Pelet Cinta

Pelet Cinta
19. Hari Terakhir


__ADS_3

Hari Ke tiga *


Aku menunggu Kak Herman, aku dibalut gamis berwarna putih dan jilbab pemberian Kak Herman.


" Cantik kamu Nia dengan memakai seperti ini, " Ucap ibu memuji penampilan ku.


" Jadi Herman datang kesini? " Tanya ibuku.


" Iya katanya "


Tidak berapa lama, Suara sepeda motor datang di halaman rumah. Ku hampiri ke pintu luar rumah. Ternyata benar itu Kak Herman.



Dia pun datang dengan baju putih, tidak janjian. Tapi memang ternyata baju kami sama.


" Mari masuk Nak Herman, " Ucap ibu ku.


" Kalian kok serasi, baju putih. Mau kemana hari ini? " Tanya ibu ku kepada Herman.


" Belum tahu nih bu, Gimana kabar Bapak? " Tanya Kak Herman sambil bersalaman dan mencium tangan ibu ku sebagai tanda hormat ke orang yang lebih tua.


" Alhamdulillah membaik, " ucap ibu ku. Sambil menepuk pundak Herman.


" Mau bertemu Bapak? " tanya ibu ku kembali.


" Iya bu, " Ucap Kak Herman, dan ia juga membawakan buah-buah an.


Ayahku duduk di kursi roda di teras belakang rumah, yang pemandangannya adalah sawah. Sangat nyaman berada di teras belakang.Tempat berkumpul kami sekeluarga saat sore hari tiba.


" Assalamualaikum Bapak, Bagaimana keadaan Bapak hari ini? " Ucap Herman sambil salim ke tangan ayah ku.


" Ba - Baik, " Ucap ayah ku terbata. Karena memang mulut ayah ku masih sedikit mencong. Sehingga agak susah berbicara.


Lalu Herman pun duduk disamping ayah, mereka berbincang-bincang.


Aku pun menyediakan teh untuk Herman dan minuman Teh untuk ayah yang gulanya khusus buat ayah ku.


Aku melihat Kak Herman sudah mencuci dan mau mengupaskan buah untuk ayah ku. Aku terharu, perhatiannya bukan hanya untuk ku tapi jua keluarga ku.



Ternyata dia pintar dalam membawa diri, dan dia sangat disukai ayah dan ibu ku.


Lalu mereka main catur. Aku duduk disamping ayah. Kami pun bersenda gurau.


" Pak, anak Bapak cantik. Semoga dia suka sama saya ya Pak, " Ucap Kak Herman.


" Mirip artis Pak cantiknya, " ucap Herman membuat ayah ku bingung, karena tidak tahu akan mirip siapa dan beliau mencoba menerka.


" Mirip yang artis jadi ustadzah, itu ... Ustadzah Oki! " ucap Herman dengan antusias.

__ADS_1


Aku yang di gosipkan dihadapan ku sendiri, tersipu malu-malu.


Lalu datang ibu ku.


" Iya mirip Nak Herman mirip dilihat dari ujung sedotan ... Disana Ustadzah asli, disini abal-abal. " Canda ibu ku.


Semuanya tertawa, aku pun hanya cemberut. Yang awalnya senang di mirip-miripkan artis, ujung-unjungnya di ejekin.


" Aaahhhh Mama ... Bah , Mama jahat. " Aku begelayut ke tangan ayahku. Mengadu kan candaan mama.


" Kak Herman juga sukanya memancing! " kata ku sewot dengannya.


Kak Herman pun tertawa lepas. Dan semuanya akhirnya tertawa.


...****************...


Hari ini aku dan Kak Herman hanya di rumah saja menemani ayah, ibu dan adik ku. Lalu sholat berjamaah, dan makan bersama.


Tidak jalan-jalan seperti kemaren.


Kak Herman duduk di belakang teras sambil menikmati angin.



Wajah nya diterpa sinar matahari. Aku pun memandangnya. Lalu aku langsung mengalihkan pandangan ku saat dia memandang ku.


" Nia, boleh aku memfoto mu dengan handphone, kamu memakai jilbab itu benar-benar cantik. " Pujinya kepada ku.


" Emmm besok aku pulang Kak Herman. " Aku sambil mengutak atik ujung jibab pemberiannya.


" Oh ya, mau ku antar sampai terminal? " tawarnya kepada ku.


" Ga usah, pakai travel kok. Jadi langsung dijemput ke rumah.! "


" O syukurlah. Hati-hati ya disana. Oiya, jawaban nya bisa kamu Sms saja pada saat kamu sudah sampai. Biar kamu leluasa memutuskannya, " Ucap Kak Herman dengan senyumannya.



Aku mengangguk pelan.


" Mungkin saat nya aku pamit, terimakasih ya Nia sudah memberi kesempatan kepadaku. Aku mohon maaf jika ada salah dalam tingkah ku. Apapun jawaban mu nanti. Semoga kita tetap bersilaturrahmi ya. "


Dia dengan bijak sekali dalam menyikapi nya. Kalem, kadang suka bercanda juga, dewasa, bijak dan juga tampan serta ilmu agamanya bagus. Bahkan saat menjadi imam pada saat sholat tadi. Paket komplit sebenarnya.


Lalu dia pamit kepada ayah dan ibu ku. Mereka sangat senang melihat Kak Herman. Calon idaman menanti mereka.


Setelah kepulangan Kak Herman, aku pun masuk ke kamar untuk melepas jilbab yang ku kenakan.


Ku pandangi wajah ku yang terbalut dengan balutan warna pink, terbersit di otak ku.


"Nyonya Herman. " Aku pun tersipu malu.

__ADS_1


Saat itu aku melihat kalung berinisial huruf D, dan aku pun menjadi termenung. Teringat Dony.


Ibu masuk ke dalam kamar ku.


Langsung ku lepas tangan ku dari liontin.


" Gimana Nia, ? " Tanya ibu ku. Sambil menata jilbab yang ku kenakan dari belakang ku.


" Apanya bu? " aku pura-pura tidak mengerti.


" Jika kau bimbang, sebelum memutuskan sesuatu. Lebih baik sholat istikharah ya Nak," saran ibu kepada ku.


" Ibu dan Ayah menyerahkannya kepada mu, karena ini hidupmu. Apapun pilihan mu nanti, ibu harap kau jangan menyesalinya! " di tepuk nya kedua pundak oleh ibu ku. Lalu dia pun keluar.


...****************...


Besok hari nya aku pun pulang di jemput oleh travel, mobil khusus perjalanan jauh yang dipesan.


6 jam perjalanan, akhirnya aku pun datang di rumah sewaan. Tepat jam 2 siang.


Ternyata selang beberapa menit. Dony datang menemui ku.


Wajahnya suram, aku pun langsung memakai jilbab.


Ku persilahkan dia duduk di teras. Karena memang ada bangku untuk tamu.


Aku dan dia hanya terdiam untuk sesaat. Saling memandang.


" Emm ... Kenapa tidak balas SMS? " tanya ku kepada nya.


" Aku ... Aku tidak bisa Nia. " dia pun meneteskan air mata. Mata nya memerah.


" Yaah memang, harapan untuk kita tentang masa depan itu terasa ... " aku pun terputus. Air mata ku mengalir.


Aku pun melepas kalung pemberiannya. Ku letakkan di meja.


" Ku kembalikan ini Don, dari awal memang kita berbeda, kita tidak sama meski sama-sama saling mencintai. Aku ingin kamu mengambil ini, agar aku bisa melanjutkan hidupku, " Ucap ku getir.


" Terimakasih Nia, sudah menjadi bagian cerita indah ku. "


Dony pun mengulurkan tangannya untuk meminta jabatan tangan.


Ku jabat tangannya, dan ternyata dia langsung memeluk ku dengan erat.


" Biar ini yang terakhir aku memeluk orang yang ku cintai. " Dengan erat Dony memeluk ku. Dia tampak tak menghiraukan sekeliling orang.


Lalu dia pun melepaskan pelukannya. Dan pergi dengan membawa luka hati. Aku pun menangis mengantar kepergiannya.


Memang besok kami akan bertemu lagi di tempat kerja. Tapi besok kami akan menjadi sosok yang berbeda lagi, seolah tidak terjadi ada perasaan yang pernah menyatu ...


Trriiingggg ... Tringgggg

__ADS_1


Bunyi Handphone ku berbunyi ...


__ADS_2