
"Ayo Jawab. "
Seketika Bi Munah memeluk Yana.
"Katakan Yana demi Ibu mu ini Yana! "
Lalu Bi Munah berbisik ke telinga Yana.
"Ayo Yana sebut, siapa? Apakah ia ada di rumah ini!"
Bujuk Nia kepada Yana.
Yana mengangguk pelan. Melihat anggukan Yana membuat lemas tubuh Nia. Cobaan apalagi ini. Perut Nia semakin kencang, kepalanya terasa berdenyut sakit...
"Sekarang tunjuk siapa yang menghamili mu, " titah Nia kepada Yana.
Yana dengan perlahan memandang Paijo dan Khalid. Ia pun menangis dan menujuk ke suami Nia yaitu Khalid.
DAAARRRRRR
Bagai petir di siang bolong. Jantung terasa berhenti melihat Yana menunjuk suaminya yaitu Khalid.
"Gila kamu Yana. Fitnah! " Ucap Khalid meninggi.
"Jangan macam-macam ya kamu, jangan mengada-ada! " Ancam Khalid.
Paijo melihat itu pun terdiam, butir keringat menetes di dahinya. Dia terdiam tak berkata-kata. Ternyata majikannya mengagahi Yana. Fikir Paijo.
Seketika Nia bangun dari duduk nya dan berdiri. Ternyata ia merasakan pandangannya kabur, dan semakin buram. Dan menghitam kelam.
Pagi Hari di Rumah Sakit.
Khalid duduk di samping ranjang tempat Nia terbaring. Hanya mereka berdua di ruangan itu. Nia sudah sadar. Tapi memalingkan wajahnya ke arah berlawanan dari Khalid. Khalid masih memegang tangan Nia. Niko sudah dititipkan dengan Orang tua Nia kemaren pada saat kejadian Nia pingsan.
"Selamat pagi, Dengan Ibu Niar Damayanti? "
"Betul Dokter. "
Lalu salah satu perawat menjelaskan rekam medis nya kepada Dokter.
"Ibu Niar, Menurut rekam medis. Ibu sudah hamil 10 minggu. Mendekati 3 bulan. Jadi, kondisi ibu masih sangat rentan. Apalagi di lihat tekanan darah ibu lumayan tinggi ya. Dan ada mengeluarkan flek ya bu. Jadi harus bed rest. Atau istirahat total, tidak boleh mengerjakan sesuatu yang berat-berat."
"Tapi kandungan Istri saya aman kan Dok,tidak apa-apa kan? " tanya Khalid penuh khawatir.
"Iya, tapi harus ikuti anjuran saya ya Pak. Nanti kita beri beberapa obat untuk penguat kandungan ibu. Jadi untuk sementara Ibu istirahat dulu ya disini sampai bisa dinyatakan Ibu dapat pulang ke rumah."
"Iya Dok, " ucap Nia lirih.
__ADS_1
"Oiya 1 lagi. Jangan stress ya bu. "
Dokter pun senyum dan pergi berlalu dengan rombongan perawat dan dokter muda untuk mengunjungi pasien selanjutnya.
"Sayang... Mau makan? " Tanya Khalid dan mengelus kepala Nia.
Nia hanya menggeleng lesu. Setelah mendapatkan jawaban Nia, Khalid pun pergi ke kamar mandi. Lalu ia kembali dengan wajah yang basah dengan wudhu.
Dan Khalid pun sholat dhuha 2 rakaat. Setelah itu dia duduk di samping Nia dan membaca Al Qur'an surah Yusuf.
Nia memandang suaminya sambil mendengarkan suara lembut fasih nya mengaji Al Quran.
"Masa iya suami ku yang dihadapanku se sholeh ini, bisa selingkuh dari ku. Masa iya sih, Ia melakukan dengan Yana. Apa ia tergoda. Yaa memang pada saat itu aku melihatnya terpaku memandang Yana saat membersihkan bathub, jika itu benar yang dinyatakan oleh Yana. Apa yang harus aku lakukan.
Minta cerai, itu tidak mungkin. Dalam hukum islam tidak ada cerai bagi ibu yang sedang hamil. Bertahan! Aku tidak siap di madu, aku tidak terima di khianati.
Ya Allah, berilah aku petunjukMu Ya Allah. Siapa yang harus hamba percaya. Yana atau Suamiku.
Tapi bukti nyata ada dikandungan Yana. Tapi seperti kisah batuta sang ahli ibadah dia bisa terjerumus kepada zina bahkan membunuh sekalipun. Aaaahhh aku pusing."
Batin Nia seolah-olah berperang antara satu kubu dan kubu lainnya. Nia pun meneteskan air matanya.
Nia pun berbaring ke samping menghadap tembok.
"Shadaqollaa hul adziim... " Khalid mengakhiri mengajinya. Dia berdoa setelah itu meniupkan ke perut Nia tempat si cabang bayi.
"Aku sayang kamu, Karena Allah. "
DEG...
Jantung Nia berdegup kencang mendengar ucapan Khalid itu.
...****************...
1 minggu kemudian, Nia pun pulang ke rumah. Masa perawatannya sudah selesai, dan sudah diperbolehkan untuk rawat jalan. Tapi dengan catatan dari dokter harus rutin kontrol.
Sesampainya di rumah, Bi Munah dan Yana menyambut Nia dan Khalid. Paijo mengangkat koper pakaian dan membawanya ke kamar majikannya. Mereka menganggap seolah tidak terjadi apa-apa.
Lalu Nia pun duduk di ruang tamu. Dengan berselonjor kaki di sofa. Hati Nia sebenarnya sangat sakit melihat wajah Yana, terasa ingin mencabik-cabiknya. Ingin ia acak-acak rambutnya. Tapi ia tidak mungkin melakukannya dalam keadaan hamil, lalu ia pun mengalihkan pandangan agar tidak melihat wajah Yana.
"Bagaimana keadannya Nyonya? " tanya Bi Munah pelan.
Nia hanya senyum. Namun tidak menjawab pertanyaan Bi Munah. Yana masih berdiri mematung di pojok pintu. Bi Munah masuk ke dalam dan menyuguhkan teh hangat.
"Ini Nyonya Tuan di minum dahulu. "
"Terimakasih Bi, " Ucap Khalid.
__ADS_1
Ting Tong.
Bunyi bel berbunyi.
Paijo membukakan pintu. Lalu 4 orang pria berjas hitam masuk.
"Selamat Pagi. " 1 orang menyapa Khalid.
"Pagi, mari silahkan masuk bapak-bapak," Ucap Khalid dengan santai. Seolah tahu dan mengenal mereka.
Sedangkan Nia langsung merapikan duduknya yang awalnya berselonjor. Dia tidak mengenal mereka, ia yakin mereka bukan lah rekan kerja suaminya. Karena baru pertama melihat wajah-wajah mereka. Wajah mereka sangat lah serius dan agak sedikit sangar dengan badan yang kekar-kekar. Dan 2 orang diantaranya mempunyai rambut panjang yang diikat dan jambang bak preman.
Agak sedikit takut ia melihat, namun tidak berani juga menjauh meninggalkan suaminya. Nia pun merubah posisi duduknya.
Bi Munah pun kembali ke dapur dan menyiapkan minuman tamunya. Laly di suguhkannya kepada mereka.
"Ibu adalah Ibu Maimunah ya, " Tanya seorang pria kepada Bi Munah.
Seketika wajah Bi munah terkejut, dan berubah menjadi sangat gugup.
"Iiyaa Pak. Ada apaa yaa. "
Tiba-tiba ia berdiri dan mengeluarkan borgol dan memborgol Ibu Maimunah atau Bi Munah pelayanan Nia.
Nia melihat itu pun sangat terkejut.
"Ibu kami tangkap, Ini surat perintah penangkapan Ibu Maimunah atau Munah. Ibu berhak untuk diam, mendapatkan bantuan hukum dan/atau didampingi oleh penasihat hukum, serta hak-hak lainnya sesuai KUHAP. Berikut akan kami jelaskan di kantor polisi."
"Ibuuuuuu..., aku mohon Tuan, jangan tangkap Ibu ku Pak, " teriak Yana ke arah Khalid dan Bapak ber jas hitam itu yang ternyata polisi.
Namun iba an dari Yana tidak digubris oleh mereka yang ternyata adalah intel dan polisi. Bi Munah sudah di bawa dan pergi ke dalam mobil.
"Bapak Khalid, Ibu Niar, terimakasih atas kerja samanya." Ketua dari mereka bersalaman dengan Khalid.
"Sama-sama Pak! " ucap Khalid dengan tegas.
Setelah itu mereka pun pergi dengan membawa Bi Munah. Yana menangis di pojok. Lalu ia bersimpuh.
"Tuan, Nyonya kenapa ibu saya di tangkap. "
"Harusnya aku yang bertanya, kenapa ibu mu sampai ditangkap kepada mu? " tanya Nia.
"Ak.. Aku.. tidak tahu, " Tangis Yana.
"Tuan keluarkan Ibu ku! " Yana bersimpuh ke kaki Khalid. Namun Khalid menjauh dari Yana.
"Mas, Ini maksudnya apa? apa yang terjadi ketika aku di rumah sakit? " tanya Nia dengan penasaran.
__ADS_1