan, nanti saja mandinya. Aku masih ingin memelukmu. "
"Kenapa sayang, kamu kok ganas sekali hari ini. "
"Memangnya kamu tidak suka? "
"Suka kok, Semakin ganas pun aku suka. "
Mendengar pancingan Istrinya. Libido Khalid pun bangkit kembali.
"Sayang, kita mandi bareng yuk. "
Dengan segera, ia gendong istrinya dengan mesra memasuki kamar mandi.
"Aku sabuni tubuh mu ya sayang dan kamu menyabuni tubuh ku."
"Iya sayang."
Mereka pun mandi dan saling sabun menyabuni tubuh mereka. Saling memberikan sentuhan saat menyabuni tiap inci tubuh masing-masing. Semakin ingin menuntaskan hasrat mereka.
Mereka pun kembali melakukan ronde ke dua dan ke tiga di kamar mandi dengan di temani guyuran air dari shower. Suara mereka beradu dengan gemericik air yang jatuh. Itu semakin membuat sensasi yang berbeda. Mereka larut dalam hasrat cinta mereka yang semakin memuncak.
__ADS_1