
"Maaf Pak, istri anda harus di bawa ke Rumah Sakit. Karena Bayi dalam kandungan istri anda letaknya sungsang.Kita tidak ingin mengambil risiko besar jika di paksa melahirkan di Puskesmas. Apakah bersedia di bawa ke Rumah Sakit? " petugas Puskesmas menjelaskan keadaan Yana.
Paijo pun mengangguk pasti, tanda persetujuan. Akhirnya Yana pun langsung di bawa ke Rumah sakit dengan ambulance.
Sesampainya di Rumah Sakit, Bidan pendamping pun langsung menjelaskan dan penyerahan Yana sebagai pasien di Rumah Sakit.
"Bapak. Wali ibu Yana silahkan mengikuti kami. " Paijo pun mengikuti Bidan itu.
Rupanya ada dokter yang memeriksa Yana sebelumnya disana.
"Bapak, karena ada indikasi yang memang bisa menjadi alasan Ibu yana melahirkan menjadi secara operasi cecar. Apakah Bapak bersedia? "
"Baiklah Dok. Tapi bagaimana dengan biaya? " Paijo khawatir, karena uang tabungannya hanya lah 10 juta saja.
"Itu nanti dijelaskan oleh Petugasnya ya Pak. "
Mendengar itu Paijo pun semakin gusar, ia keluar dengan lesu. Namun ia rubah wajahnya agar tidak terlihat sedang pusing.
Melihat itu, bidan pendamping pun menjelaskan. Karena ia tahu Paijo sedang pusing soal biaya.
"Tenang Pak, karena ini anjuran Dokter. Serta Ibu Yana pengguna kartu BPJS. Persalinannya secara cecar akan gratis. Asal Bapak tidak ajukan naik kelas. "
"Maksudnya naik kelas? "
"Naik kelas misalnya Bapak sudah terdaftar kelas 2. Bapak tidak boleh naik ke kelas 1 ataupun VIP. Karena fasilitas kamar. "
"Baiklah. terimakasih bu Bidan penjelasannya. " Akhirnya paijo pun bernafas lega dan tersenyum dengan lega.
" Ada apa Bang? "
" Tidak apa-apa, Yana akan di operasi cecar. "
"Ya Allah, jadi dia tidak bisa melahirkan dengan normal. " Aisyah terkejut, namun ia tidak berani untuk menanyakan masalah biaya. Biar lah urusan Paijo saja. Ia lihat raut wajah Paijo tenang-tenang saja. Maka ia yakin. Tidak ada masalah tentang biaya.
Sesuai anjuran dokter, Yana pun tinggal menunggu jadwal dokter. Yana pun masih kesakitan. Namun pembukaan masih sebegitu saja. Tidak ada kemajuan.
"Bapak, Ibu nya akan kami bawa ke ruang operasi." jelas Ibu Bidan itu.
Mendengar itu akhirnya Paijo pun mengikuti bangsal yang membawa istrinya ke ruang bertulisan Ruang Operasi.
"Maaf pak, anda sampai disini saja ya, silahkan bapak dan keluarga tunggu disini. "
Satu jam menunggu di luar ruangan Operasi. Terasa sangat lama sekali. Lalu seorang wanita keluar membawa bayi.
__ADS_1
"Wali Ibu Yana? "
"Iya Itu saya. " dengan segera Paijo menghampiri Bidan yang sedang membawa seorang bayi.
"Ini anak Bapak, mari ikuti saya ke ruang bayi. "
Paijo pun langsung mengikuti langkah Bidan itu ke ruang bayi dari belakang. Sesampainya di ruang bayi, banyak bayi yang terdahulu berada di kaca segi empat yang disebut inkubator.
"Bapak tunggu disini. Nanti saya panggil setelah bayi bapak di periksa kesehatannya. " Paijo khawatir, duduknya pun gemetar. Cukup lama Paijo menunggunya. Sedang kan Yana masih di dalam ruang operasi.
"Bapak, silahkan masuk."
mendengar itu pun Paijo segera masuk ke ruang dokter.
"Silahkan duduk Pak, "
"Begini Pak, anak bapak Laki-laki. Jarinya lengkap baik itu tangan maupun kaki. "
"Alhamdulillah." Paijo bersyukur mendengar itu.
"Tapi,... Kesehatan jantungnya tidak baik. Sehingga anak bapak terpaksa masuk inkubator terlebih dahulu. Karena ini adalah bawaan dari lahir, maka mungkin akan sangat butuh perawatan khusus untuk anak anda. "
Seketika runtuh lah dunianya, ia bingung. Dia pun meneteskan air mata. Bagaimana tidak, buah hatinya harus sakit, dan jelas ia tidak bisa merawatnya apalagi harus selalu rawat jalan. Paijo pun pusing tujuh keliling. Namun ia sadar harus kuat.
"Ada apa Jo? " tanya ibu nya.
"Tidak apa-apa bu. " ia pun berlalu dan masuk menemui Yana.
Yana pun sudah sadar namun dia masih lemas. Yana mengeluh kedinginan. Lalu Paijo pun memeluknya.
"Apakah aku harus memberi tahu Yana. "
Batin Paijo bertarung, tapi bagaimana pun disembunyikan ia harus tahu.
"Mana anak ku mas? " tanya Yana.
"Di ruang perawatan bayi, jika ia sehat. Sore ini akan di serahkan ke kita. Tapi... "
"Tapi apa? "
"Dokter sudah bilang, bahwa anak kita ada kelainan jantung. Aku rasa kita tidak akan dapat membiayai perawatan nya, karena itu adalah bawaan dari lahir."
Seketika Yana pun menangis mendengar itu. Hanya mereka yang tahu.
__ADS_1
Malam hari.
Bayi Yana pun tidak kunjung di antar ke ruang nifas.
"Ibu Yana, Bapak bisa bawa ibu Yana ke ruang Anak. Saatnya menyusui. " Bidan datang memberikan instruksi.
Paijo pun membawa Yana dengan kursi roda. Mereka pun memasuk ruang anak. Banyak anak orang lain juga seumuran dengan anaknya di dalam bak kaca bayi.
Yana pun menyusui anaknya sambil meneteskan air mata.
"Mas, ia akan sangat menderita jika kita yang merawatnya. Jelas akan banyak kebutuhannya dalam pengobatan yang tidak bisa kita lakukan. "
Paijo pun terdiam, namun ada ide terlintas di fikirannya untuk memperpanjang kehidupan anaknya. Lalu ia pun membisik kan ide itu kepada istrinya.
"Gila kamu! " sahut Yana sedikit keras. Paijo pun memelas, dan akhirnya Yana pun terhasut untuk melaksanakan ide gila suaminya.
Paijo pun berkeliling melihat-lihat bayi yang lainnya. Ia memastikan bahwa tidak ada keluarga yang datang, dan pandangannya pun ter alihkan oleh bayi laki-laki tampan dan sehat terlihat dari badannya dan tidur nyenyaknya. Ia pun memberikan kode kepada Yana.
Yana terkejut melihat Nama Ibu dari Bayi itu. Ia pun mengiyakan usul suaminya.
Bayi itu mereka tukar dengan bayinya. Usul gila suami nya adalah menukar Bayi yang sama jenis kelaminnya.
Yana dan Paijo pun menciumi bayi nya dengan linangan air mata.
"Jika kau dengan keluarga ini, maka hidup mu akan terjamin. Tidak akan kesusahan. Setelah kau dewasa , aku akan menjemput mu nak. "
Lalu setelah itu mereka pun kembali ke kamar Nifas.
Yana dan Paijo pun was-was takutnya tindakan mereka ketahuan. mereka pun menunggu nunggu. Namun sampai pagi, tidak ada yang mengetahui nya.
"Ibu Yana, "
"Iya! " Jawaban Yana setengah teriak, karena ia terkejut.
"Maaf ibu terkejut ya, " sahut bidan itu.
"Hehe, ada apa bu Bidan ? "
"Kata dokter keadaan Ibu dan Bayi ibu sudah sehat jadi kalian diperbolehkan untuk pulang. Namun, 1 minggu kembali kalian harus kontrol jahitan ibu dan bayinya ya. "
"Iya, terimakasih Bu Bidan, " Sahut Paijo tersenyum.
Ia pun langsung mengelua punggung istrinya. Ia tahu Yana pasti sangat khawatir jika perbuatan mereka diketahui oleh pihak rumah sakit. jelas mereka akan masuk bui.
__ADS_1
Mereka pun pulang dengan membawa bayi yang lain, dan bayi mereka di tinggalkan kepada keluarga lain disana.