Pelet Cinta

Pelet Cinta
30. Demi Nia


__ADS_3

" Dasar Brengsek. Sialan! " Khalid mengumpat dan memukul meja.


" Sabar Khalid, kita harusnya menyusun Rencana juga! "


" Bagaimana? " Khalid sudah tidak dapat berfikir lagi.


" Bagaimana menurut mu Pak Agus? " Herman bertanya.


" Saya fikir, saya ada ide. Tapi saya perlu waktu mencari timing terlebih dahulu. Jika seandainya saya menghubungi, kalian harus bersiap! "


" Baik. "


...****************...


" Assalamualaikum, " ucap Khalid sambil mengetok pintu.


Tok tok tok


"Waalaikum salam. Ada perlu apa lagi kau datang kesini Mas, bukannya sudah kemaren! " ungkap Nia dengan ketus.


"Aku mau bertemu Ayah mu! "


" Oh Nak Khalid, sekarang kah? "


" Bisa , saya tunggu. "


" Oiya. Sebentar, ! "


Lalu Ayah Nia pun masuk mengambik peci dan tas beliau.


" Mau kemana? " tanya Nia.


"Ada urusan dengan Khalid, Ayo Nak! Baik-baik di rumah ya .! "


Nia pun dengan cemberut melihat Khalid menjemput Ayahnya. Ayahnya pun tidak menjelaskan mau pergi kemana. Semakin kesal Nia, Nia merasa Khalid mau mengambil perhatian Ayahnya.


Ayah Nia pun pergi dengan Khalid.


1 jam baru sampai ketempat tujuan. Sebuah rumah sederhana, banyak orang di depan rumah tersebut bekumpul. Ternyata mereka sedang antri untuk bertemu Tuan Guru.


Khalid dan Ayah Nia pun menghampiri,


"Nomor berapa antrian terakhir ,? " ucap Ayah Nia.


"Saya pak, nomor 17," jawab seorang Pria berpeci putih.


" Berarti saya nomor 18 ya Pak setelah sampeyan. "


" Iya Pak, " jawabnya.


Karena memang tidak ada nomor antrian, jadi seperti itulah akhirnya mengetahui nomor antrian agar tidak ada saling mendahului dan bersitegang hanya karena ada yang serobot menyerobot antrian.


Cukup lama antrian nomor 18, Jam 2 siang baru giliran Ayah Nia dan Khalid. Mereka pun masuk ke dalam rumah, lalu disuruh lagi masuk ke ruang tengah yang di batasi oleh tirai hijau.


" Silahkan duduk, Ada masalah apa? "


Khalid pun membetulkan posisi duduknya.

__ADS_1


" Begini Guru, saya mempunyai masalah keluarga,. "


Belum sampai selesai berbicara Khalid di stop oleh beliau.


" Tulis Nama istri dan nama kamu, lengkap dengan bin serta binti. "


Lalu dengan sigap Khalid pun menulis nya. Dan menyerahkan kepada Tuan Guru. Lalu beliau memperhatikannya.


" Ada bawa foto istrimu? "


Dengan bergegas Ayah Nia mengeluarkan foto Nia dari dalam tasnya.


" Anda Ayahnya perempuan ini ya? "


" Betul Tuan Guru, " ucap Ayah Nia gelisah.


" Emm begini, permasalahan kamu. Istri mu lagi diganggu oleh jin, ia diberi minum agar setiap melihat kamu jadi benci. Dan ia pun diberi minum agar pengasih atau ilmu pemikat. Kata orang banjar itu Karindangan. Cumaaannn... Karindangannya ini bukan dengan kamu, melain kan orang lain. "


Ucap beliau sambil geleng-geleng.


" Waduhh. Jahatnyaaa, pokoknya kamu hati-hati. Sering istighfar. Baca Ayat Kursi dan nanti aku kasih amalan serta air penghancur ilmu pemikat dan pembenci itu. "


Beliau menghela nafas, seolah menyesali sesuatu.


" Ada teman lama yang kembali, dan menginginkan istrimu. "


"Dan Bapak, Sampeyan Ayah Perempuan ini. Ada merasakan bahwa anak bapak seolah acuh dan mulai tidak mendengar nasehat lagi kan,! " tanya Tuan Guru.


"Betul Tuan Guru! "


Ayah Nia mengepal tangannya, menahan emosi.


"Siapa orangnya Tuan Guru,! "


"Nanti kalian juga tahu, pantang aku menyebut nama. Bapak, apa anak bapak masih sering sholat? "


" Tidak tahu Tuan Guru, karena ia selalu di Kamar, " ucap Mertua Khalid. Matanya berkaca-kaca.


" Tunggu sebentar ya , " ucap Tuan Guru Muin sambil pergi kebelakang.


Lama menunggu beliau baru keluar dari belakang. Ketika keluar beliau membawa kain kuning berbentuk baju penuh dengan rajah, kain hitam kecil, dan 1 botol air mineral besar.


Tuan Guru Muin duduk dihadapan mereka dan meletakkan barang-barang yang dibawa mereka.


"Aku sudah tahu kalian bakal datang kesini, ini air sudah aku beri amalan. Jadi tinggal kalian masukkan ke dalam air minum, air mandi Anak Bapak tanpa sepengetahuan dia, harus habis dalam 2 hari. Separuh untuk minum, separuh untuk mandi." Tuan Guru pun menghela nafas.


" Setelah habis , Insyaallah dia mulai sadar, tidak akan membenci kamu lagi, tapi jangan lupa, setelah itu baru wafak ini digantung si setiap baju dalam anak bapak, dan begitu pula baju kuning dengan rajah ini.! "


" Inggih, insyaallah, " ucap Mertua Khalid sambil menerima barang-barang itu.


" Sedangkan Amalannya, kalian semua dan anak bapak agar membaca Ayat Kursi 7 kali selama 1 minggu setiap selesai sholat. Setelah 1 minggu, baru 1 kali selesai sholat wajib dibacanya. Faham kan? "


" Inggih Tuan Guru. "


" Dan ini 2 lembar yang baru aku tulis, kalian tempel di atas pintu ruang tamu. " sambil menyerahkan 2 lembar kertas yang bertuliskan Asma Allah dan lain-lainnya.


"Terimakasih Tuan Guru, " ucap Mertua Khalid.

__ADS_1


" Nah 1 lagi, setelah selesai semuanya. Perbanyak berzikir kepada Allah serta perbanyak beribadah diluar yang kewajiban kita itu. Dan kamu Nak Khalid, hati-hati ya," ucap Tuan Guru sambil menepuk pundak Khalid beberapa kali.


" Inggih Tuan Guru, " Ucap Khalid sambil menunduk.


Setelah banyak nasehat serta anjuran dari Tuan Guru Muin. Misi ini pun di jalankan oleh Mertuanya Khalid.


Sesampainya di rumah, sudah mau mendekati waktu maghrib. Disembunyikan barang-barang bawaan tadi dari Anaknya. Ayah Nia pun menjalan kan misi itu.


Begitu pula Khalid ia pun menjalan kan misinya.


" Nia, Nia... Ayo sholat Nak."


Tidak ada jawaban dari Nia, Ibu Nia pun mencoba membuka Kamar Nia. Ternyata Nia malah tidur.


"Hey ayo bangun, ga boleh tidur Jam segini. Sholat! "


" Iyaa, " ucapnya Nia kesal.


Menghela nafas Ibu Nia, Mencoba menyabarkan diri. Karena anaknya ini bukan lah sepenuhnya anaknya.


Ayah Nia pun memasukkan air pemberian Tuan Guru ke dalam Teko air. Dan ke tempat bak air. Ia pun bepesan kepada Istrinya agar mengatur untuk mendahulukan Nia mandi dibanding yang lainnya.


Berusaha mungkin agar tanpa sepengetahuan Nia.


Setelah 2 hari, air yang diberi oleh Tuan Guru pun habis, ada sedikit perubahan yang di alami Nia. Tapi agak sedikit lebih bingung, Ia pun tidak masuk kerja, Nia merasa lelah padahal tidak melakukan apa-apa.


"Bagaimana perasaan kamu Nak? " tanya Ayah Nia kepada anaknya.


" Capek , Terasa lelah padahal diam saja, " Ucap Nia sambil rebahan di kamar.


" Nak, coba kamu pakai ini ya? " Ayah Nia pun menyerahkan wafak beserta baju kuning.


" Bantu Nia Ma! " Ayah memerintahkan Ibu Nia


Dengan segera Ibu Nia pun membantu Nia.


" Assalamualaikum. "


Terdengar suara pria di luar rumah.


"Waalaikum salam, " ucap Ayah Nia sambil membuka kan pintu luar.


Ternyata Khalid datang bersama Herman.


" Masuk Nak Khalid, masuk Nak Herman!" Ayah Nia pun keheranan. Ia pun mempersilahkan mereka untuk memasuki ruang tamu.


" Ma , Ma, ini ada Khalid dan Herman Ma, " Ucap Ayah Nia.


" Ayo masuk ... masuk, " ucap Ibunya Nia.


" Begini ... kami mau bertemu Nia, mau memperlihatkan sesuatu yang penting, " Ucap Khalid dengan semangat dan penuh harap.


Tiba-tiba suara pria datang,


" Permisi ... ! "


...****************...

__ADS_1


__ADS_2